Sonic Torment - Haatzaai Artikelen
Palapa Records EP ' Kaset 1995
01. Sonic Torment 01:35
02. Montong Didenge 01:59
03. Welcome 01:34
04. S.T.A. 01:03
05. Black 03:32
06. Golok Berbicara 03:22
Dinan - Vocals
Sule - Guitars
Kimunk - Bass
Andris - Drums
Saat Para pionir scene Bandung masih belajar tampil berisik: arsip awal yang menyimpan DNA besar metalhead bandung ! Sejarah musik ekstrem hampir selalu memiliki satu kelemahan yang sama. Ia terlalu sibuk merayakan puncak gunung, sampai lupa siapa yang pertama kali membuka jalur pendakiannya. Kita mengenal Burgerkill sebagai ikon. Kita mengingat Forgotten, Naked Truth, Embalmed, hingga sederet nama lain yang kemudian menjadi bagian penting dari sejarah Metal Bandung. Namun jauh sebelum nama-nama itu mengisi festival besar atau menjadi rujukan generasi berikutnya, ada ruang latihan sempit, studio sederhana, dan demo-demo kaset yang menjadi laboratorium pertama bagi para musisi muda untuk menguji keberanian mereka. Di antara artefak yang lahir dari fase embrionik itu, SONIC TORMENT menempati posisi yang menarik. Mungkin bukan band dengan katalog terbesar, Bukan pula yang paling populer, Tetapi mereka adalah salah satu simpul penting yang memperlihatkan bagaimana skena Bandung sedang mencari bentuknya sendiri pada pertengahan 1990-an.
Menyebut Bandung sebagai barometer musik independen Indonesia memang bukan sesuatu yang berlebihan. Namun status itu tidak muncul dalam semalam. Ia dibangun oleh puluhan kelompok yang bereksperimen tanpa jaminan berhasil, ketika kata indie masih lebih dekat dengan semangat daripada strategi pemasaran. Di tengah atmosfer itulah Sonic Torment lahir sekitar tahun 1995. Formasi Dinan, Sule, Kimunk, dan Andris datang dengan satu kesadaran sederhana: mereka tidak ingin terjebak dalam satu kotak genre. Alih-alih memilih jalur yang aman, mereka mencampurkan Thrash Metal, Grindcore, Crossover, dan Death Metal ke dalam satu fondasi yang masih kasar, tetapi penuh rasa ingin tahu. Mungkin hasilnya belum sepenuhnya matang. Namun justru ketidakmatangan itulah yang membuat demo ini terasa jujur. " Haatzaai Artikelen " terdengar seperti sekelompok musisi yang sedang berdiskusi menggunakan distorsi. Tidak semua ide berhasil. Tidak setiap transisi terasa mulus. Beberapa bagian masih menyimpan kekakuan khas band yang sedang mencari bahasa sendiri. Namun di balik itu, ada keberanian yang jauh lebih penting daripada kesempurnaan teknis, Mereka menolak menjadi salinan dan pada era ketika banyak band lokal masih sangat bergantung pada cetak biru Thrash atau Death Metal Amerika, keputusan seperti itu patut diapresiasi.
Mendengarkan demo ini hari ini menghadirkan pengalaman yang hampir seperti membuka album foto lama. Yang paling mencuri perhatian tentu adalah penampilan Andris. Pendengar yang mengenalnya melalui karya-karya setelahnya mungkin akan terkejut mendengar bagaimana karakter vokal dan pendekatan musikalnya masih terdengar sangat muda. Belum seagresif, belum sefleksibel, dan belum sekarismatik sosok yang kemudian dikenal luas di skena. Namun justru di sinilah nilai dokumenternya. Demo ini menangkap seorang musisi sebelum ia mencapai bentuk terbaiknya. Dan arsip semacam itu selalu lebih berharga daripada sekadar rekaman yang sempurna. Keberadaan Palapa Records sebagai penerbit rilisan ini juga tidak bisa dilepaskan dari konteks zamannya. Pada pertengahan 1990-an, label-label independen lokal memainkan peran yang jauh melampaui fungsi bisnis. Mereka menjadi ruang produksi, distribusi, sekaligus penghubung antarband yang belum memiliki akses ke industri rekaman yang lebih besar. Dalam lingkungan seperti itulah Haatzaai Artikelen dicetak dalam jumlah terbatas. Tidak ada target pasar nasional, tidak ada kampanye promosi besar.
Kaset ini beredar dari tangan ke tangan, dari panggung ke panggung, dari kolektor ke kolektor persis seperti cara skena bawah tanah bertahan hidup pada masa itu. Memorable Justru Karena Belum Sempurna Jika diukur menggunakan standar produksi modern, demo ini jelas memiliki banyak keterbatasan. Komposisi kadang masih terasa kaku. Produksi belum sepenuhnya seimbang. Beberapa gagasan terdengar lebih besar daripada kemampuan teknis untuk mewujudkannya. Namun kritik semacam itu hanya relevan jika kita melepaskan karya ini dari konteks sejarahnya. Sebagai dokumentasi awal sebuah generasi, Haatzaai Artikelen justru menarik karena memperlihatkan proses. Ia memperlihatkan bagaimana karakter musikal dibangun sedikit demi sedikit. Bagaimana keberanian bereksperimen muncul sebelum pengalaman benar-benar matang dan bagaimana sebuah skena tumbuh melalui percobaan yang belum tentu berhasil.
Seiring waktu, keberadaan kaset asli Haatzaai Artikelen berubah dari media pemutar musik menjadi barang koleksi. Jumlahnya yang terbatas membuatnya semakin sulit ditemukan. Bagi sebagian kolektor, kaset ini bukan sekadar benda langka, melainkan saksi fisik dari masa ketika Metal Bandung sedang menyusun fondasinya sendiri. Karena itu, keputusan Zim Zum Entertainment untuk melakukan proses remaster dan menerbitkan ulang materi ini pada 2016 memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar reissue. Langkah tersebut membuka kembali akses terhadap sebuah arsip yang sebelumnya hanya beredar di kalangan kolektor, sekaligus memberi kesempatan bagi generasi baru untuk mendengar bagaimana salah satu potongan awal sejarah skena Bandung direkam, Lebih dari Sekadar Demo. " Haatzaai Artikelen " mungkin bukan rilisan yang akan selalu masuk daftar "demo terbaik sepanjang masa". Ia juga bukan karya yang mengubah arah musik ekstrem Indonesia seorang diri. Namun ia memperlihatkan sesuatu yang sering kali lebih penting daripada status legendaris: proses lahirnya sebuah generasi.
Di dalam demo ini kita mendengar para musisi yang masih belajar, masih mencari bentuk, dan masih jatuh bangun membangun identitas. Kelak, sebagian dari mereka akan menjadi nama yang dihormati dalam sejarah Metal Indonesia. Tetapi sebelum semua itu terjadi, mereka pernah berada di titik yang sama seperti ribuan band bawah tanah lainnya bermain di ruang sempit, merekam dengan dana terbatas, dan berharap ada seseorang yang bersedia memutar kaset mereka hingga pitanya aus. Mungkin itulah nilai terbesar " Haatzaai Artikelen ". Ia mengingatkan bahwa legenda tidak pernah lahir dalam keadaan sempurna. Legenda lahir dari keberanian untuk terdengar mentah, menerima segala keterbatasan, dan tetap merekam gagasan ketika tidak ada jaminan bahwa sejarah akan mengingatnya. Dan tiga dekade kemudian, ketika nama-nama yang pernah berpapasan dengan Sonic Torment telah menempati halaman-halaman penting sejarah Metal Indonesia, demo ini tetap berdiri sebagai pengingat yang jujur: sebelum panggung besar, sebelum album monumental, sebelum sorotan publik selalu ada sepotong pita kaset yang diam-diam menyimpan denyut pertama sebuah pergerakan.
Noted : Selamat datang di arsip kebisingan. Mari kembali mengunjungi era ketika musik ekstrem Indonesia belum mencari pengakuan karena sejak awal, ia memang lahir untuk menjadi ancaman. kemudahan itu berdiri di atas penderitaan panjang sebuah generasi yang pernah dianggap bising, sesat, dan tidak memiliki masa depan. Sejarah memang punya kebiasaan buruk: menikmati hasilnya, lalu melupakan mereka yang membangunnya. Karena itu, beberapa rilisan Indonesia dari era 90-an bukan sekadar album tua yang berdebu di rak kolektor. Mereka adalah artefak. Dokumen hidup. Bukti bahwa negeri ini sejak awal telah memelihara bibit kebrutalan musikal yang terlalu liar untuk dipelihara, namun terlalu berharga untuk dilupakan. Potensi yang sejak hari pertama sudah terdengar berbahaya. Rubrik Review khusus ini w namakan " HOMEGROWN INDONESIAN MENACE " atau (HIM) bukan sekadar nostalgia murahan atau romantisme para generasi yang hari ini kalian olok olok sebagai " Para Oruang tua ". Ini adalah upaya membuka kembali lembaran sejarah yang membentuk identitas musik ekstrem Indonesia, sebuah percik'an kisah tentang karya-karya yang menolak tunduk pada zaman, tetap relevan, dan masih sanggup menggigit puluhan tahun kemudian, dimana kita masih menjadi pengkonsumsi musik cadas sejak awal dekade 90-an, masa ketika ekstremitas belum menjadi komoditas, ketika kaset digandakan berkali-kali hingga suaranya remuk, zine fotokopian berpindah tangan seperti barang selundupan, dan setiap rilisan baru terasa seperti menemukan senjata rahasia.



0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !