Omnium Gatherum - May the Bridges We Burn Light the Way
Century Media Records CD 2025
01. May the Bridges We Burn Light the Way 01:38
02. My Pain 04:53
03. The Last Hero 04:00
04. The Darkest City 06:55
05. Walking Ghost Phase 03:53
06. Ignite the Flame 05:19
07. Streets of Rage 03:58
08. Barricades 05:43
10. Road Closed Ahead 04:01
Jukka Pelkonen - Vocals
Markus Vanhala - Guitars, Vocals
Aapo Koivisto - Keyboards
Mikko Kivistö - Bass
Atte Pesonen - Drums
Di tengah scene Melodic Death metal modern yang makin sibuk mengejar validasi algoritma streaming, mengecat ulang identitas demi pasar Amerika, atau mendadak jadi band metalcore berkedok " Evolusi artistik ", Omnium Gatherum justru tetap berdiri seperti veteran tua yang malas ikut tren tapi tetap mampu menghajar lebih keras dibanding anak-anak baru yang terlalu sibuk memoles citra Instagram mereka. Dan jujur saja, konsistensi seperti ini sekarang sudah langka. Sangat langka malah. Karena kebanyakan band yang bertahan lebih dari dua dekade biasanya akan terjebak dalam dua pilihan memalukan: menjadi karikatur dari masa lalu mereka sendiri atau berubah total demi terlihat relevan. Namun Omnium Gatherum tampaknya terlalu cerdas untuk jatuh ke lubang itu. Mereka tahu persis apa kekuatan utama mereka sejak awal: melodic death metal atmosferik dengan kombinasi melodi melankolis khas Finlandia, solo gitar emosional, keyboard kosmik, dan riff yang cukup berat untuk tetap terdengar garang tanpa harus berubah menjadi ajang lomba blast beat tidak penting. Mereka tidak pernah mencoba jadi band paling brutal, paling teknikal, atau paling eksperimental di ruangan. Tapi mereka sangat paham bagaimana membuat musik yang terdengar dewasa, matang, dan emosional tanpa kehilangan taring metal-nya. Makanya cukup menarik ketika album sebelumnya, " Origin " dari tahun 2021, terasa seperti titik lemah yang cukup mengkhawatirkan. Bukan album yang buruk sebenarnya, tapi terdengar terlalu steril, terlalu aman, dan kehilangan percikan jiwa yang biasanya membuat Omnium Gatherum begitu hidup. Seolah mereka sedang memainkan formula mereka sendiri sambil autopilot. Produksinya memang bersih, permainannya tetap rapi, tapi hati dari musiknya terasa dingin. Dan untuk band yang kekuatan utamanya justru ada pada atmosfer emosional, itu jelas masalah besar. Karena itulah kemunculan album ke-10 mereka, " May The Bridges We Burn Light The Way ", terasa seperti momen pembuktian ulang. Untungnya, mereka tidak mencoba melakukan aksi putar haluan norak demi membungkam kritik. Tidak ada eksperimen industrial aneh, tidak ada breakdown metalcore sok modern, tidak ada vokal pop radio-friendly ala band melodeath yang takut kehilangan pasar festival musim panas Eropa. Yang mereka lakukan justru jauh lebih penting: terdengar lapar lagi. Dan itu langsung terasa sejak awal album. Materinya membawa kembali energi yang sempat hilang di " Origin ". Melodi gitar kembali terasa menyayat namun megah, keyboard kembali membangun lanskap atmosferik yang luas tanpa terdengar berlebihan, dan permainan riff mereka kembali punya nyawa.
Omnium Gatherum terdengar seperti band yang kembali menikmati musik mereka sendiri, bukan sekadar memenuhi kewajiban kontrak label. Yang menarik, album ini juga semakin memperkuat stigma lucu yang selama ini melekat pada mereka sebagai " death metal untuk orang dewasa ". Sarkastik memang, tapi ada benarnya juga. Musik mereka tidak terdengar seperti soundtrack minuman energi untuk remaja yang baru belajar moshing. Ini adalah melodic death metal yang lebih reflektif, lebih emosional, lebih mengutamakan suasana dibanding sekadar agresi kosong. Musik untuk orang-orang yang mungkin dulu tumbuh dengan In Flames era klasik, Dark Tranquillity, atau Insomnium, lalu sekarang sudah terlalu lelah menghadapi band-band modern yang mengira layering breakdown dan tuning super rendah otomatis membuat musik mereka terdengar emosional. Secara produksi, album ini juga terdengar jauh lebih hangat dan manusiawi dibanding pendahulunya. Tidak terlalu dipoles sampai kehilangan karakter. Justru ada keseimbangan bagus antara kejernihan modern dan rasa organik yang membuat setiap lapisan instrumen punya ruang bernapas. Solo gitar mereka masih menjadi salah satu kekuatan utama yang sering diremehkan orang. Tidak sekadar pamer skill, tapi benar-benar punya fungsi melodis yang memperkuat emosi lagu. Tentu saja Omnium Gatherum tidak sedang menemukan ulang MDM di sini. Mereka tidak menciptakan revolusi baru. Tapi justru itu poin pentingnya. Di era ketika terlalu banyak band mati-matian ingin terdengar " berbeda " sampai lupa cara menulis lagu yang bagus, Omnium Gatherum memilih menyempurnakan identitas mereka sendiri. Dan hasilnya jauh lebih bermartabat dibanding eksperimen setengah matang banyak band lain yang akhirnya terdengar seperti krisis identitas berkepanjangan. " May The Bridges We Burn Light The Way " pada akhirnya bukan album yang mencoba mengejutkan dunia. Ia hanya mengingatkan bahwa band veteran masih bisa terdengar relevan tanpa harus menjual jiwanya ke tren sesaat. Dan di zaman musik metal yang makin dipenuhi kepalsuan estetika dan pencitraan digital, konsistensi seperti itu justru terasa semakin brutal.
" May The Bridges We Burn Light The Way " tidak mengejutkan dimulai dengan cara yang mirip dengan banyak rilis mereka yang lain, dengan lagu pembuka instrumental. Bertolak belakang dengan Origin, lagu pembuka di sini memiliki energi yang ceria dan optimis sejak awal dan menetapkan nada untuk lagu berikutnya, " My Pain, " di mana aspirasi band untuk menghidupkan kembali semangat kreatif mereka sangat jelas. Riff gitar pada lagu ini terlihat rumit, yang merupakan tanda positif mengingat pergantian pemain yang baru-baru ini terjadi di posisi ritme. Gitaris lama Joonas " Jope " Koto keluar dari band pada tahun 2020 setelah merilis album luar biasa " The Burning Cold ". Kemudian band tersebut menyambut pengganti langsung Nick Cordle, yang merupakan pemain terampil yang terkenal karena masa singkatnya di Arsis dan Arch Enemy. Maju cepat ke awal 2025, dan Cordle sudah meninggalkan band tersebut, memungkinkan Koto untuk kembali ke posisinya sebelumnya. Kedua gitaris tidak dicantumkan dalam kredit di " May The Bridges We Burn Light The Way ", tetapi peningkatan yang signifikan dalam departemen riff menimbulkan pertanyaan apakah salah satu dari mereka mungkin terlibat dalam proses penulisan album. Apa pun kebenarannya, " My Pain " adalah pernyataan pembuka yang kuat dengan semangat yang mengalir sepanjang album. Lagu menonjol lainnya di " May The Bridges We Burn Light The Way " adalah " The Darkest City," yang menurut gitaris pendiri dan satu-satunya anggota asli yang tersisa, Markus Vanhala, adalah lagu pertama yang ditulis untuk album tersebut. Selain dari outro yang kurang menarik yang seharusnya lebih baik ditinggalkan di ruang pemotongan, lagu ini adalah contoh utama dari Omnium Gatherum yang tampil maksimal dengan keseimbangan vokal bersih yang kasar dan manis, melemparkan riff gitar perkusi yang dipadukan dengan melodi harmonis yang ceria, dan menenun interlud yang bermimpi yang dipenuhi efek; semua elemen khas mereka ada di sini dalam bentuk terbaik. Reff lagu ini bahkan mengingatkan pada karya terbaik Soilwork di awal tahun 2000-an, yang tentu saja bukan kebetulan karena Björn " Speed " Strid sendiri ikut memproduksi sesi rekaman vokal untuk " May The Bridges We Burn Light The Way ". " Walking Ghost Phase " mungkin adalah contoh terkuat dari band yang menerima label " death metal yang ditujukan untuk orang dewasa ". Kalian benar-benar bisa mendengar DNA sonik dari band-band seperti Journey dan Rush era synth; vamp keyboard yang mudah diingat yang berulang sepanjang lagu menciptakan gambaran Geddy Lee dalam blazer berlapis bahu dengan potongan rambut mullet yang ditata. Vokal ko-produser Strid, yang mungkin bahkan salah satu pelopor AODM dengan Soilwork, juga memberikan beberapa vokal kelompok selama pra-refrain lagu tersebut.
Mengikuti perjalanan Omnium Gatherum selama bertahun-tahun itu rasanya seperti melihat seseorang yang sangat berbakat tapi kadang terlalu nyaman duduk di sofa empuk ciptaannya sendiri. Mereka hampir selalu bagus, hampir selalu solid, hampir selalu tahu cara membuat melodic death metal yang elegan, emosional, dan atmosferik. Tapi ya itu tadi: " hampir ". Karena di beberapa titik karirnya, terutama ketika memasuki era produksi modern yang terlalu steril, band ini sempat terdengar seperti mesin profesional yang bekerja terlalu rapi sampai lupa meninggalkan luka emosional di musiknya. Makanya ketika " May The Bridges We Burn Light The Way " muncul dan langsung terdengar jauh lebih hidup dibanding pendahulunya, rasanya seperti mendengar denyut nadi lama mereka kembali berdetak. Dan setelah mengikuti sebagian besar diskografi mereka dari era awal sampai sekarang, w cukup yakin mengatakan bahwa ini adalah salah satu album terbaik yang pernah mereka buat. Bukan karena mereka tiba-tiba menjadi revolusioner atau menemukan formula baru yang mengubah sejarah melodic death metal. Tidak. Justru karena mereka akhirnya terdengar benar-benar terinspirasi lagi. Itulah poin yang sering dilupakan banyak pendengar modern yang terlalu terobsesi dengan kata " inovatif ". Seolah setiap album baru harus terdengar seperti eksperimen laboratorium alien supaya layak dipuji. Padahal kenyataannya, musik yang ditulis dengan hati, fokus, dan pemahaman matang terhadap identitas sendiri sering jauh lebih efektif dibanding karya yang terlalu sibuk ingin terlihat " berbeda ". Omnium Gatherum memahami itu. Mereka tidak mencoba menjadi band tech-death progresif super rumit, tidak mencoba jadi metalcore elektronik murahan, dan tidak tiba-tiba memasukkan trap beat demi viral di sosmed metalhead sok edgy. Mereka hanya membuat melodic death metal yang sangat mereka kuasai dan kali ini melakukannya dengan penuh keyakinan. Di album ini, semua elemen khas mereka terasa kembali menemukan keseimbangan terbaiknya. Melodi gitar yang pahit namun megah kembali menusuk dengan tepat, keyboard atmosferik mereka kembali membangun nuansa kosmik yang hangat tanpa terdengar berlebihan, dan vokal growl khas mereka terdengar jauh lebih menyatu dengan keseluruhan komposisi. Yang paling penting: lagu-lagunya punya arah dan emosi. Sesuatu yang sempat terasa hilang di " Origin ". Dan ya, Omnium Gatherum tetap terdengar seperti " death metal untuk orang dewasa ".
Istilah yang sebenarnya terdengar sarkastik, tapi anehnya sangat akurat. Musik mereka bukan tipe soundtrack untuk bocah baru belajar two-step sambil upload video gym dengan caption motivasi murahan. Ini musik untuk pendengar yang menikmati atmosfer, dinamika, dan rasa melankolis yang matang. Musik metal yang tidak takut terdengar reflektif tanpa kehilangan bobot distorsinya. Namun tentu saja album ini bukan tanpa kekurangan. Dan jujur saja, keputusan menyisipkan dua lagu instrumental dalam total sembilan track terasa agak mengganggu momentum. Ini semacam kebiasaan lama band metal yang kadang masih percaya bahwa intro dan outro instrumental otomatis membuat album terdengar lebih artistik atau sinematik. Padahal sering kali malah terasa seperti filler berkedok atmosfer. Kedua instrumental di sini memang tidak buruk, tapi juga tidak cukup penting untuk benar-benar meninggalkan dampak besar. Ketika materi utama mereka sudah sekuat ini, rasanya sayang durasi album malah dipotong oleh trek yang tidak terlalu esensial. Untungnya, tujuh lagu utamanya benar-benar mampu menopang keseluruhan album dengan sangat kuat. Dan di situlah kekuatan utama " May The Bridges We Burn Light The Way " berada: tidak ada lagu yang terasa setengah matang. Semuanya mengalir dengan kualitas yang konsisten, sesuatu yang tidak selalu berhasil dilakukan banyak band veteran setelah melewati album kesepuluh. Banyak band seusia mereka biasanya mulai terdengar kehabisan ide atau malah menjadi parodi nostalgia diri sendiri. Omnium Gatherum justru terdengar seperti menemukan kembali alasan kenapa mereka dulu dicintai. Pada akhirnya, " May The Bridges We Burn Light The Way " terasa seperti alarm kebangkitan. Semacam pengingat bahwa band ini masih punya api yang belum padam. Dan kalau album ini benar-benar menjadi titik balik kreatif mereka setelah periode yang sempat terasa stagnan, maka mungkin untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Omnium Gatherum benar-benar kembali berada di jalur menuju sesuatu yang besar lagi. Atau minimal, mereka akhirnya berhasil membakar jembatan menuju kebosanan yang sempat mengintai mereka sendiri.




0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !