Human Remind - For Life What We Trust EP 2023

Human Remind - For Life What We Trust
Edelweiss Records EP 2023

01. Intro The Voices of Freedom          
02. Human Stigma          
03. Mother Figure          
04. Life Is Struggle          
05. Single Fighter          
06. Tears of Childrens          
07. Merdeka dan Tidak Terjajah          
08. For Life What We Trust 


Azee Grind - Vocals
Mike - Guitars
Hisyam Abdul Malik - Bass
Ebi Febiano - Drums


Death/grind genre merupakan sebuah scene yang sulit untuk membuat kesan apapun pada masa sekarang ini karena mengingat banyaknya band yang berebut tempat di pasar yang sangat padat. karakteristiknya condong ke arah lirik yang bermuatan politis, sebuah target besar yang diincar oleh kemungkinan banyak orang, tampaknya selama tahun-tahun mulai semakin berkurang. Di zaman ketika semua orang bisa terdengar brutal hanya dengan plugin dan preset yang tepat, genre death/grind justru berubah menjadi medan perang yang ironis: semakin keras suaranya, semakin sulit meninggalkan kesan. Ini bukan lagi soal siapa paling bising, tapi siapa yang masih punya alasan untuk didengar. Dan di tengah pasar yang padat, hampir sesak napas oleh ribuan band dengan blast beat seragam dan growl yang terasa seperti fotokopi murahan, muncul satu nama dari pinggiran industri: HUMAN REMIND ! Mereka datang bukan sebagai penyelamat, tapi setidaknya, mereka datang dengan niat. Debut EP mereka, " For Life What We Trust ", adalah semacam pernyataan eksistensi yang setengah nekat, setengah sadar diri. Di satu sisi, mereka paham bahwa death/grind modern sudah kehilangan sebagian taring ideologisnya lirik politis yang dulu jadi amunisi utama kini terasa makin tumpul, atau lebih parah: jadi slogan kosong. Di sisi lain, mereka tetap mencoba berdiri di jalur itu, walau sadar bahwa medan ini sudah penuh dengan pemain lama yang lebih dulu menguasai panggung. Secara musikal, pendekatan mereka tidak pura-pura revolusioner. Justru sebaliknya mereka bermain di wilayah yang sangat familiar. Perpaduan antara agresi musikal ala Misery Index dan keganasan klasik dari Malevolent Creation menjadi fondasi utama. Ini bukan eksperimen liar yang ingin mengubah peta genre. Ini adalah eksperimen yang sadar batas, mengolah ulang formula lama dengan sentuhan groove dan sedikit nuansa crossover. Dan anehnya, di situlah kekuatannya. Tempo cepat mendominasi, seperti yang sudah bisa ditebak. Tapi mereka tidak sekadar ngebut tanpa arah. Ada groove yang disisipkan, ada riff yang secara mengejutkan cukup menempel di kepala. Ya, ini death/grind, tapi gitar mereka justru menawarkan sesuatu yang hampir melodis dalam konteksnya sendiri. Bukan untuk dinyanyikan di jalan, tentu saja kita belum sampai di tahap itu tapi cukup untuk membuat otak diam-diam mengulang pola riff-nya. Karena mari jujur: dalam death metal, vokal bukan alat untuk diingat. Ia adalah alat untuk menghancurkan. Growl dan scream jarang, bahkan hampir tidak pernah, menjadi elemen yang bisa di-hum sambil jalan ke warung. Dan Human Remind tampaknya memahami itu dengan cukup baik. Mereka tidak memaksakan vokal menjadi catchy mereka menyerahkan tugas " pengait " itu pada gitar. Sebuah keputusan yang cerdas, sekaligus realistis. Namun tentu saja, tidak semua berjalan mulus seperti propaganda band sendiri. Ada kecenderungan bahwa eksplorasi mereka masih berada di zona aman. Groove yang muncul kadang terasa seperti pengulangan, bukan evolusi. Struktur lagu masih mengikuti pola yang bisa ditebak, dan intensitas yang terus dipertahankan tanpa cukup dinamika justru berisiko membuat pendengar kelelahan, bukan terhanyut. Di titik ini, muncul pertanyaan filosofis yang tidak bisa dihindari: dalam genre yang dibangun dari ekstremitas, apakah konsistensi adalah kekuatan atau justru jebakan? Karena ketika semuanya terdengar keras, cepat, dan brutal maka tidak ada lagi yang benar-benar terasa ekstrem. Secara tematik, pendekatan lirik yang condong ke arah politis sebenarnya adalah langkah yang potensial. Tapi seperti yang sudah disinggung, ini juga ladang ranjau. Tanpa kedalaman dan perspektif yang tajam, lirik politis mudah berubah menjadi klise, teriakan tanpa isi. Human Remind masih berada di persimpangan itu: antara ingin berbicara dan benar-benar punya sesuatu untuk dikatakan. " For Life What We Trust " bukanlah karya yang akan langsung mengguncang fondasi scene death/grind. Tapi ia juga bukan sekadar kebisingan tanpa arah. Ada niat, ada pemahaman dasar tentang bagaimana genre ini bekerja, dan yang paling penting ada potensi untuk berkembang menjadi sesuatu yang lebih tajam. Ini adalah debut yang tidak mencoba menjadi tantangan. Tapi cukup jujur untuk mengakui bahwa mereka sedang belajar menjadi ancaman. Dan dalam dunia death/grind yang penuh ilusi kebrutalan, kejujuran seperti itu justru terdengar paling keras.

Setelah warming up dengan Intro track " The Voices of Freedom ", Human Remind langsung membombardir dengan " Human Stigma ", ga sampai menghabiskan durasi 2 menit, namun daya hancurnya tampil meledak-ledak dengan sesekali memberi nafas lega beberapa detik, abis itu menggerinda lagi tempo cepat-nya. Pertemuan Agresif riffing dengan Hypersnare yang bawaannya ngebut mulu aja, attracts your attention almost immediately with his complex fills and vicious blasting style. Karakter emosional Growling-nya tipis-tipis aja memprovokasi lewat lirik-lirik kritis-nya. Stand out tracks include the superb title song with its memorable vocal line and grooves that will send a moshpit to a bloody frenzy! melesat cepat menggerinda berikutnya " Mother Figure ", then pummels and channels through a slew of pretty average, faster paced mayhem until the morose, thoughtful muted melodies deep within. Dentuman rancak Death/grind in the vein, tersematkan dalam aransemen yang sudah Human Remind matangkan, sehingga w menangkap kengeriannya sendiri. mungkin Kekuatan materi EP ini adalah rasa khas dari riffingnya yang sederhana namun berirama kuat dan liniern movement yang singkat namun menghancurkan banget mengikat pengaruh-pengaruh yang terkumpul ke dalam sebuah narasi yang dibentuk oleh tangan yang sama, dan dengan demikian, sebuah perpaduan organik metal hingga saat ini. " Life Is Struggle ", between the aggression of death and the somber nature of other morbid music, which moved the mind into a hypnotic ambience of negativity and disillusionment. Human Remind masih meranggas dengan kekuatan naluri penuh kebencian akan fenomena sekitar mereka untuk senantiasa bertahan untuk hidup, sinkronisasi materi yang penuh tantangan saat mereka tulis dan kreasi-kan, especially dengan goodjob partner gitaris Mike dengan drummer Ebi adalah Provokator handal tercipta-nya materi-materi mengerikan ini. sama persis dengan " Single Fighter ", saat hidup yang makin sulit telah me-nempa, disinilah letak Attitude yang tersisa bersama effort yang ga maen-maen. dan " Tears of Childrens ", menurut w adalah Puncak segala kegelisannya Human Remind untuk terus merangkai sebuah kekacauan dramatis. Meskipun hal ini tampak berlebihan untuk sekelompok 4 manusia agresif, mereka mumpuni, seperti yang telah dimanifestasikan oleh kompleksitas struktur yang “sederhana”, di mana mereka telah menyaring apa yang ingin mereka sampaikan ke dalam ide sehingga variasi yang terdefinisi dengan baik, Karakteristik antara Misery Index dengan Malevolent Creation, tidak menawarkan jalan memutar tetapi melengkapi tema secara keseluruhan. Harmoni yang memiliki Atmosfor Gelap disederhanakan secara reduktif, dengan gaya harmoni black metal rules, namun secara keseluruhan-nya Human Remind mengikuti pelengkap vokal yang tidak sepenuhnya monoton. Namun vokal yang buas dan rendah dalam arti yang benar-benar definitif dan penuh penderitaan. Somehow a bouncy death/grind band, a blasting snare, and a fast and wily progressive minded abstract metal band at the same time, Human Remind pull together a EP material that delivers the rhythmic brutality for which the Indonesian act is famous, laying underneath the violent codes of motion a patina of complexities that distinguish these compositions. Track super pendek 8 detik ada di " Merdeka dan Tidak Terjajah " sebelum di sudahi materi EP ini oleh " For Life What We Trust ", Human Remind tetap ngasih lompatan pada petikan mereka dan tetap menyuguhkan ketukan drum yang relatif menyenangkan menjadi kekerasan yang tidak disadari; perbandingan dengan Misery Index era " Overthrown " juga tidak adil rasanya jika dikatakan bahwa materi Human Remind menyatu dengan lebih kohesif, dan lebih terasa seperti digubah dan kemudian dimainkan daripada digubah ke dalam materi yang direkam. Semua ritme ada di sini, mulai dari hentakan mid-tempo hingga hentakan serba menghancurkan dikodekan dengan baik dalam kocokan riffing yang sangat cepat yang sering digunakan Human Remind untuk selalu mengintegrasikan visi kecil harmoni ke dalam struktur chaotic lagu-lagu mereka. a bit randomly attached to the structures and they don’t sound that catchy or powerful, especially the tremolo ones on the blast beats sections.

Well, Ada paradoks yang terlalu sering terjadi dalam rilisan pendek: ia selesai sebelum sempat benar-benar dimulai. EP ini yang seharusnya menjadi deklarasi, bukan sekadar perkenalan basa-basi justru terasa seperti potongan ide yang dipaksa berhenti di tengah jalan. Bukan karena kekurangan bahan, tapi karena keberanian untuk mengeksekusi sepenuhnya tampaknya masih setengah hati. Dan ya, kita kembali di titik yang menyebalkan itu: terlalu singkat untuk monumental, terlalu padat untuk dianggap ringan. Namun di balik durasinya yang seperti permisi lewat, ada sesuatu yang lebih menarik dari sekadar keluhan klasik soal filler. Justru fleksibilitas materi di dalamnya menjadi senjata yang diam-diam berbahaya. Mereka tidak sepenuhnya tunduk pada pola baku genre, sebuah langkah yang, dalam dunia metal ekstrem, bisa berujung pada dua hal: inovasi atau kekacauan. Untungnya, di sini keduanya berjalan berdampingan dengan cukup elegan, meski belum sepenuhnya stabil. Secara aransemen dan komposisi, EP ini menunjukkan kecenderungan untuk " berpikir keluar dari kebiasaan ", meski masih sambil memegang erat pegangan lama. Ada upaya sadar untuk menggeser ritme, memelintir struktur, dan memainkan ekspektasi pendengar. Mereka tidak membuang pakem mereka membongkarnya, lalu merakit ulang dengan pendekatan yang lebih ambigu. Hasilnya adalah lanskap musik yang terasa seperti familiar tapi tidak sepenuhnya bisa ditebak. Dan di sinilah ketegangan itu lahir. Ambiguitas yang dibangun bukan sekadar efek samping, tapi seperti tujuan yang disengaja. Musiknya mengalir, tapi bukan aliran yang nyaman, ia seperti arus bawah yang terus menarik, memaksa pendengar untuk tetap waspada. Ada sensasi bahwa setiap bagian bisa berubah arah kapan saja, meski pada akhirnya tetap kembali ke kerangka besar yang mereka bangun. Permainan gitar, khususnya dari tangan kanan Mike, menjadi salah satu pusat gravitasi teknis dalam EP ini. Di sana, tersembunyi eksperimen ritmik yang tidak terlalu dipamerkan, tapi cukup terasa bagi yang mau mendengar lebih dalam. Offset ritmik yang ia mainkan bukan sekadar variasi, tapi bentuk perlawanan kecil terhadap keteraturan. Ia tidak menghancurkan groove, malah mengganggunya, namun cukuplah untuk membuatnya terasa hidup. Lalu masuk Ebi di belakang drum, yang tampaknya memahami betul bahwa kekacauan tanpa kontrol hanyalah kebisingan murahan. Teknik ritme siklik yang ia mainkan menjaga semuanya tetap terikat. Ia tidak membiarkan lagu tercerai-berai, meskipun di atasnya terjadi banyak pergeseran. Ini bukan sekadar menjaga tempo ini menjaga narasi tetap utuh di tengah eksperimen yang berpotensi liar. Dan hasilnya? Sebuah aliran yang terasa " natural ", padahal sebenarnya penuh rekayasa. Riffing yang provokatif menjadi tulang punggung, mendorong lagu terus bergerak tanpa memberi ruang untuk stagnasi. Tidak semua riff revolusioner, tentu saja beberapa bahkan terasa seperti pengulangan yang terlalu nyaman. Tapi dalam konteks keseluruhan, mereka cukup efektif untuk menjaga energi tetap hidup. Sementara itu, sang vokalis mengambil posisi yang aman. Terlalu aman, mungkin. Ia hadir sebagai pelengkap yang responsif, bukan sebagai penggerak utama. Cepat tanggap !  Presisi, iya. Tapi apakah ia benar-benar meninggalkan jejak? Itu pertanyaan yang belum terjawab. Dalam musik yang sudah mulai berani bermain di wilayah kompleks, vokal seharusnya menjadi penyeimbang emosional, bukan sekadar mengikuti arus. Dan di sinilah letak ironi terakhir: ketika instrumen mulai berbicara dengan bahasa yang lebih kompleks, vokal justru memilih diam dalam kesederhanaannya. EP ini adalah refleksi dari fase transisi antara mengikuti dan mendefinisikan. Mereka sudah cukup berani untuk keluar dari pola, tapi belum cukup radikal untuk meninggalkan sepenuhnya. Mereka bermain dengan struktur, tapi masih takut kehilangan pijakan. Dan itu terasa di setiap detiknya: sebuah karya yang sadar akan potensinya, tapi belum sepenuhnya percaya diri untuk melompat lebih jauh. Jadi ya, EP ini terlalu singkat. Bukan hanya dari segi durasi tapi dari keberanian. Namun justru di dalam keterbatasan itulah tersimpan janji. Bahwa jika mereka berhenti setengah langkah lebih lama, mereka mungkin akan benar-benar mulai. pengemasan sound materi yang cukup menggamit poin plus EP " For Life What We Trust " lebih bertaji tajam menghujam, well-for fans Death/Grind dengan taste Modern, w rekom kan 1 lagi debut penggerinda dari Cikampek ini. The Sophisticate power of Human Remind is the ability of this music to be gut-level pleasing Death/Grind at the same time it is compositional communication. If .. In Grind We Blast - For Life What We Trust " Arrrrghhhhh !!!!!!!!!!!!!!

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine