The Everdawn - Poems - Burn The Past CD 1997

The Everdawn - Poems - Burn The Past
Invasion Records CD 1997

01. Territory Loss 03:21       
02. When the Sunset Forever Fade 03:56       
03. Needlework 03:38     
04. Where Pain Never Dies 04:34       
05. Autumn, Sombre Autumn 03:33      
06. Burn 06:07      
07. Poems 04:46     
08. Opera of the Damned 05:08


Pierre Törnkvist - Guitars, Vocals
Patrik Törnkvist - Lead Guitars 
Niklas Svensson - Bass
Oskar Karlsson - Drums 


Dalam sejarah MDM Swedia, terlalu banyak band bagus yang terkubur di bawah bayangan raksasa-raksasa scene. Semua orang sibuk memuja nama-nama besar seperti At The Gates, In Flames, atau Dark Tranquillity sampai lupa bahwa di balik reruntuhan era keemasan Gothenburg itu ada banyak band kecil yang sebenarnya memiliki kualitas luar biasa, hanya saja tidak punya keberuntungan, promosi besar, atau momentum pasar yang tepat. Salah satu nama yang pantas masuk daftar " permata terlupakan " itu adalah The Everdawn. Dan kalau membahas The Everdawn, mustahil mengabaikan dua nama yang menjadi otak utama proyek ini: bersaudara Törnkvist. Di kalangan scene metal Swedia bawah tanah, nama mereka bukan orang sembarangan. Mereka adalah tipe musisi yang tidak puas hanya bermain dalam satu jalur aman demi mempertahankan " branding " seperti kebanyakan band modern yang lebih sibuk mengurus algoritma Spotify ketimbang kreativitas musik. Pierre Törnkvist ( Devil's Force, Helltrain, Scheitan, ex-Battlelust, ex-Decortication, ex-The Moaning, ex-Gilgamosh) dan Patrik Törnkvist (Helltrain, ex-Battlelust, ex-Decortication, ex-The Moaning, ex-Gilgamosh, ex-Scheitan, ex-Incinerator) adalah contoh musisi yang benar-benar hidup dalam musik ekstrem. Dari death metal, black metal, MDM, sampai heavy metal klasik, semuanya mereka sentuh dengan semangat eksplorasi yang hari ini terasa semakin langka. Pierre sendiri dikenal lewat berbagai proyek seperti Helltrain, Scheitan, hingga The Moaning, sementara Patrik juga memiliki rekam jejak panjang di scene bawah tanah Swedia. Mereka berasal dari generasi musisi yang tumbuh di masa transisi analog menuju digital, masa ketika rekaman masih memiliki aroma pita kaset, noise amplifier, dan rasa manusia yang nyata. Bukan era steril penuh trigger drum plastik dan editing komputer berlebihan seperti sekarang, ketika banyak album metal terdengar lebih mirip software demo daripada band sungguhan. Dan mungkin karena itulah musik The Everdawn terasa begitu hidup.

Album " Poems - Burn The Past " adalah contoh klasik bagaimana sebuah band bisa terdengar sangat terinspirasi oleh scene Gothenburg namun tetap punya identitas emosional sendiri. Pengaruh At The Gates sangat jelas. Bahkan kadang terlalu jelas. Tetapi menyebut album ini sekadar klon adalah bentuk kemalasan intelektual khas pendengar sok elit yang biasanya hanya kuat mendengar tiga band sebelum mulai bertingkah seperti kurator sejarah metal. Karena ketika benar-benar didengarkan, " Poems - Burn The Past " justru punya banyak hal yang membuatnya layak dikenang. Sejak awal album, The Everdawn langsung menghajar dengan formula MDM yang agresif namun sangat melodis. Lagu-lagu seperti " Autumn Sombre Autumn ", " Territory Loss ", " Needlework ", hingga " Where Pain Never Dies " bergerak dengan tempo konstan yang seperti tidak mau memberi ruang bernapas. Ada ketukan cepat ala skank beat, riff-riff jet driven khas Gothenburg, solo gitar yang elegan tanpa terdengar masturbatif, dan permainan ritme yang terus mendorong lagu ke depan seperti badai salju Skandinavia yang tidak berhenti menghantam wajah. Yang menarik adalah bagaimana mereka memahami pentingnya groove dan emosi di balik agresi. Banyak band MDM gagal memahami hal ini. Mereka terlalu fokus terdengar cepat dan teknikal sampai lupa bahwa riff harus punya rasa. The Everdawn justru membangun atmosfer dengan sangat baik. Di balik semua distorsi dan tempo cepat itu, ada nuansa depresi, pengkhianatan, penyesalan, dan kesunyian dingin khas Eropa Utara yang terasa begitu kuat. Musik mereka terdengar seperti seseorang berjalan sendirian di bawah langit abu-abu Swedia sambil membawa dendam yang belum selesai. Bass dari Svensson terdengar sangat jelas di dalam mixing, sesuatu yang semakin langka bahkan di banyak album metal modern yang terlalu sibuk menenggelamkan bass demi gitar digital super bersih. Produksi album ini memberi ruang bagi setiap instrumen untuk bernapas. Drum yang diproduseri oleh Göran Norman terdengar penuh tenaga, dengan kombinasi bass drum dan snare yang bekerja sangat sinkron untuk menciptakan efek menghantam terus-menerus. Permainan tom-nya bahkan memiliki karakter bariton yang kaya, terutama di bagian-bagian lebih lambat dan melankolis. Dan kemudian ada Oskar Karlsson.

Jujur saja, nama Oskar Karlsson layak mendapat penghormatan lebih besar dalam sejarah MDM Swedia. Permainannya di album ini benar-benar fantastis. Tidak berlebihan, tidak sibuk cari perhatian, tetapi penuh tenaga dan presisi. Ia memahami bahwa drummer MDM terbaik bukan yang paling teknikal, tetapi yang mampu membuat riff terasa hidup. Permainannya seperti mesin perang yang terus bergerak tanpa kehilangan groove. Ketika mendengarkan lagu seperti " The Silent Winter Sky ", terutama pada bagian double bass yang bergulir deras itu, terasa jelas bahwa Karlsson adalah salah satu bakat tersembunyi scene ini yang tidak pernah benar-benar mendapatkan sorotan yang layak. Lalu ada bagian menarik lainnya: EP " Opera of the Damned ". Di sinilah kita bisa melihat sisi lain The Everdawn yang lebih kasar, lebih mentah, dan sedikit lebih dekat ke wilayah black metal. Produksinya lebih primitif, lebih liar, dan terasa seperti kapsul waktu dari tahun 1996. Ada ledakan blast beat dan vokal yang lebih menjerit dibanding album penuhnya. Meskipun masih berada dalam wilayah MDM, EP ini terasa lebih gelap dan tidak sehalus " Poems - Burn The Past ". Dan justru itu yang membuat kombinasi album dan EP ini menarik. Pendengar bisa melihat evolusi mereka dari MDM yang lebih kasar menuju pendekatan yang lebih matang dan emosional. Ini seperti melihat dua sisi jiwa band yang sama: satu penuh kemarahan muda, satu lagi penuh refleksi pahit.

Versi remaster tahun 2012 dari " Poems - Burn The Past " bahkan membuat semuanya terdengar semakin hidup. Dan ini lucu, karena biasanya kata remaster di era modern hanya berarti volume dibuat lebih keras demi perang loudness murahan. Tetapi pada rilisan ini, hasilnya benar-benar terasa seperti proyek penuh cinta. Ada detail suara yang lebih jelas, agresi yang lebih terasa, dan kedalaman produksi yang membuat album ini terdengar jauh lebih segar dibanding sebagian besar rilisan modern yang terlalu steril. Yang menarik, album ini masih mempertahankan nuansa khas era transisi analog-digital tahun 90-an. Kalian masih bisa merasakan tekstur pita rekaman, kerja keras studio nyata, dan karakter manusia dalam produksi. Ini adalah masa ketika teknologi komputer membantu musik, bukan menggantikan jiwa musik itu sendiri. Dan itulah alasan banyak album MDM era 90-an masih terdengar hangat dan hidup sampai sekarang, sementara banyak rilisan modern terdengar dingin seperti preset plugin murah. Secara musikal, memang sulit menyangkal bahwa " Poems - Burn The Past " hidup di antara bayangan Slaughter of the Soul dan Colony. Ada riff-riff yang sangat mengingatkan pada At The Gates, tetapi juga harmoni gitar dan nuansa melodis ala In Flames era klasik. Bahkan beberapa riff terdengar seperti titik tengah antara dua album legendaris itu. Tetapi lagi-lagi, inspirasi bukan dosa. Yang penting adalah bagaimana mengeksekusinya. 

Dan The Everdawn mengeksekusinya dengan sangat baik. Gitar ritme mereka tebal, menggulung, penuh chugging triplet yang berpadu dengan akor atmosferik terbuka. Vokalnya memang sangat terinspirasi Tomas Lindberg, tetapi terkadang juga mengingatkan pada Mille Petrozza-nya Kreator yang sedang benar-benar marah. Semua elemen bekerja bersama dengan efektif. Apakah album ini merevolusi MDM? Tidak. Apakah album ini selevel dengan Soilwork atau Darkane yang membawa formula Gothenburg ke arah baru? Juga tidak. Tetapi apakah album ini pantas diabaikan hanya karena terlalu " terinspirasi "? Sama sekali tidak. Karena " Poems - Burn The Past " tetaplah sebuah album yang ditulis dengan hati, dimainkan dengan skill, dan diproduksi dengan rasa. Ia adalah pengingat bahwa tidak semua band harus menciptakan genre baru untuk menjadi layak dikenang. Kadang cukup dengan menulis lagu bagus, memainkan musik dengan penuh keyakinan, dan meninggalkan atmosfer yang terus menghantui pendengar bertahun-tahun kemudian. Dan ya, mungkin itulah alasan mengapa album ini masih terasa spesial hingga sekarang. Ia datang dari era ketika MDM belum sepenuhnya berubah menjadi komoditas estetika internet. Era ketika musik masih terasa dingin, manusiawi, emosional, dan sedikit berbahaya. Sebuah masa ketika label seperti Invasion Records masih berani merilis band-band yang punya karakter, bukan sekadar proyek hasil cetakan algoritma pasar.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine