Amsvartner - Dreams CD 1999

Amsvartner - Dreams
Blackend CD 1999

01. The Predator 04:17       
02. Ada 04:55      
03. Medicineman 05:15     
04. Dreams 05:46     
05. Kattla 05:01     
06. Funkyman 04:56       
07. Dimensional Portals 05:01       
08. Turn the Light Away 06:55       
09. Sleep 05:23


Marcus Johansson - Vocals
Daniel Nygaard - Guitars 
Jonathan Holmgren - Guitars
Albin Johansson - Bass
Alfred Johansson - Drums


Salah satu penyakit kronis di dunia musik metal yang tidak pernah benar-benar sembuh adalah kebiasaan memberi label secara serampangan. Begitu ada logo yang sedikit gelap, artwork bernuansa suram, atau sejarah demo yang berbau black metal, sebagian orang langsung memasukkannya ke rak yang sama tanpa benar-benar mendengarkan musiknya. Dan di situlah " Dreams ", album penuh perdana milik band Swedia Amsvartner, menjadi korban sekaligus bukti bahwa telinga sering kali kalah cepat dibanding asumsi. mari kita luruskan sejak awal. Jika Anda datang mencari black metal, silakan putar balik. Tidak perlu memaksa diri. Mungkin demo-demo awal mereka masih memiliki aroma tersebut, tetapi Dreams secara musikal berdiri jauh lebih dekat kepada tradisi Gothenburg MDM dibandingkan segala bentuk black metal yang dibayangkan banyak orang. Ini bukan kisah tentang kabut Norwegia, gereja terbakar, atau atmosfer nihilistik yang dingin membeku. Ini adalah MDM yang memilih berbicara melalui riff, melodi, dan dinamika ketimbang sekadar estetika gelap. Ironisnya, banyak pendengar metal sering mengaku mencintai evolusi, tetapi panik ketika sebuah band tidak terdengar seperti yang mereka harapkan.

Secara musikal, Dreams memperlihatkan sebuah band yang sudah memahami arah mereka sendiri. Pengaruh Gothenburg terasa jelas, tetapi tidak sampai berubah menjadi kloning murah dari generasi awal scene tersebut. Riff-riff yang disajikan memiliki karakter melodis yang kuat, terkadang mengingatkan pada masa ketika MDM masih terdengar berbahaya dan belum berubah menjadi produk massal yang dipoles demi playlist digital. Lagu seperti " Dimensional Portals " menjadi contoh paling jelas. Struktur lagunya bergerak dengan percaya diri, perubahan riff terasa alami, dan ada semangat thrash metal klasik yang sesekali muncul dari balik tembok distorsi. Pembuka-pembuka riff tertentu bahkan membawa nuansa yang mengingatkan pada era awal thrash Amerika, khususnya pendekatan agresif namun tetap mudah diingat yang pernah dipopulerkan oleh Testament pada periode emas mereka. di sinilah kekuatan utama album ini berada. Bukan pada kecepatan ekstrem. Bukan pada kebrutalan yang dipaksakan. Tetapi pada kemampuan menjaga lagu tetap hidup melalui perubahan-perubahan kecil yang efektif. namun tidak ada album debut yang lahir tanpa cacat. salah satu kelemahan paling nyata dalam " Dreams " adalah keseimbangan produksi. Vokal sebenarnya tidak buruk. Bahkan cukup kompeten untuk standar melodic death metal. Masalahnya justru karena terlalu menonjol. pada beberapa lagu seperti " Ada " dan " Turn the Light Away ", vokal terasa mengambil terlalu banyak ruang dalam perpaduan sounding. Dalam death metal, vokalis idealnya berfungsi sebagai instrumen tambahan, bukan pusat perhatian mutlak. Ini bukan konser hard rock arena tahun 1980-an di mana semua lampu sorot harus mengarah ke vocalis. Death metal yang efektif bekerja seperti mesin perang. Setiap instrumen memiliki fungsi yang setara. Ketika satu elemen terlalu dominan, keseimbangan itu mulai goyah. Di sisi lain, permainan drum justru mengalami masalah yang berlawanan. Eksekusinya rapi dan kompeten, tetapi terasa terlalu aman. Tidak buruk, tidak mengganggu, namun juga jarang menciptakan momen yang benar-benar mengangkat lagu ke level berikutnya. Ia hadir sebagai fondasi, bukan sebagai penggerak.

Kadang cukup, Kadang terasa kurang berani. Bass yang Diam-Diam Menjadi Pahlawan, kalau ada satu elemen yang paling sering luput dari perhatian tetapi justru menjadi nyawa album ini, jawabannya adalah bass. Albin Johansson menghadirkan permainan bass yang jauh lebih aktif dibanding banyak band sejenis. Ada groove, ada pergerakan, ada keberanian untuk keluar dari sekadar mengikuti gitar. Di lagu " Medicineman " dan " Funkyman ", yang sebenarnya tidak termasuk komposisi terkuat dalam album ini, justru permainan bass yang membuat keduanya tetap menarik untuk diikuti. Bahkan pada " Turn the Light Away ", garis bass memberikan lapisan karakter tambahan yang membuat lagu tersebut memiliki identitas lebih kuat. ini adalah pengingat sederhana bahwa dalam musik ekstrem, instrumen yang paling sering diabaikan kadang justru menjadi alasan utama sebuah album layak didengarkan kembali. " Sleep " dan Keberanian Keluar dari Formula, salah satu keputusan paling aneh sekaligus menarik adalah penempatan instrumental " Sleep " sebagai penutup album. secara konteks, lagu ini memang terasa agak terpisah dari keseluruhan materi sebelumnya. Bahkan bisa dibilang sedikit janggal. Namun justru karena perbedaannya itulah lagu ini meninggalkan kesan yang cukup kuat. ia seperti epilog yang tidak diminta, tetapi setelah selesai dibaca, kita menyadari bahwa kehadirannya ternyata tidak sepenuhnya sia-sia. dalam industri musik yang semakin terobsesi pada formula, keberanian menyisipkan sesuatu yang tidak sepenuhnya cocok justru terkadang terasa lebih manusiawi dibanding kesempurnaan yang terlalu steril. Sebuah Debut yang Menjanjikan di Tengah Lautan Klise " Dreams " bukan mahakarya yang mengubah sejarah metal. Ia juga bukan album yang akan membuat seluruh dunia berhenti berputar, namun album ini melakukan sesuatu yang jauh lebih penting, Ia menunjukkan identitas ! di tengah ribuan band yang sibuk meniru, Amsvartner setidaknya terdengar seperti mereka sedang berusaha menjadi diri sendiri. Ada fondasi yang kuat, ada pemahaman komposisi yang baik, dan ada cukup banyak ide untuk membuat pendengar penasaran terhadap langkah berikutnya. bagi penggemar MDM ala Gothenburg, album ini layak mendapatkan perhatian lebih daripada yang pernah diterimanya. Bagi pemburu black metal, mungkin ini bukan tempat yang tepat.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine