Satariel - Lady Lust Lilith CD 1998

Satariel - Lady Lust Lilith
Pulverised Records CD 1998

01. Devil's Dozen (XIII) 04:44     
02. The Well of the Artist 06:49      
03. 4 Moons till Rising 04:27     
04. The Spawn of the Shadows 04:27       
05. Lady Lust Lilith 05:51       
06. The Great Necropolis / Baphomet Erected 05:48     
07. Behind What's I 05:03     
08. They're Sheep to Be Slain 03:55     
09. A Vision of an Ending 05:29      
10. Greeting Immortality (Eucharist cover) 04:01


Pär Johansson - Vocals
Magnus Alakangas - Guitars
Mikael Granqvist - Guitars
Mikael Degerman - Bass
Robert Sundelin - Drums


Ada album-album yang terdengar seperti hasil visi matang dan terkontrol. Lalu ada album seperti " Lady Lust Lilith " milik Satariel, sebuah ledakan ide liar, ambisi berlebihan, ego musikal, dan hiperaktivitas komposisi yang terdengar seperti seluruh isi kepala sekelompok musisi Swedia tahun 1998 ditumpahkan sekaligus ke dalam studio tanpa rem pengaman sedikit pun. Dan jujur saja, itu justru membuat album ini menarik. Sebelum satu nada pun dimainkan, artwork-nya sudah memberi sinyal membingungkan. Cover artwork bergaya biomekanik ala H. R. Giger, judul sensual penuh aroma Gothic Erotica murahan, dan tahun rilis 1998 membuat banyak orang mungkin mengira ini bakal menjadi semacam Proto-Symphonic Gothic metal atau bahkan embrio " corsettecore ", genre yang kala itu mulai tumbuh bersama ledakan European power metal dan estetika vampir Pseudo-romantis yang nantinya diperah habis oleh industri metal awal 2000-an. Namun ternyata tidak. " Lady Lust Lilith " justru muncul sebagai monster hybrid yang sulit diam. Sebuah album melodic black/death metal yang seperti mengidap ADHD musikal kronis. Dalam satu lagu saja, Satariel bisa melompat dari tremolo blast beat hyperspeed menuju bagian adagio melankolis dengan clean vocal teatrikal, lalu tiba-tiba masuk solo gitar melodik, keyboard atmosferik, hingga chorus yang nyaris terdengar seperti soundtrack perang fantasi gelap.

Track pembuka " Devil’s Dozen (XIII) " bahkan langsung memamerkan seluruh kekacauan itu tanpa basa-basi. Lagu ini seperti manifesto musikal bahwa Satariel tidak tertarik membuat album yang sederhana atau mudah dicerna. Mereka ingin semuanya masuk sekaligus: Agresi black metal, MDM Gothenburg, atmosfer simfonik, groove death metal, bahkan sentuhan teatrikal yang kadang nyaris berlebihan. Hasilnya? Ambisius. Mengesankan. Tapi juga melelahkan setengah mati. Dan di situlah dilema terbesar album ini. Secara teknis, para personel Satariel jelas bukan pemain amatiran. Permainan gitar mereka sangat cair dan tajam, drumnya agresif namun presisi, dan struktur lagunya menunjukkan kemampuan komposisi di atas rata-rata untuk standar melodic death/black metal era akhir 90-an. Mereka mampu memainkan hampir semua perangkat ekstrem metal yang tersedia saat itu. Masalahnya, mereka terlalu sering merasa harus menggunakan semuanya sekaligus. Album ini seperti buffet ekstrem metal tanpa filter: blast beat? Ada. Tremolo riff? Ada. Keyboard atmosferik? Ada. Clean vocal? Ada. Death growl motormouth ala hardcore-thrash? Ada. Solo melodik Gothenburg? Tentu saja ada. Bahkan beberapa bagian terdengar seperti campuran liar antara Dissection, Dark Tranquillity, dan Borknagar yang dipaksa berbagi tubuh yang sama. Masalahnya, ketika semua elemen terus bertabrakan tanpa ruang bernapas, album mulai terasa seperti maraton hiperaktif yang menguras energi pendengar lebih cepat daripada memberi kenikmatan.

Dengan durasi mendekati satu jam dan banyak lagu melewati lima menit, " Lady Lust Lilith " perlahan berubah dari pengalaman menarik menjadi ujian stamina. Ada titik di mana otak mulai lelah memproses begitu banyak perubahan dinamika dan tekstur musik yang datang tanpa jeda. Ini bukan album yang bisa diputar sambil santai minum kopi. Ini album yang terasa seperti dihajar enam ide berbeda setiap tiga puluh detik. Namun justru kekacauan itu pula yang membuatnya unik. Karena mari bicara jujur: sebagian besar MDM akhir 90-an sebenarnya mulai terjebak formula. Banyak band Gothenburg kala itu sudah mulai mengulang pola riff yang sama, produksi yang sama, bahkan struktur lagu yang sama. Satariel setidaknya punya keberanian untuk terdengar berlebihan dan tidak stabil. Dan dalam dunia metal yang semakin aman dan terprediksi, keberanian seperti itu layak dihargai. Produksi album yang dikerjakan di Sunlight Studio juga membawa identitas khas Swedish extreme metal yang langsung recognizable. Gitar dengan tone " Chainsaw " yang hangat namun agresif tetap terdengar menggoda, meski album ini jelas bukan rilisan terbaik dari studio legendaris tersebut. Tetap saja, bahkan ketika materinya terasa terlalu padat, kualitas produksi menjaga semuanya tetap hidup dan tidak berubah menjadi lumpur suara tak berbentuk. Salah satu kelemahan paling jelas justru datang dari vokal clean mereka. Dan ini memang penyakit umum banyak band ekstrem metal era itu: obsesi memasukkan clean vocal dramatis tanpa benar-benar memiliki penyanyi yang mampu membawakannya secara kuat. Ketika bagian clean muncul di sini, nuansanya sering terdengar datar dan terlalu teatrikal, seperti aktor opera amatir yang dipaksa bernyanyi di tengah badai blast beat. Untungnya bagian ini tidak terlalu dominan, sehingga tidak sepenuhnya merusak momentum album. Vokal ekstremnya sendiri lebih solid. Kombinasi growl dan half-scream yang mereka gunakan cukup efektif membangun agresi, meskipun sesekali terdengar terlalu dipaksakan. Ada momen di mana vokalis terdengar benar-benar kehabisan tenaga, terutama saat menggunakan gaya motormouth khas death/thrash yang pada akhir 90-an sebenarnya sudah mulai terasa klise. Pengaruh hardcore punk dan Gothenburg sangat terasa di sini, cepat, raw, dan penuh luapan kata yang hampir kehilangan artikulasi. Namun lagi-lagi, kekurangan itu justru memberi karakter manusiawi. Karena album ini tidak terdengar steril. Tidak terdengar terlalu aman. Tidak terdengar seperti produk industri yang dihitung algoritma. Dan itu penting.

Salah satu elemen menarik lainnya adalah bagaimana Satariel sesekali memasukkan nuansa atmosferik subtil yang mengingatkan pada " The Olden Domain " milik The Olden Domain. Keyboard dan melodi minor yang muncul di beberapa bagian memberi kedalaman emosional yang cukup efektif di tengah agresi album yang nyaris tanpa henti. Lalu ada keputusan menarik untuk meng-cover ulang " Greeting Immortality " milik Eucharist, sebuah pilihan yang sebenarnya cukup logis mengingat akar MDM mereka sangat kuat. Cover tersebut berhasil dimainkan dengan hormat tanpa kehilangan identitas agresif Satariel sendiri. Namun pada akhirnya, semua kembali pada satu pertanyaan sederhana: apakah " Lady Lust Lilith " benar-benar album penting? Jawabannya sih: ya dan tidak. Tidak, karena album ini tidak benar-benar menciptakan sesuatu yang revolusioner. Mereka tidak menemukan formula baru. Mereka tidak mengubah arah melodic black/death metal. Banyak elemen di sini sudah pernah dilakukan band lain sebelumnya. Tetapi juga ya, karena album ini adalah potret sempurna dari era ketika extreme metal masih cukup liar untuk mencoba terlalu banyak hal sekaligus tanpa takut dianggap tidak fokus. Sebuah masa ketika band-band Swedia belum sepenuhnya tunduk pada formula pasar dan masih berani terdengar berlebihan, ambisius, bahkan kacau. Dan dibanding banyak album modern yang terdengar seperti hasil copy-paste preset studio digital, kekacauan penuh gairah seperti ini terasa jauh lebih hidup. " Lady Lust Lilith " mungkin bukan mahakarya abadi. Namun ia adalah monumen kecil bagi era ketika melodic black/death metal masih dipenuhi eksperimen nekat, ego musikal yang tidak terkendali, dan keberanian untuk terdengar terlalu penuh daripada terlalu aman. Kadang melelahkan. Kadang berlebihan. Kadang nyaris tenggelam dalam ambisinya sendiri. Tetapi setidaknya album ini punya sesuatu yang makin langka di dunia metal modern: identitas yang benar-benar bernapas.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine