In Thy Dreams - The Gate Of Pleasure CD 1999

In Thy Dreams - The Gate Of Pleasure
War Music CD 1999

01. Into Infinity 03:33       
02. A Man of Dreams 03:37       
03. Deadly Desires 03:41     
04. Master of Lies 02:28     
05. Blinded 02:56 
06. Probing Insanity 04:58 
07. Indoctrinated Lies 03:00 
08. Fleeing Illusion 03:32 
09. Forgiven Sins 03:57


Jonas Nyrén - Vocals
Jari Kuusisto - Guitars
HÃ¥kan Stuvemark - Guitars
Fredrik Ericsson - Bass
Stefan Westerberg - Drums


Di penghujung 90-an, MDM Swedia mulai memasuki titik jenuh yang aneh. Formula sounding Gothenburg sudah menyebar ke mana-mana seperti virus yang terlalu sukses: tremolo riff melankolis, dual guitar harmonies, growl histeris ala Tomas Lindberg, dan produksi dingin khas Skandinavia menjadi semacam cetakan massal untuk ratusan band baru yang berharap bisa ikut mencicipi kejayaan scene. Masalahnya, ketika semua orang mulai terdengar mirip, satu-satunya cara untuk bertahan hanyalah memilih jalur ekstrem: menjadi lebih brutal atau menjadi lebih melodis. In Thy Dreams, lewat debut penuh mereka " The Gate of Pleasure ", jelas memilih jalur pertama. Dan itu keputusan yang cukup cerdas. Karena dibanding pendahulunya yang masih terasa terlalu aman dan setengah matang, " The Gate of Pleasure " datang seperti tamparan keras ke wajah masa lalu mereka sendiri. Album ini lebih ganas, lebih padat, lebih marah, dan jauh lebih fokus pada agresi dibanding sekadar mengejar keindahan melodik yang saat itu mulai diperdagangkan seperti barang supermarket oleh terlalu banyak band melodeath generik. Jangan salah: melodinya tetap ada. Sangat ada, malah. Namun berbeda dengan banyak clone In Flames yang terlalu sibuk terdengar indah sampai lupa caranya terdengar berbahaya, In Thy Dreams justru mempertahankan aura death metal yang benar-benar menggigit. Ini bukan MDM untuk soundtrack naik motor malam sambil galau melihat lampu kota. Ini lebih seperti soundtrack seseorang menghancurkan furnitur apartemen kecilnya sendiri setelah tiga malam penuh alkohol dan paranoia.

Pengaruh At the Gates sangat jelas dan nyaris mustahil disembunyikan. Bahkan beberapa pola riff dan pendekatan vokalnya terasa seperti surat cinta penuh kemarahan kepada " Slaughter of the Soul ". Namun di balik pengaruh besar itu, In Thy Dreams tetap punya beberapa identitas menarik yang membuat mereka tidak sepenuhnya tenggelam menjadi sekadar tiruan murah. Yang paling terasa adalah bagaimana mereka lebih menekankan intensitas ketimbang hook. Riff-riff di album ini terus bergerak dengan energi hampir Claustrophobic. Palm-muted chugging berpadu dengan tremolo picking cepat yang dingin dan getir. Drum menghajar tanpa banyak ruang bernapas, penuh blast beat dan tempo agresif yang lebih dekat ke old-school Swedish death metal dibanding MDM yang mulai dipoles secara komersial kala itu. Dan itu membuat album ini terasa lebih " marah " dibanding banyak band seangkatan mereka seperti Gates of Ishtar atau Divine Souls. Namun di sinilah muncul paradoks utama album ini. semua kekuatan itu justru menjadi kelemahan terbesarnya. Karena " The Gate of Pleasure " terlalu konsisten untuk kebaikannya sendiri. Selama 32 menit, album ini terus menghantam dengan formula yang hampir seragam: riff cepat, growl marah, melodi dingin, blast beat, lalu kembali lagi ke pola yang sama. Hasilnya memang intens, tetapi juga membuat banyak lagu melebur menjadi satu massa sound besar yang sulit dibedakan satu sama lain. Ini bukan masalah kemampuan teknis. Sama sekali bukan.

Justru secara teknis, In Thy Dreams sangat kompeten. Permainan gitar mereka solid dan penuh energi. Duet lead guitar-nya tajam dan cukup variatif. Drumnya agresif dan presisi. Produksi album juga sangat baik, bersih namun tetap punya karakter kasar khas Swedish death metal akhir 90-an. Masalahnya ada pada songwriting. Karena teknik sehebat apa pun tetap tidak bisa menyelamatkan lagu yang kurang punya identitas kuat. Dan sayangnya, di sinilah album ini sedikit gagal meninggalkan jejak mendalam. Tidak banyak lagu yang benar-benar menonjol secara individual. Tidak ada refrain yang langsung menempel permanen di kepala. Tidak ada momen " holy shit " yang membuat pendengar tiba-tiba berhenti dan sadar bahwa mereka sedang mendengar sesuatu yang luar biasa. Album ini lebih terasa seperti satu serangan panjang tanpa jeda dibanding kumpulan lagu dengan karakter unik masing-masing. Ironisnya, ketika mereka sedikit keluar dari formula, hasilnya justru sangat menarik. " Into Infinity " dan " Probing Insanity " misalnya, menggunakan violin guest yang memberikan kontras atmosferik luar biasa terhadap kebrutalan musiknya. Sentuhan violin ini membawa nuansa klasik dan nyaris folk yang sebenarnya bisa menjadi identitas unik band ini jika dikembangkan lebih jauh. Sayangnya, elemen itu hanya muncul sesekali seperti tamu undangan yang terlalu cepat pulang dari pesta. Dan itu benar-benar terasa seperti peluang yang disia-siakan.

Bayangkan jika violin tersebut digunakan lebih konsisten sepanjang album. In Thy Dreams mungkin bisa memiliki karakter atmosferik yang membedakan mereka dari lautan band Gothenburg clone saat itu. Sebaliknya, mereka memilih kembali tenggelam dalam badai riff agresif yang, meskipun solid, akhirnya terasa terlalu homogen. Vokal Jonas Nyrén (ex-Anaemia, ex-Armageddon) sendiri juga berada di wilayah aman. Growl dan scream-nya sangat jelas terinspirasi Tomas Lindberg: kasar, serak, penuh kemarahan, tetapi tidak terlalu brutal. Ia cukup efektif menjaga energi album tetap berbahaya, meski tidak benar-benar menawarkan sesuatu yang baru. Dan sebenarnya itu menggambarkan keseluruhan album dengan sempurna: efektif, kompeten, intens tetapi kurang memiliki identitas personal yang benar-benar kuat. Jika dibandingkan dengan band-band lain yang muncul di periode sama seperti Darkane atau Soilwork, kelemahan itu makin terasa jelas. Band-band tersebut datang dengan songwriting lebih tajam, hook lebih memorable, dan karakter lebih kuat. Bahkan kelompok second-tier seperti Sins of Omission kadang mampu menghasilkan materi yang lebih mudah diingat.

Dan di dunia MDM akhir 90-an, kemampuan membuat lagu memorable adalah segalanya. Karena scene saat itu sudah terlalu penuh oleh band-band yang cukup bagus. " The Gate of Pleasure " sendiri sebenarnya tetap layak diapresiasi sebagai salah satu rilisan mid-tier yang solid dari era keemasan melodeath Swedia. Album ini punya energi besar, produksi bagus, permainan instrumen meyakinkan, dan atmosfer agresif yang cukup efektif mempertahankan perhatian pendengar selama durasinya yang relatif singkat. Namun, " Cukup efektif " tidak selalu cukup untuk menjadi abadi. Dan mungkin itu kenyataan paling brutal dari seluruh scene Gothenburg era akhir 90-an: banyak band berbakat tenggelam bukan karena mereka buruk, tetapi karena standar kompetisinya terlalu tinggi. Ketika genre dipenuhi raksasa seperti Dark Tranquillity, In Flames, dan At The Gates, sekadar memiliki teknik bagus dan produksi kuat tidak lagi cukup. Sebuah band harus punya identitas. Harus punya momen yang benar-benar tak terlupakan. In Thy Dreams nyaris sampai ke sana. Tetapi pada akhirnya, " The Gate of Pleasure " tetap lebih terasa sebagai album yang sangat marah dibanding album yang benar-benar penting. Sebuah ledakan agresi Swedish MDM yang menyenangkan untuk penggemar garis keras genre ini, namun kurang memiliki keberanian untuk benar-benar keluar dari bayang-bayang para pendahulunya. Tetap brutal. Tetap intens. Tetap layak didengar. Tetapi juga menjadi pengingat pahit bahwa dalam dunia MDM, teknik dan kemarahan saja tidak pernah cukup tanpa jiwa dan identitas yang benar-benar milik sendiri.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine