Phobocosm - Gateway
Dark Descent Records CD 2025
01. Deathless 06:21
02. Unbound 06:31
03. Corridor I - The Affliction 02:33
04. Sempiternal Penance 05:41
05. Corridor II - The Descent 02:52
06. Beyond the Threshold of Flesh 08:26
07. Corridor III - The Void 02:54
E.B. - Vocals/Bass
S.D. - Guitars
R.M. - Guitars
J.S.G. - Drums
Death metal disonan atau dissodeath, avant-death, chaos death, atau apapun istilah sok akademik yang lahir dari forum internet penuh orang yang terlalu banyak membaca teori musik sambil lupa mandi, memang menjadi salah satu subgenre paling memecah pendapat dalam dunia extreme metal modern. Sebagian orang menganggapnya evolusi paling cerdas dari death metal. Sebagian lagi menganggapnya cuma sekumpulan riff acak yang dimainkan orang stres di lorong rumah sakit jiwa. Dan jujur saja, w sendiri masih berdiri di tengah-tengah kekacauan itu. Ada band-band tertentu yang entah bagaimana bisa terasa masuk akal di telinga w, seperti Immolation dengan aura apokaliptik dan riff patah tulang mereka, Gorguts yang berhasil mengubah disonansi menjadi seni penghancuran mental, atau Ulcerate yang terdengar seperti gempa bumi emosional dalam bentuk musik. Tapi di sisi lain ada juga band-band seperti Imperial Triumphant, Portal, sampai Blindfolded and Led to the Woods yang lebih sering membuat w merasa seperti sedang tersesat di museum seni modern penuh suara pipa bocor dan alarm kebakaran rusak. Mungkin memang w belum sepenuhnya memahami cara " menikmati " dissodeath secara total. Dan justru karena itulah menarik ketika harus berhadapan dengan Phobocosm, unit death metal asal Montreal, Quebec, Kanada yang sejak 2008 konsisten bergerak di wilayah gelap penuh atmosfer kosmik dan riff disonan. Ditambah lagi keberadaan gitaris veteran dari band Teknikal Death metal Pioner Necrotic Mutation seperti Rob Milley, nama yang jelas sudah tidak asing bagi penggemar technical death metal lewat sepak terjangnya bersama Neuraxis dan Torn Within, membuat ekspektasi terhadap materi mereka otomatis naik. Dan untungnya, Phobocosm termasuk salah satu pengecualian yang benar-benar bekerja bagi w. Kenapa? Karena di balik seluruh atmosfer abstrak dan disonansi yang mereka bangun, masih ada fondasi death metal yang terasa nyata. Mereka tidak tenggelam total dalam kekacauan tanpa arah seperti banyak band dissodeath modern yang terdengar lebih sibuk menjadi " aneh " daripada benar-benar berat. Pengaruh Immolation terasa sangat kuat dalam DNA musik mereka, riff yang berputar seperti bangunan runtuh, aura gelap yang menyesakkan, dan pendekatan songwriting yang tetap punya struktur meskipun terdengar seperti kehancuran total.
Album " Gateway " sendiri ibarat ruang pembersihan arsip bawah tanah mereka. Direkam dalam sesi yang sama dengan " Foreordained " tahun 2023, materi di sini diambil dari berbagai era perjalanan band, bahkan beberapa akarnya bisa ditelusuri sampai debut " Deprived " tahun 2014. Dan justru karena berasal dari periode berbeda itulah album ini terasa seperti peta evolusi mental mereka sendiri. Ada aura busuk dan ritualistik ala Immolation yang sangat terasa, terutama pada riff-riff yang menggeliat penuh tekanan. Di sisi lain, benturan disonansi modern dari " Foreordained " masih muncul seperti kabut dingin yang menyelimuti seluruh atmosfer album. Hasil akhirnya? Sebuah chaos yang tetap kohesif. Tidak terdengar seperti eksperimen mahasiswa seni yang baru menemukan pedal efek kemarin sore. Yang menarik, Phobocosm memahami satu hal penting yang mulai dilupakan banyak band disonan modern: death metal tetap harus punya pukulan. Tidak cukup hanya terdengar rumit. Musik ekstrem tetap membutuhkan insting primitif yang membuat kepala otomatis mengangguk tanpa harus membaca tesis filsafat eksperimental dulu. Di sinilah mereka unggul. Mereka mampu menjaga keseimbangan antara ketegangan teknikal dan groove bawah sadar yang membuat musiknya tetap hidup. Sebuah kualitas yang justru jarang dimiliki band-band dissodeath modern yang terlalu sibuk terdengar progresif sampai lupa membuat lagu yang benar-benar menghantam ulu hati. Sayangnya, kelemahan terbesar " Gateway " justru datang dari durasinya sendiri. Tujuh lagu dengan total sekitar tiga puluh lima menit terasa seperti makanan brutal yang disajikan setengah matang. Tiga track instrumental pendek di dalamnya malah terdengar seperti ide besar yang belum sepenuhnya dilepaskan. Ironisnya, justru bagian-bagian instrumental itu menjadi momen paling melodis dan emosional di album ini. Seakan Phobocosm diam-diam memberi petunjuk bahwa mereka sebenarnya mampu melangkah lebih jauh dari sekadar death metal disonan yang penuh teror riff abstrak. Dan mungkin itu poin paling penting dari " Gateway ". Album ini membuktikan bahwa death metal disonan tidak harus selalu menjadi kompetisi siapa paling sulit dicerna. Tidak harus terdengar seperti soundtrack mesin pabrik neraka yang mogok total demi terlihat artistik. Kadang cukup dengan riff yang menghancurkan, atmosfer yang gelap, dan komposisi yang benar-benar punya nyawa. Sesederhana itu. Dan lucunya, justru kesederhanaan instingtif itulah yang sekarang terasa paling langka di lautan band dissodeath modern yang terlalu sibuk memuja kompleksitas demi gengsi semata.





0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !