Shub Niggurath - The Kinglike Celebration (Final Aeon on Earth)
Oz Productions CD 1997
01. The Only One Astral Being 05:16
02. ...from the Stars, Nyarlathotep 04:52
03. Sub-Human Immortality 04:48
04. Abominations of Ancient Gods 05:21
05. Unnamable Evokation 02:43
06. Inside the Labyrinth of Illusion 03:50
07. Legions from Absu 04:14
08. Royal Demon 01:22
Arturo Alvarez - Vocals
Julio Viterbo - Guitars, Bass, Keyboards, Effects
Óscar Clorio - Drums, Vocals (backing)
Tidak semua musik gelap terdengar mengerikan. Sebagian hanya mengenakan kostum setan, mengandalkan lirik sesat, logo yang nyaris tak terbaca, dan produksi yang sengaja dibuat seperti rekaman dari ruang bawah tanah. Shub Niggurath bergerak lebih jauh: mereka berusaha membuat pendengar kehilangan pegangan terhadap musik itu sendiri. " The Kinglike Celebration (Final Aeon on Earth) " adalah album yang mempertemukan kekasaran death metal dengan atmosfer black metal, riff disonan, ritme yang terus bergeser, dan sentuhan keyboard yang muncul seperti bayangan di sudut penglihatan. Hasilnya bukan sekadar musik yang ingin terdengar jahat, melainkan komposisi yang mencoba membuat pendengarnya merasa tersesat di dalamnya. Nama Shub Niggurath merujuk pada entitas kosmik dalam mitologi horor H. P. Lovecraft. Namun, nilai album ini tidak berhenti pada referensi sastra atau kemasan okultisme. Yang membuatnya menarik justru cara gagasan tentang sesuatu yang asing dan tak terpahami diterjemahkan menjadi struktur musik yang sengaja menolak kenyamanan. Band metal kerap mengumumkan kegelapan melalui lirik dan simbol. Shub Niggurath melakukan sesuatu yang lebih meyakinkan: mereka membiarkan kegelapan itu mengacaukan cara musik bergerak.
Hal pertama yang membuat album ini menonjol adalah cara gitar menolak bergerak mengikuti ekspektasi konvensional. Riff tidak selalu berkembang menuju klimaks yang jelas, tidak selalu mengarah pada resolusi harmonis, dan tidak selalu memberi pendengar kesempatan untuk merasa sudah memahami polanya. Gagasan musikal diperkenalkan, dipelintir, lalu dilempar ke sudut lain sebelum telinga sempat beradaptasi. Di tangan yang kurang cakap, pendekatan semacam ini hanya menghasilkan riff salad: tumpukan ide yang terdengar rumit karena tak ada yang cukup kuat untuk menyatukannya. Shub Niggurath, setidaknya pada momen terbaiknya, mampu memberi struktur pada kekacauan tersebut. Pergantian riff terasa seperti bagian dari rancangan, bukan sekadar pemain yang saling berlomba memamerkan ide. " Sub-Human Immortality " memperlihatkan pertemuan antara tremolo picking khas black metal dan riff death metal yang lebih tebal serta disonan. Ketika melodi tremolo mulai membangun suasana, gitar tiba-tiba membelok menuju pola yang lebih berat dan tidak nyaman. Ada pula sentuhan melodis yang muncul sesaat, bukan untuk memperindah musik, melainkan membuat bagian berikutnya terasa semakin asing. " Inside the Labyrinth of Illusion " meneruskan kecenderungan tersebut. Riff dan ritmenya seolah terus menggeser lantai di bawah kaki pendengar. Bahkan ketika sebuah motif mulai terasa akrab, band tidak selalu mengembangkannya melalui jalur yang mudah ditebak. Mereka justru mengubah konteksnya, memindahkan tekanan, atau menggeser aksen sehingga motif yang sama memperoleh karakter berbeda.
Inilah kelebihan utama album ini: teknik digunakan untuk mengganggu persepsi, bukan sekadar memperlihatkan keterampilan. Permainan drum Oscar Clorio merupakan salah satu fondasi terpenting album ini. Poliritme, aksen yang tidak simetris, perubahan tempo, dan pola stop-start memberi komposisi karakter yang sulit dipisahkan dari permainan gitarnya. Drum tidak hanya mempercepat atau memperlambat musik; ia ikut mengacaukan persepsi tentang di mana sebuah riff seharusnya mendarat. " Abominations of Ancient Gods " menjadi contoh kuat bagaimana agresi dapat dibangun melalui struktur siklis. Riff bergerak dengan pola yang cukup berulang untuk menciptakan momentum, tetapi aksen dan variasi permainan membuatnya tidak terasa seperti lingkaran yang diputar tanpa tujuan. Solo gitar muncul di atas fondasi tersebut seperti kilatan yang merobek langit gelap, bukan demonstrasi kecepatan yang disisipkan demi memenuhi kewajiban genre. Namun, tidak semua detail permainan drum selalu terbaca sempurna. Produksi album cukup kaya untuk standar 1997, tetapi gitar terkadang menutupi nuansa teknis perkusi. Simbal juga dapat terasa terlalu dominan, terutama ketika permainan semakin padat. Ada kompromi di sini: kepadatan suara memperkuat kesan kekacauan, tetapi sekaligus menyamarkan sebagian detail yang sebenarnya membuat komposisi ini menarik. Shub Niggurath tidak terdengar seperti band death metal yang hanya menambahkan tremolo picking dan keyboard agar tampak lebih mistis. Unsur black metal mereka masuk lebih dalam, terutama melalui cara melodi dibangun, bagaimana harmoni menciptakan ketegangan, dan bagaimana komposisi menolak penyelesaian yang terasa nyaman.
Gitar tetap memiliki bobot death metal tebal, berat, dan sesekali menghantam dengan riff yang terasa seperti mesin industri—tetapi garis melodinya kerap mengarah ke wilayah black metal yang lebih dingin dan teatrikal. Sentuhan keyboard tidak mengambil alih musik atau mengubahnya menjadi simfoni murahan. Ia muncul secara selektif, terutama pada bagian yang lebih lambat, seperti lapisan kabut yang memperluas ruang tanpa menghapus kekasaran instrumen utama. Vokalnya pun mendukung pendekatan tersebut. Geraman serak dan agresif diberi ruang gema yang cukup untuk menciptakan kesan luas, tetapi tidak sampai tenggelam dalam reverb berlebihan. Suaranya terdengar seperti sesuatu yang berusaha menyampaikan pesan dari tempat yang tidak sepenuhnya bisa dijangkau manusia bukan karena vokalis harus terdengar seperti monster dalam film horor, melainkan karena keseluruhan musik telah membangun konteks yang membuat suara itu terasa tepat. Kombinasi ini menempatkan album dalam wilayah yang tidak sepenuhnya tunduk pada batas death metal ataupun black metal. Namun, label genre tetap bukan persoalan paling penting. Yang lebih berarti adalah bagaimana Shub Niggurath menggunakan karakter masing-masing genre untuk menghasilkan suasana yang tidak dapat dicapai dengan salah satunya saja. Referensi H. P. Lovecraft bisa dengan mudah berubah menjadi dekorasi: nama dewa kosmik, istilah kuno, sampul gelap, dan lirik tentang kehancuran umat manusia. Banyak karya bertema horor kosmik berhenti pada upaya memberi tahu pendengar bahwa sesuatu itu mengerikan.
" The Kinglike Celebration (Final Aeon on Earth) " lebih menarik ketika musiknya sendiri menjalankan fungsi tersebut. Ketidakstabilan riff, melodi yang tampak tidak cocok dengan harmoni di bawahnya, dan ritme yang terus menggeser pusat gravitasi membuat pendengar merasakan ketidakpastian tanpa perlu diterangkan melalui narasi. Dalam horor kosmik, manusia bukan pusat semesta. Kita tidak memiliki pengetahuan atau kendali yang cukup untuk memahami keseluruhan realitas. Pendekatan musikal Shub Niggurath selaras dengan gagasan itu: pendengar tidak selalu diberi kepastian tentang bagaimana sebuah bagian akan berakhir atau ke mana riff berikutnya akan bergerak. Musik menolak tunduk pada keinginan kita untuk mengatur dan memahami segala sesuatu. Itulah perbedaan antara menciptakan suasana jahat dan menciptakan pengalaman yang mengusik. Yang pertama bisa dicapai lewat timbre gelap dan lirik blasphemous. Yang kedua membutuhkan keputusan komposisi yang lebih mendasar dan album ini sesekali berhasil melakukannya dengan sangat meyakinkan. Meski demikian, album ini bukan tanpa kelemahan. Salah satu kritik yang cukup beralasan adalah kecenderungannya membangun lagu dengan pola serupa: bagian awal yang lebih lambat, peningkatan intensitas, kemudian serangan riff yang lebih padat. Formula ini kerap menghasilkan momentum yang efektif, tetapi jika diterapkan terlalu sering, pendengar dapat mulai mengenali mekanismenya.
Masalah lain muncul ketika komposisi terus bergerak tanpa memberikan penutup yang benar-benar terasa tuntas. Ketidakpastian memang sesuai dengan konsep horor kosmik, tetapi ambiguitas tidak selalu identik dengan kedalaman. Kadang sebuah lagu memang perlu berhenti karena gagasannya telah mencapai bentuk paling kuat bukan sekadar karena band telah kehabisan bagian untuk dimainkan. " Abominations of Ancient Gods " memperlihatkan bagaimana pola siklis dapat memberi kepuasan musikal, sedangkan " Sub-Human Immortality " juga memperlihatkan risiko membangun ekspektasi yang tidak selalu dibayar dengan klimaks sepadan. Kritik seperti ini penting karena justru menempatkan album dalam pembacaan yang lebih jujur: Shub Niggurath memiliki visi yang jelas, tetapi tidak semua komposisi berhasil menerjemahkan visi itu dengan tingkat keberhasilan yang sama dan itu tidak membatalkan pencapaian mereka. Sebuah album tidak harus sempurna untuk memiliki identitas. Yang dibutuhkan adalah cukup banyak momen kuat untuk membuat kelemahannya terasa sebagai retakan pada bangunan yang menarik, bukan bukti bahwa bangunan tersebut sejak awal kosong.
Dirilis pada Mei 1997 melalui Oz Productions, " The Kinglike Celebration (Final Aeon on Earth) " memuat delapan lagu dalam durasi sekitar 32 menit. Album ini menampilkan formasi inti Julio Viterbo, Oscar Clorio, dan Arturo Alvarez, dengan rekaman serta mixing dilakukan di Oigo Studios pada Mei 1997. Nilai terbesarnya bukan karena Shub Niggurath terdengar lebih jahat daripada band lain, melainkan karena mereka memahami bahwa suasana gelap dapat dibangun melalui struktur, bukan hanya melalui citra. Riff disonan, tremolo picking, permainan drum yang tidak nyaman, vokal bergaung, dan keyboard yang digunakan secara hemat membentuk bahasa musikal yang konsisten dengan gagasan horor kosmik mereka. Kelemahannya tetap nyata: pola pembangunan lagu yang terkadang seragam dan resolusi komposisi yang tidak selalu memuaskan. Namun, ketika semua unsur bekerja bersama, album ini menghasilkan sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar perpaduan black metal dan death metal. Ia mengubah ketidakpastian menjadi metode komposisi. " The Kinglike Celebration (Final Aeon on Earth) " bukan mahakarya tanpa cela, tetapi ia pantas mendapat perhatian dari pendengar yang telah melewati batas rilisan ekstrem yang lebih populer. Ini bukan musik yang selalu memberi hadiah kepada pendengar dengan melodi mudah diingat atau klimaks yang megah. Sebaliknya, ia meminta pendengar menerima kemungkinan bahwa musik tidak harus selalu menyenangkan, mudah dipahami, atau berakhir sesuai harapan. Di tengah genre yang kerap menyamakan kompleksitas dengan kecepatan dan kegelapan dengan kosmetik, Shub Niggurath menawarkan gagasan yang lebih menarik: teror paling efektif bukanlah sesuatu yang berdiri di depan kita sambil mengaum, melainkan sesuatu yang membuat kita meragukan apa yang sedang kita dengar dan apakah kita pernah benar-benar memahaminya.
Home
[Black/Death Metal]
[Blackened Death Metal]
* Shub Niggurath
#Mexico
1997
Oz Productions
Shub Niggurath - The Kinglike Celebration (Final Aeon on Earth) CD 1997
Shub Niggurath - The Kinglike Celebration (Final Aeon on Earth) CD 1997
Written by REVIEW LOSTINCHAOS Oktober 29, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)


0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !