TENTANG KEGILAAN, SCENE, TULISAN, SELEKSI ALAM DAN MENGAPA METAL TIDAK PERNAH CUKUP HANYA DIDENGARKAN ! 

" Kita tidak cuma perlu tahu seperti apa rasanya. Kita juga harus tahu dari mana rasa itu berasal. "
Sebenernya w sendiri nggak pernah tahu kapan kegilaan ini dimulai. Tidak ada tanggal kelahiran yang tercetak rapi. Tidak ada upacara peresmian. Tidak ada pita yang dipotong pejabat scene sambil membawa gunting emas, lalu seseorang berteriak, " Dengan ini secara resmi kalian menjadi metalhead. " Dunia nyata tidak bekerja sebodoh itu, yang w tahu, kegilaan tersebut tumbuh perlahan. Mungkin dari suara gitar yang terdengar seperti mesin industri sedang mengalami kerusakan permanen. Mungkin dari kaset yang diputar berulang-ulang sampai pita magnetiknya nyaris menyerah. Mungkin dari sampul album fotokopian, majalah yang berpindah tangan, flyer yang ditempel sembarangan, surat yang dikirim lewat pos, atau percakapan panjang tentang band yang bahkan belum tentu pernah kita lihat bermain secara langsung dan mungkin pula, kegilaan itu tidak pernah benar-benar dimulai, Ia hanya menular. Satu orang membawa kepada orang lain. Satu band melahirkan band berikutnya. Satu pertunjukan menginspirasi pertunjukan lain. Satu tulisan memancing tulisan berikutnya. Sebuah kaset menjadi pintu masuk menuju katalog rilisan yang lebih besar. Sebuah zine menjadi jembatan menuju scene yang sebelumnya tidak diketahui, Begitulah underground bekerja. Bukan sebagai industri yang sempurna, melainkan sebagai ekosistem yang bertahan justru karena ketidaksempurnaannya.

Ada kecenderungan romantis untuk menjelaskan metal sebagai bentuk pemberontakan batin, Kalimatnya sepintas terdengar keren. Metal dianggap sebagai suara kemarahan, penolakan terhadap norma, perlawanan terhadap kemapanan, atau manifestasi jiwa yang menolak dikurung. Tidak sepenuhnya salah, tetapi juga terlalu sederhana. Sebab metal tidak selalu lahir dari pemberontakan, Kadang ia lahir dari rasa ingin tahu, Kadang dari kebosanan, Kadang dari pertemanan, Kadang dari obsesi terhadap suara yang dianggap terlalu bising oleh masyarakat normal dan kadang, ironisnya, hanya karena seseorang mendengar sebuah lagu lalu berpikir: " Gila, suara apaan ini? " Dari pertanyaan sesederhana itulah sebuah dunia bisa terbuka. Dalam konteks Blitar, perkembangan scene metal dapat dibaca sebagai bagian dari arus yang lebih luas. Ia bukan fenomena yang berdiri sendirian di tengah kekosongan geografis. Sebelumnya sudah ada scene di berbagai daerah yang lebih dulu membangun jaringan, pertunjukan, distribusi rilisan, media, komunitas, dan identitas. Blitar kemudian mengalami proses yang sama: menerima pengaruh, mengolahnya, memelintirnya, lalu menghasilkan bentuknya sendiri, tidak ada scene yang lahir dari ruang hampa, Setiap generasi selalu mewarisi sesuatu. Yang membedakan adalah apakah warisan itu hanya dikagumi sebagai benda museum atau benar-benar dipakai sebagai bahan bakar untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Pada satu titik, metal menjadi semacam wabah, Bukan wabah dalam arti epidemiologis tentu saja meskipun kalau melihat jumlah rambut gondrong, kaus hitam, patch, pentagram, corpsepaint, jaket penuh emblem, dan suara gitar yang semakin tidak manusiawi, metafora itu terasa cukup masuk akal. Scene mulai berkembang, Metalis bermunculan dengan berbagai kepentingan, ada yang benar-benar ingin bermusik, ada yang ingin membentuk band, ada yang ingin mengorganisir pertunjukan, ada yang ingin membuat media, ada yang ingin menulis, ada yang ingin merekam. ada yang ingin mengoleksi, ada yang ingin sekadar berada di tengah keramaian dan tentu saja ada yang datang karena merasa menjadi metalhead terlihat lebih keren daripada menjadi manusia biasa. Tidak masalah, Scene selalu memiliki berbagai macam manusia, tetapi waktu memiliki cara yang brutal untuk memilah semuanya. Seleksi alam bekerja lebih efektif daripada manifesto.Yang bertahan bukan selalu yang paling keras suaranya. Bukan pula yang paling banyak bicara mengenai underground. Yang bertahan adalah mereka yang tetap melakukan sesuatu ketika euforia sudah selesai. Ketika penonton mulai berkurang, ketika band bubar, ketika teman seperjuangan pindah kota, ketika uang tidak ada, ketika pekerjaan menyita waktu, ketika teknologi mengubah cara musik diproduksi dan dikonsumsi, ketika scene tidak lagi memberi tepuk tangan, di situlah kelihatan siapa yang benar-benar memiliki hubungan dengan musik dan siapa yang hanya memiliki hubungan dengan citranya.

w menyukai istilah " Penjahat metal nomor satu " justru karena terdengar absurd. tidak ada sertifikat untuk menjadi penjahat metal, tidak ada gelar akademis, tidak ada ujian nasional, tidak ada wisuda, tetapi ada satu ukuran yang lebih jujur: berapa lama seseorang masih melakukan apa yang diyakininya ketika tidak ada lagi keuntungan sosial dari aktivitas tersebut? Itulah ujian sebenarnya. Sebab menjadi bagian dari scene ketika semuanya sedang ramai sangat mudah. Menjadi bagian dari scene ketika semua orang mulai meninggalkannya jauh lebih sulit. Di titik itulah hobi berubah menjadi komitmen, Komitmen berubah menjadi kebiasaan, Kebiasaan berubah menjadi identitas dan identitas akhirnya menjadi bagian dari sejarah. Bukan sejarah dalam pengertian besar yang selalu masuk buku pelajaran, melainkan sejarah kecil yang sering dianggap tidak penting sampai suatu hari generasi berikutnya bertanya: " Dulu sebenarnya scene di Blitar ini seperti apa? " Jika tidak ada yang mencatat, jawabannya mungkin hilang dan di situlah media mulai memiliki arti.

Lahirnya sebuah media dalam ekosistem metal bukan sekadar aktivitas membuat tulisan, adalah pekerjaan dokumentasi, alat komunikasi, penghubung, arsip dan dalam banyak kasus, ia juga menjadi bentuk perlawanan terhadap sifat pelupa sebuah scene. Sebuah band bisa bubar, Sebuah venue bisa tutup, Sebuah event bisa selesai dalam satu malam, Sebuah rilisan fisik bisa habis, Sebuah generasi bisa menua, Tetapi tulisan memiliki peluang untuk meninggalkan jejak. Itulah mengapa media dan scene sebenarnya memiliki hubungan yang jauh lebih intim daripada sekadar hubungan promosi. Band membutuhkan media untuk memperkenalkan gagasan, Media membutuhkan band sebagai objek dokumentasi, Pembaca membutuhkan keduanya untuk memahami konteks dan scene membutuhkan semuanya agar tidak menjadi sekumpulan aktivitas yang muncul, berisik selama beberapa tahun, kemudian menghilang tanpa bekas. Media yang hanya menjadi mesin promosi tentu tidak cukup. Jika semua band selalu disebut hebat, semua album disebut luar biasa, semua event disebut spektakuler, dan semua orang selalu diberi tepuk tangan, maka pada akhirnya media tersebut tidak sedang melakukan jurnalistik, Ia hanya sedang menjadi brosur dengan font yang lebih keren.

w sendiri berangkat dari sesuatu yang sederhana: hobi menulis. Sejak masih kecil, w percaya tulisan dapat mengatakan sesuatu yang terkadang tidak mampu dikeluarkan melalui percakapan. Ada hal-hal yang terlalu panjang untuk dibicarakan, Ada gagasan yang terlalu rumit untuk dijelaskan secara spontan, Ada kemarahan yang justru kehilangan makna jika diteriakkan, Ada pengalaman yang baru menemukan bentuknya setelah ditulis, Maka tulisan menjadi semacam ruang pelarian bukan pelarian dari realitas, melainkan cara untuk memahaminya. Ketika duduk di bangku sekolah, jurnalistik mulai menjadi salah satu ketertarikan yang semakin kuat. Dari sana muncul obsesi lain: berbagi informasi. Bukan karena merasa paling tahu, Justru sebaliknya. Karena sadar bahwa pengetahuan yang tidak dibagikan akan berhenti sebagai koleksi pribadi. Informasi memiliki nilai ketika ia bergerak, Satu informasi berpindah kepada orang lain, Orang lain mengembangkannya, Orang berikutnya mengoreksinya. Kemudian muncul pemahaman baru. Begitulah pengetahuan seharusnya hidup.

Tulisan saya tidak pernah berhenti berubah dan memang seharusnya begitu. Seorang penulis yang tidak berubah selama puluhan tahun mungkin bukan sedang mempertahankan identitas. Bisa jadi ia hanya sedang malas berkembang. Zaman berubah, Bahasa berubah, Teknologi berubah, Cara orang membaca berubah, Cara musik diproduksi berubah, Cara musik ditemukan berubah, Cara scene berkomunikasi berubah, Maka tulisan pun harus mengalami evolusi. Bukan berarti kehilangan karakter, Justru karakter harus menjadi semakin matang. w percaya bahwa sebagian pembaca akhirnya dapat mengenali karakter sebuah tulisan bahkan sebelum melihat nama penulisnya, Jika itu terjadi, tentu ada rasa puas, Bukan karena merasa terkenal. Tetapi karena berarti tulisan tersebut telah memiliki suara dan bagi seorang penulis, suara jauh lebih penting daripada sekadar kosakata yang rumit.

REVIEW BUKAN PENGADILAN, TETAPI JUGA BUKAN FAN CLUB !!!

w telah menulis berbagai bentuk materi: review rilisan, artikel musik, majalah metal, hingga reportase event. Jumlahnya mungkin sudah terlalu banyak untuk dihitung satu per satu. Tetapi satu prinsip tetap saya pegang: review bukan sekadar mengatakan apakah sebuah album bagus atau buruk. Dalam pengertian yang lebih serius, review adalah proses mengevaluasi, memeriksa, dan menilai sebuah karya berdasarkan pengalaman mendengarkan, konteks, fakta, serta sudut pandang kritis. Ada subjektivitas, Tentu. Penulis bukan mesin laboratorium. Selera pribadi tidak mungkin dihapus sepenuhnya. Tetapi subjektivitas tidak boleh menjadi tiket untuk mengarang fakta, Seorang reviewer boleh membenci sebuah album, Boleh menyukai album tersebut, Boleh merasa produksinya terlalu steril, Boleh menganggap vokalnya mengerikan, Boleh menganggap riff-nya luar biasa, Tetapi ketika mulai membahas sejarah band, personel, label, tanggal rilisan, genre, atau fakta lain, maka permainan berubah. Data harus diperlakukan sebagai data, Bukan sebagai dekorasi. w tidak pernah menganggap review sebagai lomba membuat semua orang senang, Jika sebuah album bagus, katakan bagus, Jika biasa saja, katakan biasa saja, Jika buruk, jelaskan mengapa, Tetapi jangan menghakimi tanpa argumentasi. Sebuah review tidak seharusnya menjadi: " Album ini keren, Wajib beli. " Lalu selesai, Itu bukan review, Itu slogan promosi ! Sebaliknya, kritik juga tidak otomatis menjadi cerdas hanya karena menggunakan kata-kata kasar. Menghina sebuah band tidak membutuhkan kemampuan menulis. Menganalisis mengapa sebuah karya gagal membutuhkan kemampuan. Begitu pula memuji sebuah karya tanpa terdengar seperti humas label membutuhkan disiplin. Maka keseimbangan menjadi penting, Kejujuran, Transparansi, Verifikasi, Penghormatan terhadap privasi dan kewaspadaan terhadap konflik kepentingan. Prinsip-prinsip tersebut terdengar sederhana. Tetapi justru hal sederhana sering menjadi barang paling langka dalam kultur media yang terlalu mudah tergoda oleh kedekatan, akses, eksklusivitas, atau hubungan pertemanan.

Kritik bukan musuh scene, kritik justru salah satu tanda bahwa scene masih hidup, Scene yang tidak mampu menerima kritik biasanya sedang membangun ruang gema, Semua orang mengatakan hal yang sama, Semua band hebat, Semua album masterpiece, Semua event sukses, Semua orang adalah legenda. Akhirnya tidak ada lagi standar dan ketika tidak ada standar, kata " bagus " kehilangan makna. Kritik yang sehat justru membantu sebuah ekosistem tumbuh. Ia memaksa musisi mengevaluasi karyanya, Memaksa media lebih bertanggung jawab. Memaksa pembaca berpikir dan memaksa penulis sendiri mempertanggungjawabkan kalimat yang telah ditulisnya. Karena setiap tulisan yang dipublikasikan memiliki konsekuensi. mungkin terdengar terlalu idealis untuk mengatakan bahwa berbagi informasi adalah bentuk pengabdian. Tetapi w masih mempercayainya. Tidak semua hal harus menghasilkan uang, Tidak semua aktivitas harus menghasilkan popularitas, Tidak semua pengetahuan harus dijadikan komoditas. Ada kepuasan tertentu ketika seseorang membaca tulisan kemudian menemukan band baru. Ketika seseorang menemukan rilisan lama yang sebelumnya tidak diketahui. Ketika seseorang memahami sejarah scene dari sebuah artikel. Ketika sebuah nama yang hampir hilang kembali disebut. Ketika arsip kecil yang nyaris terlupakan akhirnya memiliki tempat. Di situlah w menemukan alasan mengapa semua ini terus dilakukan. Bukan karena w merasa menjadi pusat scene. Justru karena w sadar bahwa saya hanya salah satu bagian kecil dari rantai yang jauh lebih panjang.

Blitar hanyalah satu titik. Tetapi setiap titik memiliki cerita. Scene lokal sering dianggap kecil jika dibandingkan dengan kota-kota besar. Namun sejarah musik tidak pernah hanya dibangun oleh pusat. Ia juga dibangun oleh kota-kota yang tidak masuk headline. Oleh band yang tidak pernah masuk festival besar, Oleh orang yang mencetak flyer sendiri, Oleh penyelenggara yang menanggung kerugian, Oleh penulis yang mengirim tulisan tanpa bayaran, Oleh kolektor yang menyimpan kaset, Oleh fotografer yang mengabadikan panggung kecil, Oleh penonton yang tetap datang meskipun hujan dan oleh orang-orang yang terus mengerjakan sesuatu ketika tidak ada seorang pun yang menjanjikan masa depan, Itulah underground. Tidak selalu romantis, Tidak selalu heroik, Kadang berantakan, Kadang penuh ego, Kadang penuh konflik, Kadang konyol, Kadang bahkan memalukan, Tetapi justru karena itulah ia manusiawi. w tidak tertarik menjadikan nostalgia sebagai agama. Masa lalu memang penting. Tetapi masa lalu tidak boleh diperlakukan seperti benda keramat yang tidak boleh disentuh kritik. Kalau generasi lama selalu mengatakan bahwa zamannya paling hebat, sementara generasi baru hanya dianggap sekumpulan anak yang tidak mengerti apa-apa, maka kita sedang membangun museum, bukan scene. Sejarah seharusnya menjadi fondasi, bukan penjara, Generasi baru berhak menciptakan musik yang berbeda, Berhak menggunakan teknologi berbeda, Berhak memiliki cara komunikasi berbeda, Berhak memiliki estetika berbeda dan mereka juga berhak melakukan kesalahan sendiri. Tugas generasi sebelumnya bukan terus-menerus mengatakan: " Dulu lebih bagus. " Kalimat itu terlalu mudah, Yang jauh lebih berguna adalah: " Ini yang pernah terjadi. Ini yang kami pelajari. Sekarang silakan kalian lanjutkan. "


DAN KEGILAAN ITU MASIH BERLANJUT SAMPAI HARI INI  !!!

Mungkin pada akhirnya saya memang tidak pernah menemukan titik awal kegilaan ini. Dan mungkin tidak perlu. Sebab beberapa hal memang tidak membutuhkan tanggal lahir. Yang penting adalah ia terus berjalan. Dari musik menuju tulisan. Dari tulisan menuju informasi, dari informasi menuju pengetahuan, dari pengetahuan menuju kesadaran. Lalu kembali lagi kepada musik, Sebuah lingkaran yang tidak pernah benar-benar selesai. w masih menulis karena masih ada sesuatu yang ingin dikatakan. Masih ada rilisan yang perlu dibicarakan, Masih ada sejarah yang perlu dicatat, Masih ada band yang layak ditemukan, Masih ada kesalahan yang perlu dikoreksi. Masih ada generasi baru yang perlu mengetahui bahwa sebelum algoritma menentukan apa yang harus mereka dengarkan, pernah ada manusia-manusia keras kepala yang rela menghabiskan waktu, uang, tenaga, dan umur hanya untuk menemukan musik yang menurut masyarakat umum terdengar seperti mesin neraka kehilangan remnya dan mungkin itulah inti semuanya. Bukan pemberontakan, Bukan gaya hidup, Bukan kostum, Bukan gengsi, Bukan siapa yang paling tua, Bukan siapa yang paling brutal, Bukan siapa yang paling banyak memiliki rilisan, Bahkan bukan siapa yang paling sering berteriak bahwa dirinya underground, Melainkan siapa yang masih memiliki rasa ingin tahu, Siapa yang masih mau belajar, Siapa yang masih mau membaca, Siapa yang masih mau mendengarkan, Siapa yang masih mau mempertanyakan dan siapa yang masih mau mencatat ketika orang lain sudah lupa. Karena pada akhirnya, metal tidak hanya membutuhkan orang yang membuat suara. Metal juga membutuhkan orang yang bersedia mengingat dari mana suara itu berasal. Mungkin itulah alasan mengapa saya masih berada di sini, bukan karena saya berhasil menemukan jalan keluar dari kegilaan. Tetapi karena setelah sekian lama, saya akhirnya memahami satu hal: w memang tidak pernah ingin sembuh dan kalau harus memilih sebuah gelar untuk semua kegilaan ini, biarlah sederhana. Bukan karena paling hebat, Bukan karena paling benar, tetapi karena sampai hari ini masih cukup keras kepala untuk terus menulis, membaca, mendengar, mengkritik, mengingat, dan membagikan apa yang diketahui tanpa harus menunggu dunia memberi tepuk tangan. Sebab beberapa kegilaan memang tidak membutuhkan obat, Ia hanya membutuhkan alasan untuk terus survive.

Note : Gambar hanya sebagai pemanis saja dan dibuat dengan Manipulasi Digital oleh Artificial Intelegence


0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine