Embracing - Dreams Left Behind CD 1997

Embracing - Dreams Left Behind
Invasion Records CD 1997

01. Drown Inside the Illusion 03:34      
02. Morningdew 04:05       
03. Stolen Memories 03:48      
04. Only Greedy Gods 03:47      
05. Killers Nature 03:44     
06. Long Time No Seen 03:13       
07. For the Angels and for Me 03:53       
08. The Good Old Days 04:25       
09. Name It Tomorrow 05:27      
10. Dreams Left Behind 04:20     
11. Lay the Rose upon Her Grave 05:06


Mattias Holmgren - Vocals, Drums, Keyboards 
Ola Andersson - Guitars
André Nylund - Guitars 
Mikael Widlöf - Bass


Ada masa ketika MDM Swedia belum sepenuhnya berubah menjadi industri nostalgia dengan produksi steril, chorus plastik, dan algoritma Spotify yang memuntahkan " For Fans Of In Flames " seperti mesin fotokopi rusak. Di era itu, label-label kecil seperti Invasion Records menjadi rumah bagi band-band yang kadang terdengar luar biasa, kadang setengah matang, namun hampir selalu memiliki sesuatu yang hari ini makin langka: atmosfer dan identitas emosional. Embracing adalah salah satu nama yang hidup dan mati di dalam dunia itu. Dan album kedua mereka, " Dreams Left Behind ", adalah contoh sempurna bagaimana sebuah rilisan bisa terasa begitu indah, begitu frustratif, dan begitu tragis secara bersamaan. Karena di satu sisi, album ini jelas menunjukkan perkembangan dibanding debut mereka. Produksinya sedikit lebih baik, artwork-nya lebih menarik, dan secara umum terasa lebih matang. Bahkan desain visualnya penuh nuansa ungu khas akhir 90-an dengan logo digital tajam ala cyber-fantasy murahan justru punya pesona nostalgia yang hari ini hampir mustahil direplikasi secara tulus. Dan di situlah letak daya tarik rilisan-rilisan Invasion Records era itu. Bahkan album yang tidak sepenuhnya berhasil pun tetap punya aura mimpi aneh yang khas. Ada kualitas fantastis dan melankolis yang membuat musik-musik ini terasa seperti peninggalan dunia lain, dunia sebelum metal menjadi terlalu sadar branding dan terlalu sibuk mengejar engagement media sosial.

Namun nostalgia saja tidak cukup untuk menyelamatkan semua masalah yang ada di " Dreams Left Behind ". Karena meskipun album ini punya atmosfer kuat dan banyak ide menarik, ia juga dipenuhi keputusan produksi dan songwriting yang terasa setengah jadi. Dan itu sangat menyakitkan karena potensi besarnya benar-benar terlihat jelas. Hal pertama yang langsung terasa adalah bagaimana mixing album ini masih jauh tertinggal dibanding banyak rilisan MDM Swedia lain di zamannya. Memang ada peningkatan dibanding debut mereka, instrumen lebih terdengar, volume lebih seimbang, gitar tidak setipis kaleng sarden dipukul sendok seperti sebelumnya tetapi hasil akhirnya tetap terasa aneh. Kadang gitar terdengar terlalu tebal namun kehilangan ketajaman. Kadang vokal kasar terlalu dominan. Kadang clean vocal muncul begitu saja dengan transisi yang kikuk seperti seseorang salah menekan tombol playlist Winamp tahun 1999. Dan sayangnya, clean vocal itu sendiri memang menjadi salah satu masalah terbesar album ini. Bukan karena ide penggunaan clean vocal buruk. Justru sebaliknya, Embracing sebenarnya cukup visioner dalam mencoba memasukkan elemen atmosferik, piano, synthesizer, dan nuansa Gothic ke dalam MDM mereka. Masalahnya adalah eksekusinya belum sepenuhnya matang.

Beberapa clean vocal terdengar terlalu datar dan kurang emosional. Mereka mencoba mencapai wilayah melankolis dramatis, tetapi sering berhenti di level " lumayan ". Akibatnya, momen yang seharusnya emosional justru terasa canggung. Dan ini menyakitkan karena musik di belakangnya sebenarnya sering sangat bagus. Dengar saja " Killers Nature ". Lagu ini punya melodi gitar berliku yang fantastis, penuh rasa melankolis khas Swedia yang dingin dan sendu. Namun lagu itu terasa seperti belum menemukan bentuk final terbaiknya. Seolah Embracing punya semua bahan untuk menciptakan masterpiece kecil, tetapi kehilangan produser atau arahan yang mampu menyatukan semuanya secara utuh. Hal yang sama juga terasa di " Stolen Memories ". Ada banyak ide menarik, banyak atmosfer bagus, tetapi tone gitarnya masih terasa belum sepenuhnya menyatu dengan keseluruhan mix. Tidak buruk, tetapi juga tidak cukup kuat untuk meninggalkan dampak maksimal. Dan sebenarnya, itulah keseluruhan cerita " Dreams Left Behind " : album penuh potensi besar yang terus-menerus hampir berhasil mencapai sesuatu yang luar biasa lalu tersandung beberapa langkah sebelum garis finish. Yang membuat frustrasi adalah fakta bahwa Embracing sebenarnya punya kekuatan utama yang sangat jelas: permainan gitar mereka. Inilah alasan utama orang mendengarkan band ini.

Riff riff Gitar mereka sangat melodius, sangat emosional, dan sering terasa ramah dibanding mayoritas MDM lain kala itu. Bahkan kadang terlalu ramah. Beberapa bagian nyaris menyentuh wilayah soft rock atmosferik ketika mereka mencoba membangun interlude akustik ala " Moonshield " milik " The Jester Race " dari In Flames. Dan jelas sekali mereka sangat terinspirasi oleh era keemasan In Flames tersebut. Namun berbeda dengan banyak clone Gothenburg yang hanya menyalin riff, Embracing setidaknya mencoba menangkap sisi emosional dan dreamy dari MDM Swedia. Mereka lebih tertarik menciptakan suasana dibanding sekadar terdengar agresif. Masalahnya, mereka sering gagal menjaga konsistensi kualitas lagu. Beberapa track punya mood luar biasa tetapi struktur lagunya kurang kuat. Beberapa lagu punya riff bagus namun dirusak clean vocal yang kurang meyakinkan. Beberapa bagian terdengar sangat atmosferik lalu tiba-tiba kehilangan momentum karena mixing yang aneh. Ini seperti melihat pelukis berbakat yang terus dipaksa menggunakan kuas rusak. Dan jujur saja, itu tragis. Karena di balik segala kekurangannya, " Dreams Left Behind " tetap punya sesuatu yang sangat sulit dijelaskan namun mudah dirasakan: ketulusan.

Album ini tidak terasa dibuat demi pasar. Tidak terasa dihitung oleh algoritma. Tidak terdengar seperti produk fokus grup label rekaman terdengar seperti sekelompok musisi muda Swedia yang benar-benar mencoba menuangkan rasa melankolis, nostalgia, dan mimpi mereka ke dalam musik, meskipun kemampuan teknis produksi mereka belum sepenuhnya mampu menerjemahkan visi itu dengan sempurna. Dan mungkin justru itu yang membuat album ini tetap menarik untuk dibahas hari ini. Karena terlalu banyak musik modern terdengar sempurna namun kosong. Sementara " Dreams Left Behind " justru penuh cacat manusiawi: mix yang bermasalah, vokal yang kadang kikuk, struktur lagu yang tidak selalu rapi dan produksi yang terasa kurang maksimal. Tetapi semua kekurangan itu justru membuat album ini terasa hidup. Ada jiwa di dalamnya. Ada rasa nostalgia yang sulit dijelaskan bagi mereka yang tumbuh bersama MDM akhir 90-an, era ketika genre ini belum berubah menjadi template generik untuk festival metal modern. Dan mungkin itulah alasan rilisan seperti ini tetap bertahan di ingatan sebagian pendengar lama. Bukan karena ia sempurna, Bukan karena ia revolusioner. Tetapi karena ia menangkap sebuah momen dalam sejarah MDM ketika banyak band masih berani terdengar rapuh, emosional, dan tidak sepenuhnya selesai. Sebuah masa ketika ketidaksempurnaan masih bisa terasa indah. Dan " Dreams Left Behind ", dengan seluruh kekacauan produksinya, tetap menjadi salah satu artefak paling menarik dari era itu, album yang gagal menjadi mahakarya besar, tetapi terlalu penuh atmosfer dan karakter untuk dilupakan begitu saja.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine