Dragonforce - Inhuman Rampage CD 2006

Dragonforce - Inhuman Rampage
Noise Records CD 2006

01. Through the Fire and Flames 07:24       
02. Revolution Deathsquad 07:52       
03. Storming the Burning Fields 05:19       
04. Operation Ground and Pound 07:44       
05. Body Breakdown 06:58       
06. Cry for Eternity 08:12       
07. The Flame of Youth 06:41       
08. Trail of Broken Hearts 05:56


ZP Theart - Vocals
Herman Li - Guitars, Vocals  
Sam Totman - Guitars, Vocals  
Adrian Lambert - Bass 
Vadim Pruzhanov - Keyboards, Piano 
Dave Mackintosh - Drums, Vocals 


Jika power metal biasanya dibangun untuk mengangkat kepalan tangan ke udara, " Inhuman Rampage " datang dengan niat yang jauh lebih brutal: membuka moshpit. DragonForce tidak sekadar memainkan musik cepat; mereka seperti mencoba menguji batas biologis manusia dengan gitar, drum, keyboard dan vokal yang dipaksa berlari tanpa diberi kesempatan menarik napas. Hasilnya spektakuler, berlebihan, kadang konyol dan justru karena itulah album ini bekerja. Di sinilah letak daya tarik sekaligus penyakitnya. " Inhuman Rampage " adalah salah satu rekaman DragonForce yang paling mudah dikenali sekaligus paling sulit ditelan utuh. Produksinya sangat bersih, setiap instrumen mendapat ruang, dan kompleksitas permainan Sam Totman, Herman Li, Vadim Pruzhanov, Dave Mackintosh serta bass Adrian Lambert terdengar terang tanpa menjadi lumpur sonik. Bahkan ketika gitar dan drum sedang berlari seperti kesurupan, bass dan keyboard masih mampu menyelip ke dalam lanskap suara. Untuk sebuah album yang begitu padat, kejernihan mix-nya adalah prestasi tersendiri. Tetapi produksi yang bersih juga memperlihatkan sesuatu yang tidak bisa disembunyikan oleh distorsi: DragonForce terlalu sering menginjak pedal gas sampai lantai. Herman Li dan Sam Totman adalah mesin utama album ini. Riff, harmonisasi, tapping, sweep, arpeggio dan duel solo datang seperti peluru otomatis. Li khususnya memiliki kemampuan membuat lead terdengar melodis sekaligus hiperaktif; bukan sekadar pamer teknik, melainkan teknik yang dipakai untuk membentuk identitas. " Through the Fire and Flames ", " Cry for Eternity " dan " Storming the Burning Fields " memperlihatkan bagaimana shred dapat tetap menghasilkan hook yang menempel di kepala, alih-alih sekadar menjadi demonstrasi ego gitaris. Namun DragonForce juga terjebak dalam paradoks klasik virtuoso: ketika semua orang terlalu hebat, siapa yang bertugas menahan diri? Jawabannya tampaknya tidak ada.

Dave Mackintosh memainkan drum dengan agresivitas yang hampir absurd. Blast beat, double-kick dan fill berkecepatan tinggi membuat album ini terasa seperti mesin perang yang tidak mengenal rem. Masalahnya, intensitas yang terus-menerus akhirnya kehilangan nilai kontras. Jika semuanya adalah klimaks, maka tidak ada lagi klimaks. Blast beat yang pada awalnya terasa mengejutkan perlahan berubah menjadi semacam karpet suara yang justru menutupi detail gitar dan hook rhythm section. Itulah salah satu kelemahan terbesar Inhuman Rampage: bukan kekurangan energi, melainkan kelebihan energi tanpa disiplin. Keyboard Vadim Pruzhanov menjadi penyeimbang penting. Synth-nya memang cheesy bahkan kadang begitu manis hingga nyaris memancing senyum malu tetapi justru itulah bahasa DragonForce. Ia mempertebal dimensi fantasi, heroisme dan atmosfer kemenangan yang menjadi fondasi album. " Storming the Burning Fields " dan " Through the Fire and Flames " menunjukkan bagaimana keyboard dapat membuat musik terasa seperti soundtrack pertarungan terakhir dalam videogame yang terlalu mahal dan kemudian ada ZP Theart. Vokalnya mungkin bukan komponen paling teknis di album ini, tetapi justru salah satu yang paling penting secara dramaturgis. Ia bernyanyi seperti seorang komandan yang sedang mengumpulkan pasukan sebelum perang terakhir. Nada tinggi, chorus bombastis dan delivery yang penuh keyakinan membuat lirik-lirik DragonForce yang secara objektif penuh klise terdengar seolah-olah kehidupan umat manusia benar-benar bergantung pada kemenangan chorus berikutnya. Liriknya memang cheesy. Tetapi berpura-pura bahwa DragonForce tidak tahu hal itu juga sama konyolnya. " Inhuman Rampage " tidak sedang mencoba menjadi puisi eksistensial ala death metal. Ia menjual fantasi heroik, perang, keberanian, harapan dan kemenangan dengan volume maksimum. Dan dalam konteks tersebut, kekonyolan adalah bagian dari estetika, bukan kecelakaan. Sayangnya, album ini mulai kehabisan oksigen karena durasi dan repetisi.

Hampir satu jam musik dengan tempo hiperaktif seperti ini bukan perkara kecil. Lagu-lagu yang sebenarnya memiliki banyak ide bagus sering kali terlalu panjang karena setiap ide diberi kesempatan berkembang sampai titik di mana keajaiban berubah menjadi kelelahan. Dua atau tiga menit pertama bisa terasa seperti disambar petir; beberapa menit berikutnya membuat pendengar bertanya apakah petir tersebut akan berhenti sebelum rumah terbakar. Band seperti Children of Bodom memahami pentingnya mengakhiri sebuah serangan sebelum tubuh pendengar kebal terhadapnya. DragonForce justru memilih sebaliknya: mereka menumpuk serangan demi serangan sampai spektakel berubah menjadi maraton. Ironisnya, ketika DragonForce akhirnya memperlambat tempo lewat " Trail of Broken Hearts ", album justru mendapatkan salah satu momen paling manusiawi. Tidak ada kebutuhan untuk memamerkan kecepatan. Melodi diberi ruang, gitar bernapas, dan emosi akhirnya muncul tanpa harus diteriakkan oleh seribu not per menit. Lagu ini membuktikan bahwa DragonForce sebenarnya mampu menciptakan dinamika mereka hanya terlalu sering takut membiarkannya hidup. Karena itu, menyebut " Inhuman Rampage " sekadar album power metal cepat adalah sebuah kemalasan. Ia lebih menarik dari itu. Album ini adalah eksperimen tentang apa yang terjadi ketika virtuosity, melodisme, produksi modern dan estetika fantasy-metal diberi kebebasan hampir tanpa rem dan eksperimen tersebut berhasil dengan catatan kaki yang sangat besar. Secara teknis, " Inhuman Rampage " adalah monster. Secara komposisi, ia memiliki sejumlah momen brilian. Secara atmosfer, ia nyaris tak tertandingi dalam kemampuannya membuat pendengar merasa seperti pahlawan terakhir yang sedang menyerbu benteng musuh. Tetapi sebagai sebuah album utuh, ia terlalu gemuk, terlalu panjang dan terlalu konsisten berada di zona merah.

DragonForce bukan tidak tahu kapan harus berhenti. Mereka tampaknya memang tidak percaya bahwa berhenti adalah pilihan. Itulah paradoks " Inhuman Rampage ": sebuah album yang begitu mengesankan sampai-sampai kelemahannya pun lahir dari kekuatannya sendiri. Kecepatan menjadi identitas, kemudian berubah menjadi jebakan. Teknik menjadi daya tarik, lalu berisiko menjadi kebisingan. Melodi menjadi senjata, tetapi terus ditembakkan sampai pendengar kehilangan kemampuan membedakan peluru pertama dan terakhir. Namun setelah hampir dua dekade, satu hal tetap sulit dibantah: ketika " Through the Fire and Flames " mulai meluncur, rasionalitas memang bukan lagi tujuan. Yang tersisa hanyalah adrenalin, shred dan naluri untuk mengangkat kepala lalu masuk ke moshpit.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine