Witchcraft #3 - 1994
Stefan Löns kembali menghidupkan Witchcraft sebagai ruang dokumentasi bagi musik ekstrem yang sedang tumbuh liar di berbagai penjuru dunia. Dengan sampul hitam bertuliskan emas dan isi hitam-putih yang bersahaja, edisi ketiga ini membawa semangat fanzine era ketika informasi tidak datang melalui algoritma, melainkan melalui surat, fotokopi, kaset demo, dan kesabaran menunggu balasan dari seseorang yang tinggal ribuan kilometer jauhnya. Witchcraft #3 menghadirkan spektrum nama yang memperlihatkan betapa luas dan beragamnya lanskap metal ekstrem pada 1994: Behemoth, Burzum, Septic Flesh, Master's Hammer, Necromantia, Mystifier, Absu, Celestial Season, Graveworm, Krabathor, Blood, Order From Chaos, In the Woods, hingga Soulgrind. Deretan ini bukan sekadar parade nama besar atau daftar koleksi untuk memuaskan pemburu memorabilia. Ia merekam sebuah masa ketika black metal, death metal, doom, dan berbagai persilangan ekstremnya masih mencari bentuk, identitas, serta bahasa musikal masing-masing. Laporan skena dari Estonia, Polandia, dan Afrika Selatan memperluas cakrawala edisi ini. Di tengah dominasi informasi dari pusat-pusat metal Eropa Barat dan Amerika, perhatian terhadap wilayah yang jarang mendapat sorotan menjadi bagian penting dari kerja jurnalistik underground. Ditambah tumpukan ulasan rilisan, Witchcraft tidak hanya bertugas memperkenalkan band, tetapi juga membangun peta kecil tentang siapa yang bergerak, apa yang mereka hasilkan, dan bagaimana skena lokal bertahan. Salah satu materi paling signifikan adalah wawancara Burzum. Namun, ada catatan penting: ini bukan wawancara tatap muka konvensional, melainkan hasil korespondensi pribadi Stefan Löns dengan Varg Vikernes. Di dalamnya, Vikernes membicarakan rencana album Filosofem, hubungannya dengan Samoth dan Euronymous, Deathlike Silence Productions, serta pandangan ideologisnya yang semakin terbuka. Ia bahkan menyebut Filosofem sebagai album yang dijadwalkan terbit pada akhir 1994 atau awal 1995.
Di sinilah Witchcraft #3 menjadi dokumen yang jauh lebih rumit daripada katalog musik ekstrem. Pernyataan Vikernes di dalam wawancara tersebut memuat rasisme, antisemitisme, homofobia, dan glorifikasi kekerasan secara terang-terangan. Itu bukan sesuatu yang patut dibungkus sebagai eksotisme black metal atau romantisasi masa lalu. Justru, pembaca masa kini perlu melihatnya secara kritis: fanzine ini merekam suara dari periode ketika batas antara ekspresi artistik, provokasi, dan propaganda ideologis sering kali sengaja dikaburkan. Mendokumentasikan bukan berarti membenarkan. Di luar Burzum, daftar isi memperlihatkan jangkauan editorial yang tidak sempit. Behemoth, Master's Hammer, Necromantia, Mystifier, Absu, Order From Chaos, Septic Flesh, Celestial Season, In the Woods, hingga Phlebotomized menunjukkan pertemuan berbagai karakter ekstrem: dari black metal yang gelap dan ritualistik, death metal yang brutal, sampai doom yang lebih atmosferik. Bethlehem juga mendapat ruang cukup besar, sementara laporan skena Estonia, Polandia, dan Afrika Selatan memberikan dimensi geografis yang membuat pembaca tidak hanya berkutat pada nama-nama yang sudah dikenal. Yang menarik, Witchcraft tidak berhenti pada wawancara. Lima bagian album review, empat bagian demo review, ulasan fanzine, daftar kontak fanzine, serta materi tentang label seperti Adipocere Records, Holy Records, dan Wounded Love Records memperlihatkan fungsi yang lebih luas: menghubungkan band, label, distributor, penulis, dan pembaca dalam satu jaringan informasi. Ini adalah infrastruktur underground dalam bentuk paling sederhana sekaligus paling nyata.
Dalam Interview pada Juli 2014, Löns mengisahkan bagaimana keterlibatannya bermula sekitar 1989. Bersama teman-temannya, ia mengenal band-band yang belum banyak diketahui seperti Impetigo dan Xysma, mendengarkan demo lokal, lalu membuat fanzine pertama bernama Der Lappen. Mereka menggandakan sendiri terbitannya menggunakan mesin fotokopi milik ayahnya yang, menurut pengakuannya, akhirnya rusak akibat dipakai terlalu keras. Pengalaman itu berkembang menjadi Underground, sebelum Löns mendirikan Witchcraft pada 1992 karena menginginkan fokus yang lebih jelas pada death dan black metal. Ia menghasilkan lima edisi hingga 1996, meneruskan aktivitasnya melalui Zeitgeist, lalu menghidupkan kembali Witchcraft pada 2012. Edisi keenam akhirnya selesai pada Maret 2014. Pengakuan Löns tentang budaya tape trading juga penting. Kaset kompilasi dari negara tertentu menjadi semacam peta awal untuk memahami perkembangan musik di wilayah yang sulit dijangkau. Surat-menyurat, pertukaran demo, dan daftar kontak bukan aksesori romantis dari masa lampau. Semuanya merupakan jalur distribusi pengetahuan ketika internet belum menjadi jalan pintas. Untuk menemukan band baru, seseorang harus mencari, menulis, menunggu, dan membangun hubungan. Tidak ada algoritma yang menyuapi selera; ada rasa ingin tahu yang harus dibayar dengan usaha.
Dua dekade kemudian, Löns justru melontarkan kritik yang terasa semakin relevan. Ia melihat underground mulai terjebak pada nilai jual, kelangkaan, merchandise, dan obsesi terhadap label “cult” atau “true”. Demo lama yang secara musikal biasa saja bisa dipatok dengan harga selangit hanya karena dianggap langka. Menurutnya, semangat berbagi sumber daya, bekerja sama, dan saling mendukung jauh lebih penting daripada mengubah sejarah menjadi komoditas. Sindiran itu terasa telak. Sebab, ketika sebuah demo lebih dihargai berdasarkan harga pasar daripada isi musiknya, underground sedang kehilangan salah satu alasan utama keberadaannya. Ironisnya, sebagian orang yang paling keras meneriakkan keaslian justru sibuk menghitung nilai koleksi. Kelangkaan menjadi status sosial, bukan lagi konsekuensi dari keterbatasan distribusi. Witchcraft #3 memperlihatkan bahwa fanzine bukan sekadar lembaran fotokopi berisi logo band dan wawancara. Ia adalah arsip pergerakan, ruang pertukaran gagasan, sekaligus bukti bahwa komunitas musik ekstrem pernah tumbuh melalui kerja kolektif yang sangat personal. Sampul hitam dengan tulisan emas mungkin memberi kesan suram dan klasik, tetapi nilai sesungguhnya berada di dalam: jaringan informasi yang dibangun tanpa jaminan keuntungan. Witchcraft #3 bukan artefak yang harus dipuja tanpa kritik. Ada materi yang perlu dibaca dengan jarak, ada ideologi yang harus ditolak, dan ada semangat DIY yang tetap layak dipertahankan. Justru di situlah relevansinya. Sejarah underground tidak selalu bersih, tidak selalu heroik, dan tidak selalu benar. Namun, memahami sejarah berarti berani melihat seluruh kontradiksinya—bukan hanya memilih bagian yang cocok dengan nostalgia. Pada akhirnya, Löns mengingatkan sesuatu yang semakin mudah dilupakan: underground seharusnya dibangun melalui pertukaran, bukan eksploitasi; melalui rasa ingin tahu, bukan gengsi kolektor. Sebab, musik ekstrem mungkin hidup dari suara yang bising, tetapi komunitasnya hanya akan bertahan jika orang-orang di dalamnya masih mau saling mendengar.






0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !