Vexation - Will Be End...? ' Demo Kaset 1997

Vexation - Will Be End...?
Extreme Souls Production ' Demo Kaset 1997

01. Mortality Un-Influence 03:46      
02. Inward Screaming 03:47      
03. Pain Full 02:40      
04. Hang 03:03      
05. Remember of Death 03:59      
06. Distress 03:49


Sejarah musik bawah tanah selalu memiliki ironi yang sulit diterima. Band yang paling sering dibicarakan belum tentu yang paling berani. Band yang paling terkenal belum tentu yang paling kreatif dan ada pula band yang menghasilkan karya luar biasa lalu menghilang begitu saja, seolah tidak pernah ada. nama VEXATION mungkin berada di kategori terakhir. Nama mereka nyaris tidak muncul dalam buku sejarah skena ekstrem Indonesia. Arsipnya minim. Dokumentasinya hampir tak ditemukan. Informasi mengenai personel, perjalanan band, hingga aktivitas setelah demo ini pun nyaris lenyap ditelan waktu. Ironisnya, justru di balik kekosongan itulah tersimpan salah satu demo Death Metal lokal yang paling menarik untuk dibedah. w sendiri mengenal " Will Be End...? " bukan melalui zine atau rekomendasi media. Awalnya justru sangat sederhana: membeli kaset secara iseng ketika gelombang rilisan independen Indonesia sedang berada pada titik paling produktif di penghujung 1990-an. Seorang teman hanya berkata singkat, " Coba dengarkan, band Bandung ini beda. " Kalimat itu ternyata bukan promosi kosong.

Pada pertengahan 1990-an, sebagian besar Death Metal Indonesia masih bergerak dalam koridor Old School Death Metal yang lugas dan agresif. Pengaruh Florida Death Metal, Stockholm Sound, hingga BDM Amrik memang mendominasi banyak rilisan lokal. Vexation memilih jalur yang sedikit berbeda. Mereka tetap berpijak pada Death Metal klasik, tetapi struktur komposisinya bergerak lebih dinamis. Lagu-lagu mereka tidak dibangun hanya dari pengulangan riff berat dan tempo tinggi. Sebaliknya, setiap komposisi dipenuhi perubahan ritme, transisi yang tidak mudah ditebak, serta pola permainan yang menuntut konsentrasi lebih dari pendengarnya. Pada saat pertama mendengarnya, saya bahkan sempat merasa bingung. Bukan karena musiknya buruk. Justru karena musiknya menolak menjadi mudah dan di situlah letak daya tariknya. Jika Bandung dikenal sebagai salah satu episentrum Death Metal Indonesia, Vexation menjadi bukti bahwa kota ini tidak hanya melahirkan band-band yang brutal, tetapi juga musisi yang berani mendorong batas komposisi. Perkiraan kemunculan mereka sekitar 1996 menempatkan Vexation di periode ketika skena lokal sedang mengalami ledakan kreativitas. Namun berbeda dengan banyak band yang memilih jalur aman, mereka tampak lebih tertarik mengeksplorasi dinamika lagu. Mereka tidak bermain serumit TDM modern, tetapi benih-benih pendekatan itu sudah terasa dan untuk ukuran 1997, pendekatan seperti ini jelas berada beberapa langkah di depan zamannya.

Banyak band Death Metal membangun lagu melalui tempo, Vexation membangun lagu melalui riff, di sinilah kekuatan terbesar demo ini. Setiap riff terasa memiliki fungsi, bukan sekadar penghubung menuju bagian berikutnya. Pergantian pola dimainkan dengan logis, sementara struktur gitar menjadi tulang punggung seluruh aransemen. Drum tidak berusaha mendominasi, sebaliknya, ia mengikuti perkembangan gitar dengan disiplin tinggi, menciptakan hubungan yang sangat erat antara ritme dan melodi. Pendekatan seperti ini mengingatkan bahwa TDM sejatinya bukan soal memainkan nada sebanyak mungkin. Melainkan tentang bagaimana membangun struktur yang tetap masuk akal di tengah kompleksitas dan Vexation memahami prinsip itu. Sayangnya, ada satu hal yang terus membayangi pengalaman mendengarkan demo ini, Produksi. Karakter sound " Will Be End...? " masih menyimpan banyak keterbatasan. Beberapa instrumen terdengar saling bertumpuk, definisi gitar tidak selalu muncul sejelas yang diharapkan, dan keseluruhan spektrum frekuensi terasa kurang seimbang, namun penting untuk menempatkan hal itu dalam konteks zamannya.

Pada era kaset pita independen, keterbatasan studio, anggaran, dan teknologi merupakan realitas yang hampir dihadapi semua band bawah tanah Indonesia. Yang menarik, justru di balik keterbatasan tersebut, kualitas komposisi tetap berhasil menembus lapisan produksi yang kasar. Ini menunjukkan bahwa masalah utama demo ini bukan berada pada musiknya. Melainkan pada bagaimana musik itu direkam dan keduanya adalah hal yang sangat berbeda. Bayangan Potensi yang Tidak Pernah Terwujud Sepenuhnya Mendengarkan " Will Be End...? " hari ini menghadirkan satu pertanyaan yang terus menghantui. Bagaimana jadinya jika demo ini direkam ulang dengan fasilitas yang lebih baik? Sulit untuk tidak membayangkan betapa kuatnya riff-riff tersebut jika memperoleh ruang suara yang lebih luas. Betapa hidupnya dinamika lagu apabila setiap instrumen mendapatkan definisi yang layak. Betapa besarnya kemungkinan Vexation berkembang jika perjalanan mereka berlanjut. Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak akan pernah memperoleh jawaban dan justru karena itulah demo ini terasa semakin menarik.

Yang paling menyedihkan dari kisah Vexation bukanlah kualitas rekamannya saja, melainkan minimnya dokumentasi. Setelah " Will Be End...? ", jejak mereka nyaris menghilang. Informasi mengenai perjalanan berikutnya sangat terbatas, sehingga banyak detail sejarah band ini kini sulit diverifikasi. Dalam dunia musik bawah tanah Indonesia, kondisi seperti ini bukan hal yang unik. Banyak kelompok yang meninggalkan karya menarik, tetapi tidak memiliki arsip yang memadai untuk menjaga keberadaannya di dalam ingatan kolektif. Akibatnya, generasi baru lebih mengenal nama-nama besar yang terus aktif, sementara band seperti Vexation perlahan berubah menjadi bisikan di antara para kolektor kaset. Artefak yang Layak Ditemukan Kembali Mungkin banyak pembaca baru pertama kali mendengar nama Vexation hari ini, Itu bukan kesalahan mereka, Band ini memang tidak pernah memperoleh sorotan sebesar rekan-rekan sezamannya, namun justru di situlah letak nilai " Will Be End...? ". Demo ini adalah pengingat bahwa sejarah Death Metal Indonesia tidak hanya dibangun oleh band-band yang kemudian menjadi pionir. Ada pula kelompok-kelompok yang sempat menyala terang dalam lingkaran kecil, memperlihatkan keberanian bereksperimen, lalu menghilang sebelum memperoleh pengakuan yang lebih luas.

Mereka mungkin tidak meninggalkan katalog panjang. Mereka mungkin tidak sempat menikmati status kultus ketika masih aktif. Namun satu demo saja sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kreativitas skena Indonesia pada pertengahan 1990-an jauh lebih beragam daripada yang sering diceritakan dan ketika kaset " Will Be End...? " kembali berputar hari ini, yang terdengar bukan hanya dentuman Death Metal dari masa lalu. Yang terdengar adalah kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah sempat berkembang sepenuhnya. Mungkin Vexation telah lama menghilang dari panggung. Namun setiap kali demo ini diputar ulang, mereka seolah mengingatkan satu hal yang paling sering dilupakan sejarah: Tidak semua band hebat menjadi legenda. Sebagian justru berubah menjadi misteri. Dan terkadang, misteri itulah yang membuat sebuah karya terus hidup, jauh lebih lama daripada sorotan yang pernah diterimanya.

Noted : Selamat datang di arsip kebisingan. Mari kembali mengunjungi era ketika musik ekstrem Indonesia belum mencari pengakuan karena sejak awal, ia memang lahir untuk menjadi ancaman. kemudahan itu berdiri di atas penderitaan panjang sebuah generasi yang pernah dianggap bising, sesat, dan tidak memiliki masa depan. Sejarah memang punya kebiasaan buruk: menikmati hasilnya, lalu melupakan mereka yang membangunnya. Karena itu, beberapa rilisan Indonesia dari era 90-an bukan sekadar album tua yang berdebu di rak kolektor. Mereka adalah artefak. Dokumen hidup. Bukti bahwa negeri ini sejak awal telah memelihara bibit kebrutalan musikal yang terlalu liar untuk dipelihara, namun terlalu berharga untuk dilupakan. Potensi yang sejak hari pertama sudah terdengar berbahaya. Rubrik Review khusus ini w namakan " HOMEGROWN INDONESIAN MENACE " atau (HIM) bukan sekadar nostalgia murahan atau romantisme para generasi yang hari ini kalian olok olok sebagai " Para Oruang tua ". Ini adalah upaya membuka kembali lembaran sejarah yang membentuk identitas musik ekstrem Indonesia, sebuah percik'an kisah tentang karya-karya yang menolak tunduk pada zaman, tetap relevan, dan masih sanggup menggigit puluhan tahun kemudian, dimana kita masih menjadi pengkonsumsi musik cadas sejak awal dekade 90-an, masa ketika ekstremitas belum menjadi komoditas, ketika kaset digandakan berkali-kali hingga suaranya remuk, zine fotokopian berpindah tangan seperti barang selundupan, dan setiap rilisan baru terasa seperti menemukan senjata rahasia.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine