Capharnaum - Fractured CD 2004

Capharnaum - Fractured
Willowtip Records CD 2004

01 Ingrained 03:50       
02 Fractured 03:52       
03. Perpetuate Catatonia 02:54       
04. Machines 01:59      
05. Icon of Malice 04:19       
06. Reins of Humanity 03:30       
07. The Scourge Trial 02:27     
08. Refusal 06:45


Matt Heafy - Vocals 
Jason Suecof - Guitars, Vocals 
Daniel Mongrain - Guitars
Michael Poggione - Bass
Jordan Suecof - Drums 


Era ketika TDM semakin dipenuhi band-band yang berlomba memainkan 7.000 not per menit demi memuaskan ego instruktur gitar YouTube masa depan, " Fractured " milik Capharnaum hadir sebagai pengingat bahwa teknik seharusnya melayani lagu, bukan sebaliknya. Album kedua dan terakhir dari kuintet Florida ini adalah salah satu permata tersembunyi yang sering luput dari pembicaraan besar skena technical death metal, padahal kualitasnya jauh lebih layak dibicarakan dibanding puluhan album " Progresif " modern yang terdengar seperti latihan pemanasan sebelum soundcheck. Line-up Capharnaum sendiri sudah cukup membuat fans metal teknis mengangkat alis. Di sini terdapat Daniel Mongrain (Martyr, Voivod, ex-Cryptopsy, ex-Forbidden, ex-Gorguts, ex-Black Cloud ), Jason Suecof (Charred Walls of the Damned, ex-Gargamel, ex-Crotchduster, ex-Evince), Mike Poggione (Brutal Torment, Doomcross, Doomsilla, Ectopic Malignancy, Flying, God Cries, Harhoog, Human Enslavement, Hypoxia, Lava Abyss, Omnipotence, Serpenternity, The Dead Cold, ex-Cult of Mourning, ex-Lifeless Dreams... Pale Illusions, Dead Animal, Disruptor, ex-Eulogy, ex-Lecherous Nocturne, ex-Monstrosity, ex-Skinned, ex-Vile, ex-The Autumn Offering, ex-Human Rejection, ex-Scab Maggot, ex-Serocs), Jordan Suecof, dan seorang Matt Heafy-nya Trivium mulai namanya pertama kali dikenal jauh sebelum namanya identik dengan arena metalcore raksasa bernama Trivium ! Kombinasi nama-nama tersebut menghasilkan sebuah album yang berdiri di antara agresi OSDM, kecerdasan progresif, dan sensibilitas melodi yang jarang ditemukan dalam genre ini.

Sejak pembuka " Ingrained ", Capharnaum langsung menunjukkan niat mereka. Tidak ada intro ambient berkepanjangan, tidak ada gimmick sinematik murahan yang biasanya digunakan band untuk menyembunyikan kurangnya ide riff. Yang ada hanyalah serangan riff tujuh senar yang berputar, groove yang menggigit, serta dinamika yang membuat kepala bergerak bahkan sebelum otak sempat mencerna kompleksitasnya. secara musikal, " Fractured " berada di persimpangan antara era " Symbolic " dan " The Sound of Perseverance " milik Death, keganasan awal Martyr, serta sentuhan MDM yang tidak pernah terdengar dipaksakan. Hasilnya adalah TDM yang rumit namun tetap manusiawi. Ya, manusiawi. Sebuah kata yang sayangnya sudah hampir punah di subgenre yang terlalu sering terdengar seperti file MIDI berisi kompetisi masturbasi instrumen. sorotan terbesar album ini jelas berada pada departemen gitar. Daniel Mongrain dan Jason Suecof tampil seperti dua ilmuwan gila yang sedang bereksperimen dengan fisika riff. Permainan mereka teknis, presisi, dan sangat kompleks, namun tidak pernah kehilangan identitas musikal. Riff-riff berliku yang memenuhi " Icon of Malice ", " The Scourge Trial ", hingga " Perpetuate Catatonia " terdengar hidup dan memiliki tujuan. Tidak ada shred yang ditempel hanya demi menunjukkan jumlah jam latihan harian. yang lebih mengesankan adalah kemampuan keduanya menyisipkan hook di tengah kekacauan teknikal tersebut. Banyak band TDM mampu membuat pendengar kagum. Sedikit yang mampu membuat pendengar mengingat riff mereka setelah lagu berakhir. Capharnaum termasuk kelompok yang kedua.

Solo-solo gitarnya pun pantas mendapat pujian khusus. Di saat banyak gitaris technical death metal memperlakukan solo sebagai ajang demonstrasi kecepatan tanpa arah, Mongrain dan Suecof membangun solo yang melodis, emosional, dan memiliki struktur yang jelas. Pengaruh progressive metal dan melodeath Gothenburg terasa kuat tanpa pernah mengaburkan identitas death metal album ini. Jordan Suecof di belakang drum memberikan fondasi yang sama solidnya. Permainannya teknis dan penuh variasi, tetapi tidak jatuh ke jebakan blast beat tanpa tujuan. Ia memahami kapan harus mempercepat serangan dan kapan harus memberi ruang bagi riff untuk bernapas. Pendekatan seperti ini membuat album terdengar jauh lebih matang dibanding banyak rilisan technical death metal modern yang menganggap dinamika sebagai dosa. sementara itu, Mike Poggione mungkin tidak mendapat sorotan sebesar para gitaris, tetapi kontribusinya sangat penting. Permainan bassnya mampu mengikuti kompleksitas gitar tanpa kehilangan karakter. Intro bass pada " Refusal " menjadi salah satu momen paling berkelas dalam album ini, meskipun sayangnya kesempatan serupa tidak lebih sering dimanfaatkan sepanjang durasi rekaman.

Berbicara mengenai lagu-lagu unggulan, " Perpetuate Catatonia " adalah definisi sempurna bagaimana technical death metal seharusnya ditulis. Riff-riff berkelok, groove yang mematikan, dan transisi yang alami menjadikannya salah satu komposisi terbaik dalam katalog Capharnaum. " Reigns of Humanity " menawarkan kombinasi agresi dan kecerdasan yang sama efektifnya, sementara " Icon of Malice " menjadi titik paling brutal sekaligus paling mengesankan dari seluruh album.Masalah terbesar album ini justru datang dari sosok yang paling dikenal publik: Matt Heafy. Vokalnya memang tidak buruk secara mutlak, tetapi terdengar kurang cocok untuk materi musik sekelas ini. Teriakan hardcore yang ia gunakan sering kali terasa datar dibanding kompleksitas instrumental yang mengelilinginya. Ketika Jason Suecof mengambil alih vokal pada beberapa bagian, perbedaannya langsung terasa signifikan. Suara Suecof memiliki karakter death metal yang lebih alami, lebih berbahaya, dan lebih menyatu dengan atmosfer musik.

Untungnya, kelemahan tersebut tidak cukup besar untuk merusak keseluruhan pengalaman mendengarkan. Instrumen di album ini terlalu kuat untuk dijatuhkan hanya oleh satu aspek yang kurang maksimal. keluhan lain adalah durasi album yang hanya sekitar tiga puluh menit. Saat album berakhir, perasaan yang muncul bukan kelelahan, melainkan keinginan untuk mendengar lebih banyak. Dalam konteks kualitas materi yang ditawarkan, itu bisa dianggap pujian sekaligus kritik. yang membuat " Fractured " tetap relevan hingga hari ini adalah kesadaran Capharnaum bahwa TDM harus tetap menjadi musik terlebih dahulu. Mereka memahami bahwa riff lebih penting daripada kalkulasi, groove lebih penting daripada pamer kemampuan, dan lagu lebih penting daripada ego. sebuah konsep yang terdengar sederhana, namun entah mengapa masih gagal dipahami oleh setengah skena technical death metal modern. " Fractured " mungkin bukan album paling revolusioner dalam sejarah genre ini. Ia tidak mengubah wajah TDM, tidak memulai gelombang baru, dan tidak menjual jutaan kopi. Namun album ini melakukan sesuatu yang jauh lebih penting: membuktikan bahwa kecerdasan musikal dan kekerasan ekstrem dapat hidup berdampingan tanpa harus saling membunuh dan dua dekade kemudian, itu masih terdengar jauh lebih mengesankan daripada riband sweep picking tanpa arah yang terus membanjiri genre ini setiap tahunnya. Pengen ngedengerin Trivium tampil lebih teknikal??? coba " Fractured " nya Capharnaum ini.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine