SOD – Sounds of Death #3 - 1993
Ada sesuatu yang menarik sekaligus ironis dari Sounds of Death #3. Pada musim panas 1993, ketika death metal mulai menembus batas distribusi independen dan memasuki wilayah industri rekaman yang lebih besar, David Horn justru membangun publikasi yang berusaha menjaga hubungan antara musik ekstrem, seni horor, dan jaringan underground. Diterbitkan dari Missouri, Amerika Serikat, Sounds of Death berada di antara fanzine fotokopian dan majalah profesional. Sampul berwarna, tata letak lebih terorganisasi, serta iklan label rekaman memberikan kesan publikasi yang mulai matang. Namun, karakter editorialnya tetap berakar pada kebudayaan DIY: keras, independen, dan tidak terlalu peduli apakah materi yang ditampilkan akan menyenangkan pembaca arus utama. Menurut laporan The Washington Post pada 26 Desember 1993, edisi ketiga ini memiliki 72 halaman, sampul glossy, iklan label death metal, serta cakupan yang mulai memasukkan film horor. David Horn bahkan menyebut oplahnya mencapai 10.000 eksemplar. Itu angka yang mengesankan bagi publikasi yang lahir dari lingkungan ekstrem metal independen. Salah satu daya tarik edisi ini adalah wawancara dengan seniman horor Vincent Locke, ilustrator yang dikenal melalui karya visualnya untuk Cannibal Corpse. Kehadirannya mempertegas bahwa Sounds of Death tidak hanya tertarik pada siapa yang memainkan musik paling brutal, tetapi juga siapa yang membangun imajinasi visual di balik kebudayaan tersebut. Di tengah ledakan death metal awal 1990-an, majalah ini merekam sebuah masa ketika musik, seni, horor, dan distribusi independen masih bergerak sebagai satu ekosistem.
Kekuatan Sounds of Death #3 terletak pada keberagaman karakter band yang ditampilkan. Mereka bukan sekadar nama dalam daftar wawancara. Masing-masing merepresentasikan arah berbeda dari musik ekstrem yang sedang berkembang. Pada 1993, Brujeria merilis Matando Güeros, album debut yang mempertemukan grindcore, death metal, dan citra kriminalitas Meksiko-Amerika dalam sebuah identitas provokatif. Dengan anggota yang menyembunyikan identitas di balik bandana dan persona kartel, mereka menciptakan mitologi yang sengaja mengaburkan batas antara propaganda, satir, dan eksploitasi kekerasan. Namun, daya tarik Brujeria tidak berhenti pada sensasi visual. Musik mereka memiliki karakter grind yang kasar, riff langsung, dan agresivitas yang berpadu dengan perspektif sosial-politik. Mereka memahami bahwa terkadang sebuah persona bisa menjadi senjata pemasaran sekaligus kritik terhadap masyarakat yang gemar mengonsumsi kekerasan sebagai hiburan. Dismember, mesin gergaji dari Swedia, Indecent & Obscene (1993) menjadi salah satu tonggak penting Swedish death metal. Diproduksi dengan karakter gitar khas Sunlight Studios, Dismember mempertahankan suara gitar tebal, kasar, dan bergerigi yang sering diasosiasikan dengan istilah buzzsaw. Namun, album ini bukan sekadar demonstrasi distorsi. Komposisi Fred Estby dan kawan-kawan mempertemukan kecepatan, melodi kelam, serta dinamika riff yang membuat kebrutalan terasa memiliki arah. Dismember membuktikan bahwa death metal Swedia tidak harus memilih antara agresivitas dan komposisi yang kuat. Cancer, Inggris tidak datang untuk bersikap sopan, Melalui The Sins of Mankind (1993), Cancer memperlihatkan evolusi dari death metal Inggris menuju pendekatan yang lebih thrashy dan dinamis. Album ini memperlihatkan pengaruh perjalanan tur serta pengalaman musikal mereka, tanpa sepenuhnya meninggalkan akar death metal. Cerita tur Amerika bersama Deicide dan Demolition Hammer juga menarik secara dokumenter. Carl Stokes pernah mengenang rangkaian tur Deicide pada 1992 sebagai perjalanan panjang sekitar 46 pertunjukan, dengan persoalan transportasi dan kelelahan yang menjadi bagian dari realitasnya. Inilah sisi musik ekstrem yang jarang masuk ke dalam foto promosi: tidur seadanya, perjalanan panjang, kendaraan bermasalah, dan panggung demi panggung yang harus ditaklukkan.
metal-rules.com
Venom, warisan yang tidak pernah benar-benar jinak, Kehadiran Venom memberi dimensi historis pada edisi ini. Jauh sebelum death metal menjadi identitas tersendiri, Venom telah membantu membentuk bahasa ekstrem metal melalui Welcome to Hell dan Black Metal. Komentar mengenai Raven menjadi menarik karena kedua band tersebut merupakan bagian dari perkembangan New Wave of British Heavy Metal, meskipun kemudian menempuh jalur musikal berbeda. Venom membawa pendekatan yang lebih gelap dan provokatif, sementara Raven dikenal dengan energi speed metal yang liar. Liputan ini memperlihatkan bahwa underground tidak hanya hidup dari penemuan band baru. Ia juga membutuhkan ingatan terhadap fondasi yang memungkinkan generasi berikutnya berkembang. Kataklysm, kelahiran kegilaan Kanada, Kataklysm pada 1993 berada dalam fase awal yang sangat menarik. Mereka tengah membangun identitas melalui kombinasi death metal teknis, blast beat ekstrem, dan atmosfer yang tidak konvensional. " The Mystical Gate of Reincarnation " tercatat dirilis oleh Nuclear Blast pada 29 November 1993, sehingga perlu dibedakan dari konteks wawancara atau materi promosi yang mungkin telah beredar ketika Sounds of Death #3 disusun pada musim panas. Istilah Northern Hyperblast kemudian menjadi identitas yang melekat pada perkembangan mereka. Namun, pada fase awal ini, yang paling menarik justru keberanian Kataklysm membangun musik ekstrem dengan kecepatan dan kompleksitas yang tidak sekadar mengejar kebrutalan.
Morbid Angel, ketika neraka memperoleh distribusi internasional, Album penting: Covenant, Pada Juni 1993, Morbid Angel merilis Covenant melalui Earache di Eropa dan Giant Records/Warner di Amerika Utara. Album ini menjadi tonggak penting karena memperluas jangkauan death metal melalui dukungan distribusi perusahaan besar dan paparan media musik televisi. Trey Azagthoth menghadirkan riff yang tidak lazim, Pete Sandoval mempertahankan permainan drum yang brutal dan presisi, sementara David Vincent memberikan karakter vokal serta bass yang sangat dominan. Tetapi Covenant bukan kemenangan karena berhasil memasuki pasar lebih besar. Nilai utamanya terletak pada bagaimana Morbid Angel tetap mempertahankan identitas musikal yang ekstrem ketika memperoleh akses distribusi yang sebelumnya sulit dijangkau band-band sejenis. Ada perbedaan besar antara memperluas jangkauan musik dan menjinakkan musik demi pasar. Morbid Angel saat itu berhasil membuktikan bahwa keduanya tidak harus berjalan beriringan. Vader, Polandia menerobos tembok Eropa, Melalui The Ultimate Incantation (1992), Vader memperlihatkan bahwa death metal Eropa Timur tidak perlu meminta pengakuan dari pusat-pusat musik Barat. Rilisan melalui Earache membantu memperluas distribusi internasional mereka. Musik Vader memiliki karakter death metal yang tajam, agresif, dan sangat disiplin. Permainan gitar Peter Wiwczarek berpadu dengan struktur komposisi yang padat, sementara ritme drumnya membawa energi thrash yang kuat. Konteks Polandia juga penting. Band ini berkembang dalam lingkungan politik dan geografis yang berbeda dari Amerika Serikat maupun Eropa Barat. Keberhasilan mereka menembus distribusi internasional menjadi bukti bahwa kreativitas ekstrem tidak mengenal batas geopolitik.
Salah satu nilai tambah Sounds of Death #3 adalah perhatian terhadap Vincent Locke, seniman yang memiliki hubungan erat dengan identitas visual Cannibal Corpse. Karya Locke bukan sekadar ilustrasi untuk menimbulkan rasa jijik. Ia membangun narasi visual melalui anatomi grotesk, komposisi horor, detail tubuh, dan fantasi mengerikan yang memiliki karakter tersendiri. Dalam death metal, hubungan antara seni visual dan musik sering kali menjadi satu kesatuan. Sampul album bukan hanya kemasan produk, tetapi pintu masuk menuju dunia imajinasi band. Karya Locke memperlihatkan bagaimana ilustrasi dapat memiliki kekuatan naratif yang sama dengan musik yang menyertainya. Di sinilah editorial David Horn terasa menarik. Ia tidak membatasi publikasinya pada musisi dan rilisan, tetapi juga memberi ruang kepada seniman yang membentuk wajah kebudayaan ekstrem. Untuk memahami posisi edisi ketiga, kita perlu melihat perjalanan publikasinya secara keseluruhan. Issue #2 (Winter 1993): Menampilkan karya sampul Dan Seagrave dan wawancara historis Metallica dari 1983 bersama James Hetfield dan Lars Ulrich. Ada pula wawancara panjang Chris Barnes dari Cannibal Corpse, Demolition Hammer, Living Sacrifice, serta dokumentasi kontroversi ledakan bom di konser Deicide Stockholm 1992. Issue #3 (Summer 1993): Memperluas cakupan editorial dengan sejumlah band internasional, seni horor, berita, dan iklan label independen. Edisi ini juga mendapat perhatian pers arus utama melalui laporan The Washington Post. Issue #4 (1994): Menandai perkembangan format dengan penyertaan CD sampler yang dikolaborasikan bersama label rekaman. Earache menjadi salah satu mitra awal, disusul berbagai label ekstrem lainnya. Perubahan ini penting. Sounds of Death berkembang dari publikasi independen menjadi media yang menawarkan pengalaman lebih lengkap: membaca, melihat, dan mendengarkan dalam satu paket.
Tetapi ada konsekuensi yang tidak bisa diabaikan. Ketika hubungan dengan label semakin erat, batas antara jurnalistik, promosi, dan kepentingan perdagangan juga semakin tipis. Ini bukan otomatis masalah, tetapi pembaca tetap harus mampu membedakan informasi editorial dari materi pemasaran. Sounds of Death #3 merupakan dokumentasi yang menarik dari sebuah periode ketika death metal sedang mengalami perubahan besar. Morbid Angel memperluas jangkauan melalui distribusi perusahaan besar, Dismember memperkuat dominasi suara Swedia, Brujeria membangun identitas melalui provokasi sosial dan estetika kartel, sementara Vader dan Kataklysm memperlihatkan bahwa pusat perkembangan musik ekstrem semakin meluas secara geografis. Cancer dan Venom memberikan perspektif historis berbeda, sedangkan Vincent Locke memperlihatkan bahwa seni visual memiliki tempat penting dalam pembentukan identitas musik ekstrem. Kekuatan publikasi ini bukan terletak pada kemewahan produksinya, melainkan pada kemampuannya menghubungkan berbagai elemen kebudayaan underground dalam satu dokumentasi. Ada satu ironi yang menarik: ketika death metal mulai memperoleh perhatian industri, Sounds of Death justru semakin matang sebagai media independen. Underground sedang tumbuh, tetapi tidak semuanya harus berubah menjadi produk yang kehilangan karakter. Sounds of Death #3 adalah potret sebuah masa ketika musik ekstrem tidak hanya ingin didengar, tetapi juga ingin dilihat, dibaca, diperdebatkan, dan didokumentasikan. Bagi kolektor, edisi ini adalah artefak penting. Bagi penggemar sejarah metal, ia merupakan jendela menuju 1993. Dan bagi siapa pun yang masih percaya bahwa musik underground mempunyai nilai lebih besar daripada sekadar angka penjualan, publikasi David Horn ini mengingatkan satu hal: Musik ekstrem tidak membutuhkan dunia untuk menyukainya. Tetapi sejarahnya membutuhkan seseorang yang cukup peduli untuk mencatatnya.






0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !