Old Man's Child - The Pagan Prosperity CD 1997

Old Man's Child - The Pagan Prosperity
Century Media Records CD 1997

01. The Millennium King 05:28      
02. Behind the Mask 03:57       
03. Soul Possessed 04:03      
04. My Demonic Figures 03:58      
05. Doom Maker 03:38       
06. My Kingdom Will Come 04:35       
07. Return of the Night Creatures 05:34       
08. What Malice Embrace 05:13


Galder - Vocals, Guitars, Keyboards
Jardar - Guitars 
Gonde - Bass, Vocals 
Tony - Drums


Ada dosa yang dilakukan terhadap black metal selain bermain dengan synthesizer, memakai produksi yang terdengar manusiawi, atau Tuhan melarang memainkan guitar solo: membuat musik yang benar-benar enak didengar. Galder tampaknya tidak terlalu peduli. Lewat " The Pagan Prosperity ", Old Man’s Child membongkar sebagian pagar ortodoksi black metal Norwegia tanpa kehilangan seluruh aura gelapnya. Ini bukan rekaman yang hidup dari kabut lo-fi, tremolo tanpa ujung dan blast beat sebagai semacam sertifikat kesucian. Sebaliknya, Galder memasukkan groove, melodi klasik, harmoni heavy metal, keyboard teatrikal dan solo gitar ke dalam kerangka black metal lalu membiarkannya bertabrakan sampai menghasilkan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar kepatuhan genre. Kalau bagi sebagian puritan ini terdengar seperti pengkhianatan, silakan menangis di samping tape deck. Secara produksi, " The Pagan Prosperity " memang terlalu jelas untuk disebut black metal " Murni ", tetapi justru kejernihan itulah yang membuat rekaman ini bertahan. Bass terdengar, gitar memiliki bentuk, drum tidak tenggelam dalam kabut distorsi, sementara keyboard mendapat ruang untuk membangun atmosfer tanpa berubah menjadi wallpaper murahan. Pada zamannya, keputusan semacam ini cukup berani karena banyak rekaman black metal masih menjadikan kualitas suara buruk sebagai bagian dari ideologi. Galder memilih sebaliknya: jika riff bagus, biarkan pendengar mendengarnya dan riff adalah jantung sebenarnya dari album ini.

Gitar " The Pagan Prosperity " tidak terpaku pada satu bahasa. Ia dapat bergerak dari tremolo bernuansa black metal menuju riff heavy metal klasik, kemudian menikung ke groove yang lebih berat sebelum dilempar kembali ke melodi keyboard. " Soul Possessed ", " My Demonic Figures " dan " What Malice Embrace " memperlihatkan formula tersebut dengan paling meyakinkan. Ada sesuatu yang sangat old-school dalam cara Galder menyusun melodinya bukan sekadar cepat dan dingin, tetapi memiliki hook yang sengaja ditanam agar tetap hidup setelah lagu selesai. Di sinilah tuduhan bahwa album ini " Groove metal " menjadi terlalu malas. Ya, groove memang ada. Bahkan cukup dominan. Namun groove bukan otomatis berarti Pantera memakai corpsepaint. Yang dilakukan Galder lebih dekat pada blackened heavy metal dengan tulang punggung groove, sebuah pendekatan yang memperlebar ruang gerak komposisi tanpa harus membuang seluruh DNA gelapnya dan kemudian muncul dosa berikutnya: solo gitar. " The Millennium King " memiliki salah satu contoh paling jelas bahwa Galder tidak tertarik meminta izin kepada polisi kvlt. Solo-nya bukan tempelan kosmetik; ia memiliki karakter, melodi dan keberanian yang justru terasa asing dalam banyak black metal pada periode tersebut. " What Malice Embrace " juga memperlihatkan bagaimana solo dapat ditempatkan sebagai bagian dari narasi lagu, bukan sekadar masturbasi teknis untuk menunjukkan siapa yang paling cepat menggerakkan jari. Tentu tidak semuanya berhasil.

Ada beberapa momen ketika eksplorasi tersebut terasa seperti eksperimen yang belum sepenuhnya matang. Behind the Mask kadang terdengar seperti black metal yang sedang mencoba mengenakan jaket groove metal dan belum yakin apakah ukurannya pas. Doommaker memiliki gagasan yang menarik tetapi tidak memiliki ketajaman riff yang sama dengan materi terbaik album. Sementara " Return of the Night Creatures " terasa paling lemah ketika dibandingkan dengan standar yang telah dibangun sebelumnya lebih repetitif, lebih datar, dan kurang memiliki daya tusuk. Tetapi justru ketidaksempurnaan itu membuat album ini lebih manusiawi. Drum Tjodalv juga layak mendapat perhatian. Permainannya tidak sekadar menjadi mesin pengantar tempo. Ia mampu mengikuti perubahan karakter gitar, memberikan aksentuasi dan groove yang membuat beberapa lagu terasa lebih hidup daripada sekadar parade blast beat. Double bass memang hadir, tetapi tidak digunakan sebagai tongkat untuk memukul pendengar setiap detik. Ada ruang bagi ritme untuk bernapas. Ironisnya, pendekatan ini juga menjadi salah satu alasan mengapa sebagian pendengar black metal mungkin merasa dikhianati. Mereka mencari dingin, Galder memberi bobot, Mereka mencari kekacauan, Galder memberi struktur, Mereka mencari atmosfer yang terdengar seperti rekaman ditemukan di ruang bawah tanah, Galder malah memastikan bass bisa terdengar, Betapa mengerikannya. Keyboard menjadi lapisan lain yang memperkuat identitas album. Ia tidak selalu menjadi pusat perhatian, tetapi memberi warna epik pada gitar yang sudah sarat melodi. Dalam " My Demonic Figures ", misalnya, keyboard dan gitar membentuk suasana yang hampir sinematik. Ada kesan bahwa Galder tidak sedang membangun neraka yang penuh asap, melainkan sebuah kerajaan fantasi gelap yang masih memiliki cahaya di balik kabut dan itu penting.

Karena " The Pagan Prosperity " tidak selalu terasa jahat. Kadang ia terasa megah. Kadang bahkan terasa heroik. Itulah sebabnya menyebut album ini sekadar black metal adalah penyederhanaan, tetapi menyebutnya bukan black metal sama sekali juga sama bodohnya. Identitas album ini justru lahir dari ketegangan antara dua dunia tersebut. Galder mengambil estetika vokal dan atmosfer black metal, kemudian membenturkannya dengan musikalitas heavy, power dan groove. Vokalnya sendiri jauh lebih dekat dengan black metal klasik dibandingkan pendekatan death metal Galder pada periode berikutnya. Suaranya tajam, serak dan agresif, tetapi masih cukup artikulatif untuk memberikan bentuk pada lirik. Ada kemarahan di sana, tetapi tidak perlu berteriak seperti orang yang baru kehilangan rumah untuk membuatnya terasa. Ketika Galder mencoba clean vocal, hasilnya jauh lebih problematis. Ada niat memperluas atmosfer, tetapi delivery-nya terasa kurang nyaman dibandingkan suara ekstremnya. Ini bukan bencana, hanya pengingat bahwa tidak setiap eksperimen layak dipertahankan dan kemudian kita sampai pada persoalan terbesar album ini: genre. Black metal, Ya dalam fondasi, vokal, tema dan sebagian riff. Black metal ortodoks? Tidak. Groove metal? Terlalu malas. Power metal? Terlalu gelap. Heavy metal? Terlalu agresif. Mungkin justru itu jawabannya. " The Pagan Prosperity " adalah salah satu contoh ketika sebuah band belum terobsesi menjelaskan dirinya sendiri kepada pasar. Galder mengambil elemen yang ia sukai, membuang sebagian aturan, kemudian melihat apakah semuanya bisa hidup dalam satu tubuh. Kadang hasilnya brilian, kadang kikuk, tetapi hampir selalu memiliki karakter dan karakter adalah sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kemurnian genre.

Setelah mendengar seluruh album, sulit mengatakan bahwa setiap lagu sama kuatnya. " The Millennium King ", " My Demonic Figures " dan " What Malice Embrace " adalah tiga pilar yang paling kokoh. Beberapa nomor lain kehilangan daya karena riff yang terlalu repetitif atau struktur yang kurang tajam. Tetapi ketika album berada dalam bentuk terbaiknya, Old Man’s Child terdengar seperti band yang sedang menemukan kemungkinan baru tanpa harus membakar rumah lamanya. Itulah nilai historis " The Pagan Prosperity ". Bukan karena ia menciptakan genre baru. Bukan karena semua eksperimennya sempurna dan tentu bukan karena ia memenuhi standar puritan yang sibuk menghitung berapa banyak blast beat yang dianggap cukup jahat. Nilainya terletak pada keberanian untuk mengatakan bahwa black metal tidak harus selalu terdengar seperti black metal yang sedang berusaha membuktikan dirinya sebagai black metal. Galder membuka pintu. Di belakangnya ada groove, heavy metal, melodi klasik, keyboard, solo gitar dan produksi yang jelas. Sebagian orang melihat pintu itu sebagai jalan keluar dari black metal. Yang lain melihatnya sebagai jalan masuk menuju kemungkinan baru. Dua-duanya benar dan justru di antara kedua penilaian itulah The Pagan Prosperity tetap menarik lebih dari dua dekade kemudian: sebuah album yang tidak cukup “murni” untuk memuaskan penjaga gerbang, tetapi terlalu kuat untuk dibuang begitu saja. Old Man’s Child tidak sedang menghancurkan black metal. Mereka sedang mengajukan pertanyaan yang jauh lebih berbahaya: bagaimana jika genre ini tidak perlu takut menjadi musikal?

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine