Testament - The New Order CD 1988

Testament - The New Order
Megaforce Records CD 1988

01. Eerie Inhabitants 05:05       
02. The New Order 04:27       
03. Trial by Fire 04:15     
04. Into the Pit 02:46       
05. Hypnosis 02:04      
06. Disciples of the Watch 05:07       
07. The Preacher 03:38       
08. Nobody's Fault (Aerosmith cover) 03:55       
09. A Day of Reckoning 04:00      
10. Musical Death (A Dirge) 04:02


Chuck Billy - Vocals
Alex Skolnick - Guitars
Eric Peterson - Guitars 
Greg Christian - Bass
Louie Clemente - Drums 


Pada 1988, thrash metal sudah bukan anak liar yang baru menemukan cara memainkan gitar dengan cepat. Slayer telah mempersempit jarak antara kecepatan dan kegilaan, Metallica mulai memperluas ambisi komposisi, Megadeth semakin teknis, sementara gelombang kedua mulai memperlihatkan bahwa thrash tidak harus selalu berarti siapa paling cepat menghantam pedal. Testament datang sedikit terlambat ke pesta itu. " The Legacy " baru muncul pada 1987, ketika formula genre sudah berkembang jauh. Namun keterlambatan tersebut justru membuat debut Testament terdengar seperti kapsul waktu yang kebetulan memiliki teknologi masa depan di dalamnya. Setahun kemudian, " The New Order " mencoba melangkah keluar dari bayangan tersebut. Hasilnya bukan revolusi, melainkan evolusi yang sangat terukur dan mungkin justru karena terlalu terukur, album ini tidak selalu menggigit sedalam pendahulunya. " The New Order " tidak menyerang seperti The Legacy. Ia lebih suka membangun. " Eerie Inhabitants ", " Disciples of the Watch ", " The Preacher ", dan " Into the Pit " tetap memberikan dosis thrash yang dibutuhkan riff cepat, hentakan drum rapat, dan chorus yang dirancang untuk diteriakkan satu ruangan penuh kepala botak dan denim. " Into the Pit ", khususnya, adalah salah satu lagu Testament paling efektif dalam mengubah agresi menjadi anthem tanpa kehilangan gigi. Tetapi pergeseran paling penting terjadi pada lagu-lagu seperti " Trial by Fire ", " A Day of Reckoning ", dan " The New Order ". Tempo lebih sering diturunkan. Riff diberi ruang. Melodi tidak lagi menjadi hiasan setelah kekerasan selesai; ia menjadi bagian dari arsitektur lagu. Ini adalah Testament yang mulai memahami bahwa riff tidak harus berlari agar terasa berbahaya. Dan di sinilah Alex Skolnick mulai mengambil alih sebagian besar percakapan.

Skolnick tidak bermain seperti gitaris thrash yang sekadar berlomba dengan metronom. Pengaruh neoklasiknya semakin jelas melalui arpeggio, frase melodis, dan lead yang terdengar lebih terstruktur. Tetapi keberhasilannya bukan hanya karena ia mampu bermain cepat. Yang lebih penting adalah bagaimana permainan solonya ditempatkan di dalam komposisi. Eric Peterson menjadi pasangan ideal: ia menyediakan fondasi ritmis yang membuat Skolnick dapat bergerak bebas tanpa membuat lagu runtuh menjadi demonstrasi gitar. Keduanya bekerja seperti arsitek dan tukang demolisi. Peterson membangun dinding. Skolnick datang membawa bor. Pada " Disciples of the Watch ", " The Preacher ", dan " Into the Pit” ", kombinasi tersebut menghasilkan salah satu karakteristik Testament yang kemudian menjadi identitas permanen mereka: thrash yang teknis tetapi tidak kehilangan bentuk lagu. Itu terdengar sederhana sekarang. Pada 1988, tidak sesederhana itu. Kemudian Testament melakukan sesuatu yang sedikit menjengkelkan. " Hypnosis " adalah instrumental pendek yang membangun suasana sebelum " Disciples of the Watch ". Secara atmosferik, ia bekerja. Melodi gitarnya menyiapkan telinga untuk sesuatu yang lebih besar. Masalahnya: " Disciples of the Watch " kemudian membawa kembali motif yang sangat mirip. Jadi kita mendapatkan sebuah interlude yang memberi kesan bahwa pintu sedang dibuka, lalu lagu berikutnya membuka pintu yang sama sekali lagi. Efektif? Ya. Perlu? Belum tentu. Dalam konteks album yang relatif singkat, keputusan semacam ini terasa seperti kosmetik dan jika tujuan " Hypnosis " memang sekadar membangun atmosfer, Testament sebenarnya sudah cukup mampu melakukannya langsung melalui intro lagu.

Greg Christian akhirnya mendapatkan ruang yang lebih pantas. Produksi " The New Order " lebih jelas daripada " The Legacy ", dan bass Christian tidak lagi sepenuhnya hilang di belakang dinding gitar. Ia tidak sekadar mengikuti Peterson. Ada momen ketika bass mengambil jalur melodis sendiri, terutama pada bagian-bagian tertentu " Disciples of the Watch ". Louie Clemente juga terdengar lebih fleksibel. Ia dapat berpindah dari pola thrash konstan menuju fill yang lebih liar ketika struktur lagu menuntutnya. Ini penting karena The New Order tidak hanya memperbaiki suara Testament; ia juga memperlihatkan bahwa mereka mulai berpikir sebagai band, bukan sekadar dua gitaris dengan rhythm section yang menjaga mesin tetap hidup. Chuck Billy pun mengalami perkembangan yang cukup jelas. Vokalnya masih agresif, tetapi scream bernada tinggi yang lebih dominan di " The Legacy " mulai dikontrol. Billy semakin sering menggunakan register yang lebih tebal dan melodis, kemudian mengeluarkan jeritan ketika tensi memang membutuhkan ledakan. Perubahan kecil ini nantinya menjadi jembatan menuju " Practice What You Preach ". Lalu ada " Nobody’s Fault ". Lagu Aerosmith tersebut diterjemahkan Testament menjadi thrash yang jauh lebih keras dan agresif. Secara kualitas cover, ini berhasil. Mereka tidak sekadar menyalin lagu; mereka memasukkannya ke dalam bahasa Testament. Chuck Billy bahkan terdengar lebih liar di sini. Tetapi secara editorial, pertanyaannya sederhana: Mengapa lagu ini harus berada di sini? Album ini hanya memiliki delapan lagu orisinal, ditambah dua instrumental/cover dalam susunan yang relatif singkat. " Nobody’s Fault " mengisi ruang yang sebenarnya dapat digunakan untuk satu komposisi baru. Jadi ya cover-nya bagus. Tetapi bagus tidak otomatis berarti perlu dan itu menjadi salah satu masalah " The New Order " : beberapa keputusan terasa seperti cara cepat memperpanjang atau melengkapi album, bukan bagian mutlak dari visi komposisinya.

Jika empat lagu awal adalah mesin utama, " Musical Death (A Dirge) " memberikan penutup yang cukup elegan. Instrumental neoklasikal ini memperlihatkan sisi lain Testament dan memberikan atmosfer yang jauh lebih tenang. Sebagai penutup, ia masuk akal. Tetapi dibandingkan dengan ledakan " The Legacy ", " The New Order " terasa sedikit terlalu sopan. Bukan buruk. Justru terlalu rapi. Ada perbedaan antara album yang matang dan album yang kehilangan sedikit kebiadaban. " The New Order " kadang berada di garis tipis tersebut. Beberapa riff bahkan terasa memiliki kemiripan pola, terutama antara " The New Order " dan " Trial by Fire ". Hal itu tidak cukup untuk menyebutnya repetitif, tetapi memperlihatkan bahwa Testament masih bekerja dengan bahan komposisi yang relatif terbatas dan di situlah kritik terbesar terhadap album ini muncul: mereka sudah memiliki kemampuan teknis, tetapi belum selalu memiliki waktu untuk mengolah semua kemungkinan yang tersedia. " The New Order " lahir tidak lama setelah " The Legacy ". Proses penulisannya dan rekamannya berlangsung dalam jadwal yang relatif padat, sementara Testament sedang bergerak cepat sebagai band yang mulai mendapatkan perhatian besar. Hasilnya terasa. Ada lagu-lagu yang sudah sangat matang. Ada pula ide yang terdengar seperti belum diberi cukup waktu untuk berkembang. Ironinya, kemampuan para pemain membuat kekurangan tersebut mudah disamarkan. Skolnick dapat mengisi ruang kosong dengan solo brilian. Peterson mampu memperkuat riff yang sederhana. Christian dan Clemente menjaga semuanya tetap hidup. Billy memberikan karakter vokal yang semakin matang. Mereka memiliki terlalu banyak pemain bagus untuk membiarkan lagu benar-benar gagal. Tetapi kualitas individu tidak selalu menghasilkan album yang sepenuhnya kohesif.

Membandingkan " The New Order " dengan " The Legacy " tidak terhindarkan. Debut memiliki sesuatu yang lebih liar. Ia terasa seperti band muda yang sedang berusaha membuktikan bahwa mereka mampu menghancurkan ruangan. " The New Order " terdengar seperti band yang mulai sadar bahwa mereka sudah diperhatikan. Ada lebih banyak melodi, Lebih banyak ruang, Lebih banyak eksperimen, Lebih banyak kontrol dan sedikit lebih sedikit bahaya. Namun justru melalui perubahan itulah Testament menemukan fondasi untuk dekade berikutnya. " The New Order " menjadi jembatan antara agresi debut dan kematangan komposisi yang semakin terlihat pada " Practice What You Preach ". Ia bukan salinan " The Legacy ". Untungnya. Tetapi ia juga belum sepenuhnya menjadi Testament yang paling matang. " The New Order " adalah album klasik bukan karena ia sempurna, melainkan karena ia memperlihatkan sebuah band sedang menemukan bahasa mereka sendiri di tengah genre yang berkembang terlalu cepat. Skolnick memperlebar vocabulary gitar. Peterson memastikan semuanya tetap memiliki tulang punggung. Christian mulai mendapatkan ruang. Clemente memperkaya dinamika. Billy menemukan keseimbangan antara jeritan dan melodi. Ada " Eerie Inhabitants " yang membuka pintu dengan agresi. " Into the Pit " yang mengubah thrash menjadi ritual massal. " Trial by Fire " dan " The New Order " yang memperlihatkan sisi lebih berat dan melodis. " Disciples of the Watch " yang menjadi salah satu pernyataan teknis terbaik mereka. Lalu " Nobody’s Fault " dan " Hypnosis " yang membuat album sedikit kehilangan fokus. Jadi, tidak " The New Order " bukan " The Legacy " jilid dua. Ia adalah Testament yang mulai berhenti berlari dan mulai belajar mengatur napas dan kadang, ketika sebuah band berhenti berlari, kita baru bisa melihat seberapa bagus sebenarnya kaki mereka bekerja.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine