Gorguts - The Erosion of Sanity CD 1993

Gorguts - The Erosion of Sanity
Roadrunner Records CD 1993

01. With Their Flesh, He'll Create 04:03       
02. Condemned to Obscurity 04:51       
03. The Erosion of Sanity 04:53     
04. Orphans of Sickness 05:21     
05. Hideous Infirmity 04:05     
06. A Path Beyond Premonition 04:57     
07. Odors of Existence 03:47     
08. Dormant Misery 04:53


Luc Lemay - Guitars, Vocals 
Sylvain Marcoux - Guitars
Eric Giguere - Bass
Stéphane Provencher - Drums 


Pada 1993, death metal masih sibuk mencari cara terdengar lebih brutal. Gorguts justru mulai mencari cara terdengar semakin tidak nyaman. " The Erosion of Sanity " adalah album kedua Gorguts, dirilis Roadrunner pada 19 Januari 1993, hanya sekitar lima belas bulan setelah " Considered Dead ". Tetapi jangan tertipu oleh jarak waktu tersebut. Luc Lemay dan kawan-kawan sudah bergerak meninggalkan formula debutnya: riff semakin padat, struktur semakin berliku, perubahan ritme datang tanpa permisi, sementara melodi tidak lagi dipakai sebagai pemanis, melainkan sebagai bagian dari kegelisahan. Inilah fase ketika Gorguts mulai memahami bahwa death metal tidak harus selalu berjalan menuju sebuah tujuan yang mudah ditemukan dan justru di situlah masalah sekaligus keindahannya. " Considered Dead " masih berbicara dalam bahasa death metal yang relatif mudah dikenali bahkan ketika Lemay sudah memperlihatkan kecenderungan teknis dan aransemen yang lebih rumit. " The Erosion of Sanity " mulai mengoyak tata bahasanya. Namun menyebut album ini sebagai " Obscura " yang belum matang juga terlalu malas. Ia belum sampai ke sana. Masih ada fondasi death metal awal ’90-an yang sangat kuat, pengaruh Death era " Human ", brutalitas Suffocation, pinch harmonic yang bertebaran, double-bass tanpa ampun, blast beat, serta riff yang masih dapat ditelusuri akar genrenya. Beberapa ulasan bahkan menilai pengaruh Suffocation dan death metal teknis Amerika masih cukup kentara. Tetapi Lemay mulai melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: ia mulai memperlakukan riff sebagai material untuk dibentuk, bukan sekadar amunisi untuk menghantam. Hasilnya bukan selalu elegan. Kadang justru seperti mesin yang kehilangan rem dan itu penting.

Track pembuka langsung memperlihatkan proses tersebut. Riff bergerak cepat, agresif, tetapi tidak sekadar mengejar kecepatan. Potongan-potongan gitar saling bertabrakan, drum memaksa perubahan arah, sementara vokal Lemay terdengar seperti seseorang yang sedang berteriak dari dalam ruang yang semakin sempit. Ini masih death metal. Tetapi death metal yang mulai mencurigai dirinya sendiri. Di sinilah Gorguts berbeda dari banyak band teknis sezamannya. Kompleksitas bukan semata-mata demonstrasi kemampuan. Mereka mulai menggunakan ketidakstabilan sebagai atmosfer. Kemudian datang salah satu bagian paling penting dalam seluruh album. " Condemned to Obscurity ". Intro pianonya terasa hampir tidak pantas berada di sebuah album death metal 1993. Justru karena itu ia bekerja. Setelah ruang dingin tersebut dibuka, Gorguts masuk dengan salah satu rangkaian riff paling khas dalam katalog awal mereka: gitar yang mencubit, harmoni yang gelap, ritme yang bergerak seperti benda asing, dan drum Stéphane Provencher yang tidak sekadar menjaga tempo tetapi memberi bentuk pada kekacauan. Di sini mulai terlihat apa yang nantinya menjadi bahasa Gorguts. Bukan sekadar brutal. Bukan sekadar teknikal. Melainkan abstrak. Riff tidak selalu terasa seperti sesuatu yang " Ingin " membawa lagu ke chorus, breakdown, atau klimaks. Ia kadang hanya muncul, berkembang, berbelok, kemudian menghilang. Seolah Lemay mulai menyadari bahwa musik ekstrem tidak harus memberikan peta kepada pendengarnya. Pendengar dipersilakan tersesat. Salah satu peningkatan paling nyata dibanding " Considered Dead " justru berada pada produksi. Rekaman ini dibuat di Montreal, bukan mengikuti cetakan Morrisound yang begitu dominan dalam death metal Amerika pada era tersebut. Steve Harris menangani produksi dan engineering, dengan mixing tambahan oleh Colin Richardson. Hasilnya memberi ruang lebih besar kepada instrumen untuk bernapas. Dan yang paling terasa: bass.

Eric Giguere tidak sekadar menjadi bayangan gitar. Ada bagian-bagian ketika bass ikut menciptakan bentuk lagu, terutama " A Path Beyond Premonition ", tempat permainan bass menjadi salah satu detail paling menarik dari keseluruhan album. Ini keputusan penting. Death metal awal ’90-an sering kali terdengar seperti kompetisi siapa yang mampu membuat gitar paling tebal sampai bass mati kelaparan di belakangnya. Gorguts justru memberi frekuensi rendah itu kehidupan. Produksinya tetap kasar menurut standar modern dan memang seharusnya demikian. Tetapi ia tidak keruh. Kompleksitas aransemen memperoleh ruang yang cukup untuk terlihat. Luc Lemay dan Sylvain Marcoux tidak menulis riff seperti orang menyusun bata. Mereka membedahnya. Pinch harmonic, tremolo, chord minor, disonansi, lead yang menyayat, perubahan pola mendadak semuanya dipasang seperti tulang yang sengaja dibiarkan menonjol keluar dari tubuh. " Orphans of Sickness ", " Hideous Infirmity ", " A Path Beyond Premonition " dan " The Erosion of Sanity " memperlihatkan kecenderungan itu dengan jelas. Riff-riffnya tetap mempunyai akar death metal, tetapi susunannya semakin tidak patuh. Masalahnya? Tidak semuanya berhasil menjadi komposisi yang benar-benar memorable dan ini harus dikatakan. Ada bagian yang terasa seperti outline komposisi yang lebih menarik daripada komposisi itu sendiri. Beberapa riff luar biasa ketika berdiri sendiri, tetapi tidak selalu menghasilkan momentum lagu yang sama kuatnya. AllMusic bahkan menilai bahwa setelah dua track awal yang menjanjikan, sejumlah materi berikutnya dapat terasa sangat teknis tetapi kurang memiliki karakter lagu yang menonjol. Itu kritik yang sah. Karena kompleksitas bukan otomatis kedalaman.

Salah satu pengecualian paling menarik justru datang ketika Gorguts mengurangi dominasi gitar. Bass yang mencuat di " A Path Beyond Premonition " terasa seperti retakan kecil pada dinding death metal konvensional. Ia tidak terdengar sebagai ornamen. Ia menjadi bagian dari identitas lagu. Ironisnya, justru ketika Gorguts memberi ruang kepada instrumen yang biasanya dikubur di bawah gitar, musik mereka terasa lebih hidup. Mungkin ini pelajaran yang belum dipahami banyak band TDM sampai sekarang: semakin banyak yang dimainkan bukan berarti semakin banyak yang terdengar. Gorguts mulai memahami perbedaan itu. Intro gitar klasik pada " Dormant Misery " kembali memperlihatkan sisi lain Lemay. Fingerpicking-nya bukan sekadar intermezzo cantik sebelum kembali ke pembantaian. Ia memberi petunjuk bahwa Lemay memiliki ketertarikan pada tekstur dan struktur yang berada di luar batas death metal konvensional. Tetapi setelah intro tersebut berlalu, lagu kembali cukup dekat dengan bahasa death metal zamannya dan justru di sinilah " The Erosion of Sanity " harus ditempatkan secara jujur. Album ini belum sepenuhnya menghancurkan aturan. Ia sedang belajar bagaimana cara menghancurkannya. Kalau " Considered Dead " adalah Gorguts yang masih bernegosiasi dengan death metal, sementara " Obscura " adalah Gorguts yang akhirnya memutuskan untuk membakar kontraknya, maka " The Erosion of Sanity " adalah masa ketika Lemay berdiri di ambang pintu. Ia belum sepenuhnya meninggalkan rumah. Tetapi ia sudah tidak nyaman tinggal di dalamnya. Itulah sebabnya album ini kadang terasa lebih " Konvensional " dibanding reputasi Gorguts hari ini. Sejumlah analisis juga menempatkannya sebagai perkembangan penting menuju bahasa disonan dan ritmik yang kelak menjadi ciri " Obscura ", tetapi belum sepenuhnya memutus hubungan dengan death metal tradisional dan mungkin justru itu nilai historisnya " The Erosion of Sanity " memperlihatkan proses menjadi, bukan hasil akhir.

Jarak antara album ini dan " Obscura " ternyata lima tahun. Lima tahun yang membuat posisi " The Erosion of Sanity " agak aneh dalam diskografi Gorguts. Ia terlalu maju untuk dianggap sekadar lanjutan " Considered Dead ", tetapi terlalu terikat pada struktur death metal klasik untuk dianggap sebagai prototipe penuh " Obscura ". Namun dengarkan baik-baik dan benihnya jelas. Riff disonan. Ritme yang tidak nyaman. Struktur yang menolak prediksi. Bass yang mulai memiliki suara sendiri. Melodi yang tidak lagi berfungsi sebagai dekorasi. Itu semua sudah ada. " Obscura " nanti hanya akan mengambil pisau yang sama dan menggunakannya jauh lebih dalam. " The Erosion of Sanity " bukan album yang sempurna dan justru itu yang membuatnya menarik. Ia kadang terlalu teknis. Kadang terlalu padat. Beberapa komposisinya masih terjebak dalam bahasa death metal 1993. Tetapi ketika Gorguts menemukan titik temu antara brutalitas, disonansi, atmosfer dan aransemen " Condemned to Obscurity " menjadi bukti paling terang mereka terdengar seperti band yang beberapa tahun lebih maju dari kalender. Gorguts belum menemukan ' Obscura ". Tetapi mereka sudah menemukan arah menuju sana. Luc Lemay tidak sedang berusaha membuat death metal lebih mudah dipahami. Ia justru mulai menerima kemungkinan bahwa musiknya mungkin memang tidak ditujukan untuk semua orang. Dan mungkin di situlah filosofi sebenarnya dari " The Erosion of Sanity " : ketika sebuah band berhenti bertanya bagaimana caranya agar dunia memahami mereka, dan mulai bertanya seberapa jauh mereka bisa membawa musik sebelum dunia menyerah. Pada 1993, Gorguts belum menghancurkan kewarasan. Mereka baru mulai mengikisnya dan untuk sebuah album yang judulnya " The Erosion of Sanity ", itu adalah pertanda yang sangat tepat. Track penting: " Condemned to Obscurity ", " With Their Flesh, He’ll Create ", " A Path Beyond Premonition ", " Orphans of Sickness ", " The Erosion of Sanity ". Sebuah batu pijakan krusial antara death metal teknis awal Gorguts dan bahasa avant-garde yang kelak mereka sempurnakan. Tidak seaneh Obscura, tetapi justru karena masih memiliki satu kaki di masa lalu, proses metamorfosisnya terdengar jelas.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine