Vortex From the East #11 - 1994
Ada masa ketika sebuah fanzine bukan sekadar lembaran kertas berisi wawancara, ulasan album, dan alamat korespondensi. Ia adalah saluran komunikasi bawah tanah, tempat musik ekstrem menemukan identitas, sekaligus ruang untuk menyampaikan pendapat yang tidak selalu mendapat tempat di media arus utama. Vortex From the East #11 (1994) merupakan salah satu artefak menarik dari periode tersebut: sebuah dokumentasi tentang denyut underground Malaysia ketika death metal, black metal, dan berbagai cabang musik alternatif berkembang tanpa perlu menunggu pengakuan industri. Diedit oleh Abdul Aziz alias Ajizz, edisi ini menggunakan bahasa Melayu dan Inggris, sebuah pilihan yang memperlihatkan kesadaran bahwa pergerakan underground tidak mengenal batas geografis maupun bahasa. Arsip fanzine tersebut juga tercatat dalam katalog komunitas pengarsip musik ekstrem internasional, yang mengidentifikasinya sebagai dokumentasi penting dari perkembangan scene Asia Tenggara pada awal 1990-an. Hal paling menarik dari edisi ini justru bukan daftar nama band yang dipajang, melainkan sikap editorial Ajizz. Dalam pengantarnya, ia mengkritik kebiasaan sebagian pembaca yang mengirim tulisan hanya untuk menyerang pihak lain, melampiaskan kemarahan, atau mempertontonkan ego personal. Baginya, kontribusi fanzine seharusnya membawa gagasan, pengetahuan, dan sesuatu yang membangun scene.
Pandangannya terhadap black metal bahkan cukup berani untuk ukuran 1994. Ajizz mempertanyakan anggapan bahwa menjadi true black metal berarti harus meniru perilaku Burzum, Mayhem, atau Emperor. Ia menolak glorifikasi kekerasan dan mengingatkan bahwa musik seharusnya didengarkan, bukan dijadikan alasan untuk berkelahi. Pernyataan bahwa black metal bukanlah alasan untuk menjadikan kehidupan sebagai panggung kekerasan memperlihatkan perspektif yang lebih dewasa daripada sebagian pengikutnya sendiri. Sebuah sindiran telak terhadap mereka yang terlalu sibuk membuktikan keangkeran identitas sampai lupa bahwa esensi musik berada pada karya, bukan pada seberapa jauh seseorang mampu mempertontonkan kebrutalan. Darklord " Return to the Black Forest " Demo (1994) Salah satu dokumentasi menarik dari black metal Malaysia. Ajizz mengulas empat lagu beserta intro dan outro, dengan pengaruh Gothic, Doom, dan Black Metal. Ia mengapresiasi penggunaan keyboard melodis, tetapi juga mengkritik komposisi yang terasa kosong akibat permainan drum yang terlalu lurus. Perbandingan dengan Pagan Rites memperlihatkan bahwa penilaian musiknya tidak berhenti pada label genre. Immured – Germany, Interview dengan David dari band death/grind Jerman ini menjadi salah satu bagian yang paling menarik. Pembicaraan menyentuh proses penciptaan musik, rekaman studio 16-track, pengaruh Finnish Death/Black Metal, hingga persoalan neo-Nazi dan antifasisme. David juga mengungkapkan keterbatasan komunitas death metal di daerahnya. Percakapan ini menunjukkan bahwa persoalan underground tidak selalu tentang seberapa ekstrem musik dimainkan, tetapi juga bagaimana sebuah komunitas bertahan. Nebiras, Malaysian Black Metal, Berita mengenai meninggalnya gitaris Occultus dalam kecelakaan lalu lintas pada Februari 1994 menjadi catatan historis yang emosional. Ajizz melaporkan bahwa band tetap melanjutkan aktivitas dengan formasi tersisa dan menggunakan Bazzah sebagai drummer. Ini bukan sekadar berita pergantian personel, melainkan dokumentasi tentang kehilangan yang benar-benar terjadi di tengah komunitas underground. Nirvana dan Shonen Knife, Edisi ini juga memperlihatkan keterbukaan terhadap musik di luar metal. Nirvana muncul dalam playlist Ajizz melalui album Nevermind, sementara Shonen Knife memperoleh ruang pemberitaan tersendiri. Kehadiran musik alternatif tersebut memperlihatkan bahwa selera editor tidak dikurung oleh batas ideologis genre. Sonic Asylums Records / Asylums Records, Salah satu bagian penting yang memperlihatkan ekosistem distribusi lokal. Ajizz mencatat aktivitas label yang sebelumnya dikenal sebagai Sonic Asylums Records, termasuk rilisan band lokal dan internasional seperti Swirling Madness, Misantrophe/Torturer, Circle of Friends, Rotting Christ, dan Order from Chaos. Catatan ini memperlihatkan bahwa scene tidak hanya hidup dari band dan penggemar, tetapi juga dari jaringan label, distribusi, dan pertukaran kaset.
Ada lapisan lain yang membuat Vortex #11 lebih menarik daripada sekadar katalog musik ekstrem. Ajizz secara terbuka membicarakan konflik internal scene Malaysia, termasuk perilaku kelompok skinhead neo-Nazi, kekerasan di lingkungan gigs, dan sikap sebagian black metal yang mulai menganggap agresivitas sebagai ukuran autentisitas. Ia bahkan menyinggung ancaman dan kritik yang diterimanya setelah menulis persoalan tersebut pada edisi sebelumnya. Sikap ini memperlihatkan bahwa fanzine tidak selalu menjadi ruang yang nyaman bagi semua orang. Terkadang, tugas editor justru membuat pembacanya merasa tidak nyaman. Persoalan tersebut relevan dengan sejarah underground yang lebih luas. Ketika sebuah subkultur mulai membangun identitas, selalu ada risiko bahwa simbol pemberontakan berubah menjadi dogma baru. Musik yang semula menawarkan kebebasan justru dapat melahirkan kelompok yang gemar mengatur siapa yang pantas disebut autentik. Ajizz tampaknya memahami kontradiksi itu. Ia tidak ingin black metal berubah menjadi kompetisi kebrutalan, sementara kekerasan dan rasisme justru menggerogoti komunitas yang mengaku berada di luar kemapanan.
Salah satu aspek paling berharga dari edisi ini adalah dokumentasi jaringan pertukaran kaset. Ajizz menyebut koleksi lebih dari 1.500 judul musik underground dari berbagai negara, mencakup punk, hardcore, thrash, grind, black metal, dan death metal. Ia mengundang pembaca untuk mengirimkan daftar koleksi, bertukar kaset, mencari penpal, serta menjalin kontak lintas negara. Alamat surat, harga demo, informasi distribusi, hingga katalog rilisan menjadi infrastruktur komunikasi yang nyata. Di masa ketika internet belum menjadi bagian kehidupan sehari-hari, aktivitas seperti ini merupakan mesin utama penyebaran musik ekstrem. Sebuah demo dari Jerman dapat menemukan pendengar di Malaysia; band dari Skandinavia bisa dikenal melalui selembar iklan fotokopi; dan sebuah fanzine lokal dapat menjadi penghubung antara komunitas yang terpisah ribuan kilometer. Ajizz bukan sekadar mengumpulkan musik. Ia sedang membangun jaringan. Kekuatan Vortex From the East #11 terletak pada keberaniannya mendokumentasikan berbagai sisi underground secara bersamaan. Ada ulasan demo, wawancara internasional, berita band lokal, pemberitaan musik alternatif, informasi label, hingga komentar sosial yang tidak selalu ramah terhadap komunitasnya sendiri. Namun, edisi ini juga memperlihatkan keterbatasan khas fanzine independen era tersebut. Informasi terkadang disampaikan dengan bahasa yang spontan, tata letak dan kualitas reproduksi yang tidak selalu konsisten, serta komentar personal yang keras. Beberapa tulisan bahkan lebih menyerupai luapan emosi daripada laporan jurnalistik yang terstruktur. Tetapi justru di situlah karakter aslinya. Ajizz tidak sedang membangun citra sebagai jurnalis profesional yang steril dari opini. Ia menulis sebagai bagian dari komunitas yang sedang ia kritik sekaligus dukung. Ada satu hal yang perlu dicatat dalam membaca arsip ini: katalog pengarsipan menyebut sejumlah nama seperti Nirvana, Darklord, Immured, Langsuir, Nebiras, Mass Psychosis, dan Sonic Asylum Records. Namun, hasil pembacaan salinan digital yang tersedia secara jelas memperlihatkan wawancara Immured, ulasan Darklord, berita Nebiras, serta materi Nirvana dan Shonen Knife; tidak semua nama dalam daftar tersebut dapat dipastikan merupakan wawancara tersendiri.
Vortex From the East #11 bukan sekadar memorabilia dari masa ketika metal masih beredar melalui kaset dan surat pos. Ia adalah potret sebuah komunitas yang sedang mencari bentuk, memperdebatkan identitas, membangun jaringan, dan menghadapi penyakit internalnya sendiri. Nilai terbesarnya justru terletak pada keberanian Ajizz untuk tidak selalu menyenangkan pembaca. Ia membuka ruang bagi musik ekstrem, tetapi tidak memberikan kekebalan moral kepada siapa pun yang mengatasnamakan underground. Ia mendukung black metal, tetapi menolak kebodohan yang dibungkus atribut kesetiaan genre. Tiga dekade kemudian, ketika sebagian kultur musik semakin sibuk mengejar angka, algoritma, dan pengakuan digital, sikap semacam itu terasa semakin relevan. Underground seharusnya menjadi ruang kebebasan berpikir, bukan kandang baru dengan aturan autentisitas yang lebih menyedihkan. Sebab menjadi underground bukan tentang seberapa gelap penampilanmu, seberapa langka kaset yang kamu miliki, atau seberapa keras kamu berteriak tentang menjadi true. Yang lebih penting adalah apa yang kamu bangun, apa yang kamu perjuangkan, dan apakah kamu masih memiliki keberanian untuk berpikir berbeda. Vortex From the East #11 menangkap semangat itu dalam lembaran kertas yang kini menjadi arsip sejarah. Bukan artefak yang sempurna, tetapi dokumen yang jujur tentang sebuah zaman ketika underground benar-benar dibangun oleh tangan, pikiran, surat, dan kesediaan untuk saling terhubung.






0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !