Catastrophic - The Cleansing CD 2001

Catastrophic - The Cleansing
Metal Blade Records CD 2001

01. Hate Trade 03:22       
02. Balancing the Furies 01:58       
03. Enemy 03:58       
04. Lab Rats 02:40     
05. Messiah Pacified 03:19       
06. The Cleansing 04:26       
07. Pain Factor 01:59       
08. Jesters of the Millennium 03:25     
09. The Veil 03:55       
10. Blood Maidens 01:58      
11. You Must Bleed 03:30       
12. Terraform 04:56


Keith DeVito - Vocals
Trevor Peres - Guitars
Chris Basile - Guitars
Brian Hobbie - Bass
Rob Maresca - Drums
 
Kalau kalian pikir semua proyek sampingan musisi besar itu otomatis penting atau minimal layak didengar maka kisah CATASTROPHIC ini cocok jadi bahan koreksi keras sebelum kalian terlalu percaya pada nama besar. Band ini lahir dari satu momen yang, kalau mau jujur, agak tragis sekaligus nekat: ketika Gitaris Trevor Peres dari salah satu Pioner Death Metal Obituary merasa perlu " menghidupkan kembali " semangat era " World Demise " dan " Back From The Dead " di saat band utamanya sendiri sedang limbung. Alih-alih eksplorasi, pendekatan yang diambil justru menyalin ulang rasa lama dengan sedikit variasi. Sebuah keputusan yang terdengar berani, tapi hasilnya lebih mirip nostalgia yang dipaksakan. Masalahnya bukan pada niat, karena jelas Trevor ingin mempertahankan DNA groove death metal khasnya selama di Obituary tapi pada eksekusi yang terasa setengah matang. Secara musikal, Catastrophic seperti berdiri di antara dua dunia: groove berat ala Obituary dan sentuhan New York Death Metal yang lebih agresif. Bahkan line-up-nya bukan kaleng-kaleng, dengan nama yang pernah mengisi band NYDM Populer serta pionirnya kayak Internal Bleeding atao Pyrexia seperti nama vocalis Keith DeVito, Gitaris Chris Basile, Drummer Rob Maresca hingga Bassis Brian Hobbie adalah kombinasi yang seharusnya bisa menghasilkan sesuatu lebih yang brutal dan segar, memang sih, dan terlalu Lembek kalo dibandingin Obituary sendiri. Tapi ironinya, justru di situlah letak kegagalannya. Alih-alih jadi monster baru, Catastrophic terdengar seperti eksperimen yang tidak pernah benar-benar menemukan identitas karena w rasa terlalu dipaksa Trevor " harus " seperti Obituary titik !. Riff-riffnya berat, iya. Groove-nya ada, jelas. Tapi semuanya terasa datar. Tidak ada arah, tidak ada klimaks, tidak ada rasa " ini akan meledak ". Bahkan upaya untuk terdengar lebih sludgy dan kotor justru jatuh ke jebakan mediokritas berat tanpa jiwa. Vokal pun tidak membantu banyak. Keith DeVito, yang sebenarnya dikenal beringas di Pyrexia, di sini seperti terjebak dalam bayang-bayang John Tardy, suer ! Alih-alih memberi karakter baru, ia terdengar seperti versi " dipaksa " dari sesuatu yang sudah ada, lebih tertekan daripada mengintimidasi. Catastrophic jadi semacam paradoks: kumpulan musisi berpengalaman, membawa formula yang terbukti berhasil, tapi tetap gagal menciptakan sesuatu yang benar-benar hidup. Ini adalah contoh klasik bahwa energi, riff berat, dan growl saja tidak cukup untuk membuat death metal yang berkesan. proyek ini seperti pengingat pahit: bahwa masa lalu tidak bisa direplikasi hanya dengan niat dan referensi. Ada konteks, ada momen, ada " jiwa zaman " yang tidak bisa dipaksa hadir kembali hanya karena kita merasa itu dulu pernah berhasil. Jadi ya, kalau mau disimpulkan secara kejam tapi jujur: Catastrophic bukanlah evolusi, Bukan juga revolusi ! Ini adalah persilangan aneh antara Obituary dan Pyrexia yang terdengar seperti mencoba keras menjadi sesuatu, tapi lupa memastikan apakah itu benar-benar perlu ada. Enaknya ngomong sih, Ini Obituary rasa Pyrexia, beda mungkin secara komposisi dan energi, Obituary terlalu lembek dibandingkan dengan Pyrexia lah hahahaha ...

Kalau kalian pikir proyek sampingan itu ruang bebas berekspresi tanpa tekanan ego, maka kisah Catastrophic ini akan bikin kalian sadar: kadang justru sebaliknya, itu adalah panggung ego yang lebih terang, tanpa filter. Di balik layar, bayang-bayang Trevor Peres terasa begitu dominan. Bukan sekadar sebagai gitaris, tapi seperti sutradara tunggal yang ingin memastikan semua orang bermain sesuai skenario yang sudah dia tulis di kepalanya: menghadirkan kembali aura Obituary dalam versi yang katanya " lebih Powerfully ". Masalahnya? Ketika satu orang terlalu kuat mengendalikan arah, yang lain seringkali hanya jadi pelengkap bukan kontributor. Track pembuka " Hate Trade" jadi bukti paling jelas dari ambisi itu. Di detik awal, kalian hampir bisa tertipu, vokal Keith DeVito sekilas meniru banget gaya John Tardy dengan cukup meyakinkan. Ditambah komposisi groove khas dan karakter riff yang familiar, kesan pertama langsung mengarah ke: " ini Obituary 2.0, ya? " Dan untuk ukuran " meniru ", ya berhasil sih Untuk ukuran " menciptakan sesuatu yang layak diingat "? namun Itu cerita lain. Masalah mulai muncul begitu ilusi itu memudar setelah track pembuka. Riff-riff yang disajikan memang berat, bahkan cukup menyenangkan di permukaan, tapi tidak punya daya lekat. Tidak ada hook yang benar-benar nempel di kepala. Tidak ada momen ini dia bagian yang bikin w balik lagi. Semua terasa lewat begitu saja, berat, tapi kosong. Vokal pun makin kehilangan arah. Upaya meniru John Tardy yang awalnya " cukup mirip " berubah jadi terdengar dipaksakan. Alih-alih menemukan karakter sendiri, DeVito seperti terjebak di antara dua identitas: ingin brutal seperti dirinya di Pyrexia, tapi dipaksa mengikuti bayangan Tardy. Hasilnya? Tidak keduanya. Dari sisi produksi, bahkan drum ikut jadi korban ambisi nostalgia ini. Snare yang ingin terdengar persis ala Obituary justru jatuh jadi setengah matang tidak cukup keras, tidak cukup tajam, dan terasa tenggelam di belakang. Ironis, karena dalam musik seberat ini, drum seharusnya jadi tulang punggung, bukan sekadar latar. Memang ada usaha untuk memperkaya dinamika tempo cepat, sentuhan grind, growl yang lebih brutal tapi semua itu terasa seperti tambahan kosmetik, bukan evolusi nyata. Seolah band ini terus bertanya: " sudah cukup mirip belum? " daripada " sudah cukup kuat belum? " Catastrophic versi ini adalah contoh klasik ketika obsesi terhadap masa lalu justru menghambat masa depan. Trevor Peres mungkin ingin membuat versi Obituary yang lebih solid, lebih berat, lebih " sempurna ". Tapi dalam prosesnya, yang lahir justru bayangan yang kehilangan jiwa karena terlalu sibuk menjadi sesuatu yang sudah pernah ada. Jadi ya, kalau kalian dengar " Hate Trade " dan sempat berpikir ini adalah Obituary yang bangkit kembali tenang, kalian tidak sendirian. Masalahnya, setelah itu kalian juga akan sadar bahwa ini bukan kebangkitan. Ini cuma gema yang dipaksa terdengar hidup. Ada satu momen dalam hidup di mana seorang musisi merasa dirinya adalah pusat gravitasi semesta dan di situlah masalah biasanya dimulai. Kisah ini terasa begitu kental ketika kita membedah bagaimana komposisi di track kedua, " Balancing the Furies, " berubah dari sekadar proyek ego menjadi medan perang kecil antar identitas musikal. Dan ya, kalau kalian berharap ini tetap jadi Obituary jilid dua, maaf realitanya jauh lebih menarik sekaligus sedikit memalukan bagi sang pengendali awal. Di titik ini, terasa jelas bahwa kendali absolut yang coba dipertahankan oleh Trevor mulai retak. Bukan karena dia kehilangan kemampuan, tapi karena dia dikelilingi oleh musisi yang ironisnya terlalu " hidup " untuk sekadar jadi bayangan. Track ini seperti bukti sah bahwa ketika kalian mengumpulkan orang-orang dari kubu New York Death Metal, lalu berharap mereka duduk manis mengikuti skrip Florida death metal yang groove-centric, hasilnya bukan kepatuhan tapi pemberontakan halus yang dibungkus dalam blast beat dan riff brutal. " Balancing the Furies " adalah titik di mana topeng mulai jatuh. Struktur lagunya terdengar jauh lebih agresif, lebih liar, dan jelas lebih dekat dengan karakter khas Pyrexia dan Internal Bleeding. Tempo meningkat, intensitas melonjak, dan yang paling mencolok adalah permainan drum snare yang menghajar tanpa basa-basi, blast beat yang tidak lagi sekadar pelengkap tapi menjadi tulang punggung agresi. Ini bukan lagi sekadar death metal groove yang berat dan lambat; ini sudah masuk ke wilayah brutal death metal yang penuh tekanan, tanpa kompromi. Dan vokal? Nah, di sinilah drama kecil itu terasa paling jujur. Keith DeVito, yang sebelumnya terlihat seperti sedang ikut lomba " tiru John Tardy versi kurang tidur, " akhirnya mulai terdengar seperti dirinya sendiri. Growl panjang ala Obituary masih ada, tapi hanya sebagai sisa-sisa identitas yang belum sepenuhnya ditinggalkan. Selebihnya? Lebih ganas, lebih liar, dan jauh lebih natural. Seolah-olah dia akhirnya berkata, " cukup sudah sandiwara ini. " Yang menarik, di tengah semua kekacauan kreatif ini, Trevor tidak benar-benar melawan. Dia justru ikut arus aja. Dan di situlah letak ironi yang paling nikmat. Sosok yang awalnya ingin membentuk ulang bayangan masa lalu, justru terseret ke dalam arus baru yang lebih brutal dan lebih jujur. Riff gitarnya masih mempertahankan karakter khasnya itu tidak bisa disangkal tapi sekarang ia berdiri di tengah komposisi yang bukan sepenuhnya miliknya lagi. lagu ini bukan hanya sekadar track kedua dalam sebuah album. Ini adalah titik balik momen di mana proyek yang tadinya terasa seperti ambisi nostalgia berubah menjadi sesuatu yang lebih hidup, lebih agresif, dan jauh lebih tidak terkendali. Dan jujur saja, justru di situlah nilai sebenarnya muncul. Kalau kalian masih terus penasaran bagaimana jadinya ketika seorang gitaris mencoba mempertahankan identitas lama di tengah tekanan brutal dari musisi lain yang lapar akan agresi, jawabannya ada di sini. Ini adalah Trevor versi yang dipaksa keluar dari zona nyaman, dan hasilnya? Lebih cepat, lebih kasar, dan tanpa disadari jauh lebih menarik daripada sekadar menjadi bayangan Obituary. Kadang, kegagalan untuk mengontrol segalanya justru menghasilkan sesuatu yang lebih jujur. Dan " Balancing the Furies " adalah bukti nyata bahwa dalam dunia death metal, kekacauan seringkali lebih produktif daripada kontrol yang terlalu ketat. " Ada satu hal yang sering dilupakan banyak band ketika mencoba " terdengar berat ": berat itu bukan sekadar tuning rendah dan muka sangar, tapi bagaimana setiap bagian lagu punya bobot yang benar-benar terasa. Dan anehnya, lagu " Lab Rats " justru berhasil melakukan itu di saat keseluruhan proyek ini kadang terasa seperti tarik tambang identitas yang setengah matang. " Lab Rats" berdiri sebagai pengecualian yang nyaris menyindir materi lain di sekitarnya. Tempo yang sengaja dipatah-patahkan, berhenti lalu menghantam lagi, memberi ruang bagi gitar untuk bernapas dan ya, tetap terdengar tebal seperti beton basah. Dentuman snare dengan style in the vein Pyrexia banget itu bukan cuma hiasan; itu palu godam yang memastikan setiap transisi terasa menghajar, bukan sekadar lewat. Di sini, mereka tidak terdengar seperti meniru untuk sekali ini, mereka terdengar seperti mengerti. Masuk ke " Messiah Pacified ", nuansa klasik mulai muncul, dan ini menarik. Ada aroma old-school death metal yang tidak dipaksakan, seolah band ini akhirnya berhenti pura-pura modern dan memilih berdamai dengan akar mereka sendiri. Track ini jadi semacam pengingat: ketika mereka tidak sibuk saling tarik ego, hasilnya justru lebih solid dan punya karakter. Lalu datang " Pain Factor " dan " Blood Maidens " dua track yang seperti minum kopi pahit tanpa gula. Tempo naik, grind section masuk tanpa basa-basi, dan vokal berubah lebih brutal. Ini bukan lagi sekadar death metal groove, tapi sudah menyenggol wilayah yang lebih liar. Growl terdengar lebih lepas, lebih buas, dan yang paling penting: lebih jujur. Tidak ada lagi usaha keras untuk " terdengar seperti seseorang " ini sudah mulai terdengar seperti diri mereka sendiri, walau mungkin terlambat. kemudian dua track closing set playlist, " You Must Bleed " dan " Terraform. " Di sinilah aroma Obituary itu datang tanpa malu-malu, seperti tamu lama yang tidak diundang tapi tetap duduk di kursi utama. Doom, Middle, busuk, dan keruh, dua lagu ini seperti sengaja dibiarkan menjadi wilayah kekuasaan Trevor sepenuhnya. Dan jujur saja, rasanya memang seperti ada semacam " perjanjian diam-diam ": bagian tertentu milik Trevor, sisanya silakan tampil liar sesuka hati, selama tidak keluar terlalu jauh dari kerangka besar. Apakah itu strategi? Atau sekadar kompromi karena tidak ada yang benar-benar mau mengalah? Silakan simpulkan sendiri. Tapi yang jelas, dua lagu penutup ini bekerja sebagai penutup yang cukup solid bukan revolusioner, tidak juga brilian, tapi cukup untuk membuat penggemar berat Obituary mengangguk pelan sambil berkata, " ini masih ada rasanya. " Secara keseluruhan, materi ini memang bukan mercusuar orisinalitas. Tapi di balik semua tarik-ulur identitas, ego yang saling bersinggungan, dan arah musik yang kadang seperti bingung mau ke mana, ada satu hal yang tidak bisa disangkal: ketika mereka berhenti mencoba menjadi sesuatu, dan mulai memainkan apa yang mereka kuasai di situlah musiknya terasa hidup. Kadang band tidak gagal karena kurang kemampuan, tapi karena terlalu sibuk menentukan siapa yang paling benar. Dan di album ini, justru bagian terbaiknya muncul ketika tidak ada yang benar-benar menang. 

Overall, Yuk Mari kita luruskan satu hal sebelum terlalu banyak orang sok tahu berkoar: Catastrophic BUKAN copycat murahan dari Obituary. Tapi ya, jangan juga berharap mereka sepenuhnya lepas dari bayang-bayang itu karena DNA-nya masih nempel tebal seperti bau bangkai di ruang latihan lembap. Secara teknis, memang ada usaha untuk keluar dari cetakan lama. Riff gitar masih membawa aroma swampy khas Obituary, tapi tempo sering didorong lebih cepat, mencoba memberi ilusi agresi yang lebih modern. Drum tidak lagi sekadar mengayun groove berat ala Florida lama, di sini lebih liar, lebih menyerang, bahkan sesekali seperti ingin kabur dari kendali. Dan vokal Keith DeVito? Jelas bukan John Tardy versi fotokopi gagal. Ada usaha, ada karakter, walau kadang masih terdengar seperti orang yang ragu mau jadi dirinya sendiri atau tetap hidup di bayang-bayang legenda. Album " The Cleansing " sendiri adalah paradoks yang cukup menghibur, sepotong daging busuk death metal yang, anehnya, tetap terasa lezat bagi telinga yang sudah kebal. Ini bukan karya yang cerdas, bukan juga inovatif, tapi ada semacam kenikmatan primitif saat mendengarnya. Seperti makan makanan jalanan yang jelas tidak higienis, tapi tetap kamu lahap karena rasanya kena di lidah. Tapi mari kita jujur tanpa embel-embel nama besar seperti Trevor Peres dan koneksi ke scene Pyrexia, kemungkinan besar album ini akan tenggelam tanpa jejak. Banyak yang datang bukan karena musiknya, tapi karena penasaran: " Seberapa parah sih ini? " Dan ironisnya, itu justru jadi bahan bakar eksistensinya. Masalah utamanya? Riff. riff adalah jantung dari semua ini, terkadang terasa seperti berjalan di tempat. Chug demi chug, diulang sampai titik di mana bahkan band metalcore medioker pun bisa terdengar seperti King Crimson dalam perbandingan yang kejam tapi jujur. Tidak ada urgensi, tidak ada rasa lapar. Seolah-olah musik ini tidak ingin pergi ke mana-mana cukup puas berputar di kubangan sendiri. Band ini seperti terjebak antara dua dunia: ingin mempertahankan groove berat ala Cause of Death dan World Demise, tapi juga ingin terdengar lebih brutal dan cepat. Hasilnya? Tidak sepenuhnya gagal, tapi juga tidak benar-benar berhasil. Ini adalah kompromi yang terdengar seperti tanpa kompromi. Namun di balik semua kritik yang bisa dengan mudah dijadikan bahan bakar roasting tanpa ampun, ada satu hal yang tidak bisa dipungkiri: album ini tetap punya daya tarik bagi penggemar death metal yang lapar akan sesuatu yang kotor, berat, dan tanpa pretensi. Ini bukan mahakarya. Ini bukan tonggak sejarah. Tapi ini adalah pengingat bahwa tidak semua musik harus sempurna untuk bisa dinikmati. Sederhana dan agak pahit: terkadang, sesuatu tidak perlu hebat untuk tetap relevan cukup punya identitas, walau setengah matang. Dan Catastrophic, dengan segala kekurangannya, setidaknya cukup jujur untuk tidak berpura-pura menjadi lebih dari apa adanya. Pengen tau rasanya " System of the Animal " nya Pyrexia namun dengan taste kuat Obituary sound? coba " The Cleansing " agar kalian lebih percaya w tidak berbohong sama sekali

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine