1914 - Viribus Unitis
Napalm Records CD 2025
01. War In (The Beginning of the Fall) 01:30
02. 1914 (The Siege of Przemyśl) 04:48
03. 1915 (Easter Battle for the Zwinin Ridge) 09:14
04. 1916 (The Südtirol Offensive) 06:11
05. 1917 (The Isonzo Front) 06:34
06. 1918, Pt. 1: WIA (Wounded in Action) 06:20
07. 1918, Pt. 2: POW (Prisoner of War) 06:12
08. 1918, Pt. 3: ADE (A Duty to Escape) 05:50
09. 1919 (The Home Where I Died) 07:07
10. War Out (The End?) 03:10
k.u.k. Galizisches IR Nr.15, Gefreiter, Ditmar Kumarberg - Vocals
K.K. LIR Czernowitz Nr.22 Oberleutnant, Witaly Wyhovsky - Guitars
K.K. LIR Stanislau Nr.20 Zugsführer, Oleksa Fisiuk - Guitars
k.u.k. Galizisch-Bukowina’sches IR Nr.24, Feldwebel, Armen Howhannisjan - Bass
K.K. LIR. Lemberg Nr.19 Fähnrich, Rostislaw Potoplacht - Drums
Ukraina selalu punya hubungan yang aneh dengan musik metal. Di satu sisi, negara ini melahirkan musisi-musisi yang luar biasa keras kepala, kreatif, dan tahan banting. Di sisi lain, sejarah sosial-politiknya seperti tidak pernah memberi ruang bernapas yang normal. Jadi jangan heran kalau banyak band dari sana terdengar seperti lahir langsung dari reruntuhan beton, aroma mesiu, dan trauma kolektif yang belum selesai. Ketika dunia barat sibuk memperdebatkan subgenre baru tiap tiga bulan sekali sambil foto aesthetic di festival musim panas, para musisi Ukraina justru hidup di realita yang jauh lebih brutal daripada lirik death metal kebanyakan. Nama-nama seperti Jinjer memang berhasil membawa perhatian global pada scene metal Ukraina, tetapi di wilayah ekstrem bawah tanah, 1914 adalah salah satu representasi paling unik dan paling konsisten dari bagaimana sejarah perang bisa diterjemahkan menjadi musik yang benar-benar menghancurkan secara emosional. Bukan sekadar gimmick militeristik murahan penuh seragam dan jargon perang untuk terlihat keren seperti banyak band " War Metal Cosplay " lain yang cuma menjadikan tragedi sebagai dekorasi visual. Sejak terbentuk satu dekade lalu di Lviv, 1914 membangun identitas yang hampir mustahil disalahartikan. Mereka memang sering dibandingkan dengan Bolt Thrower karena sama-sama membawa nuansa perang dalam death metal mereka, tetapi perbandingan itu sebenarnya terlalu dangkal. Bolt Thrower terdengar seperti mesin perang raksasa yang bergerak maju menghancurkan segalanya. Sementara 1914 terdengar seperti manusia-manusia yang tertinggal di dalam reruntuhan perang itu sendiri. Ada rasa dingin, trauma, ketakutan, dan kehancuran psikologis yang jauh lebih pekat. Konsep blackened death/doom mereka bukan cuma tempelan estetika. Mereka menggabungkan riff-riff death metal yang berat dan agresif dengan atmosfer funeral yang sesak, lalu menyelimuti semuanya menggunakan sampel suara era World War I: pidato perang, nyanyian tentara, suara ledakan, fragmen dokumenter, hingga ambience medan tempur yang digunakan dengan sangat hati-hati. Tidak berlebihan, tidak murahan, tidak jatuh menjadi soundtrack film perang kelas B. Semua terasa menyatu sebagai pengalaman penuh penderitaan yang sangat manusiawi. Dan justru di situlah kekuatan terbesar mereka. Banyak band ekstrem modern gagal memahami perbedaan antara tema perang dan suasana perang. Sebagian besar hanya terdengar seperti orang mabuk sejarah militer sambil memuja tank dan senapan. 1914 berbeda. Mereka menangkap rasa putus asa dari perang itu sendiri. Ketika tempo melambat, bukan untuk memberi ruang bernapas, tetapi seperti langkah pasukan yang berjalan menuju kematian massal. Ketika blast beat datang menghajar, itu tidak terasa heroik, melainkan panik dan brutal seperti hujan artileri yang tidak berhenti. Album keempat mereka, " Viribus Unitis ", yang dirilis melalui Napalm Records , mungkin menjadi manifestasi paling suram dari semua itu. Ironisnya, album ini lahir ketika negara mereka sendiri masih menghadapi invasi brutal Rusia di bawah rezim Vladimir Putin. Dan fakta itu membuat seluruh atmosfer album terasa jauh lebih nyata dan mengerikan. Ini bukan lagi sekadar band yang bercerita tentang perang masa lalu. Mereka hidup di bawah bayangannya sekarang.
" Viribus Unitis " terdengar lebih agresif, lebih muram, dan lebih tanpa ampun dibanding rilisan mereka sebelumnya. Hampir tidak ada momen nyaman di sepanjang album. Bahkan bagian-bagian yang lebih lambat tetap terasa seperti march kematian berkepanjangan yang menyeret mayat demi mayat melewati lumpur parit. Satu-satunya " kelegaan " hanyalah potongan lagu tentara era 1910-an yang justru terdengar lebih menyeramkan karena memberi kesan tenang sebelum pembantaian berikutnya datang. Secara musikal, 1914 semakin memahami bagaimana mengontrol atmosfer tanpa kehilangan kekuatan riff. Gitar-gitar mereka tetap menggigit dengan aroma death metal yang kasar, sementara lapisan black metal memberi rasa dingin yang hampir nihilistik. Elemen doom mereka tidak dipakai untuk menjadi melankolis cantik, tetapi untuk menciptakan rasa berat yang menekan dada. Produksi album juga sengaja dibuat padat dan kotor, seperti debu mesiu yang menempel di paru-paru. Yang membuat 1914 tetap relevan bukan cuma karena konsep mereka unik. Banyak band punya konsep unik. Masalahnya, mayoritas hanya berhenti di estetika. 1914 berhasil membuat konsep itu menjadi identitas musikal yang utuh. Artwork, video klip, performa live, lirik, bahkan cara mereka membangun atmosfer semuanya saling terhubung seperti satu monumen perang yang hidup. Dan di era ketika banyak band ekstrem lebih sibuk viral di media sosial ketimbang membangun karakter artistik yang nyata, dedikasi seperti ini terasa semakin langka. Pada akhirnya, 1914 bukan musik untuk mencari hiburan ringan. Ini bukan soundtrack pesta metal penuh bir murahan dan circle pit sok brutal. Musik mereka terasa seperti catatan harian prajurit yang membusuk di parit berlumpur sambil menunggu mortir berikutnya jatuh tepat di kepalanya. Dan mungkin justru karena itulah mereka terdengar jauh lebih jujur dibanding sebagian besar band perang modern yang terlalu sibuk menjual citra heroik sambil lupa bahwa inti sebenarnya dari perang hanyalah penderitaan manusia yang tidak pernah selesai. Rekaman ini sangat menekan dan klaustrofobik dalam nada dan musiknya. Meskipun band ini tidak pernah terlalu melodius atau teknis, mereka telah meredam melodi-melodi penuh kehampaan mereka di album ini. Mereka masih ada, tetapi sebagai tekstur untuk menambah dinamika. Ada fokus yang lebih kuat pada riff berat dan drumming teknis secara keseluruhan, dan sebagian besar musiknya memiliki kualitas orkestra yang aneh namun tetap disonan. Ini semakin memperkuat nada dan suasana suram dengan keahlian musik yang dingin dan terukur. Kualitas orkestra itu, yang juga bisa w sebut sinematik, juga berlaku pada lirik di seluruh album. Ini disusun dengan setiap tahun di mana Perang Dunia I terjadi; dari tahun 1914 hingga 1918, dan liriknya mengikuti cerita yang terjadi pada tahun-tahun tersebut, dan diceritakan dari sudut pandang orang pertama. Yang paling menonjol adalah epik 3 bagian " 1918 ", dan lagu kedua terakhir " 1919 (The Home Where I Died) ", yang merinci akhir perang dan dampak langsungnya. Lagu terakhir sepenuhnya menghilangkan unsur metal untuk apa yang bisa digambarkan sebagai karya industri militer yang menampilkan seniman neofolk, Rome. Rome menyanyikan tentang dampak pasca perang yang telah disebutkan sebelumnya dan kesadaran bahwa perang telah berakhir, tetapi mereka yang selamat tidak pernah pulang. Jiwa mereka mati bersama rekan-rekan mereka. Kemudian diikuti oleh outro dengan lagu sampel lainnya berjudul " War Out (The End?) " dan, tak perlu dikatakan, album ini dibuka dan ditutup dengan keputusasaan dan kegelapan yang total. It’s another step forward in their mission to turn the history of the Great War into something vivid and unforgettable for this generation and the select few who have not only the luck of stumbling across it, but for the ability to appreciate it and its filthy beauty. This is nothing short of a masterpiece.





0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !