Barbarism - Structured Chaos ' Demo 2025

Barbarism - Structured Chaos ' Demo 2025
Grave Island Records 2025

01. Chaos in Order 02:31      
02. Structured Violence 03:12


Ardian - Vocals
Roby - Guitars, Bass
Claudio Carrasco - Drums


Prolog : Dulu, bikin band itu urusannya jelas: cari teman satu tongkrongan, sewa studio, berantem soal aransemen, lalu bubar sebelum demo jadi. Sekarang? Selamat datang di era " band internasional ", di mana personel bisa beda benua, beda zona waktu, bahkan beda jam tidur, tapi tetap sok kompak dalam satu proyek. Coz perkembangan teknologi memang tidak main-main. Internet, software rekaman, sampai file sharing berkecepatan tinggi sudah menghapus satu alasan klasik: jarak. Yang dulu dianggap mustahil, ngerekam bareng tanpa ketemu sekarang jadi hal biasa. Bahkan lebih rapi, lebih presisi, dan kadang lebih dingin. Konsep International band ini pada dasarnya sederhana: kumpulan individu dari berbagai negara yang disatukan oleh satu obsesi musikal. Tidak perlu satu studio, cukup satu visi dan koneksi stabil. Dulu band bubar karena ego di ruang latihan. Sekarang bubar karena " last seen 2 weeks ago ". Secara teknis, model ini memang efisien. Gitaris bisa rekam sendiri materi di rumahnya di satu negara, drummer tracking di negara lain, vokalis kirim file dari kamar tidur, semua disatukan dalam satu DAW. Hasilnya bisa terdengar sangat profesional, bahkan kadang lebih " rapi " dibanding band konvensional yang masih berkutat dengan keterbatasan fasilitas. Tapi di balik semua kemudahan itu, ada satu hal yang mulai hilang: chemistry. Interaksi spontan, energi ruang latihan, bahkan kesalahan kecil yang justru membentuk karakter, semua itu tidak selalu bisa ditransfer lewat file digital. Dan di sinilah ironi muncul. Teknologi berhasil menyatukan yang jauh, tapi sekaligus menjauhkan yang seharusnya dekat. Meski begitu, tidak bisa dipungkiri, fenomena band lintas negara ini adalah evolusi yang tidak terhindarkan. Dunia semakin kecil, kolaborasi semakin luas, dan batas geografis sudah tidak lagi relevan. Yang penting sekarang bukan " Kalian dari mana "?, tapi " Kalian bisa ngisi apa ?. Jadi ya, mau idealis atau realistis, International band adalah wajah baru industri musik hari ini. Dan buat yang masih ngotot bilang  " band harus kumpul satu kota biar sah "? Santai saja gess. Dunia ini udah jalan lebih dulu, Kalian saja yang mungkin masih proses buffering. Meski bukan yang pertama atau kesekian, Barbarism yang digawangi oleh Ardian (Vocals), Roby (Guitar/Bass) serta drummer berkebangsaan Ecuador, Claudio Carrasco-nya band Criptor, bersepakat untuk tidak sepakat memulai proyek baru antar negara, Barbarism ! Meski masih seumuran jagung, proyek ini langsung menulis materi sendiri untuk dijadikan demo eksistensi awal yang dirilis oleh label asal Cyprus, Grave Island Records, tanpa komando panjang dikerjakanlah sendiri oleh gitarisnya sendiri, Roby di Resonance Beast Studio dan Proses masteringnya mengalami 2 proses di Supreme Brutality Labs. alhasil 2 track biadab menjadi jaminan kualitas dari pertemuan haram skill mumpuni Barbarism ! dimulai dengan Lagu " Chaos in Order ", Kalau masih ada yang mengira " brutal " itu cukup dengan main secara ngebut dan berisik, track ini datang untuk menampar persepsi itu sampai rata. Ini bukan sekadar kebisingan liar yang asal hantam, ini " Struktur dalam Kekacauan " dalam bentuk paling kejam: kekerasan yang dihitung, kekacauan yang dirancang. Barbarism dengan sadar menggabungkan dua kutub yang jarang bisa akur: agresi mentah dan presisi dinamika. is a listenable record with some competent riffing, but it struggles to write songs that are able to string together momentum. A majority of the time, Barbarism are content to blastbeat their drummer’s powerfully into oblivion, with a lot of the riffs just kind of existing as a backdrop to the blasting, never gelling into a cohesive song. It feels fast and stimulating, Claudio Carrasco has owesome, but this isn’t the kind of music that I would point to as " challenging " with the very notable exception of proper track ! sama sekali tidak memberi ruang aman pokoknya. Riff gitar datang seperti pisau bedah, tajam, terarah, dan tidak pernah salah potong. Di belakangnya, drum dengan pendekatan blast beat bukan sekadar cepat, tapi konsisten seperti mesin yang sudah dikalibrasi untuk menghancurkan. Vokalnya? Lupakan soal " karakter ", ini lebih mirip alat interogasi. Dengan teknik guttural vocal yang dalam dan kotor, setiap baris terdengar seperti eksekusi, bukan ekspresi. Yang menarik justru ada di struktur. Di balik kesan berantakan, komposisinya punya pola. Transisi tidak asal lompat, breakdown tidak sekadar tempelan. Semua terasa seperti bagian dari desain besar, sebuah sistem yang sengaja dibuat untuk terdengar kacau, tapi sebenarnya sangat terkontrol. Sentuhan famous pengusung awal memang mempengaruhi Barbarism secara musikal memang, stylistic in the vein Inherit Disease, Gorgasm, Cinerary ato Incestuous seperti coba dipadukan menjadi karakter yang lebih kuat. Track ke-2 " Structured Violence ", kekejaman lebih terstruktur memang sengaja Band ini komposisikan menjadi vortex dalam otak untuk maksimal disinkronkan dengan skill mengasah karakteristik seperti track awal. Seperti menjadi pedang bermata dua dalam  komposisinya terhadap kualitas materi. Di satu sisi, ini adalah lagu yang terus menunjukkan taring serta tantangannya, dan melakukan banyak hal yang w harapkan Barbarism lebih banyak lakukan di seluruh materi full-nya nanti, Coz demo ini masih menjadi sample tester untuk fans segala Brutalisme, ini bukan demo untuk didengar, ini demo untuk diuji, apakah kalian paham atau cuma ikut-ikutan biar terdengar " keras ". Karena pada akhirnya, konsep " kekerasan terstruktur " dan " kekacauan dalam keteraturan " bukan sekadar jargon sok ngewri doang. Di sini, itu benar-benar dieksekusi. Tanpa jeda, tanpa kompromi, dan cukup cerdas untuk membuat yang tidak siap memilih menyerah lebih cepat, persis mungkin gambaran artwork yang disematkan oleh Seniman Populer eksistensinya asal Blitar, Andik Godfinger ! he catchiness is quite as apparent, due to the increased complexity of both the instrumentation and the song arrangements, but even so the guitar work presented here is a definite step up from the already enjoyable playing that I had witnessed on this band's debut. Groovy slam sections are still present, but take a backseat to the twisted maelstrom of mindfuck riffery and arrangements that continue to pulverize me into a state of quality brutal death metal induced extacy with each listen. it is just a simple, but affective release, with great vocals and brutal crunchy riffs. variation improves just a bit, but their brutality stays the same.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine