Astriferous - Atavistic Unraveling CD 2026

Astriferous - Atavistic Unraveling 
Me Saco un Ojo Records CD 2026

01. Carriers of the Curse 04:41      
02. The Floating Catacombs 04:03      
03. Dissolution of Eternity 04:23      
04. Proto Embryo (The Third Tribulation) 04:42      
05. Arcane Demonomania 04:57      
06. Mnemonic Phenomena 05:32      
07. Resonance Cascade 08:09


José Pablo Phillips - Bass, Vocals
Felipe Tencio - Guitars, Vocals
Esteban Sancho - Guitars
José María Arrea - Drums


Death Metal tidak selalu harus memilih antara menjadi kuno atau menjadi aneh. Astriferous memilih menjadi keduanya lalu membakar pintu keluar dari katakombe. Ada sedikit kenikmatan yang lebih memuaskan bagi seorang pengulas musik selain menemukan kembali sebuah band yang pernah disentuh tulisannya pada masa awal karier mereka, lalu mendapati bahwa band tersebut ternyata tidak membuang waktu untuk berdiam diri di tempat. Tentu saja, ada kenikmatan lain yang mungkin lebih besar, misalnya menyaksikan tim sepak bola Inggris akhirnya bermain seperti tim yang benar-benar tahu apa yang sedang mereka lakukan. Tetapi itu urusan lain. Sepak bola punya wasit; Death Metal hanya punya konsekuensi dan Astriferous? Band asal Costa Rica ini memilih konsekuensi. Setelah EP " The Lower Levels of Sentience " pada 2020 dan debut penuh " Pulsations From The Black Orb " pada 2023, kuartet ini kembali melalui " Atavistic Unraveling ", album kedua yang dirilis pada 26 Juni 2026 melalui Me Saco Un Ojo Records. Tujuh lagu, sekitar 36 menit, dan sebuah pendekatan yang secara cerdik mempertahankan kebusukan Death Metal tradisional sambil membiarkan beberapa tentakel kosmik, progresif, teknikal, bahkan sedikit doom merayap masuk ke dalam ruang komposisinya dan inilah bagian yang membuat album ini menarik: Astriferous tidak berusaha menjadi lebih pintar daripada Death Metal. Mereka hanya membuat Death Metal mereka menjadi lebih luas. Itu perbedaan besar. Mari singkirkan terlebih dahulu kemungkinan salah paham. " Atavistic Unraveling " bukan album yang tiba-tiba menemukan keyboard lalu memutuskan bahwa dirinya adalah progressive metal, Tidak. Ini bukan kisah band Death Metal yang mengalami krisis identitas setelah terlalu banyak membaca teori musik. Astriferous tetap beroperasi di wilayah yang kotor, disonan, teknikal dan atmosferik, wilayah yang mengenali bayangan Incantation, Autopsy, Morbid Angel, Demigod, Immolation, Suffocation, bahkan sesekali Demilich. Tetapi pengaruh-pengaruh tersebut tidak diperlakukan seperti daftar belanja. Astriferous tidak terdengar seperti band yang membuka Discogs, menulis: " Oke, hari ini kita harus terdengar seperti Incantation. " Untungnya. Karena dunia Death Metal sudah terlalu penuh dengan band yang mengira memakai gitar berfuzz dan vokal seperti orang tersedak lumpur otomatis menjadikan mereka purba. Tidak. Itu hanya menjadikan mereka band berikutnya yang terdengar sama. Astriferous justru menarik karena mereka mulai memahami bahwa atmosfer bukan pengganti komposisi. Atmosfer adalah bagian dari komposisi.

" Atavistic Unraveling " sendiri terasa tepat untuk musik yang terus bergerak di antara dua kutub. Di satu sisi, Astriferous menggali kembali naluri purba Death Metal: riff yang kasar, vokal yang membusuk, tremolo picking, groove yang menggiling, blast beat, disonansi dan produksi yang tidak terlalu tertarik menjadi ramah. Di sisi lain, mereka terus menatap ke atas. Ke luar. Ke sesuatu yang lebih besar daripada ruang bawah tanah tempat musik ini dilahirkan. Penggunaan synth menjadi salah satu indikator paling jelas. Namun yang patut diapresiasi adalah cara Astriferous menggunakannya. Synth tidak datang untuk mengambil alih. Ia muncul sebagai kabut, sebagai cahaya asing yang menyusup dari celah-celah makam, memberikan dimensi lain pada gitar yang sudah lebih dulu menghancurkan pendengar. Ini keputusan aransemen yang cerdas. Karena jika synth tersebut dibuat terlalu dominan, album ini akan kehilangan karakter Death Metal-nya. Tetapi Astriferous cukup disiplin untuk menjadikannya aksen. Hasilnya bukan " Death Metal dengan keyboard ". Lebih tepat disebut: Death Metal yang sesekali membuka jendela dan menemukan bahwa alam semesta ternyata lebih mengerikan daripada kuburan. Kutukan pertama tidak datang perlahan. Ia langsung menendang pintu. Pembuka album ini tidak memberikan waktu untuk basa-basi. " Carriers of the Curse " langsung memposisikan Astriferous dalam wilayah serangan Death Metal yang brutal, dengan aroma Morbid Angelian yang cukup kentara tetapi tidak sampai berubah menjadi cosplay musikal. Gitar terdengar seperti benda yang telah ditemukan setelah terkubur selama beberapa abad. Drum mendorong semuanya ke depan. Vokal hadir sebagai suara dari sesuatu yang seharusnya tidak mempunyai paru-paru. Namun yang membuat lagu ini lebih menarik adalah bagaimana Astriferous tidak terus menerus menekan pedal gas. Di sekitar pertengahan lagu, tempo melambat, Ruang terbuka, Synth mulai masuk dan untuk beberapa saat, lagu ini berubah dari sekadar serangan menjadi semacam ritual kosmik. Lalu, tentu saja, Astriferous mengingat bahwa mereka masih punya pekerjaan untuk menghancurkan pendengar. Serangan kembali, Lebih berat, Lebih distortif dan jika album ini merupakan perjalanan, maka " Carriers of the Curse " adalah pintu masuknya. Bukan pintu yang mengundang. Pintu yang dikunci dari dalam.

Judul yang terdengar seperti arsitektur Lovecraftian, musiknya tidak kalah sesak. " The Floating Catacombs " memperluas ruang yang sudah dibuka sebelumnya. Ada nuansa BDM yang tetap dominan, tetapi struktur riff mulai terasa lebih eksperimental. Synth kembali memainkan peran lebih besar, sementara drum José María Arrea mulai menunjukkan sisi yang lebih flamboyan tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai mesin penghancur. Ini penting. Karena drummer teknikal sering jatuh ke dalam penyakit lama: " Lihat saya bisa melakukan ini. " Arrea relatif menghindari jebakan tersebut. Permainan drum-nya membantu lagu bergerak, bukan sekadar memamerkan kemampuan. Ada bagian yang terasa seperti tech-thrash yang terseret masuk ke rawa Death Metal, sementara riff-riff lainnya kembali ke karakter OSDM yang lebih primitif. Seolah-olah dua zaman musik bertabrakan di satu lorong sempit dan tidak ada yang mau mengalah. Ketika groove dan disonansi akhirnya menemukan kompromi. Jika ada satu hal yang membuat Astriferous semakin menarik di album ini, itu adalah kemampuannya memahami hook tanpa mengorbankan kebusukan. " Dissolution of Eternity " memiliki bagian yang lebih mudah menempel di kepala dibanding beberapa materi sebelumnya. Bukan catchy dalam pengertian musik pop. Tentu saja tidak. Ini Death Metal. Kita masih berbicara tentang riff yang terdengar seperti mesin pemotong tulang. Namun ada semacam riff-worship groove yang membuat lagu ini memiliki identitas. Kemudian muncul disonansi ala Immolation dan di sinilah Astriferous memperlihatkan kemampuan mereka untuk menyatukan dua bahasa: riff yang bisa diingat dan riff yang membuat otak merasa sedang mengalami kerusakan struktural. Tidak banyak band yang bisa membuat keduanya hidup berdampingan tanpa salah satunya terdengar seperti tempelan.

Suffocation masuk ke laboratorium, lalu eksperimennya berjalan salah. " Proto Embryo (The Third Tribulation) " mungkin menjadi salah satu contoh paling jelas mengenai kemampuan teknikal Astriferous. Ada bobot Suffocation-esque dalam riffing-nya, baik ketika berjalan dengan pola crawling maupun ketika berubah menjadi galloping assault. Namun yang menarik bukan sekadar teknikalitas. Yang menarik adalah massa. Riff-riff ini tidak hanya rumit, Ia berat dan gitaris Esteban Sancho serta Felipe Tencio mendapatkan ruang untuk memperlihatkan kemampuan mereka melalui berbagai bentuk riff dan solo tanpa membuat lagu menjadi etalase ego. Itulah perbedaan antara virtuoso dan musisi yang tahu bagaimana menulis lagu. Yang pertama ingin kalian mengagumi jarinya, Yang kedua ingin membuat kalian mengingat lagunya, Astriferous berada lebih dekat pada kategori kedua. Kecepatan yang telah membusuk. Kalau ada satu lagu yang terdengar seperti speed metal menemukan mayatnya sendiri dan kemudian memutuskan untuk memakannya, " Arcane Demonomania " adalah kandidat kuat. Track ini memperlihatkan sisi Astriferous yang lebih agresif dan langsung. Blast beat menyerbu, Riffing bergerak cepat, Namun struktur tetap dikendalikan, Ini bukan sekadar kekacauan, Ini adalah kekacauan yang dikomposisikan dan sekali lagi, di sinilah Astriferous berhasil menghindari penyakit klasik Death Metal modern: terlalu banyak ide, terlalu sedikit lagu. Mereka mempunyai banyak ide, Tetapi setiap ide diberi ruang untuk berfungsi. Atau: bagaimana membuat Death Metal terdengar semakin besar tanpa membuatnya semakin gemuk. " Mnemonic Phenomena " membawa karakter yang lebih muscular, bahkan sesekali memberikan kesan Cannibal Corpse dalam cara mereka mengolah kekuatan riff. Namun yang membuat lagu ini menarik adalah rasa perkembangan. Pada titik ini, pendengar sudah memahami bahasa Astriferous. Tetapi mereka belum bosan. Ini bukan pencapaian kecil. Dalam genre yang sekarang memiliki produksi baru setiap beberapa menit, mempertahankan identitas tanpa mendaur ulang album sebelumnya merupakan pekerjaan yang semakin sulit. Astriferous berhasil mempertahankan fondasi mereka sambil memperluas tekstur. Itulah mengapa album ini terasa seperti perkembangan, bukan pengulangan.

Dan kemudian datang lagu yang paling berani di album ini, " Resonance Cascade ". 8 menit lebih. Di genre yang selama bertahun-tahun mengajarkan bahwa lagu panjang adalah dosa kecuali Anda Morbid Angel, ini keputusan yang cukup berisiko. Tetapi Astriferous tidak membuang durasi. Lagu ini bergerak dari crawl yang berat menuju ledakan kecepatan, lalu kembali mengulur waktu, mengembangkan atmosfer dan akhirnya membuka sisi yang lebih epik. Di sinilah unsur doom-death bekerja paling efektif. Tidak terasa seperti intermezzo. Tidak terasa seperti band sedang mencoba menjadi "serius" dan yang paling penting: tidak terasa seperti progresif demi terlihat progresif. Ini perkembangan alami dari bahasa yang sudah dibangun enam lagu sebelumnya. Paruh kedua " Resonance Cascade " bahkan mulai mengarah pada grandeur yang lebih besar, sebelum ditutup oleh atmosfer synth yang memberi sentuhan sci-fi dan jika seseorang mengatakan Death Metal tidak boleh terdengar megah, mungkin mereka terlalu lama tinggal di kuburan tanpa jendela. Salah satu evolusi paling menarik pada album ini adalah munculnya riff yang lebih angular. Ada jejak pendekatan Demilich dalam cara beberapa riff terasa seperti bentuk geometris yang sengaja dibuat cacat. Namun Astriferous tidak meninggalkan tremolo riffing. Tidak meninggalkan groove. Tidak meninggalkan kekacauan. Semua unsur tersebut hidup berdampingan. Inilah yang membedakan " Atavistic Unraveling " dari sekadar album OSDM revival lainnya. Karena OSDM revival sudah lama menjadi pasar yang sesak. Setiap minggu ada band baru dengan logo yang tampak seperti akar pohon mati, vokal yang terdengar seperti septic tank sedang marah, dan produksi yang sengaja dibuat seperti rekaman ditemukan di bawah lantai rumah sakit terbengkalai. Semuanya "old school", Semuanya "filthy", Semuanya "raw" dan entah bagaimana semuanya terdengar sama. Astriferous mencoba keluar dari perangkap itu. Mereka tetap memakai bahasa lama. Tetapi mulai membangun sintaksis baru.

Produksi " Atavistic Unraveling " juga patut mendapat perhatian. Album ini direkam di 3/4 Estudios oleh Andrés Corrales, kemudian dimixing Andrew Oswald di Paradise Recorders dan dimastering Dan Lowndes di Resonance Sound Studio. Artwork dikerjakan ilustrator Meksiko Necrodevourer dan hasilnya tidak mencoba membuat Death Metal terdengar seperti produk teknologi. Ada ruang, Ada tekstur, Ada kekasaran, Tetapi instrumen tidak saling memakan secara membabi buta. Ini penting karena musik Astriferous membutuhkan dua hal yang bertentangan: kebusukan dan kejernihan, Jika terlalu bersih, atmosfernya mati, Jika terlalu keruh, struktur komposisinya hilang. Album ini menemukan kompromi yang cukup efektif. Ini pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar: " Apakah albumnya bagus? ", Jawabannya tampaknya ya. Astriferous dibentuk pada 2018, merilis EP " The Lower Levels of Sentience "pada 2020, kemudian debut penuh " Pulsations From The Black Orb " pada 2023, sebelum memasuki fase baru melalui " Atavistic Unraveling " pada 2026 dan evolusinya bukan berupa perubahan genre, Itu justru yang membuatnya meyakinkan. Astriferous tidak meninggalkan Death Metal untuk mencari sesuatu yang lebih " dewasa ". Mereka membuat Death Metal mereka lebih dewasa. Ada perbedaan besar, Album ini masih memiliki primitivisme, tetapi sekarang ditempatkan berdampingan dengan tekstur yang lebih kompleks. Masih ada kekerasan, tetapi sekarang memiliki dinamika, Masih ada disonansi, tetapi sekarang memiliki arah, Masih ada atmosfer, tetapi tidak menjadi alasan untuk mengorbankan riff, Dengan kata lain: mereka berkembang tanpa mengkhianati alasan mengapa mereka menarik sejak awal. 

w pribadi punya masalah dengan banyak album Death Metal modern. Bukan karena semuanya buruk. Justru karena terlalu banyak yang lumayan. Dan " lumayan " adalah kata paling berbahaya dalam kritik musik, Lumayan berarti produksi bagus, Lumayan berarti riff bagus, Lumayan berarti drummer hebat. Lumayan berarti artwork keren, Lumayan berarti bisa diputar sampai selesai. Lalu minggu berikutnya Anda lupa namanya. Astriferous beruntung karena " Atavistic Unraveling " memiliki sesuatu yang lebih sulit dibeli: kepribadian, Tidak sempurna, Tidak revolusioner, Tidak sedang menciptakan genre baru dan tidak perlu berpura-pura begitu. Kekuatan album ini justru terletak pada cara mereka menggabungkan sesuatu yang sudah dikenal dengan detail-detail yang membuatnya terasa hidup kembali. Incantation ada, Autopsy ada, Morbid Angel ada, Suffocation ada, Immolation ada, Demilich sesekali mengintip, Doom datang dari balik pintu, Synth mengambang di langit Namun Astriferous tetap terdengar seperti Astriferous dan itu jauh lebih sulit daripada sekadar menjadi ekstrem. " Atavistic Unraveling " adalah album yang memahami paradoks Death Metal: Kalian bisa terdengar tua tanpa menjadi usang, Kalian bisa teknikal tanpa menjadi masturbasi musikal. Kalian bisa atmosferik tanpa menjadi soundtrack meditasi, Kalian bisa menggunakan synth tanpa berubah menjadi band gothic. Kalian bisa membuat lagu delapan menit tanpa terdengar seperti sedang meminta penghargaan. Astriferous mengambil fondasi Death Metal yang sangat tua, membongkarnya, lalu menyusun kembali pecahannya dalam bentuk yang lebih aneh. Bukan revolusi, Lebih tepatnya mutasi dan mutasi adalah istilah yang lebih cocok. Karena album ini terasa seperti organisme yang berevolusi di dalam lingkungan beracun. Tidak ada kebutuhan untuk membuktikan bahwa mereka " lebih progresif " daripada album sebelumnya. Hanya Death Metal yang semakin menemukan bentuk tubuhnya sendiri dan mungkin itulah bagian paling menyebalkan dari " Atavistic Unraveling " : Astriferous ternyata belum mencapai puncaknya. Album ini bukan pernyataan bahwa mereka sudah tiba. Ini lebih mirip surat ancaman dari sebuah band yang baru menyadari betapa luasnya dunia yang masih bisa mereka rusak. Jika " Pulsations From The Black Orb " adalah pintu menuju ruang bawah tanah, maka " Atavistic Unraveling " adalah saat kita menyadari bahwa ruang bawah tanah tersebut ternyata tidak memiliki dasar dan di bawahnya masih ada sesuatu yang bergerak. Band ini tidak sedang menghidupkan kembali Death Metal lama. Mereka sedang menunjukkan bahwa Death Metal lama masih bisa bermutasi. Dan di tengah lautan band yang sibuk menggali kuburan yang sama, Astriferous justru melakukan sesuatu yang lebih menarik: mereka menggali lebih dalam.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine