Draconian - In Somnolent Ruin
Napalm Records CD 2026
01. I Welcome Thy Arrow 07:59
02. The Monochrome Blade 07:01
03. Anima 06:30
04. The Face of God 07:36
05. I Gave You Wings 07:29
06. Asteria Beneath the Tranquil Sea 02:30
07. Cold Heavens 05:13
08. Misanthrope River 06:25
09. Lethe 07:11
Anders Jacobsson - Vocals
Lisa Johansson - Vocals
Johan Ericson - Guitars, Vocals
Niklas Nord - Guitars
Daniel Arvidsson - Bass
Daniel Johansson - Drums
Di saat banyak band gothic metal generasi akhir 90-an memilih jalan aman menjadi lebih " ramah pasar " entah berubah jadi hard rock galau berkostum hitam atau malah terdengar seperti soundtrack sinetron vampir digital, Draconian justru tetap berdiri keras kepala di jalur kemurungan mereka sendiri. Lambat, suram, romantis, depresif, dan megah. Seolah mereka sadar bahwa tidak semua musik harus terdengar ceria demi algoritma streaming sialan itu. Dan mungkin justru karena sikap keras kepala itulah mereka masih relevan sampai hari ini. Kalau mau jujur, Draconian sekarang memang seperti legacy tahta terakhir dari kerajaan Gothic death/doom klasik yang sebagian besar sudah jadi nama nostalgia. Nama-nama seperti Theatre of Tragedy, Tristania, dan The Sins of Thy Beloved sudah lama kehilangan denyut hidupnya atau berubah arah sampai sulit dikenali. Sementara Draconian tetap memelihara estetika kelam itu dengan fanatisme nyaris tidak sehat. Tiga dekade berjalan dan mereka masih terdengar seperti hujan dingin di makam kosong. Dan anehnya, itu justru indah. Album kedelapan mereka, " In Somnolent Ruin ", bukanlah revolusi. Tidak ada eksperimen sok avant-garde yang dipaksakan demi terlihat modern. Tidak ada breakdown metalcore murahan demi viral di sosmed. Dan syukurlah memang begitu. Karena death/doom gothic bukan genre yang lahir untuk jadi tontonan trend sesaat. Musik seperti ini hidup dari atmosfer, rasa kehilangan, luka emosional, dan ruang kosong yang dibiarkan menggantung di antara nada-nada lambatnya. Dan di sinilah Draconian bermain seperti veteran yang tahu persis cara menyiksa pendengarnya dengan elegan. Album ini terasa seperti kelanjutan langsung dari " Under A Godless Veil " tahun 2020, tapi dengan pendekatan yang jauh lebih atmosferik dan tenggelam dalam kabut emosional. Bahkan ada momen ketika Draconian terdengar hampir sepenuhnya larut dalam dunia gothic ambient ketimbang sekadar death/doom tradisional. Musiknya bergerak pelan seperti prosesi pemakaman aristokrat tua di kastil runtuh. Lambat, megah, dan penuh rasa putus asa yang romantis. Lalu hadirlah kembali nama Lisa Johansson dan di sinilah letak denyut emosional terbesar album ini. Mari kita akui saja, meskipun vokalis-vokalis pengganti sebelumnya bekerja cukup baik, suara Lisa memang punya sesuatu yang sulit digantikan. Ada kelembutan dingin sekaligus kesedihan manusiawi di dalam warna vokalnya yang langsung menghidupkan kembali aura klasik Draconian era " Arcane Rain Fell ". Ketika ia berdialog dengan growl berat milik Anders Jacobsson, hasilnya bukan sekadar duet vokal biasa, tapi seperti percakapan dua jiwa yang sama-sama kalah melawan hidup. Dan itu yang membuat " In Somnolent Ruin " bekerja sangat efektif. Album ini tidak mencoba terdengar berat hanya demi brutalitas. Tidak juga sibuk menjadi teknikal supaya dianggap cerdas. Draconian memilih menyiksa emosi pendengar secara perlahan. Mereka membiarkan melodi mengendap, keyboard mengaburkan ruang, riff doom bergulir seperti awan gelap, lalu vokal Lisa datang seperti bisikan hantu masa lalu yang belum selesai dikubur. Tentu saja akan ada orang yang menganggap album ini monoton. Ya jelas. Death/doom Gothic memang bukan musik untuk orang yang butuh ledakan dopamin tiap tiga detik. Ini musik untuk orang-orang yang menikmati rasa sepi, kehancuran batin, dan keindahan dalam tragedi. Musik yang tidak peduli apakah dunia menganggapnya terlalu lambat atau terlalu muram. Dan justru karena itu, Draconian tetap terasa penting. Di tengah lautan band modern yang sibuk terdengar " besar " tapi kosong jiwa, Draconian masih terdengar seperti band yang benar-benar percaya pada kesedihan yang mereka mainkan. " In Somnolent Ruin " mungkin tidak akan mengubah wajah Gothic doom metal, tapi album ini membuktikan bahwa genre tersebut masih bisa hidup dengan bermartabat tanpa harus menjual identitasnya demi validasi pasar modern yang attention span-nya lebih pendek dari intro lagu doom metal itu sendiri.
Kembalinya Lisa Johansson memastikan bahwa " In Somnolent Ruin " akan diterima dengan antusias oleh para penggemar Draconian, tetapi dalam hal lainnya, ini hanyalah langkah alami berikutnya di sepanjang jalan kelam para Swedia. " I Welcome Thy Arrow " adalah cara yang menghancurkan untuk memperkenalkan kembali mantan penyanyi kepada para penggemar: vokalnya yang sangat elegan dan menyentuh hati memimpin jalan, saat melodrama halus lainnya terungkap. Masih berakar pada kemewahan death/doom dan keindahan gotik yang sangat dinamis, ia melayang dengan ketekunan stoik di tengah kabut berkilau dari keyboard surgawi, berpindah dari bagian melodi yang intens ke momen-momen horor glasial yang berat dengan geraman. Kadang-kadang lebih dekat dengan kecerdikan layar lebar Marillion daripada rekan-rekan sejenis yang lebih jelas, Draconian telah menenun pendekatan progresif ke dalam doom tradisional mereka yang austere, dan penulisan lagu mereka telah tumbuh dalam ukuran sebagai hasilnya. Di atas segalanya, " In Somnolent Ruin " merangkul keindahan dengan lebih bersemangat daripada di album sebelumnya. Meskipun mereka sangat terikat pada suara berisik yang menggiling dan mematikan, lagu-lagu seperti " The Monochrome Blade " dan " I Gave You Wings " sama berkomitmennya terhadap melodi yang pahit-manis seperti halnya terhadap riff besar yang menghantam, dan vokal Johansson mengangkat formula ini ke tingkat efektivitas baru, hampir seperti hal yang biasa. Sementara itu, raungan abadi Jacobsson tetap menjadi fokus yang menarik, tidak terkecuali karena beberapa liriknya yang luar biasa dan puitis. Hanya hati yang paling keras yang bisa mendengar lagu seperti " Cold Heavens " dan tetap tidak tergerak. " Dengan badai yang mengamuk, beberapa pemakaman pahit / Betapa dinginnya langit ini? " adalah sebuah kalimat yang luar biasa, dan " In Somnolent Ruin " penuh dengan hal-hal seperti itu: pernyataan kelam namun tulus dari tepi akal manusia, disampaikan oleh dua penyanyi yang menghidupkan lagu-lagu ini dengan setiap serat keberadaan mereka. Musik yang mendasari perasaan tersebut mencerminkan penerimaan kesedihan dari ujung ke ujung sebagai jalan pintas yang memikat menuju pencerahan, dengan riff yang menunjukkan pengendalian luar biasa dalam pencarian penutupan harmonis yang lambat seperti siput. Draconian mungkin bukan band yang tepat untuk didengarkan saat merenungkan kesia-siaan hidup, tetapi sebagai penjaga pintu menuju kehampaan, mereka jelas telah mencerna dan memahami misi yang diberikan kepada mereka. Dalam hal instrumen, ini mungkin adalah album terbaik Draconian sejak " Arcane Rain Fell ". Sementara atmosfer merupakan bagian yang besar dan mungkin paling signifikan dari rekaman baru ini, permainan gitar benar-benar bersinar sepanjang lagu. Gitar tetap sederhana, namun efektif, namun penambahan solo gitar di beberapa lagu mengangkatnya ke tingkat yang sama sekali baru dan memberikan perbedaan yang jelas dari " Under A Godless Veil " di tengah banyaknya kesamaan. Drum dan bass tidak mengalahkan instrumen lain dalam perpaduan, sebaliknya: Mereka tampaknya memberi ruang bagi semuanya untuk bersinar.
Sebagai point plus, Ada sesuatu yang membuat Draconian tetap terasa mahal di tengah dunia metal modern yang makin sibuk jadi produk algoritma. Mereka memahami satu hal yang mulai dilupakan banyak band: atmosfer bukan sekadar tempelan keyboard atau lapisan string sinematik murahan supaya terdengar " Epik " di headphone mahal. Atmosfer adalah rasa. Dan di " In Somnolent Ruin”, Draconian membangun rasa itu seperti kabut dingin yang perlahan masuk ke paru-paru sampai kalian lupa bagaimana rasanya bernapas dengan normal. Sebagai nilai tambah terbesar, album ini terdengar sangat besar dan sinematik tanpa kehilangan sisi manusianya. Banyak band gothic metal modern gagal memahami keseimbangan itu. Mereka terlalu sibuk mengejar kemegahan sampai akhirnya terdengar seperti soundtrack trailer film fantasi generik. Tapi Draconian masih tahu cara membuat kemewahan musikal terasa emosional, bukan sekadar bombastis kosong. Semua kemarahan lembut, rasa kehilangan, dan depresi eksistensial di album ini dibungkus dalam warna suara abu-abu yang elegan, dingin, megah, tapi tetap rapuh. Dan ketika gitaris Johan Ericson mulai melepaskan lead-lead melodinya yang mengembang besar seperti ledakan arena-metal yang terlambat datang, Draconian terdengar seperti band yang sedang membangun reruntuhan katedral dengan tangan kosong. Mereka tahu kapan harus menghantam, kapan harus diam, dan kapan membiarkan kesedihan berbicara sendiri tanpa perlu dipaksa jadi lebih berat dari yang seharusnya. Yang menarik, " In Somnolent Ruin " sebenarnya sangat mudah diakses. Ya, mudah diakses. Meski dibalut aura capek hidup khas gothic doom yang seolah ditulis oleh orang-orang yang tidur berdampingan dengan hujan dan trauma masa lalu, album ini tetap punya melodi yang mudah melekat. Justru di situlah kecerdikan Draconian. Mereka membuat musik yang suram tanpa terdengar pretensius atau terlalu sibuk ingin dianggap artistik. Sebuah kemampuan yang ternyata sangat langka sekarang. Dan tentu saja kembalinya Lisa Johansson setelah satu setengah dekade menjadi magnet utama perhatian publik. Suaranya memang terlalu ikonik untuk diabaikan. Ada semacam romantisme tragis yang otomatis hidup kembali ketika ia bernyanyi bersama Anders Jacobsson. Tapi jujur saja, bahkan tanpa faktor nostalgia itu, album ini tetap akan berdiri kuat. Karena fondasi penulisan lagunya memang solid sejak awal. Memang " In Somnolent Ruin " tidak seganas " Arcane Rain Fell ", tidak setragis " Turning Season Within ", dan tidak setajam " A Rose For The Apocalypse " dalam menyentil kehancuran sosial manusia modern. Namun album ini terasa seperti titik di mana Draconian akhirnya berhenti mencoba terlihat penting dan memilih memperlihatkan jiwa mereka apa adanya. Tidak ada topeng. Tidak ada ambisi berlebihan untuk terdengar revolusioner. Hanya sekelompok musisi veteran yang sadar bahwa rasa sakit, kehilangan, dan keindahan tidak selalu perlu dijelaskan dengan cara rumit. Ironisnya, justru ketika sebuah band tidak lagi terdengar seperti sedang berusaha membuktikan sesuatu, di situlah kualitas asli mereka terlihat paling jelas. Draconian sudah terlalu lama berada di puncak gothic death/doom untuk sibuk mencari validasi receh dari trend sesaat. Mereka tidak perlu jadi viral, tidak perlu jadi soundtrack reels sedih, dan tidak perlu memoles musik mereka supaya cocok buat generasi attention span 15 detik. Dan mungkin itu sebabnya " In Somnolent Ruin " terasa sangat tulus. Album ini seperti surat terakhir dari band yang tahu persis siapa mereka, apa yang mereka wakili, dan mengapa musik gelap masih layak dipertahankan di dunia yang makin bising tapi kosong rasa. Kalau sampai hari ini masih ada yang belum mengerti kenapa Draconian dianggap salah satu nama paling penting dalam gothic death/doom modern, maka album ini adalah tamparan paling elegan yang bisa mereka terima.





0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !