The Haunted - Songs of Last Resort

The Haunted - Songs of Last Resort
Century Media Records CD 2025

01. Warhead 03:39       
02. In Fire Reborn 03:18       
03. Death to the Crown 02:56       
04. To Bleed Out 04:29     
05. Unbound 03:34       
06. Hell Is Wasted on the Dead 02:53     
07. Through the Fire 03:01      
08. Collateral Carnage 04:03       
09. Blood Clots 01:30      
10. Salvation Recalled 03:26       
11. Labyrinth of Lies 03:30       
12. Letters of Last Resort 04:06


Marco Aro - Vocals
Ola Englund - Guitars
Patrik Jensen - Guitars
Jonas Björler - Bass, Vocals 
Adrian Erlandsson - Drums


Kalau ada yang masih percaya bahwa band metal tua itu pasti melempem begitu melewati usia dua dekade, maka kemunculan kembali The Haunted lewat album " Songs of Last Resort " adalah sebuah tamparan keras, bukan pakai tangan, tapi pakai palu godam berlapis distorsi. Bangun dari tidur panjang atau sekadar muak dengan mediokritas? Hampir delapan tahun sejak materi " Strength In Numbers ", banyak yang mulai berpikir: " Ya udah, paling juga jadi band nostalgia yang hidup dari setlist lama. " Tapi ternyata tidak semua band punya mental pensiun dini. Dirilis 30 Mei 2025 lewat Century Media Records untuk ke-3 kalinya, album kesepuluh ini bukan sekadar comeback, ini semacam pengingat bahwa thrash dan melodic death metal masih punya taring, bukan cuma pajangan museum. Dan yang lebih menarik, jeda panjang itu justru bukan jadi alasan basi ala " proses kreatif butuh waktu ". Tidak. Ini lebih seperti: mereka mundur sebentar untuk memastikan saat balik, mereka bisa menghajar lebih keras. Dari reruntuhan jadi mesin pembunuh. Buat yang masih pura-pura tidak tahu sejarah, The Haunted lahir tahun 1996 dari puing-puing band At The Gates, band yang secara praktis membentuk DNA tonggak MDM modern. Jadi jangan heran kalau sejak awal mereka sudah punya fondasi yang bukan kaleng-kaleng. Album debut " self-titled " tahun 1998 langsung jadi blueprint: thrash yang agresif, groove yang menggigit, dan MDM yang tidak cengeng. Kombinasi ini bukan kebetulan, tapi hasil dari musisi yang tahu persis apa yang mereka lakukan, sesuatu yang belakangan ini cukup langka di scene yang lebih sibuk mengejar estetika daripada substansi. Drama lineup? Ya, ini band metal, bukan boyband Seperti band metal pada umumnya, perubahan formasi bukan hal baru. Salah satu momen penting adalah ketika drummer Adrian Erlandsson cabut tahun 1999 untuk gabung ke band black metal, Cradle of Filth dari UK. Dan ya, itu bukan akhir dunia, justru jadi bagian dari evolusi. Setiap pergantian personel membawa warna baru, bukan malah merusak identitas. Ini yang membedakan band serius dengan proyek asal jadi: mereka tidak kehilangan arah hanya karena satu orang pergi. Dengan Produksi dari kasar ke presisi tanpa kehilangan amarah ! Kalau dulu sound mereka lebih mentah (yang kadang dianggap " true "), sekarang produksi mereka jauh lebih polished, tapi tanpa kehilangan energi. " Songs of Last Resort " membuktikan bahwa " rapi " tidak harus berarti " lembek ". Riff tetap tajam, drumming tetap brutal, dan vokal tetap seperti orang yang baru saja kehilangan kesabaran terhadap dunia. Ini bukan nostalgia, ini evolusi yang benar. Apalagi ditambah dengan Masuknya gitaris Ola Englund: bukan sekadar gimmick ! Sejak era album " Exit Wounds ", The Haunted merekrut Ola Englund, dan ini bukan sembarang gitaris. Dia adalah otak dan CEO di balik perusahaan Solar Guitars, mantan band Six Feet Under, sekaligus YouTuber yang lebih produktif daripada sebagian besar band metal yang sok sibuk. Dengan proyek lain seperti Feared, Scarpoint, dan The Chug Project, Englund membawa pendekatan modern tanpa merusak identitas lama. Hasilnya? Sound yang lebih tajam, lebih berat, dan ironisnya lebih relevan dibanding banyak band baru yang terlalu sibuk jadi " unik ". Thrash lebih dominan? Akhirnya, ada yang berani. Yang paling terasa di " Songs of Last Resort " adalah kecenderungan ke arah thrash yang lebih agresif. Bukan berarti mereka meninggalkan warna MDM, tapi lebih seperti: mereka akhirnya mengingat siapa diri mereka sebenarnya. Dan di tengah gelombang band yang lebih fokus pada atmosfer dan estetika gelap ala Instagram, pendekatan ini terasa seperti angin segar atau lebih tepatnya, badai. Kalau kamu tipe yang butuh " pengakuan resmi " untuk menganggap band itu bagus, silakan dicatat: The Haunted pernah menyabet dua Grammy Swedia tahun 2003 untuk kategori " Band Hard Rock Terbaik ". Tapi jujur saja, kalau kalian masih butuh penghargaan untuk menilai kualitas musik, mungkin masalahnya bukan di bandnya. ini bukan comeback, ini peringatan " Songs of Last Resort " bukan sekadar album baru. Ini adalah pernyataan bahwa The Haunted masih relevan, masih berbahaya, dan masih jauh dari kata selesai. Di saat banyak band memilih aman, mereka justru memilih untuk lebih tajam. Di saat banyak musisi sibuk membangun citra, mereka tetap fokus pada musik yang menghantam. Jadi kalau masih ada yang menganggap mereka band lama yang kebetulan masih aktif, mungkin sudah waktunya berhenti sok tahu dan mulai benar-benar mendengar. " Semua album yang kami rilis di masa lalu, saya mendukungnya." Itulah posisi band pada tahap-tahap tersebut. " Sabbath Bloody Sabbath " adalah di mana Black Sabbath berada pada saat itu, kalian tahu? Jadi, kamu bisa jadi nerdy dan melihatnya sebagai semacam dokumen waktu. Di album ini, w akan jujur, kami terdengar 20 tahun lebih muda! Itu datang entah dari mana. Semua menyatu. Kami hanya menulis dari hati dan perasaan. Ketika orang mendengarnya, saya harap mereka akan berkata, fuck, ini adalah album Haunted!' ungkapan yang dilepaskan oleh Gitaris Patrik Jensen mengatakan tentang album baru ini. 

Album ini dibuka dengan sejumlah lagu yang kuat dan berotot. Ambil contoh " Warhead "; lagu ini dimulai dengan apa yang awalnya dianggap sebagai intro singkat dengan hitungan mundur dan peringatan ala AI, namun lagu ini berlanjut dan meledak dengan riff berat, garis bass yang menggugah, solo gitar singkat namun berapi-api, dan drum yang menggelegar. Jeritan dan raungan dengan nuansa hardcore memimpin serangan penuh agresi dan energi frenetis, yang akan menjadi tema umum sepanjang album. Formula serupa digunakan pada lagu-lagu seperti " In Fire Reborn, " " Unbound," dan " Death to the Crown, " dengan yang terakhir menampilkan pukulan tajam dari gaya klasik The Haunted. Dengan lagu-lagu seperti " To Bleed Out " dan " Salvation Recalled " kita akan melihat sisi lain dari The Haunted saat mereka lebih condong ke sisi MDM dari sound mereka, terutama dengan nuansa gaya khas Gothenburga-nya, daripada elemen thrash. Melodik yang padat dan hentakan groove yang adiktif menjadi fokus utama, memecah intensitas kecepatan frenetis dari lagu-lagu pembuka album sambil tetap mempertahankan sifat agresif dari suara mereka. " To Bleed Out " secara khusus memperkenalkan penggunaan synth dan kunci untuk menciptakan suasana yang menghantui dan mudah diingat, menandai lagu tersebut sebagai salah satu momen terbaik dalam album ini. " Hell is Wasted on the Dead " dan " Through the Fire " kembali ke sisi thrashy-groove dari sound band ini tetapi membawa suasana yang lebih gelap dengan sedikit sentuhan energi Slayer awal. Lagu-lagu ini khususnya sangat mengamuk dan tak kenal ampun, menunjukkan kemampuan band untuk berganti-ganti gaya dengan mudah sepanjang album. Sedangkan lagu-lagu seperti " Collateral Carnage " dan " Labyrinth of Lies " mengambil tempo sedang, dengan hentakan yang memompa tinju yang dipadukan dengan riff thrash metal dan solo yang melayang. Lagu closing dan judul album inilah yang menjadi upaya terakhir untuk membawa suara mereka ke titik penuh, mengakhiri album dengan march death metal yang mengguntur dan obrolan radio yang terdistorsi ala AI.

Final verdict, " Songs of Last Resort " berhasil menyeimbangkan skill musikal yang marah dan agresif dengan kedalaman emosional, menawarkan pengalaman mendengarkan yang sekaligus mendebarkan dan menggugah pemikiran. Meskipun mungkin tidak sepenuhnya membuka jalan baru, album ini menegaskan kembali posisi band sebagai kekuatan tangguh di dunia trash/melo-death. Saat The Haunted terus berkembang, " Songs of Last Resort " berdiri sebagai tonggak penting dalam diskografi mereka, mengisyaratkan masa depan yang menjanjikan. w masih lebih suka dihantui oleh tim ini jika mereka terus berjalan ke arah ini, mungkin tidak se-reguler sebelumnya tetapi tetap; dengan penampilan vocalis Marco Aro, yang w anggap emang punya karakteristik dengan band Face Down dan mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Peter Dolving dengan baik melalui aksi teriaknya yang khas, band ini menemukan cara untuk thrash dengan semangat, tidak sepenuhnya tetapi kita tidak boleh mengharapkan kekacauan Slayer era " Reign in Blood " yang baru keluar dari kamp ini. Masalahnya adalah bahwa itu bukan thrash yang baik dan senior sepenuhnya juga. Situasi tersebut mengalami metamorfosis style di bawah tekanan " revolver " yang diarahkan ke wajah para pria pada pertengahan tahun 2000-an, dengan berbagai nuansa dan motif yang meledak ledak pada setiap instalasi yang lewat sejak aksi teroris ini, dengan thrash selalu menemukan kesempatan untuk melampirkan dirinya pada amalgam musik, tetapi tidak selalu diberikan kursi depan. Namun, gema sangat berani dari dua album sebelumnya mempengaruhi musikalitasnya seperti pertemuan era materi " Exit Wounds " dan " Strength in Numbers ", dan tepat ketika seseorang hampir berteriak " The Haunted made me do it! " Any fan of the band's essential releases will be pleased with this one. We're nowhere near the furious quality of their initial albums that was so mind-blowing for a hormonal teen back in that aforementioned day, but unless you're a complete fucking poser who wouldn't know real metal if it gave you lead poisoning, you will dig this one.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine