Slipknot - Slipknot CD 1999

Slipknot - Self Titled
Roadrunner Records CD 1999

01. 742617000027 00:36
02. (Sic) 03:19
03. Eyeless 03:56
04. Wait and Bleed 02:27
05. Surfacing 03:38
06. Spit It Out 02:39
07. Tattered & Torn 02:54
08. Frail Limb Nursery 00:45
09. Purity 04:14
10. Liberate 03:06
11. Prosthetics 04:58
12. No Life 02:47
13. Diluted 03:23
14. Only One 02:26
15. Scissors 19:15


(#8) Corey Taylor - vocals
(#7) Mick Thomson - guitars
(#6) Shawn Crahan - percussion, backing vocals
(#5) Craig Jones - samples, media
(#4) Jim Root - guitars  
(#3) Chris Fehn - percussion, backing vocals  
(#2) Paul Gray - bass, backing vocals
(#1) Joey Jordison - drums, mixing
(#0) Sid Wilson - turntables


Ada sesuatu yang sangat lucu tentang bagaimana sejarah musik bekerja. Ketika sebuah band muncul dengan sembilan personel, tiga perkusionis, sampler, turntable, gitar yang disetel rendah, vokalis yang terdengar seperti sedang mengancam dunia, dan sembilan topeng yang tampak seperti hasil pertemuan antara rumah sakit jiwa, toko kostum horor, dan mimpi buruk seorang art director yang terlalu banyak minum kopi. Lalu para puritan metal berteriak: " Gimmick! " Industri musik pun menjawab: " Bagus. Kita jual ! " dan tiba-tiba, dunia punya Slipknot, terima kasih para Puritan Brengsek ! Pada 1999, kemunculan Slipknot bukan sekadar lahirnya satu band baru. Mereka adalah gejala dari sebuah ekosistem metal Amerika yang sedang mengalami mutasi. Grunge sudah menghancurkan sebagian mitos rock superstar era 1980-an, groove metal mengubah definisi agresivitas, industrial metal membawa mesin dan sampling ke ruang ekstrem, sementara nu-metal mulai menawarkan persilangan antara metal, hip-hop, alternative rock, dan budaya jalanan. Di tengah kekacauan itu, sembilan orang dari Des Moines muncul memakai topeng dan mereka tidak meminta izin.

Tahun 1999: Tahun Ketika Monster Masih Bisa Menjadi Misteri. Hari ini, konsep menyembunyikan identitas musisi melalui topeng mungkin terdengar seperti strategi branding yang terlalu jelas. Pada 1999, situasinya berbeda, Internet belum menjadi mesin pembongkar identitas seperti sekarang. Media sosial belum ada. YouTube belum menjadi arsip audiovisual umat manusia. Informasi mengenai sebuah band masih harus dicari melalui majalah, radio, televisi musik, forum, kaset, CD, atau kabar dari mulut ke mulut, maka sembilan wajah yang sengaja disembunyikan menciptakan sesuatu yang sangat berharga: misteri. Slipknot pertama kali menarik perhatian lebih luas melalui penampilan mereka di Ozzfest pada 1999. Album debut berjudul Slipknot kemudian dirilis melalui Roadrunner Records pada Juni tahun yang sama. Yang menarik bukan hanya bahwa mereka berhasil masuk ke panggung besar. Yang menarik adalah bagaimana mereka membawa atmosfer underground ke ruang yang jauh lebih besar tanpa langsung kehilangan aura berbahayanya. Album ini terdengar seperti sesuatu yang seharusnya ditemukan di basement. Tetapi tiba-tiba berada di rak toko musik dan kemudian radio mulai memutarnya. Pencapaian Sejarah bagi Perusahaan Roadrunner Records Sebelum album ini rilis, Roadrunner Records belum pernah memiliki album yang mendapatkan sertifikasi Platinum di Amerika Serikat. namun dengan Album Self-Titled ini memecahkan rekor sebagai album pertama di label tersebut yang sukses meraih predikat Platinum, dan saat ini telah bersertifikat Double Platinum, gokil ga??

Label " Nu-metal " memang praktis. Tetapi praktis tidak selalu berarti akurat. Slipknot memang menggunakan elemen hip-hop, turntablism, sampling, groove, dan estetika alternative metal. Namun fondasi mereka jauh lebih kotor daripada sebagian besar rekan seangkatannya. Dengarkan riff gitar-nya, ada jejak thrash, ada agresi death metal, ada industrial, ada hardcore, ada groove, ada noise, ada bahkan pendekatan ritmis yang lebih dekat dengan ekstrem metal daripada sekadar rock alternatif dengan gitar tujuh senar. Problemnya, Slipknot memiliki terlalu banyak komponen sehingga orang sering hanya melihat bagian yang paling mudah dijual, Topeng, Rapping, Distorsi, Terikan lalu: Nu-metal, Selesai. Padahal persoalannya jauh lebih menarik. Slipknot adalah salah satu contoh ketika bahasa metal ekstrem dimasukkan ke dalam mesin komersial tanpa sepenuhnya kehilangan daya rusaknya. Di atas kertas, 9 anggota adalah ide yang absurd. Band metal biasanya sudah cukup ribut dengan empat atau lima orang. Slipknot menambahkan tiga perkusionis, DJ, sampler, dan dua gitaris ke dalam resep tersebut. Hasilnya? Kadang luar biasa, Kadang seperti kecelakaan industri dan justru di situlah karakter album ini. Ketika seluruh komponen bekerja, Slipknot terdengar seperti mesin pabrik yang dilempar ke dalam arena gladiator. Ketika semuanya tidak bekerja, hasilnya terdengar seperti sembilan orang berusaha membuktikan bahwa mereka benar-benar ada. Kelebihan terbesar sekaligus kelemahan terbesar album ini adalah kelebihan energi, Slipknot tidak kekurangan ide. Mereka justru kadang terlalu banyak ide.

" (742617000027) " Album dibuka bukan dengan riff, Melainkan suara, Semacam pengantar ritual menuju sesuatu yang tidak sehat, Judul numeriknya sendiri terasa seperti kode rahasia. Suasana dibangun perlahan, membuat pendengar seakan sedang memasuki sebuah fasilitas yang seharusnya tidak boleh dimasuki, Ini bukan lagu dalam pengertian tradisional, Ini adalah pintu dan setelah pintu terbuka. terdengar seperti kode acak. Angka tersebut sebenarnya adalah nomor barcode dari album demo independen pertama mereka yang berjudul " Mate. Feed. Kill. Repeat. " tahun 1996. Digas dengan " (sic) "- " Here comes the pain. " Tidak ada cara lebih tepat untuk memasuki album ini. " (sic) " adalah salah satu pernyataan musikal paling brutal Slipknot. Riff gitar menghantam dengan agresi yang memiliki akar jelas dalam metal ekstrem, sementara drum menghasilkan serangan ritmis yang nyaris tidak memberi ruang bernapas. Di sinilah identitas band menjadi jelas, Mereka bukan sekadar band alternative metal yang memakai topeng, Mereka punya kekerasan sonik. Vokal Corey Taylor bergerak antara teriakan, growl, dan ledakan emosional yang terasa jauh lebih meyakinkan ketika ia berhenti mencoba terdengar " Rap " dan membiarkan dirinya menjadi binatang. " (sic) " adalah salah satu lagu yang membuktikan bahwa di balik seluruh teatrikalitas mereka, terdapat kemampuan musikal yang serius. " Eyeless ", Jika " (sic) " adalah pukulan, " Eyeless " adalah mesin yang terus berlari setelah pukulan tersebut. Opening yang agresif langsung menunjukkan bahwa Slipknot memahami pentingnya ritme, Ada groove, Ada pengulangan, Ada tekanan dan ada momen ketika vokal berubah menjadi semacam ledakan psikologis. Lagu ini juga memperlihatkan salah satu formula penting Slipknot: membuat sesuatu yang ekstrem tetapi tetap mudah diingat. Itulah kemampuan yang sering diremehkan. Menjadi brutal tidak terlalu sulit. Menjadi brutal dan catchy jauh lebih sulit.

" Wait and Bleed " Lalu industri menemukan pintu masuknya. " Wait and Bleed " adalah lagu yang membuktikan bahwa Slipknot tidak perlu terus menerus berteriak untuk terdengar berbahaya. Melodi vokal membuat lagu lebih mudah diterima, tetapi struktur dasarnya tetap berat dan ketika bagian akhir mulai mengangkat intensitas, pendengar mendapat pengingat bahwa ini bukan sekadar lagu radio. Inilah kompromi yang dilakukan Slipknot dengan sangat efektif: cukup melodis untuk diputar radio, cukup berat untuk membuat metalhead tidak langsung pergi. Apakah komersial? Tentu. Apakah itu dosa? Tidak. Metal selalu memiliki sejarah panjang tentang bagaimana band ekstrem mencoba menyelundupkan kekerasan mereka ke pasar yang lebih luas. " Surfacing " Jika album ini memiliki manifesto, mungkin inilah salah satunya. " Surfacing " tidak membutuhkan terlalu banyak ornamen. Riff-nya langsung. Chorus-nya penuh attitude dan seluruh lagu memiliki aura pemberontakan yang sangat mudah diteriakkan bersama penonton. Inilah Slipknot dalam bentuk paling efektif: tidak terlalu rumit, tidak terlalu pintar, tetapi sangat tahu apa yang ingin diberikan dan kadang sebuah lagu memang tidak membutuhkan filsafat tingkat tinggi. Cukup satu riff yang tepat dan ribuan orang yang siap berteriak. " Spit It Out " Inilah bagian yang akan membuat sebagian metalhead ingin mencabut kabel listrik. Elemen hip-hop menjadi lebih terang. Flow vokal lebih dominan. Turntable dan groove menjadi bagian utama dan tentu saja, bagi pendengar yang datang dari death metal atau thrash metal tradisional, ini mungkin terdengar seperti pengkhianatan. Tetapi justru di sinilah sejarah menjadi menarik. Slipknot tidak sedang mencoba menjadi Slayer. Mereka sedang mengambil bahasa yang ada di sekitar mereka dan menggabungkannya dengan metal. Apakah hasilnya selalu elegan? Tidak. Apakah selalu berhasil? Juga tidak. Tetapi secara historis, keberanian semacam ini penting.

" Tattered & Torn " Inilah salah satu titik ketika eksperimen atmosferik Slipknot mulai memperlihatkan sisi paling problematisnya. Noise, efek, distorsi, suara-suara aneh dan atmosfer horor digunakan untuk menciptakan ketidaknyamanan. Secara konseptual, menarik, Secara musikal, belum tentu, Masalahnya sederhana: noise bukan otomatis atmosfer. Distorsi bukan otomatis brutal dan suara yang mengganggu telinga bukan otomatis avant-garde. Slipknot kadang memahami perbedaan itu. Kadang mereka tampaknya masih mencarinya. " Purity " menunjukkan bahwa Slipknot memiliki sisi melodis dan atmosferik yang lebih luas daripada reputasi mereka sebagai mesin kemarahan. Komposisinya lebih emosional dan membangun ketegangan secara bertahap. Namun kontroversi mengenai lagu ini dan sampel cerita yang menjadi inspirasinya membuat sejarahnya jauh lebih rumit daripada sekadar persoalan musikal dan di sinilah kita harus berhenti sejenak. Sebuah album tidak hidup hanya melalui riff. Ia juga hidup melalui cerita di sekelilingnya dan cerita itu kadang membawa konsekuensi yang tidak direncanakan. " Liberate " kembali menyeret album ke wilayah agresif. Riff-nya lebih langsung. Vokal Taylor terdengar lebih liar, Namun formula Slipknot mulai terasa semakin jelas. Ledakan. Groove. Break, Vokal, Ledakan lagi. Formula tersebut sangat efektif, tetapi semakin sering digunakan, semakin mudah pula terbaca dan ketika sebuah band memiliki sembilan anggota tetapi mulai terdengar seperti menggunakan formula yang sama berulang-ulang, kritik " terlalu banyak juru masak " mulai terasa masuk akal.

" Prosthetics " Ini adalah salah satu lagu yang lebih berhasil dalam membangun atmosfer. " Prosthetics " tidak terburu-buru. Ia bergerak seperti sesuatu yang sedang mengintai. Nuansa industrial dan horror menjadi lebih kuat. Alih-alih sekadar mengatakan: " Kami berat. " Slipknot mengatakan: " Kami ingin membuatmu merasa tidak nyaman. " dan itu jauh lebih efektif. " No Life " kembali membawa hip-hop ke depan. Di sinilah formula crossover mereka mulai terasa lebih tua dibandingkan bagian album yang mengandalkan metal ekstrem. Rap, groove, sampling, dan gitar berat bertabrakan. Secara historis, pendekatan ini relevan, Secara musikal, hasilnya tidak selalu bertahan sekuat " (sic) " atau " Surfacing ". Inilah salah satu kelemahan album debut: Slipknot masih mencoba menemukan keseimbangan antara semua wajah mereka. " Diluted " memperlihatkan sisi emosional yang lebih gelap. Alih-alih mengamuk tanpa arah, lagu ini memperlihatkan rasa frustrasi yang lebih internal, Namun ketika album sudah dipenuhi kemarahan, nihilisme, dan atmosfer gelap, masalahnya mulai muncul: semua kemarahan mulai terdengar sama. Kemarahan yang tidak memiliki variasi akhirnya berubah menjadi tekstur dan tekstur, kalau terlalu lama, berubah menjadi kebisingan. " Only One " Salah satu lagu yang paling jelas memperlihatkan konflik identitas Slipknot. Ada riff yang kuat, Ada energi, Ada groove, Tetapi elemen vokal bergaya rap kembali menjadi faktor yang memecah momentum. Ini bukan persoalan apakah rap " Layak " berada di metal. Tentu saja layak. Persoalannya adalah apakah ia memperkuat lagu dan di sini jawabannya tidak selalu iya.

" Scissors " Kemudian album memilih menutup pintu dengan cara yang paling aneh. " Scissors " adalah perjalanan panjang menuju ketidaknyamanan. Atmosfernya gelap, repetitif, dan eksperimental. Lagu ini terasa seperti sebuah ruangan kosong yang lampunya dibiarkan menyala terlalu lama dan ketika album akhirnya memasuki bagian outro yang panjang, Slipknot menunjukkan salah satu kebiasaan eksperimental yang sangat khas era CD: " Mari kita tambahkan sesuatu setelah lagu selesai. " Secara konseptual menarik. Secara praktis? Semoga remote CD player masih berfungsi. Jika seluruh topeng dilepas dan gimmick dipreteli sampai tulang, kita menemukan satu fakta sederhana: Slipknot adalah band dengan pemain yang sangat kompeten, Drummer Joey Jordison membawa permainan drum yang agresif dan presisi, Paul Gray memberikan fondasi bass yang penting bagi tubuh ritmis musik. Mick Thomson dan Jim Root menjadi dinding gitar yang membuat lagu-lagu mereka memiliki massa, Sid Wilson membawa energi turntablist, Craig Jones dan Chris Fehn memperluas tekstur, Shawn Crahan menjadikan perkusi sebagai bagian dari identitas visual dan sonik dan Corey Taylor menjadi pusat emosional. Masalahnya bukan apakah mereka mampu bermain. Mereka mampu, Masalahnya adalah kapan harus berhenti bermain, Kadang album ini terasa seperti sembilan orang berdiri di depan mikrofon sambil berkata: " Lihat, kami punya ide lain. " Padahal sebuah lagu terkadang lebih kuat ketika satu ide dibiarkan bernapas.

Topeng Slipknot sering digunakan sebagai bukti bahwa band ini adalah produk pemasaran. Argumen tersebut terlalu sederhana, Ya, topeng jelas merupakan alat branding, Ya, Roadrunner memahami potensinya, citra horor membantu Slipknot menjual sebuah dunia visual yang mudah dikenali, Tetapi gimmick tidak otomatis berarti musiknya palsu, Metal sendiri penuh dengan teatrikalitas. Band Glam Rock Kiss menggunakan makeup, Alice Cooper membangun horor sebagai pertunjukan, Black metal menggunakan corpse paint, Gwar menciptakan dunia absurd mereka sendiri, Slipknot hanya menemukan bentuk baru untuk kebutuhan lama: membuat musik terasa seperti dunia yang bisa dimasuki. Masalahnya bukan topeng, Masalahnya adalah apakah musik di balik topeng cukup kuat untuk membuat pendengar tetap tinggal dan pada album ini, jawabannya: sering kali iya. Debut " Slipknot " bukan album sempurna, Bahkan cukup jauh dari sempurna, Ada lagu yang terlalu panjang, Ada interlude yang terasa seperti filler, Ada eksperimen noise yang lebih menjengkelkan daripada mengganggu secara artistik, Ada elemen rap yang tidak selalu menyatu, Ada formula yang mulai terasa berulang, Tetapi di balik semua kekurangan itu terdapat sesuatu yang jauh lebih penting: urgensi ! Album ini terdengar lapar dan rasa lapar itu tidak bisa diproduksi menggunakan plugin. Slipknot ingin menghancurkan sesuatu. Mereka belum tentu tahu apa, Mereka belum tentu memiliki jawaban, tetapi mereka memiliki energi untuk membuat pendengar percaya bahwa sesuatu memang sedang terbakar.

Yang paling menarik dari " Slipknot " hari ini bukan sekadar fakta bahwa album tersebut menjadi sangat sukses. Yang menarik adalah mendengarnya kembali sebelum kita mengetahui seluruh sejarah setelahnya. Sebelum arena, Sebelum jutaan penonton, Sebelum festival besar, Sebelum topeng menjadi merchandise, Sebelum Corey Taylor menjadi salah satu wajah paling dikenal dalam metal modern, Sebelum Slipknot berubah menjadi institusi. Di sini mereka masih terdengar seperti sekelompok orang yang ingin menggedor pintu dan mungkin itulah alasan album ini masih memiliki daya, Karena di balik semua strategi pemasaran, ada sebuah rekaman yang benar-benar terdengar marah. Tidak selalu cerdas, tidak selalu elegan, tidak selalu perlu, tetapi marah. " Slipknot " bukan masterpiece tanpa cacat. Ia adalah monster yang masih belajar berjalan. Kadang kakinya menginjak dirinya sendiri. Kadang terlalu banyak suara berebut ruang. Kadang gimmick lebih besar daripada lagunya. Tetapi ketika mesin itu menemukan ritmenya lagu " (sic) ", " Eyeless ", " Wait and Bleed ", " Surfacing " hasilnya benar-benar brutal. Album ini tidak menemukan metal dari nol. Ia mencuri dari death metal, thrash, industrial, hardcore, hip-hop, alternative metal, dan budaya horor, lalu memasukkan semuanya ke dalam blender, Anehnya, blender tersebut tidak meledak. Justru menghasilkan sesuatu yang kemudian ditiru oleh terlalu banyak band. Itulah paradoks " Slipknot ". Mereka datang sebagai produk dari sebuah era, tetapi akhirnya menjadi salah satu suara yang mendefinisikan era tersebut dan kalau hari ini seseorang masih ingin mengatakan bahwa Slipknot hanyalah 9 orang bertopeng yang berisik untuk anak sekolah yang sedang marah kepada dunia, silakan. Tetapi sebelum mengucapkannya, putar Slipknot dengan volume keras. Lalu dengarkan gitar, bass, drum, perkusi, sampling, turntable, dan vokal itu bekerja secara bersamaan. Setelah itu, kalau masih ingin menyebutnya sekadar gimmick mungkin masalahnya bukan pada 9 orang di atas panggung. Mungkin telinga kita yang terlalu malas untuk mendengarkan apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine