Gates Of Ishtar - At Dusk And Forever CD 1998

Gates Of Ishtar - At Dusk And Forever
Invasion Records CD 1998

01. Wounds 05:10       
02. The Nightfall 03:27       
03. At Dusk and Forever 03:02     
04. Battles to Come 04:19 
05. The Burning Sky 02:10     
06. Never Alone Again 04:59     
07. Always 04:37      
08. Forever Beach 07:10


Mikael Sandorf - Vocals, Guitars, Bass
Urban Granbacke - Guitars
Oskar Karlsson - Drums
 

Ada masa ketika MDM belum berubah menjadi industri nostalgia penuh kaos hitam mahal dan postingan algoritma bertuliskan " Old School Worship ". Ada masa juga ketika menemukan sebuah album bagus benar-benar terasa seperti menggali artefak terlarang dari reruntuhan bawah tanah Eropa Utara. Kalian harus berburu katalog fisik, membaca zine fotokopian buram, memesan CD lewat surat, dan berharap paketnya tidak hilang di perjalanan. Dunia metal saat itu masih punya misteri. Belum semuanya tersedia dalam tiga klik dan playlist otomatis penuh rekomendasi steril. Dan di antara kabut dingin era akhir 90-an itu, muncullah Gates of Ishtar dengan album terakhir mereka yang nyaris seperti rahasia kecil scene MDM Swedia: " At Dusk and Forever ". Album ini selalu terasa aneh. Dalam arti terbaiknya. Di satu sisi, " At Dusk and Forever " adalah definisi textbook MDM Swedia era Gothenburg: riff cepat, melodi muram, vokal parau penuh luka, dan atmosfer dingin khas Skandinavia. Tetapi di sisi lain, ada sesuatu yang sulit dijelaskan di dalam album ini. Semacam aura senja yang melankolis, rasa kesepian yang tidak dibuat-buat, dan kehangatan emosional yang justru muncul dari distorsi kasar dan drum yang menghantam seperti ombak laut Baltik di bulan November. Ini bukan sekadar album melodeath bagus. Ini album yang punya jiwa. Dan ironisnya, seperti banyak karya bagus lain di genre ini, album ini justru nyaris tenggelam di bawah bayangan para raksasa seperti At The Gates, In Flames, dan Dark Tranquillity. Karena begitulah sejarah bekerja di dunia metal: banyak band hebat berakhir hanya menjadi catatan kaki sementara band lain dipuja terus-menerus sampai kaosnya dijual di pusat perbelanjaan. Namun Gates of Ishtar selalu punya sesuatu yang berbeda.

Salah satu alasan terbesar tentu saja adalah sosok drummer mereka, Oskar Karlsson (ex-The Everdawn, ex-Defleshed, ex-Helltrain, ex-Sarcasm, ex-Scheitan, ex-The Duskfall, ex-Decortication, ex-Raised Fist). Dan jujur saja, semakin banyak mendengarkan katalog band-band Swedia era itu, semakin terasa bahwa nama Karlsson seharusnya mendapat penghormatan jauh lebih besar dalam sejarah MDM. Ia meninggal terlalu muda, tetapi warisan permainan drumnya tetap terasa hidup. Gaya bermainnya tidak bergantung pada kecepatan berlebihan atau teknik pamer ala drummer modern yang lebih sibuk menghitung BPM daripada membangun groove. Karlsson bermain dengan soul. Drum-nya memantul, hidup, minimalis namun efektif. Ada pengaruh ritmis yang nyaris terasa seperti musik dansa tersembunyi di balik agresi death metal-nya. Ketukannya selalu terasa menggerakkan lagu ke depan, bukan sekadar mengisi ruang kosong. Dan di " At Dusk and Forever ", semuanya terasa pas. Riff-riff gitar dari Mikael Sandorf (Helltrain, The Duskfall, ex-Agroth, ex-Soulash, ex-Deathbound, ex-Twilight, ex-Archam Angel) dan Niclas Granbacke (Slingblade, ex-Decortication, ex-The Everdawn, ex-The Moaning, MÄD LŸNX, The Baboon Show, ex-Throne of Ahaz) bergerak cepat namun tetap emosional. Mereka tidak tenggelam dalam nihilisme dingin ala Dissection, tetapi juga tidak jatuh menjadi melodi cengeng tanpa taring seperti banyak band MDM generasi kedua. Musik mereka punya keseimbangan aneh antara agresi dan kerentanan. Suram, tetapi tidak kosong. Melankolis, tetapi tidak lemah. Dan yang paling menarik, riff mereka terdengar benar-benar seperti Gates of Ishtar. Tidak sekadar sisa-sisa imitasi At The Gates murahan yang dilempar ke studio dengan harapan bisa ikut tren Gothenburg. Ada identitas di sana. Ada karakter.

Lagu-lagu seperti " The Nightfall " dan " The Burning Sky " menunjukkan dengan jelas bagaimana band ini memahami dinamika. Mereka tahu kapan harus menghajar dengan blast beat, kapan harus memakai skank beat ala punk ekstrem, dan kapan harus memperlambat tempo untuk membiarkan melodi berbicara. Bahkan bagian-bagian atmosferik dan keyboard ambient yang diselipkan terdengar menyatu alami, bukan tempelan murahan demi terdengar artistik. Dan " Forever Beach " yang berdurasi lebih panjang dengan nuansa shred 80-an itu tetap terasa keren sampai sekarang. Ada aura romantisisme suram di seluruh album ini, semacam perpaduan antara puisi depresi, musim dingin Skandinavia, dan kelelahan emosional yang terus menghantui sepanjang durasi album. Lirik-liriknya sendiri dipenuhi tema kehilangan, isolasi, daya tahan jiwa, rasa bersalah, dan luka emosional yang terasa manusiawi. Tidak sok filosofis, tidak teatrikal berlebihan, tetapi cukup pahit untuk menancap di kepala. Musik ini terdengar seperti soundtrack seseorang yang berdiri sendirian di pantai terpencil Swedia menjelang malam sambil mempertanyakan seluruh hidupnya.

Dan kemudian datanglah rilisan ulang tahun 2017 oleh Century Media Records. Biasanya kata " remaster " dalam dunia metal modern hanyalah alasan industri untuk menjual album lama dengan volume lebih keras dan bonus stiker murahan. Banyak remaster malah menghancurkan atmosfer asli album, menghapus karakter analog, dan membuat semuanya terdengar terlalu bersih seperti soundtrack video game generik. Tetapi anehnya, versi remaster " At Dusk and Forever " justru luar biasa. Versi 2017 by Century Media Records terdengar lebih hangat, lebih berat, lebih organik, dan lebih hidup dibanding rilisan 1998. Gitar terdengar lebih penuh, drum lebih menghantam, dan keseluruhan album terasa seperti mendapatkan napas kedua. Dan yang menarik, kedua versi tetap punya nilai sendiri. Versi asli tahun 1998 memiliki nuansa dingin dan keterasingan digital khas akhir 90-an yang sangat autentik. Sementara versi 2017 terdengar lebih modern tanpa kehilangan emosinya. Jadi ya, untuk sekali ini para kolektor gila memang benar: kalian memang layak punya dua-duanya. Bonus seperti cover Mötley Crüe " Red Hot " juga menjadi tambahan menarik yang menunjukkan sisi lain band ini. Dan anehnya, mereka berhasil membawakan lagu itu tanpa terdengar canggung. Namun tentu saja, semua pujian ini tidak berarti Gates of Ishtar sempurna.

Masalah terbesar mereka mungkin justru datang dari timing. Ketika " At Dusk and Forever " dirilis, MDM Swedia mulai memasuki fase transisi. Formula Gothenburg klasik mulai terasa terlalu aman. Band-band seperti Soilwork dan Darkane mulai mendorong genre ke arah yang lebih modern, lebih teknikal, dan lebih eksperimental. Sementara Gates of Ishtar masih bermain di wilayah tradisional. Dan itulah tragedinya. Mereka terlalu bagus untuk dianggap band medioker, tetapi tidak cukup revolusioner untuk benar-benar meledak besar. Mereka menjadi korban dari perubahan zaman. Ketika dunia mulai bergerak ke arah baru, Gates of Ishtar tetap berdiri di tengah salju Gothenburg dengan formula klasik mereka. Tetapi apakah itu buruk? Tidak juga. Karena justru itulah yang membuat " At Dusk and Forever " terasa begitu murni hari ini. Album ini tidak terdengar seperti produk tren. Ia terdengar seperti hasil dari sekelompok musisi yang benar-benar percaya pada musik yang mereka mainkan. Memang, dibanding tiga album mereka, ini mungkin album yang paling menyatu dan kurang eksplosif secara inovasi. Kadang lagu-lagunya terasa terlalu berada dalam pola MDM klasik tanpa benar-benar mendorong batas baru. Tetapi bahkan ketika bermain aman, Gates of Ishtar tetap melakukannya dengan kualitas yang jauh di atas rata-rata. Mereka mungkin hanyalah band generasi kedua dalam sejarah besar MDM Swedia, tetapi jujur saja, sebagian besar band modern bahkan tidak mampu mencapai level itu. Dan sekarang, ketika katalog mereka terus dirilis ulang seperti mayat yang terus digali dari kuburan beku Skandinavia, mungkin itu memang pertanda bahwa orang mulai sadar kembali: Gates of Ishtar bukan sekadar nama nostalgia kecil dari era Gothenburg. Mereka adalah salah satu penjaga terakhir dari masa ketika MDM masih terdengar dingin, emosional, manusiawi, dan misterius.

 

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine