Total Profanus #6 - 2020
Di tengah peta metal ekstrem Amerika Selatan yang kerap berpusat pada nama-nama besar dari Lima, Santiago, atau Buenos Aires, Total Profanus #6 datang dari Abancay, wilayah ApurÃmac, Peru, dengan sikap yang tidak membutuhkan panggung megah untuk menyatakan keberadaannya. Terbit pada Juni 2020, fanzine setebal 43 halaman ini mendapat izin publikasi melalui Guillermo Guevara dari Deicidios. Sebuah dokumen lokal yang layak diperhatikan justru karena ia membawa suara dari luar pusat perhatian. Edisi ini mencantumkan Morbium, Kay Pacha, Blasfema Ceremonia, Deicidios, Misterium, Inquisition, Gorgoroth, dan Carpathian Forest. Komposisi tersebut mempertemukan nama-nama dari lingkungan metal Peru dengan figur internasional yang telah memiliki tempat dalam sejarah black metal. Daftar isi dan informasi penerbitannya tercatat dalam arsip Fanzines del Mundo, yang mengunggah edisi ini pada 26 Juni 2020.
Kehadiran Total Profanus punya konteks lokal yang menarik. Sejarah rock ApurÃmac yang ditulis Kenny V. Azurin mencatat bahwa perkembangan musik keras di Abancay telah berlangsung sejak awal 1990-an. Materia Fecal disebut sebagai salah satu kelompok awal yang memainkan musik underground di kota tersebut, disusul perkembangan komunitas, band-band baru, serta ruang pertunjukan yang menjadi tempat bertemunya para penggemar. Sejarah itu juga mencatat bagaimana hilangnya Jamaica Pub ikut menghambat aktivitas pertunjukan lokal. Maka, penerbitan fanzine dari Abancay bukan perkara remeh. Ia memperlihatkan bahwa kehidupan metal tidak hanya tumbuh di kota-kota besar yang memiliki akses lebih luas terhadap media dan industri. Ada komunitas di daerah yang tetap bekerja dengan sumber daya terbatas, membangun jaringan sendiri, dan berusaha meninggalkan jejak dokumentasi. Situasi ini sejalan dengan gambaran lebih luas tentang metal Peru: skenanya produktif, tetapi masih relatif kurang dikenal di luar negeri, sebagaimana disorot The Metal Crypt dalam liputan khusus tentang band-band ekstrem Peru.
Nama Gorgoroth, Carpathian Forest, dan Inquisition membawa dimensi internasional sekaligus memperlihatkan referensi black metal yang menjadi bagian dari cakrawala editorialnya. Namun, nilai utama edisi ini bukan sekadar menghadirkan nama besar sebagai pemanis daftar isi. Justru keberadaan Morbium, Kay Pacha, Blasfema Ceremonia, Deicidios, dan Misterium memberi ruang bagi pembaca untuk mengenali denyut musik ekstrem dari lingkungan yang jarang mendapatkan sorotan. Melihat karakter Total Profanus dari edisi-edisi lain yang terdokumentasi, pendekatan wawancara dan ulasan memang menjadi bagian penting identitas publikasinya. Edisi ketiga, misalnya, memuat wawancara dengan Necromansy, Xgenoxidiox, Sadistic Death, Vituperio, dan beberapa band lain, disertai ulasan album black metal. Ini memberi gambaran tentang tradisi editorial yang mengutamakan percakapan langsung dengan pelaku skena dan pengenalan rekaman, meskipun tidak boleh otomatis dianggap sebagai susunan persis edisi keenam.
Pada akhirnya, 43 halaman Total Profanus #6 adalah potret sebuah komunitas yang menolak menjadi catatan kaki dalam sejarah metal Peru. Tentu, keberadaan fanzine tidak otomatis membuat setiap band di dalamnya menjadi legenda. Namun, tanpa dokumentasi, banyak karya bahkan tidak memperoleh kesempatan untuk dinilai. Itulah ironi terbesar dunia underground: begitu banyak orang mengaku mencintai musik ekstrem, tetapi terlalu sedikit yang mau repot mencatat siapa saja yang ikut membangunnya.Total Profanus #6 layak dibaca sebagai arsip pergerakan, bukan sekadar benda koleksi. Dari Abancay, ia mengingatkan bahwa metal ekstrem tidak mengenal monopoli kota besar. Selama masih ada orang yang bersedia menulis, mencetak, menyebarkan, dan menjaga nama-nama band tetap terdengar, underground belum benar-benar kalah meskipun dunia di luarnya terus berpura-pura tidak mendengar.




0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !