Prophanity - Stronger than Steel CD 1998

Prophanity - Stronger than Steel
Blackend CD 1998

01. Armed to the Teeth 05:16       
02. Walking Through Fire 04:05       
03. Beast of the North 04:22 
04. Fate of the Gods 04:45     
05. The Battleroar 04:06     
06. ...to Hangatyr 04:54     
07. Towards the Sinister Realms 04:47     
08. Awaiting Your Valkyries Arrival 04:42     
09. Swedish Steel (The Metalist) 04:29


Mathias "Farbaute" Järrebring - Vocals
Nicklas Magnusson - Guitars 
Christer "Grendel" Olsson - Guitars  
Robert Lindmark - Bass
A.W. Malmström - Drums 


Ada satu kutukan yang selalu menghantui ribuan band death metal sejak awal 1990-an hingga hari ini: terdengar kompeten, brutal, teknis, bahkan solid secara produksi, tetapi gagal meninggalkan bekas apa pun setelah tombol stop ditekan. Musiknya selesai, lalu menguap. Tidak buruk, hanya... tidak penting. di tengah kuburan penuh rilisan semacam itu, debut penuh Prophanity muncul sebagai pengingat bahwa death metal tidak selalu harus menemukan roda baru untuk terdengar relevan. Kadang cukup memahami cara menjalankan roda tersebut lebih baik daripada mayoritas kompetitornya, dan ya, kehadiran gitaris legendaris King Diamond, Andy LaRocque, jelas bukan nama yang bisa diabaikan begitu saja. Sosok yang dikenal melalui karya-karya monumental bersama King Diamond itu meninggalkan jejak yang terasa pada kualitas gitar dan pendekatan musikal album ini. Namun akan menjadi penghinaan jika menganggap Prophanity hanya berdiri karena bantuan nama besar tersebut, karena pada akhirnya, yang berbicara tetaplah lagu-lagunya.

Secara permukaan, formula Prophanity terdengar familiar, Growl yang dalam hingga terdengar seperti berasal dari dasar sumur kuno, riff cepat yang menggerus tanpa ampun, permainan gitar teknikal yang bergerak liar, ledakan drum yang terus menerjang dengan sesekali blast beat yang menghantam seperti hujan peluru, tidak ada revolusi di sini, tidak ada eksperimen avant-garde yang memaksa pendengar berpura-pura pintar, tidak ada kebutuhan untuk menjadi " unik " hanya demi mendapatkan label progresif, namun justru di situlah kekuatan mereka. Prophanity memahami bahwa death metal bukan sekadar kumpulan riff brutal yang dilempar secara acak ke dalam studio. Ada seni dalam membangun ketegangan. Ada kecerdasan dalam mengatur alur lagu. Ada perbedaan besar antara kebisingan dan komposisi, dan album ini memahami perbedaan tersebut. setiap lagu dibangun seperti medan perang yang memiliki arah jelas. Riff-riff teknikal bukan hadir sebagai pamer kemampuan, melainkan sebagai alat untuk menjaga momentum tetap hidup. Tidak ada kesan bahwa para musisi sedang berlomba membuktikan siapa yang paling hebat. Mereka justru terdengar fokus melayani lagu, ironisnya, sesuatu yang sangat jarang ditemukan dalam death metal modern yang terlalu sibuk memamerkan kalkulasi teknis.

Ada momen-momen tertentu ketika permainan gitar Prophanity terdengar nyaris absurd, Solo yang melesat cepat, Lead guitar yang menari liar, transisi yang bergerak dengan presisi mengesankan. pada beberapa bagian bahkan muncul sensasi kecepatan yang mengingatkan pada pendekatan ekstrem yang kelak dipopulerkan oleh DragonForce, meskipun tentu saja dibalut dalam atmosfer death metal yang jauh lebih gelap dan ganas, Perbedaannya adalah Prophanity tidak menjadikan kecepatan sebagai tujuan, Kecepatan hanyalah kendaraan. tujuan akhirnya tetap atmosfer, agresi, dan daya pukul komposisi, banyak band bisa bermain cepat, sedikit band mampu membuat kecepatan terdengar bermakna. secara tematik, banyak materi Prophanity bergerak dalam wilayah yang berdekatan dengan mitologi dan nuansa Viking, karena itu tidak mengherankan jika sebagian pendengar akan langsung menghubungkannya dengan Amon Amarth, memang ada kemiripan tertentu dalam cara lagu dibangun, ada rasa epik, ada narasi peperangan, ada atmosfer perjalanan menuju kehormatan, kehancuran, atau kematian yang diterima dengan kepala tegak, namun Prophanity tetap mempertahankan identitas death metal yang lebih teknis dan agresif dibanding banyak band yang bergerak di wilayah Viking metal tradisional, mereka tidak terdengar seperti penyalin, mereka terdengar seperti band yang kebetulan berbicara dalam bahasa mitologi yang sama.

Salah satu elemen paling menarik dalam album ini justru datang dari belakang panggung, drummer Prophanity memahami sesuatu yang sering dilupakan banyak pemain ekstrem: kekuatan bukan hanya soal kecepatan, kekuatan adalah kontras, kekuatan adalah kemampuan membuat ledakan terasa lebih besar karena sebelumnya ada ketenangan, lagu seperti " Towards the Sinister Realm " menjadi demonstrasi sempurna mengenai hal tersebut. tempo bergerak naik turun, atmosfer berubah dalam hitungan detik, groove lambat tiba-tiba berubah menjadi serangan brutal tanpa kehilangan arah, hasilnya adalah pengalaman mendengarkan yang jauh lebih hidup dibanding sekadar 40 menit blast beat tanpa jeda yang sering disalahartikan sebagai " Ekstrem ", karena kenyataannya, monoton tetap monoton, bahkan ketika dimainkan dengan kecepatan 300 BPM.

Masalah terbesar dunia metal modern bukan kekurangan musisi hebat, justru sebaliknya, terlalu banyak musisi hebat, terlalu sedikit karakter, banyak band terdengar sempurna secara teknis namun steril secara emosional. Mereka mampu memainkan seribu nada per menit tetapi gagal menyampaikan satu gagasan yang benar-benar hidup. Prophanity tidak jatuh ke lubang tersebut. album ini mungkin tidak mengubah sejarah death metal. Ia mungkin tidak akan muncul dalam setiap daftar album terbaik sepanjang masa, tetapi ia memiliki sesuatu yang lebih penting daripada sekadar reputasi, Ia memiliki identitas dan identitas selalu lebih berharga daripada tren.

Jika tanpa struktur lagu yang kuat, permainan gitar yang tajam, dan drummer yang memahami dinamika, Prophanity mungkin hanya akan menjadi satu nama lagi dalam katalog panjang death metal dunia, untungnya, itu tidak terjadi, lagu-lagu seperti " Armed to the Teeth ", " Beast of the North ", dan " ...to Hangatyr " membuktikan bahwa band ini memiliki lebih banyak isi daripada sekadar agresi kosong. Mereka menawarkan kombinasi antara teknikalitas, kekuatan komposisi, dan atmosfer yang cukup matang untuk membuat pendengar kembali memutar album ini setelah sesi pertama selesai, pada akhirnya, death metal terbaik bukanlah musik yang paling brutal, bukan pula yang paling cepat, bukan yang paling teknis, death metal terbaik adalah musik yang masih membuat kita ingin kembali mendengarkannya ketika semua kebisingan sudah berhenti dan dalam hal itu, debut Prophanity berhasil melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. sebuah pengingat bahwa kadang-kadang, untuk terdengar luar biasa, Anda tidak perlu menciptakan dunia baru. Anda hanya perlu memahami dunia yang sudah ada lebih baik daripada kebanyakan orang.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine