Resistire #47 - 2022
Di dunia fanzine, tidak semua publikasi lahir dari ambisi menjadi besar. Sebagian muncul karena seseorang merasa harus melakukan sesuatu agar musik yang dicintainya tidak menghilang begitu saja. Resistire Fanzine, yang lahir di BahÃa Blanca, Argentina, pada 1997, berdiri di jalur tersebut. Dikelola secara independen, tanpa orientasi keuntungan, publikasi ini menjadikan satu kata sebagai prinsip sekaligus perlawanan: Resistire aku akan bertahan. Nama itu bukan tempelan bergaya heroik. Menurut sejarah yang disampaikan editornya, Pablo Oswaldo Rodriguez, kata Resistire menjadi semacam panji dalam kehidupan sehari-hari: terus melawan, bertahan, dan berjalan meskipun keadaan tidak selalu berpihak. Ada pula hubungan emosional dengan lagu “Resistiré” milik Barón Rojo band legendaris Spanyol yang menjadi salah satu kecintaan sang editor. Dengan demikian, nama zine ini memuat dua lapisan sekaligus: penghormatan kepada musik yang membentuk seleranya dan pernyataan sikap personal terhadap kehidupan. Yang menarik, Resistire tidak menjadikan kata resistance sebagai aksesori untuk terlihat radikal. Sejarah penerbitannya justru memperlihatkan bentuk perlawanan yang jauh lebih sederhana dan melelahkan: mengumpulkan materi, menulis, menggandakan, membiayai, mengirim, dan memastikan sebuah publikasi tetap sampai ke tangan pembaca.
Perjalanan Resistire sebenarnya telah dimulai jauh sebelum edisi pertamanya terbit. Sekitar 1987–1988, Rodriguez mengenal dunia fanzine ketika menemukan Mad Butcher di sebuah kios di BahÃa Blanca. Ia membeli publikasi itu, menghubungi editornya, lalu mulai menjalin pertemanan dan memahami bagaimana sebuah zine dirancang, diterbitkan, serta diedarkan. Ia kemudian memperoleh Metalica #4 dan mengenal publikasi lain seperti Riff Raff, Revista Metal, dan Metali-ko dari Spanyol. Pada 1990, Rodriguez bersama dua temannya sempat merancang fanzine sendiri. Proyek tersebut berhenti sebagai konsep. Namun, gagasan itu tidak ikut mati. Setelah menemukan Tirando Toscazos, fanzine dari Neuquén, ia akhirnya mengumpulkan seluruh pengalaman dan materi yang dimilikinya untuk menerbitkan Resistire pada 1997. Kisah ini memperlihatkan bahwa sebuah fanzine tidak selalu lahir dari inspirasi yang datang tiba-tiba. Kadang ia tumbuh melalui proses panjang: membaca terbitan orang lain, bertukar surat, membangun pertemanan, belajar menyusun halaman, lalu akhirnya berani menerbitkan sesuatu dengan nama sendiri. Tidak ada investor, tidak ada tim pemasaran, tidak ada jaminan pembaca. Hanya kemauan untuk memulai.
Resistire memposisikan diri sebagai fanzine heavy metal dengan cakupan yang luas. Isinya tidak hanya wawancara band lokal, tetapi juga kelompok dari berbagai wilayah Argentina dan luar negeri Jerman, Brasil, Cile, Peru, Bolivia, Yunani, Spanyol, Portugal, Italia, Inggris, hingga Amerika Serikat.Deretan nama yang pernah mendapat ruang di dalamnya mencerminkan keluasan selera editorial: Tren Loco, Bloke, Azeroth, Averno, Battle Cry, Nepal, Enrique Yafal, Ultranza, Lobos, dan Tayer dari Argentina; kemudian Barón Rojo, Fuck Off, Ouija, Ironsword, Virgin Steele, Glacier, Mad Butcher, Destruction, Lonewolf, White Skull, dan Prowler. Materinya tidak berhenti pada wawancara. Ada ulasan album yang dibeli atau diterima secara gratis, komentar tentang fanzine lain, laporan konser yang benar-benar dihadiri editor, lirik lagu, hingga wawancara dengan pengelola radio dan penerbit independen. Susunan seperti ini menjadikan Resistire semacam jurnal kehidupan komunitas metal: apa yang sedang dirilis, siapa yang sedang bermain, publikasi apa yang beredar, dan bagaimana jaringan antarmusisi terus berkembang. Yang patut dicatat adalah pemanfaatan teknologi penerjemahan untuk menjangkau band-band luar negeri. Rodriguez menyadari bahwa keterbatasan bahasa tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berkomunikasi. Teknologi digunakan sebagai jembatan, bukan sebagai pengganti kerja jurnalistik. Ada pesan sederhana di sini: jika sebuah band berada ribuan kilometer jauhnya, jarak bukan alasan untuk tidak mengenalnya.
Pada awal penerbitannya, Resistire menggunakan format A4 yang dilipat menjadi dua dan dijual seharga satu peso. Seiring waktu, publikasi ini berubah menjadi gratis dan tetap mempertahankan sistem tersebut. Jumlah cetaknya sekitar 70 eksemplar atau lebih, dengan halaman hitam-putih serta satu lembar tengah berwarna. Seluruh biaya ditanggung oleh editornya sendiri. Tidak ada iklan berbayar, tidak ada sponsor komersial, dan tidak ada pemasukan tetap dari label. Di sinilah idealisme bertemu kenyataan yang tidak selalu romantis: mencetak gratis justru membuat distribusi lebih sulit karena ongkos produksi dan pengiriman tetap harus dibayar seseorang. Namun, Resistire tidak menjadikan kesulitan itu sebagai alasan untuk berhenti. Salinannya dibawa ke berbagai kota dan provinsi di Argentina, kemudian menjangkau pembaca di Cile, Bolivia, Amerika Serikat, Brasil, dan negara lainnya. Rodriguez juga memanfaatkan perjalanan bersama band lokal atau undangan ke acara musik untuk membagikan salinan secara langsung. Bahkan aktivitasnya meluas ke luar meja redaksi. Ia ikut mengorganisasi sejumlah acara metal di BahÃa Blanca dan membuat kaus yang kemudian diminati komunitas. Semua itu memperlihatkan bahwa Resistire bukan sekadar publikasi yang menulis tentang underground dari kejauhan. Editornya ikut berada di dalam jaringan yang sedang ia dokumentasikan.
Resistire Fanzine merupakan potret ketekunan underground Argentina yang dibangun dari pengalaman personal, jaringan pertemanan, dan kerja mandiri selama puluhan tahun. Nilai utamanya tidak terletak pada teknologi cetak, jumlah halaman, atau desain yang mewah. Ia justru penting karena merekam sesuatu yang sering diabaikan: bagaimana komunitas metal bertahan melalui aktivitas kecil yang terus dilakukan, bahkan ketika tidak ada keuntungan finansial yang menunggu di ujungnya. Tentu, idealisme tidak otomatis membuat setiap tulisan menjadi tajam atau setiap pilihan band menjadi istimewa. Tetapi Resistire memiliki modal yang lebih mendasar: keterlibatan langsung. Wawancara, laporan konser, ulasan rekaman, dan komentar terhadap zine lain lahir dari hubungan nyata dengan komunitas, bukan sekadar menyalin siaran pers lalu menyebutnya jurnalisme. Ada ironi yang pantas direnungkan. Ketika sebagian media berlomba mencari angka pembaca, Resistire justru membagikan hasil kerjanya tanpa meminta bayaran. Ketika promosi musik semakin mudah dilakukan, publikasi ini masih mengandalkan proses yang melelahkan: mencetak, membawa, dan menyerahkan zine kepada orang lain. Barangkali cara itu terlihat kuno. Namun, tidak semua hal lama layak dibuang hanya karena teknologi menawarkan jalan pintas. Nama Resistire memang terinspirasi oleh semangat lagu Barón Rojo. Lagu “Resistiré” sendiri tercatat dalam album Volumen Brutal (1982), sebuah bagian penting dari perjalanan band heavy metal Spanyol tersebut. Tetapi Rodriguez menerjemahkan semangat itu ke dalam tindakan yang lebih konkret: terus menerbitkan, terus berhubungan, dan terus memberi ruang kepada band-band yang mungkin tidak pernah masuk radar media besar. Resistire bukan sekadar fanzine tentang heavy metal. Ia adalah bukti bahwa sebuah komunitas tidak selalu membutuhkan industri untuk tetap hidup tetapi selalu membutuhkan orang-orang yang bersedia bekerja ketika orang lain hanya menjadi penonton.
%202022_page-0001.jpg)
%202022_page-0010.jpg)
%202022_page-0031.jpg)
%202022_page-0040.jpg)

0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !