The Shattering - The Shattering Begins CD 2005

The Shattering - The Shattering Begins
Retribute Records CD 2005

01. Next Door, Dead Whore 02:21      
02. Enter Bullet 02:53      
03. Damn Your Eyes 02:57      
04. Grind the Face of Innocence 02:36      
05. Stillborn 03:19      
06. Scream of the Butterfly 02:40      
07. Digging Up the Dead 02:40      
08. Strain Every Nerve 02:37      
09. Inside 02:38      
10. Recoil 03:17      
11. The Shattering 02:53


Max - Drums, Bass
Robin - Guitars, Bass
Wibbe - Guitars, Cello
Carl - Vocals 
Björn - Bass 


TDM selalu memiliki penyakit yang sama: terlalu banyak pemain hebat yang mengira kemampuan memainkan riff sulit otomatis berarti mereka memiliki sesuatu untuk dikatakan. The Shattering hampir lolos dari jebakan itu. Hampir. " The Shattering Begins " adalah debut yang secara teknis jauh lebih matang daripada usia dan status underground-nya. Sebelas lagu diringkas menjadi hanya 30 menit 51 detik, dengan sembilan lagu berdurasi di bawah tiga menit. Tidak ada pemborosan waktu, tidak ada epik palsu, dan tidak ada masturbasi instrumental sepanjang sepuluh menit yang berusaha menyamarkan ketiadaan ide. Masalahnya justru lebih subtil: The Shattering terlalu pandai terdengar seperti band yang mereka kagumi dan ketika pengaruh berubah menjadi cetakan, kreativitas mulai terlihat seperti barang bajakan. Dari " Next Door, Dead Whore " hingga " The Shattering ", formula mereka langsung terbaca: blast beat, riff angular, perubahan ritme mendadak, melodi yang dibengkokkan ke dalam struktur death metal, lalu vokal yang ditempatkan mengikuti perubahan musikal dengan presisi. Ini bukan death metal yang sekadar dimainkan cepat. Ada arsitektur di balik kekacauan. Sebuah ulasan lain bahkan menggambarkan musik album ini melalui riff gitar yang twisted, perubahan tempo dan melodi yang konstan, blast beat, permainan ritmis kompleks, serta sentuhan jazzy. Namun The Shattering memahami teknikalitas terutama sebagai kepadatan. Mereka menumpuk perubahan. Satu riff menggigit riff berikutnya. Tempo bergeser. Pattern drum berubah. Melodi muncul lalu segera dipotong. Struktur lagu seperti mesin yang dibongkar sambil tetap berjalan. Efektif? Ya. Mengagumkan? Sering. Mudah dikenali sebagai milik mereka sendiri? Itulah masalahnya.

Sumber awal yang menjadi dasar pembacaan album ini secara terang-terangan menunjuk Spawn of Possession sebagai pengaruh terbesar. Bukan sekadar kemiripan atmosfer, tetapi juga pada passage melodis, perubahan chord berbasis melodi, pergeseran ritmis, sampai pola dan penempatan vokal dan ketika sebuah review menyebut nama band pengaruhnya berulang kali, itu bukan pertanda kecil. Itu alarm kebakaran. The Shattering tidak terdengar persis seperti Spawn of Possession. Tetapi struktur berpikirnya terlalu dekat. Mereka memahami bahasa yang sama: death metal sebagai teka-teki mekanis, melodi sebagai rangka tulang, dan ritme sebagai jebakan. Bedanya, Spawn of Possession memiliki rasa identitas yang lebih kuat dalam cara mereka menyusun semua komponen tersebut. The Shattering masih seperti murid yang sangat rajin. Mereka sudah hafal rumusnya. Belum sepenuhnya menemukan tulisan tangan sendiri dan itu perbedaan antara kompetensi dan karakter. " Next Door, Dead Whore " adalah salah satu alasan album ini bekerja sejak awal. Durasi 2:21 membuat lagu tidak sempat menjadi demonstrasi teknik yang melelahkan. Ia datang, menghantam, menunjukkan kemampuan gitar dan drum, lalu menghilang. Inilah salah satu keputusan terbaik album. The Shattering tidak memperlakukan technical death metal sebagai alasan untuk membuat lagu sepanjang mungkin. Mereka justru mengompres kompleksitas. Hasilnya terasa lebih agresif. Lebih lapar. Lebih dekat dengan grind daripada progressive metal dalam hal disiplin durasi.

" Enter Bullet " dan " Damn Your Eyes " mempertahankan pola yang sama: riff yang terus berganti, blast beat yang menjadi akselerator, serta transisi yang tidak memberi pendengar terlalu banyak kesempatan untuk menetap pada satu motif. Keduanya menunjukkan keunggulan teknis band, tetapi sekaligus mengungkap kelemahan yang sama. Ketika semua bagian dibuat sibuk, tidak semua bagian terasa penting. TDM membutuhkan lebih dari sekadar kompleksitas. Ia membutuhkan hierarki. Pendengar harus tahu kapan sebuah riff adalah pukulan utama dan kapan ia hanya ornamen. The Shattering terkadang membuat semuanya terdengar seperti pukulan utama. Akhirnya tidak ada yang benar-benar menang. Di sinilah elemen grind terasa lebih jelas. Lagu ini tidak terlalu tertarik untuk membangun lanskap. Ia menyerang dalam potongan pendek, dengan riff yang bergerak cepat dan drum yang bekerja seperti mesin industri yang kehilangan tombol berhenti. Tetapi album ini tidak pernah benar-benar menjadi grindcore. Death metal tetap menjadi kerangka utamanya dan justru persilangan itu yang membuat " The Shattering Begins " lebih menarik daripada sekadar TDM steril. Mereka masih menyisakan keganasan. Tidak semua hal harus terdengar seperti demonstrasi klinis di laboratorium. " Stillborn " adalah salah satu momen penting karena memperlihatkan keberanian memberi warna berbeda. Pembuka dengan karakter perkusi yang terdengar industrial memberi lagu atmosfer yang tidak sepenuhnya bergantung pada riff TDM. Sumber review awal juga secara khusus menyoroti bagian perkusi industrial tersebut. Ini penting. Karena justru ketika The Shattering keluar sedikit dari formula utama, identitas mereka mulai muncul. Bukan saat mereka memainkan riff tersulit. Tetapi saat mereka menemukan tekstur yang tidak sekadar menjawab pertanyaan: " Bagaimana membuat death metal terdengar lebih dinamis ? " Melainkan: " Bagaimana membuat lagu ini terdengar berbeda? " Itu pertanyaan yang lebih penting.

Judulnya hampir terdengar seperti puisi. Musiknya tidak. " Scream of the Butterfly " kembali mengikat melodi dan kekerasan ke dalam struktur yang padat. Album ini memang tidak memberi banyak ruang untuk atmosfer panjang; hampir semua gagasan dilemparkan dalam format ekonomis dan itu salah satu kekuatan " The Shattering Begins ". Album ini tidak mengemis perhatian. " Digging Up the Dead " termasuk salah satu materi yang paling mudah dicerna dalam album. Mengapa? Karena di sini technicality tidak sepenuhnya mengambil alih songwriting. Riff memiliki bentuk. Perubahan terasa memiliki tujuan. Ada momentum yang bisa diikuti, bukan hanya serangkaian pergantian teknis. Ini menunjukkan bahwa The Shattering sebenarnya memiliki potensi lebih besar daripada sekadar menjadi band TDM yang kompeten. Mereka bisa menulis lagu. Mereka hanya belum selalu memilih untuk melakukannya. Tiga lagu ini memperlihatkan formula album secara hampir telanjang. Riffing presisi. Blast beat. Perubahan tempo. Vokal yang mengikuti kontur instrumental dan kemudian semuanya selesai sebelum sempat menjadi terlalu panjang. Secara profesional, itu keputusan yang masuk akal. Secara artistik, justru menjadi pedang bermata dua. Durasi pendek menjaga album tetap agresif, tetapi juga membuat beberapa komposisi terasa seperti fragmen dari sesuatu yang lebih besar. " The Shattering Begins " kadang seperti menyajikan sebelas trailer untuk album yang belum pernah dibuat.

Titel track menutup album dengan formula yang sudah dibangun sejak awal. Tidak ada perubahan besar. Tidak ada klimaks monumental. Tidak ada usaha untuk memberikan kesan bahwa kita baru saja menyaksikan sebuah perjalanan epic dan mungkin itu justru tepat. " The Shattering Begins " bukan album konseptual. Ia adalah demonstrasi kemampuan sebuah band yang sedang mencari bentuk. Album ini mengatakan: Kami bisa melakukan ini. Pertanyaan yang belum sepenuhnya dijawab adalah: Apa yang hanya bisa dilakukan oleh The Shattering? Produksi menjadi salah satu kekuatan paling jelas. Gitar terdengar tegas dan terdefinisi, drum rapat, vokal memiliki kejelasan yang cukup, dan keseluruhan mix mampu mempertahankan kompleksitas riff tanpa berubah menjadi bubur frekuensi. Kritik utama terhadap sound adalah kurangnya low-end sebuah persoalan yang cukup masuk akal untuk rekaman technical death metal yang begitu berorientasi pada gitar dan drum. Review awal juga memuji produksi sambil menganggap frekuensi rendah masih bisa diperkuat dan mencatat karakter drum yang sangat terkontrol. Kredit rekaman mencatat Daniel Johnsson dan Carle Jephson sebagai engineer/mixer, dengan Johnsson juga sebagai produser. Hasilnya adalah produksi yang tidak menghalangi musik. Tetapi juga tidak memberikan banyak karakter tambahan. Semua terlihat. Tidak semuanya terasa.

Ini bagian yang paling menarik. Kalau hanya mengukur kemampuan teknis, album ini mudah dipuji. Tetapi TDM tidak seharusnya diperlakukan seperti ujian matematika. Riff bukan persamaan. Blast beat bukan medali dan jumlah perubahan tempo bukan ukuran kedalaman. The Shattering memahami mekanisme genre dengan sangat baik. Mereka tahu cara membuat gitar bergerak, bagaimana drum mengunci perubahan ritmis, dan bagaimana vokal menjadi bagian dari struktur, bukan sekadar lapisan kasar di atas musik. Namun album ini masih berutang satu hal: identitas dan utang itu cukup besar. " The Shattering Begins " adalah debut yang kompeten, agresif dan secara teknis mengesankan. Produksinya solid, durasinya disiplin, permainan instrumennya presisi, dan beberapa lagu terutama " Next Door, Dead Whore ", " Stillborn " dan " Digging Up the Dead " menunjukkan bahwa The Shattering bukan sekadar kumpulan musisi yang tahu bagaimana memainkan death metal cepat. Tetapi pengaruh Spawn of Possession terlalu jelas untuk diabaikan. Itulah paradoks album ini. Semakin bagus The Shattering memainkan bahasa TDM yang mereka kuasai, semakin jelas terdengar dari mana mereka belajar bahasa tersebut. Dan dalam genre yang sudah dipenuhi gitaris yang mampu memainkan riff seperti mesin penghitung pajak kesurupan, sidik jari itulah yang menentukan apakah sebuah band akan dikenang sebagai pelaku atau sekadar peniru yang sangat terampil. " The Shattering Begins " bukan kegagalan. Jauh dari itu. Tetapi ia juga belum menjadi pernyataan definitif. Ini adalah debut yang menjanjikan, bukan manifesto. Sebuah album yang tahu bagaimana menghancurkan sesuatu dengan presisi tetapi masih mencari tahu apa yang sebenarnya ingin dihancurkannya. Intinya: teknik tinggi, produksi tajam, songwriting efektif, durasi ideal tetapi terlalu dekat dengan bayangan Spawn of Possession untuk sepenuhnya berdiri di bawah namanya sendiri.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine