Broken Hope - Swamped in Gore CD 1991

Broken Hope - Swamped in Gore
Grind Core International CD 1991

01. Borivoj's Demise 00:46       
02. Incinerated 02:42       
03. Swamped in Gore 06:32      
04. Bag of Parts 05:57       
05. Dismembered Carcass 02:17     
06. Devourer of Souls 04:06      
07. Awakened by Stench 05:11       
08. Gorehog 02:02      
09. Gobblin' the Guts 06:24      
10. Cannibal Crave 04:42     
11. Claustrophobic Agnostic Dead 04:04


Joe Ptacek - Vocals
Jeremy Wagner - Guitars
Brian Griffin - Guitars
Ed Hughes - Bass
Ryan Stanek - Drums 


Death metal klasik punya dosa yang agak unik: standar dasarnya begitu rendah hingga sebuah band hanya perlu gitar berdistorsi, blast secukupnya, vokal seperti orang sekarat dan beberapa riff yang bisa menggerakkan kepala untuk dianggap layak. Sebagian besar memang tidak brilian, tetapi setidaknya masih menyenangkan. " Swamped in Gore " justru membuktikan bahwa bahkan formula sesederhana itu masih bisa gagal total. Broken Hope datang dari Chicago dengan pendekatan yang sangat khas kota tersebut: berat, lamban, gemuk, groove-oriented dan lebih tertarik menghantam daripada berlari. Masalahnya, mereka lupa bahwa berat tanpa karakter hanyalah beban. Sebelas lagu dalam sekitar 45 menit seharusnya menyediakan cukup ruang untuk membangun atmosfer, menciptakan hook atau setidaknya menyelipkan satu riff yang membuat pendengar spontan mengangkat kepala. Tidak ada. " Swamped in Gore " berjalan seperti mesin diesel tua yang dipaksa bekerja tanpa pernah benar-benar mencapai temperatur. Riff berputar di senar bawah, tempo sesekali dipercepat, lalu kembali menggerus dengan pola yang nyaris tidak berubah. Secara teknis ini death metal; secara artistik, ini lebih menyerupai inventaris suku cadang. Ironisnya, jumlah riff bukan masalah. Broken Hope memiliki cukup banyak pergantian pola untuk membuat album ini tampak aktif di atas kertas. Tetapi hampir semuanya gagal memiliki identitas. Tidak ada riff yang benar-benar menggigit, tidak ada transisi yang menghasilkan momentum, tidak ada perubahan tempo yang terasa seperti ledakan, dan tidak ada melodi yang cukup kuat untuk meninggalkan bekas. Mereka memainkan banyak hal, tetapi hampir tidak mengatakan apa-apa.

Di sinilah perbandingan dengan band seperti Cianide menjadi relevan. Cianide juga memahami kesederhanaan, tetapi mereka tahu bahwa groove harus memiliki massa, kemuraman dan ancaman. Broken Hope hanya memiliki groove. Beratnya ada, tetapi bobot emosionalnya menguap. Bahkan ketika tempo meningkat, gitar tetap terdengar seperti sedang mengerjakan lembur administratif: hadir, bekerja, lalu pulang tanpa meninggalkan kejadian penting. Produksi yang menjadi salah satu eksperimen awal dalam rekaman digital death metal justru memperburuk keadaan. " Swamped in Gore " tidak terdengar steril dalam pengertian modern drumnya tidak mekanis, gitarnya tidak terlalu bersih tetapi semuanya terasa flat dan kehilangan pukulan. Gitar memang tebal, namun tidak benar-benar berbobot. Drum terdengar cukup jelas tetapi miskin impact. Vokal gutturalnya sebenarnya memiliki potensi kebrutalan, tetapi terlalu tenggelam dalam keseluruhan campuran suara. Hasil akhirnya adalah produksi yang tidak memberi siapa pun posisi dominan. Tidak ada gitar yang mencabik, drum yang menghantam, vokal yang menerkam, ataupun ruang atmosfer yang membangun ketegangan. Semuanya sama-sama datar. Sebuah demokrasi sonik yang menghasilkan tidak lebih dari kebosanan kolektif. Dan kebosanan adalah kata paling tepat untuk " Swamped in Gore ".

Album death metal buruk biasanya masih memiliki sesuatu untuk dibenci: riff yang menyebalkan, vokal yang menggelikan, produksi mengerikan, atau ide komposisi yang benar-benar bodoh. Broken Hope melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya bagi sebuah album ekstrem: mereka tidak memberikan alasan kuat untuk peduli. Tidak cukup buruk untuk menjadi sampah yang menghibur, tidak cukup bagus untuk menjadi klasik, dan tidak cukup aneh untuk menjadi artefak kultus. Ironisnya, justru karena formula death metal begitu sederhana, kegagalan ini menjadi semakin telanjang. Musik semacam ini tidak membutuhkan virtuoso. Tidak membutuhkan progresi rumit. Tidak membutuhkan konsep filosofis. Ia hanya membutuhkan riff yang bagus, energi, atmosfer, pukulan dan sedikit naluri untuk mengetahui kapan harus mengubah arah. " Swamped in Gore " bahkan kesulitan memberikan kelima hal tersebut secara bersamaan. " Gobblin' the Guts " dan lagu judulnya bahkan memperpanjang hukuman hingga sekitar enam menit lebih durasi yang terasa absurd ketika materi dasarnya sendiri tidak memiliki cukup ide untuk menopang setengahnya. Pada titik tertentu pendengar tidak lagi menunggu klimaks; pendengar hanya menunggu lagu selesai.

Itulah kegagalan terbesar " Swamped in Gore ": bukan keburukan yang spektakuler, melainkan mediokritas yang begitu konsisten sampai menjadi bentuk keburukan tersendiri. Album ini bukan monster. Bukan pula bencana. Ia lebih menyedihkan dari itu sebuah benda mati yang kebetulan menghasilkan suara. Dalam sejarah awal death metal, nama Broken Hope kemudian memperoleh tempat yang jauh lebih besar daripada kesan yang ditinggalkan debut ini. Namun jika nostalgia disingkirkan dan rekaman ini didengar tanpa perlindungan status kultus, " Swamped in Gore " sulit dipertahankan sebagai sesuatu yang istimewa. Ia memiliki fondasi genre, tetapi tidak memiliki kepribadian untuk mengubah fondasi tersebut menjadi musik yang benar-benar hidup. Death metal seharusnya terasa seperti sesuatu yang ingin membunuhmu. " Swamped in Gore " lebih terasa seperti sesuatu yang ingin menyita waktumu. Dan untuk sebuah album sepanjang 45 menit, itu adalah dosa yang cukup berat.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine