Skymning - Stormchoirs CD 1999

Skymning - Stormchoirs
Invasion Records CD 1999

01. Sweeping the World 05:19      
02. Memories 04:18      
03. The Question 06:05      
04. The Final Battle 05:13       
05. Above 06:30     
06. A World in Flames 04:55       
07. Just Another 05:52      
08. Stormchoirs 06:25       
09. At the Fields of Megiddo 05:18     
10. The Warrior Poet 04:08


Kim - Vocals
Antichrist - Guitars
Architect - Guitars
Seb - Bass
MadMachine - Drums


Pada akhir 90-an, ketika MDM Swedia sedang meledak seperti epidemi riff tremolo dan logo tak terbaca, terlalu banyak band bermunculan dengan formula yang sama: gitar harmonis ala Gothenburg, vokal serak setengah marah setengah masuk angin, lalu produksi dingin khas studio Skandinavia yang terdengar seperti direkam di gudang beku penyimpanan ikan. Sebagian besar hilang begitu saja ditelan waktu. Sebagian lain bertahan karena kebetulan mendapat promosi lebih baik atau karena satu lagu mereka diputar terus-menerus di warnet metal awal 2000-an. Lalu ada Skymning. Band yang datang melalui roster Invasion Records dengan sebuah debut bernama " Stormchoirs " album yang secara teknis MDM, tetapi diam-diam sebenarnya sedang bermain power metal berkostum ekstrem. Dan di situlah letak keunikannya. banyak MDM Swedia klasik memang punya akar heavy metal tradisional. In Flames, Dark Tranquillity, bahkan At the Gates sekalipun masih membawa DNA heavy metal klasik dalam melodinya. Tetapi Skymning mendorong elemen itu jauh lebih frontal. Mereka malah nyaris terdengar seperti band Euro power metal yang dipaksa growling oleh setan Gothenburg. Bayangkan lagu-lagu power metal penuh melodi heroik, harmonisasi gitar megah, ritme galloping ala NWOBHM, lalu di atas semuanya ditempelkan vokal blackened death metal yang kasar dan agresif. Secara teori ini terdengar seperti ide mabuk setelah terlalu banyak minum bir hangat di backstage festival kecil Swedia.

Dan bukan sekadar berhasil setengah-setengah. " Stormchoirs " justru menjadi salah satu contoh paling menarik dari persilangan melodic power metal dan MDM sebelum genre itu akhirnya berubah menjadi lautan klise metal modern yang dipenuhi chorus generik dan breakdown steril untuk video Sosmed slow-motion. Sejak track opening " Sweeping the World ", Skymning langsung menunjukkan identitas mereka dengan jelas: double bass cepat ala power metal, riff epik penuh rasa heroik, harmoni gitar sedih namun megah dan ditambah vokal rasp kasar yang membuat semuanya tetap terasa ekstrem. Perpaduan ini sebenarnya sangat berisiko. Karena jika vokalnya diganti clean vocal ala power metal Eropa biasa, besar kemungkinan album ini hanya akan terdengar seperti ratusan band Euro power metal generik lain yang memenuhi rak diskon toko CD awal 2000-an. Justru growl dan scream kasar itulah yang memberi karakter. Vokal ekstrem bertindak seperti lapisan lumpur dan darah di atas fondasi melodi yang terlalu bersih. Ia membuat musik ini tetap punya gigi. Tetap punya agresi. Tetap terasa liar. Dan inilah alasan mengapa " Stormchoirs " jauh lebih menarik daripada sekadar " MDM biasa ".

Album ini punya keberanian untuk terdengar terlalu melodis bagi kaum death metal puritan, namun juga terlalu kasar untuk penikmat power metal tradisional. Dengan kata lain: album ini berada di wilayah abu-abu yang justru sering melahirkan karya paling menarik. Permainan gitarnya sendiri adalah pusat gravitasi utama album ini. Riff-riff ritmis dimainkan dengan pendekatan epik dan mengalir, menopang lead melody yang melankolis namun heroik. Ada banyak pengaruh Iron Maiden dan tradisi NWOBHM dalam harmonisasi mereka, terutama di lagu seperti " The Question ", yang bahkan terasa seperti penghormatan terang-terangan terhadap estetika heavy metal klasik. Dan sebenarnya itu bukan masalah. Karena Skymning tahu bagaimana memanfaatkan pengaruh mereka menjadi sesuatu yang energik dan menyenangkan. Musik mereka melaju dengan antusiasme yang nyaris polos, seperti sekelompok musisi muda yang benar-benar percaya riff melodis bisa menyelamatkan dunia. Masalahnya muncul ketika album ini mulai dibandingkan dengan inovator lain pada era yang sama. Karena jika Soilwork atau Darkane terdengar progresif dan penuh identitas baru, maka Skymning terasa lebih konservatif dalam struktur lagunya. Mereka tidak benar-benar menawarkan revolusi. Mereka hanya memainkan formula MDM dengan sangat antusias. itu cukup menyenangkan.

Tetapi di saat yang sama, ini juga membuat " Stormchoirs " terasa sedikit produk zamannya. Banyak pola riff yang dulu terdengar luar biasa kini terasa familiar karena telah ditiru habis-habisan selama dua dekade berikutnya. Apa yang dulu terdengar segar sekarang terdengar seperti template. Namun tentu saja itu bukan salah Skymning. Mereka datang lebih awal sebelum formula itu berubah menjadi industri copy-paste. Yang justru lebih merusak album ini adalah produksinya. Dan ya, ini penyakit kronis banyak rilisan Invasion Records. Mixing album ini terdengar washed out, lemah, dan kurang tenaga. Instrumen berat kehilangan pukulan. Drum kadang terdengar seperti direkam dari ruang sebelah. Bagian cepat dan agresif malah terasa keruh, sementara harmoni melodis jauh lebih hidup dibanding aspek ekstremnya. Akibatnya, ada kesan bahwa album ini selalu nyaris meledak tetapi tidak pernah benar-benar menghantam penuh. Padahal komposisinya sendiri cukup kuat.

Bahkan beberapa bagian bass yang menonjol sangat mengingatkan pada gaya Steve Harris, terutama ketika lagu memasuki bagian transisi yang lebih lembut. Sayangnya, transisi menuju ledakan riff berat sering tidak dibangun secara maksimal sehingga dinamika lagunya terasa kurang menggigit. Dan lagi-lagi, ini membuat pendengar frustrasi karena potensi besarnya sangat jelas terlihat. " Stormchoirs " terasa seperti album yang membutuhkan studio lebih besar, produser lebih visioner, dan promosi lebih serius. Karena sebenarnya timing mereka nyaris sempurna. Saat MDM sedang meledak di Amerika akibat popularitas At the Gates dan In Flames, Skymning memiliki semua elemen yang seharusnya bisa membuat mereka naik kelas: melodi yang kental, agresi kuat, nuansa epik heroik, dan formula yang sangat cocok untuk pasar saat itu. Tetapi sejarah musik keras penuh dengan band yang datang di waktu tepat namun tetap gagal menembus level berikutnya karena exposure yang salah, label kecil, atau sekadar nasib buruk. Dan Skymning adalah salah satunya.

Ironisnya lagi, mereka sendiri tampaknya kemudian mulai bosan dengan formula ini. Album-album berikutnya menunjukkan perubahan dan perkembangan yang cukup besar, seolah mereka sadar bahwa MDM saat itu mulai berubah menjadi tren yang terlalu padat sesak. Namun justru karena itu, " Stormchoirs " kini terasa seperti kapsul waktu yang menarik. Ia menangkap momen ketika MDM belum sepenuhnya kehilangan rasa petualangannya. Ketika genre ini masih berani mencampur heroisme power metal dengan kebrutalan death metal tanpa rasa malu. Hari ini mungkin produksinya terdengar usang. Artwork-nya tampak biasa aja dan terkesan murahan. Logonya terlihat seperti desain cover game PC bajakan tahun 1998. Tetapi di balik semua itu, ada energi dan ketulusan yang sangat sulit ditemukan di melodic metal modern. Karena " Stormchoirs " tidak terdengar seperti produk algoritma. Ia terdengar seperti mimpi sekelompok metalhead Swedia yang percaya bahwa melodi besar, riff cepat, dan vokal kasar masih bisa menciptakan sesuatu yang magis. Dan untuk sesaat, mereka benar-benar berhasil melakukannya.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine