Fall of the Leafe - Evanescent, Everfading CD 1998

Fall of the Leafe - Evanescent, Everfading
Defiled Records CD 1998

01. The Celestial Keeper 04:29       
02. ...and the Heavens Fell 04:35     
03. The Garden by the Shoreless Sea 02:58 
04. Wings of My Desire Untamed 05:03     
05. My Weeping Goddess 04:34     
06. Starfire 04:12     
07. With Each Fall of the Leafe 04:05     
08. Within the Everfrozen Winternight 05:54      
09. Evanescent, Everfading 05:04


Jani Lindström - Vocals 
Kaj Gustafsson - Guitars 
Jussi Hänninen - Guitars
Juha Kouhi - Bass
Marko Hyytiä - Drums


Di antara ledakan MDM Finlandia pada dekade 90-an, ada banyak band yang lahir dengan janji besar lalu perlahan tenggelam dalam transformasi menuju Gothic metal atmosferik yang lebih lembut, lebih aman, dan lebih mudah dijual. Fenomena ini nyaris menjadi ritual wajib di skena Finlandia: mulai dari riff dingin penuh kabut hutan utara, lalu beberapa tahun kemudian berubah menjadi musik murung untuk soundtrack hujan dan patah hati berkepanjangan. Fall of the Leafe adalah salah satu korban sekaligus bukti dari fenomena itu. Namun sebelum mereka berubah arah, mereka sempat menciptakan sesuatu yang nyaris tidak tersentuh oleh band lain di genre ini: " Evanescent, Everfading " sebuah album MDM Finlandia yang bukan sekadar bagus, tetapi benar-benar memiliki jiwa, identitas, dan atmosfer yang terasa seperti dunia hidup tersendiri. Dan itulah yang membedakannya dari ratusan clone Gothenburg pada masa itu. Karena saat sebagian besar band MDM sibuk berlomba membuat riff paling catchy atau solo paling cepat, Fall of the Leafe justru membangun lanskap emosional. Musik mereka tidak terasa seperti kumpulan lagu, melainkan seperti perjalanan melalui hutan mistis yang perlahan berubah bentuk di depan mata pendengar. Sejak lagu pertama dimulai, album ini langsung menunjukkan kelasnya. Twin guitar yang dimainkan di sini nyaris tidak pernah diam. Melodi terus bergerak, berubah, saling bertabrakan, lalu menyatu kembali dengan cara yang terasa organik dan nyaris puitis. Kadang kedua gitar bergerak harmonis, lalu tiba-tiba pecah menjadi counterpoint gelap yang membawa nuansa berbeda hanya dalam hitungan detik. Dan luar biasanya, semua transisi itu terasa alami. 

Tidak ada kesan teknikal demi pamer. Tidak ada shred kosong ala musisi yang terlalu sibuk membuktikan dirinya jago. Semua permainan gitar di album ini melayani atmosfer dan emosi lagu. Di sinilah kejeniusan Jussi Hänninen (Autumnfall, The Bleak Picture, ex-Unhola, Wait, Stone & Sure) benar-benar terasa. Ia memahami sesuatu yang gagal dipahami banyak band MDM : melodi bukan sekadar alat untuk terdengar indah. Melodi adalah narasi. Setiap riff di " Evanescent, Everfading " terasa seperti bagian dari cerita yang lebih besar. Tidak stagnan. Tidak repetitif. Tidak malas. Musiknya terus berkembang seperti arus sungai yang mengalir melalui lanskap penuh kabut dan reruntuhan kuno. Jika banyak melodeath Swedia terdengar seperti kota industri dingin penuh baja dan api, maka Fall of the Leafe terdengar seperti alam Finlandia yang mistis, sunyi, dan nyaris spiritual. Dan itu diperkuat oleh pendekatan riff mereka yang sangat unik. Ada pengaruh jelas dari Iron Maiden dalam cara riff dibangun, tetapi tanpa galloping khas NWOBHM yang hiperaktif. Sebaliknya, Fall of the Leafe memilih pendekatan mid-tempo yang mantap dan berat, seperti seseorang berjalan perlahan melewati hutan purba sambil membawa beban eksistensial di pundaknya. Ritme drum yang stabil menjadi fondasi penting di sini. Drum tidak mencoba mencuri perhatian lewat teknik berlebihan. Bahkan mix-nya relatif rendah. Tetapi justru itu yang membuat album ini bekerja sangat baik. Drum dan bass menjadi jangkar yang menjaga musik tetap membumi sementara gitar bebas menjelajahi wilayah melodik yang nyaris tak terduga. Dan keseimbangan antara struktur serta chaos inilah yang membuat album ini begitu spesial.

Karena sebenarnya musik di sini cukup kompleks. Banyak perubahan tema, perubahan mood, dan perkembangan melodi yang terus bergerak. Tetapi semuanya tetap terasa koheren. Pendengar tidak pernah benar-benar tersesat karena selalu ada fondasi ritmis yang menjaga arah perjalanan. Inilah sesuatu yang sangat jarang ditemukan di MDM : kompleksitas yang terasa alami. Band-band lain sering terdengar seperti sedang menyusun puzzle matematis. Fall of the Leafe terdengar seperti sedang bercerita. Dan cerita itu menjadi semakin kuat berkat vokal Almarhum Jani Lindström (ex-Äkkikuolema, ex-Catherine La Voisin, ex-Ilmarinen, ex-Kirkkopalovaroitus, ex-Kyrpä, ex-Olog-Hai, ex-Septentrion, ex-Aelfwine Starfare, ex-Also the Orchards Wane, ex-aNaaliKulema, ex-Antikristus, ex-Broken Man, ex-Buccaneer, ex-Corpse Mutilator, ex-Cykranosh, ex-Cytherean Eclipse, ex-d'Evil, ex-Ecstacy of Pain, ex-Elder Woods, ex-Franz Josef Land, ex-Ganzer, ex-Massacratory, ex-Mekagojira Kingu Gidora, ex-Musteri Vitundarleysis, ex-Natassja, ex-ns.bm, ex-Rotted Fetus, ex-Skai, ex-Slave of Satan, ex-Svunnet Lyset, ex-The Doomshower, ex-Yrohtab), Pengalamannya memang tidak diragukan lagi pokoknya, RIP Jani. Vokal di album ini bukan tipe growl agresif khas Gothenburg yang terus-menerus menjerit marah seperti pekerja pabrik baja kehilangan akal sehat. Sebaliknya, Lindström memperlakukan vokalnya seperti instrumen naratif. Kadang ia menggunakan scream bernuansa black metal. Kadang berbisik. Kadang berbicara seperti pendongeng tua di depan api unggun. Perubahan gaya vokal itu mengikuti perubahan emosi lagu dengan sangat detail.

Dan jujur saja, ini level kedalaman artistik yang bahkan banyak album melodeath terkenal gagal capai. Liriknya sendiri benar-benar luar biasa. Tidak sekadar puisi gelap generik tentang kematian dan penderitaan seperti terlalu banyak band metal lain yang mengira penggunaan kata " Eternal " dan " Sorrow " otomatis membuat mereka filosofis. Lirik " Evanescent, Everfading " benar-benar memiliki rasa sastra dan imajinasi. Ada gambaran tentang bintang, alam, dewa, kematian, keterasingan manusia, dan pencarian makna eksistensi. Semua dibungkus dalam bahasa yang melankolis namun penuh keagungan. Dan yang paling penting: album ini tidak terdengar depresi demi estetika. Banyak musik atmosferik gagal karena terlalu sibuk menjadi sedih. Fall of the Leafe justru menghadirkan rasa kagum dan eksplorasi. Bahkan dalam kesuramannya, album ini terasa hidup. Ada rasa petualangan. Ada rasa misteri. Itulah mengapa album ini terasa begitu adiktif untuk didengarkan utuh. Sulit menghentikannya di tengah jalan karena seluruh album mengalir seperti satu komposisi besar dengan berbagai babak emosional di dalamnya. Awal dan akhir lagu sering terasa kabur karena semuanya terhubung secara atmosferik. Dan itu bukan kelemahan. Itu justru kekuatan besar album ini.

Band-band seperti Amorphis atau Insomnium memang punya beberapa kesamaan pendekatan melodik, tetapi Fall of the Leafe membawa rasa mistisisme yang jauh lebih pekat dan personal. Sayangnya, seperti terlalu banyak band Finlandia hebat lainnya, mereka tidak pernah benar-benar mempertahankan momentum itu. Perubahan gaya drastis setelah album ini, ditambah kehilangan sang vokalis, membuat identitas unik mereka perlahan menghilang. Materi-materi berikutnya memang tidak buruk, tetapi tidak pernah lagi mencapai perpaduan magis antara atmosfer, melodi, dan narasi emosional seperti di " Evanescent, Everfading ". Dan di situlah tragedinya. Karena album ini sebenarnya adalah salah satu permata tersembunyi paling penting dalam sejarah MDM Finlandia. Bukan album yang paling brutal, Bukan yang paling teknikal dan Bukan yang paling terkenal. Tetapi mungkin salah satu yang paling memiliki jiwa. Ia menangkap sesuatu yang sulit dijelaskan namun sangat terasa: perpaduan antara keindahan alam utara, kesedihan manusia, dan rasa kagum terhadap sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Dan semakin banyak waktu berlalu, semakin jelas bahwa album seperti ini semakin langka. Karena dunia metal modern terlalu sibuk mengejar produksi steril, algoritma streaming, dan identitas visual media sosial sampai lupa bagaimana menciptakan atmosfer yang benar-benar hidup. " Evanescent, Everfading " tidak membutuhkan gimmick seperti itu. Album ini berdiri sendiri seperti monumen batu tua di tengah hutan Finlandia: sunyi, megah, misterius, dan tetap bertahan bahkan ketika banyak band yang lebih populer perlahan dilupakan sejarah.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine