Forgotten - Obsesi Mati ' Kaset 2000

Forgotten - Obsesi Mati
Extreme Souls Production ' Kaset 2000

01. Perkosa R.I. 03:16      
02. Terlaknat 03:30     
03. Dream Denied 04:03     
04. Balangsak 01:45     
05. Obsesi Mati 03:05     
06. Disorder Agreement 03:06       
07. Sarkasme 02:26      
08. Pusara Beku 04:38      
09. Busuk 02:58      
10. Smoke on the Water (Deep Purple cover) 02:48


Addy - Vocals
Toteng - Guitars
Kardun - Bass
Kudung - Drums


Mungkin semacam ada kesalahpahaman yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, Bahwa Death Metal hanyalah musik tentang darah. Tentang mayat, tentang kebrutalan tanpa isi. Anggapan itu mungkin lahir dari mereka yang hanya membaca sampul albumnya, tetapi tidak pernah benar-benar mendengarkan isi lagunya. Di Indonesia, hanya sedikit band yang mampu membuktikan bahwa Death Metal dapat menjadi media kritik sosial yang sama tajamnya dengan editorial surat kabar. Salah satu nama yang paling konsisten melakukannya adalah FORGOTTEN ! dan jika harus menunjuk satu karya yang menjadi titik balik perjalanan mereka, maka jawabannya hampir selalu mengarah pada " Obsesi Mati ". Bukan karena album ini paling ekstrem, Melainkan karena ia memperlihatkan bagaimana kemarahan dapat diterjemahkan menjadi komposisi yang terukur, lirik yang provokatif, dan identitas musikal yang semakin matang.

Sejak awal kemunculannya, Forgotten bukan tipe band yang mengejar kenyamanan, Mereka lebih memilih memancing reaksi. Pilihan diksi yang kasar, sumpah serapah, dan bahasa jalanan bukan sekadar upaya mencari sensasi. Dalam konteks album ini, unsur-unsur tersebut berfungsi sebagai perangkat retorika untuk menyampaikan kritik terhadap realitas sosial dan politik yang mereka lihat di sekelilingnya. Pendekatan semacam itu memang mudah mengundang kontroversi. Sebagian pendengar menganggapnya berlebihan. Sebagian lain melihatnya sebagai bentuk kejujuran yang tidak dibungkus bahasa sopan. Namun satu hal sulit dibantah: Forgotten berhasil memancing percakapan dan musik yang mampu memancing dialog biasanya memiliki umur yang lebih panjang daripada musik yang hanya mengejar kenyamanan. Yang membuat " Obsesi Mati " berbeda dari banyak rilisan ekstrem sezamannya adalah cara mereka mengelola emosi. Album ini tidak berteriak tanpa arah. Ia memiliki sasaran. Di balik ledakan distorsi dan vokal yang menggulung, terdapat struktur lagu yang rapi. Riff-riff dibangun dengan disiplin khas Old School Death Metal Amerika, sementara nuansa Thrash Metal memperkaya dinamika tanpa menghilangkan bobot agresinya. Pengaruh seperti Malevolent Creation dan Solstice terasa pada fondasi riff yang padat, sementara semangat Slayer dan Metallica lebih terlihat dalam cara mereka membangun tensi dan ritme, Namun Forgotten tidak berhenti sebagai hasil penjumlahan pengaruh. Mereka mengolah semuanya menjadi bahasa yang sangat lokal.

Bahasa yang lahir dari jalanan Indonesia, bukan dari Florida atau California. Lirik Sebagai Pisau, Bukan Pajangan Judul-judul seperti "Perkosa R.I.", "Terlaknat", "Sarkasme", hingga "Obsesi Mati" sejak awal memang dirancang untuk mengusik. Sebagian materi juga memanfaatkan citraan yang berkaitan dengan okultisme atau penistaan sebagai elemen provokatif sesuatu yang cukup lazim ditemukan dalam estetika musik ekstrem global pada era tersebut. Namun jika lirik-lirik ini hanya dibaca secara harfiah, pendengar berisiko kehilangan konteks yang lebih luas. Yang lebih menonjol justru adalah penggunaan hiperbola, ironi, dan bahasa konfrontatif untuk menggambarkan frustrasi terhadap kemunafikan sosial, kekerasan, serta berbagai kontradiksi yang hidup di masyarakat. Kata-kata kasar dalam album ini bukan sekadar hiasan; ia dipakai sebagai perangkat artistik untuk memperkeras nada kritik. Pendekatan seperti ini tentu tidak harus disukai semua orang, tetapi ia layak dipahami dalam konteks ekspresi seni ekstrem. Obsesi terhadap Kematian, atau Kritik terhadap Kehidupan? Secara tematik, kematian menjadi benang merah album ini. Namun kematian yang dibicarakan Forgotten tidak selalu bersifat biologis. Sering kali ia hadir sebagai metafora. Tentang matinya nurani, Matinya empati, Matinya keberanian, Matinya akal sehat. Dalam lagu " Obsesi Mati ", kematian berubah menjadi simbol keterikatan psikologis, bukan sekadar akhir kehidupan. Sementara "Balangsak" memotret sisi gelap manusia dengan bahasa yang kasar tetapi sarat sindiran. Forgotten tidak menawarkan jawaban. Mereka hanya memaksa pendengar menatap sisi yang sering dihindari dan terkadang, itu jauh lebih mengganggu.

Addy "Gembel": Ketika Teriakan Menjadi Identitas, Di tengah dominasi vokal guttural yang semakin populer pada akhir 1990-an, Addy "Gembel" memilih jalur yang berbeda. Ia lebih sering menggunakan scream yang keras, tajam, dan penuh tekanan emosional daripada growl yang sangat dalam. Pilihan itu membuat setiap kalimat terdengar lebih mudah ditangkap, sekaligus memperkuat karakter lirik yang memang menjadi salah satu kekuatan utama Forgotten. Vokalnya tidak hanya menjadi instrumen, Ia menjadi narator dan narator yang sedang marah selalu terdengar lebih berbahaya daripada monster yang hanya menggeram. "Smoke on the Water": Penghormatan yang Tidak Kehilangan Identitas Di antara seluruh materi album, keberanian Forgotten membawakan "Smoke on the Water" milik Deep Purple menjadi kejutan yang menarik. Alih-alih memainkan ulang lagu tersebut secara setia, mereka mengubahnya ke dalam kerangka musikal mereka sendiri. Riff legendaris itu tetap dikenali, tetapi atmosfernya berubah menjadi jauh lebih kasar dan berat. Unsur hard rock klasik masih menyisakan jejak, namun telah dibalut dengan karakter Death Metal yang menjadi identitas Forgotten.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa mereka tidak sekadar melakukan cover, melainkan melakukan reinterpretasi, Bandung, Ujungberung, dan Bahasa yang Tidak Mau Jinak. " Obsesi Mati " lahir dari lingkungan Ujungberung sebuah kawasan yang pada era 1990-an menjadi salah satu pusat paling produktif bagi musik ekstrem Indonesia. Namun album ini tidak terdengar seperti upaya meniru formula yang sedang populer. Ia terdengar seperti refleksi dari lingkungan yang keras, penuh kontradiksi, dan tidak percaya pada bahasa yang terlalu halus untuk menyampaikan kemarahan. Di situlah kekuatan terbesar Forgotten. Mereka memahami bahwa Death Metal bukan hanya soal tempo cepat atau distorsi berat. Ia juga soal keberanian menyampaikan sesuatu yang tidak nyaman didengar. Mungkin sebagian lirik di " Obsesi Mati " akan terus memancing perdebatan. Sebagian metaforanya mungkin terasa terlalu kasar bagi sebagian pendengar dan sebagian pilihan artistiknya akan selalu mengundang tafsir yang berbeda. Namun justru itulah alasan album ini tetap penting dalam sejarah Death Metal Indonesia. Ia tidak lahir untuk menyenangkan semua orang. Ia lahir untuk mengusik. Untuk mempertanyakan, Untuk menolak diam. Tiga dekade kemudian, banyak album terdengar lebih bersih, lebih modern, bahkan lebih teknis. Namun tidak banyak yang masih mampu menghadirkan rasa tidak nyaman yang sama ketika diputar ulang. " Obsesi Mati " membuktikan bahwa kontroversi yang bertahan bukanlah kontroversi yang dibangun demi sensasi sesaat, melainkan kontroversi yang lahir dari keberanian artistik untuk berbicara lantang ketika kebanyakan orang memilih diam dan mungkin di situlah posisi sejatinya dalam sejarah: bukan sekadar debut penuh Forgotten, melainkan salah satu album yang memperlihatkan bahwa Death Metal Indonesia mampu menjadi medium kritik sosial yang keras, puitis, dan tidak pernah kehilangan taringnya.

Noted : Selamat datang di arsip kebisingan. Mari kembali mengunjungi era ketika musik ekstrem Indonesia belum mencari pengakuan karena sejak awal, ia memang lahir untuk menjadi ancaman. kemudahan itu berdiri di atas penderitaan panjang sebuah generasi yang pernah dianggap bising, sesat, dan tidak memiliki masa depan. Sejarah memang punya kebiasaan buruk: menikmati hasilnya, lalu melupakan mereka yang membangunnya. Karena itu, beberapa rilisan Indonesia dari era 90-an bukan sekadar album tua yang berdebu di rak kolektor. Mereka adalah artefak. Dokumen hidup. Bukti bahwa negeri ini sejak awal telah memelihara bibit kebrutalan musikal yang terlalu liar untuk dipelihara, namun terlalu berharga untuk dilupakan. Potensi yang sejak hari pertama sudah terdengar berbahaya. Rubrik Review khusus ini w namakan " HOMEGROWN INDONESIAN MENACE " atau (HIM) bukan sekadar nostalgia murahan atau romantisme para generasi yang hari ini kalian olok olok sebagai " Para Oruang tua ". Ini adalah upaya membuka kembali lembaran sejarah yang membentuk identitas musik ekstrem Indonesia, sebuah percik'an kisah tentang karya-karya yang menolak tunduk pada zaman, tetap relevan, dan masih sanggup menggigit puluhan tahun kemudian, dimana kita masih menjadi pengkonsumsi musik cadas sejak awal dekade 90-an, masa ketika ekstremitas belum menjadi komoditas, ketika kaset digandakan berkali-kali hingga suaranya remuk, zine fotokopian berpindah tangan seperti barang selundupan, dan setiap rilisan baru terasa seperti menemukan senjata rahasia.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine