Malignancy - Motivated by Hunger EP

Malignancy - Motivated by Hunger
United Guttural Records EP 2000

01. Motivated by Hunger 02:47       
02. Vaginal Incisors 02:27     
03. Separated Anxiety 03:02       
04. Atmosphere of Decay 03:07      
05. Cystic Fibrosis 01:48     
06. Intrauterine Cannibalism (live) 02:57


Danny Nelson - Vocals
Ron Kachnic - Guitars
Desmond Tolhurst - Bass
Roger J. Beaujard - Drums

 
Ada musik yang terdengar seperti manusia memainkan instrumen. Malignancy terdengar seperti organ tubuh yang belajar memainkan instrumen setelah terkena mutasi genetik. Dari Yonkers, New York, Malignancy sejak awal memang tidak pernah tertarik membuat death metal yang berjalan lurus. Band yang dibentuk pada 1992 oleh Danny Nelson dan Javier Velez ini berkembang di jalur technical death metal New York yang mengawinkan brutal death, grindcore, perubahan ritmis ganjil dan songwriting yang sengaja dibuat seperti labirin. Setelah " Intrauterine Cannibalism " (1999), mereka kembali setahun kemudian dengan " Motivated by Hunger " EP 6 track berdurasi hanya 16:08. Pendek, Padat dan cukup brutal untuk membuat paru-paru meminta hak asasi. Tetapi ada satu persoalan besar: kegilaan tidak selalu menghasilkan memori. " Motivated by Hunger " langsung menunjukkan mengapa Malignancy tidak pernah cocok dimasukkan begitu saja ke kotak brutal death metal. Riff-nya berkelok seperti kabel listrik yang dilempar ke dalam blender. Drum Roger J. Beaujard tidak sekadar mengikuti gitar; ia seperti mencoba membongkar struktur lagu dari dalam. Blast beat hadir, tetapi bukan sebagai tombol turbo yang ditekan setiap kali gitaris kehabisan ide dan itu penting. Salah satu dosa terbesar technical death metal adalah mengira blast beat merupakan tanda baca. Malignancy tahu lebih baik. Beaujard memainkan tempo dan aksentuasi dengan variasi yang membuat pukulannya terasa seperti percakapan dengan gitar bukan kompetisi siapa yang paling cepat menyiksa metronom. Ia memang monster. Tetapi monster yang tahu kapan harus menggigit.

Track pembuka ini memperlihatkan sisi yang lebih dekat dengan BDM/slam. Riff utamanya menghantam dengan berat, sementara blast dan aksentuasi ganjil menjaga lagu tetap bergerak. Tetapi justru di sinilah kelemahan EP mulai terlihat. Beberapa riff terdengar seperti ide yang sangat bagus selama lima belas detik, kemudian berubah menjadi bagian transisi sebelum pendengar sempat benar-benar mengingatnya. Ada teknis, Ada keganasan. Ada kecerdasan struktural, Tetapi belum selalu ada hook dan untuk band sekompleks Malignancy, hook tidak harus berarti riff sederhana yang bisa dimainkan sambil mencuci piring. Sebuah motif ekstrem tetap bisa memorable. Malignancy kadang lupa memberikan kesempatan itu. " Vaginal Incisors " semakin memperlihatkan ketertarikan terhadap groove brutal dan breakdown. Masalahnya bukan bahwa breakdown hadir. Masalahnya adalah ketika breakdown menjadi solusi termudah untuk membuat musik terdengar berat. Malignancy sebenarnya terlalu pintar untuk bergantung sepenuhnya pada formula tersebut. Technical riffing mereka masih menyelamatkan lagu dari menjadi sekadar parade chug-chug dan hentakan pit. Namun jejak slam mulai terasa dan bagi sebagian pendengar, itu adalah fitur. Bagi yang lain, itu adalah saat musik mulai kehilangan giginya. Karena ada perbedaan antara berat dan berat karena riff-nya berhenti bergerak. Malignancy jauh lebih menarik ketika bergerak. Kemudian datang " Separated Anxiety ". Inilah salah satu alasan Motivated by Hunger masih layak dibicarakan. Ironisnya, lagu ini tidak membutuhkan bombardir blast konstan untuk terdengar ekstrem. Ia justru bekerja melalui kompleksitas riff, perubahan aksen dan permainan instrumental yang membuat kekacauan terasa terkontrol. Itulah paradoks Malignancy: semakin mereka memahami kekacauan, semakin jelas bahwa kekacauan itu sebenarnya sangat terorganisir. Gitar Ron Kachnic tidak sekadar melakukan shredding. Riff dibentuk dalam fragmen-fragmen yang saling bertabrakan, sementara bass Desmond Tolhurst memberikan fondasi yang lebih terasa daripada sekadar bayangan frekuensi rendah. Lagu ini menunjukkan bahwa Malignancy tidak membutuhkan kecepatan maksimum untuk terdengar brutal. Mereka hanya perlu menjadi Malignancy.

Jika ada satu lagu yang paling tepat menggambarkan atmosfer rekaman ini, " Atmosphere of Decay " adalah kandidat paling logis. Bukan karena lagu tersebut lambat atau atmosferik dalam pengertian konvensional. Justru sebaliknya. Ia terasa seperti sesuatu yang membusuk sambil bergerak. Intro blasting-nya memiliki karakter yang aneh dan mudah dikenali, lalu komposisi berkembang melalui perubahan ritmis yang tidak terlalu peduli pada kenyamanan pendengar dan itu salah satu kualitas terbaik Malignancy. Mereka tidak membuat musik yang meminta pendengar memahami semuanya pada percobaan pertama. Riff tertentu terasa seperti teka-teki. Kemudian, ketika pola tersebut mulai terbaca, sensasinya berubah. Yang tadinya terdengar seperti kekacauan ternyata adalah arsitektur. Kebusukan, tetapi dengan denah bangunan. Dengan durasi di bawah dua menit, " Cystic Fibrosis " tidak memiliki ruang untuk menjadi manifesto. Ia hanya perlu menghantam dan ia melakukannya. Ini adalah bentuk disiplin yang sering hilang dari technical death metal: mengetahui kapan lagu harus berhenti. " Motivated by Hunger " tidak berusaha memeras setiap riff sampai kering. Lima komposisi utamanya bergerak cepat, dan keseluruhan EP berakhir sebelum kebosanan benar-benar sempat memasuki ruangan. Data rilisan mencatat lima lagu studio berdurasi 2:47, 2:27, 3:02, 3:07 dan 1:48, disusul " Intrauterine Cannibalism " versi live 2:57. Enam belas menit. Cukup untuk membantai. Tidak cukup lama untuk meminta maaf.

Produksi " Motivated by Hunger " bukan contoh modern tentang bagaimana death metal harus terdengar. Syukurlah. Sound-nya relatif padat, sedikit gelap dan agak terjepit. Gitar tetap memiliki definisi, tetapi tidak kehilangan tekstur kasar. Drum terdengar cukup jelas tanpa mengubah Beaujard menjadi mesin drum yang terlalu dominan. Bass hadir sebagai gemuruh dan geraman yang sesekali keluar dari bawah reruntuhan gitar. Ini bukan produksi steril dan musik seperti ini tidak membutuhkan sterilitas. " Intrauterine Cannibalism " memiliki karakter yang lebih kasar dan abrasif, sedangkan " Motivated by Hunger " terdengar sedikit lebih jelas. Perbedaannya tidak membuat EP ini kehilangan sifat brutalnya; justru memberikan cukup ruang agar detail permainan bisa ditangkap tanpa mengubahnya menjadi produk klinis. Malignancy tidak membutuhkan suara mahal. Mereka membutuhkan suara yang terasa sakit dan EP ini mendapatkannya. Bagian ini sulit dilewati. Roger J. Beaujard adalah pusat gravitasi instrumental EP ini. Drumnya cepat, tetapi kecepatan bukan prestasi utamanya. Yang membuatnya menarik adalah bagaimana blast beat ditempatkan bersama aksentuasi, pergantian ritme dan bagian-bagian yang lebih berat. Ia tidak membanjiri seluruh album dengan satu pola blast sampai pendengar berharap seseorang mencabut kabel listriknya. Sebaliknya, ia membuat blast terasa sebagai bagian dari komposisi. dan karena Beaujard juga tercatat sebagai engineer dan mastering engineer untuk sesi ini, kontrol soniknya terhadap instrumen tersebut menjadi semakin menarik. Ia bukan drummer yang bermain di atas lagu. Ia bermain di dalam mekanisme lagu. Itu perbedaan besar.

Versi live " Intrauterine Cannibalism " berfungsi seperti epilog pendek dan sebenarnya ini pilihan yang masuk akal. Lagu tersebut berasal dari album debut 1999, yang menjadi fondasi penting bagi karakter Malignancy: death metal brutal dengan pengaruh grindcore dan pendekatan teknis yang sudah menjadi identitas mereka. Rekaman resmi band saat ini juga masih menempatkan Intrauterine Cannibalism sebagai salah satu titik awal utama perjalanan mereka. Versi live memberi sedikit bukti bahwa kegilaan mereka bukan hanya hasil manipulasi studio. Di atas panggung, struktur yang rumit tetap dapat diterjemahkan menjadi kekerasan fisik. Dan itu penting untuk musik sekompleks ini. Kalau sebuah band TDM hanya bisa terdengar meyakinkan setelah diedit sampai mati, maka kompleksitasnya tidak banyak berarti. Malignancy setidaknya menunjukkan bahwa mereka dapat membawa penyakit tersebut ke panggung. Inilah kritik yang paling sulit dibantah. " Motivated by Hunger " sangat ekstrem. Tetapi ekstrem bukan sinonim memorable. Beberapa motif tertanam kuat terutama pada " Separated Anxiety " dan " Atmosphere of Decay " namun sebagian besar materi bergerak terlalu cepat dari satu ide ke ide berikutnya. Ada semacam paradoks: Malignancy memiliki terlalu banyak ide untuk sebuah EP, tetapi tidak selalu memberikan cukup waktu bagi setiap ide untuk menjadi identitas. Itulah mengapa pendengar tertentu akan menyebutnya brilian, sementara yang lain mungkin mendengar sekumpulan riff yang saling menabrak. Keduanya bisa benar. Karena album ini memang membutuhkan pendengar yang bersedia membongkar musiknya. Ini bukan musik untuk latar belakang. Ini musik untuk dipelajari. Didengarkan. Diulang, Kemudian, perlahan, dimengerti.

Ada godaan untuk menyebut beberapa bagian album ini sebagai slam death metal. Tetapi label itu terlalu sempit. Malignancy memang memakai breakdown dan riff yang berat, tetapi fondasi mereka tetap berada pada TDM/death-grind dengan pendekatan songwriting yang tidak lazim. Deskripsi resmi band juga menempatkan mereka pada technical death metal dan menekankan akar grindcore dalam karya awal mereka dan perbedaan ini penting. Karena ketika Malignancy mulai melakukan slam, mereka tidak sepenuhnya menyerah pada formula slam. Mereka masih membawa kekacauan New York. Masih membawa grind. Masih membawa riff yang terdengar seperti sedang mencoba melarikan diri dari barline. Mereka hanya sesekali membiarkan breakdown ikut pesta. Tidak perlu menyalahkan mereka terlalu keras. Setiap monster kadang butuh duduk. " Motivated by Hunger " bukan " Intrauterine Cannibalism " kedua dan justru di situlah album ini menarik. Ia mempertahankan keganasan debut, tetapi memperlihatkan Malignancy mulai mengembangkan bahasa teknis yang lebih padat. Beaujard menjadi kekuatan besar, produksi cukup kasar untuk mempertahankan karakter, dan durasi 16 menit membuat seluruh pengalaman terasa seperti serangan yang tidak sempat berubah menjadi rutinitas. Tetapi album ini juga memperlihatkan penyakit yang sering menyerang technical death metal: ketika semua riff berusaha menjadi monster, tidak semuanya berhasil menjadi karakter. Beberapa breakdown terasa terlalu mudah. Sebagian motif lewat sebelum sempat menetap dan Motivated by Hunger kadang mendekati wilayah slam yang lebih generik daripada identitas aneh yang membuat Malignancy menarik sejak awal. Namun pada saat " Separated Anxiety " mulai bekerja, atau ketika " Atmosphere of Decay " mengubah blast beat menjadi sesuatu yang terdengar seperti mesin pembusuk yang baru saja dinyalakan, kritik tersebut mendadak terasa kecil.

Karena di situlah Malignancy menunjukkan alasan mereka bertahan. Mereka tidak sekadar memainkan death metal cepat. Mereka merekonstruksi kebingungan menjadi Bahasa dan mungkin itu inti dari Motivated by Hunger: bukan musik yang ingin dimengerti sekali dengar, tetapi musik yang menghukum pendengar sampai akhirnya ia mengerti. Enam belas menit. Enam lagu. Tidak ada ruang untuk basa-basi. Tidak ada ruang untuk ego yang terlalu besar. Hanya riff, blast, daging, karat dan sebuah drummer yang tampaknya percaya bahwa tanda tangan manusia adalah sesuatu yang terlalu normal. Kekuatan: riffing kompleks, drum luar biasa, durasi efektif, sound mentah tetapi terbaca Kelemahan: beberapa bagian terlalu dekat dengan slam dan tidak semua riff memiliki daya ingat yang sama. Putusan editorial: kegilaan yang terkontrol dan salah satu contoh paling padat tentang bagaimana TDM bisa tetap brutal tanpa menjadi sekadar lomba kecepatan.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine