Children Of Bodom - Hatebreeder CD 1999

Children Of Bodom - Hatebreeder
Toy's Factory CD 1999

01. Warheart 04:07     
02. Silent Night, Bodom Night 03:12     
03. Hatebreeder 04:21     
04. Bed of Razors 03:56      
05. Towards Dead End 04:54       
06. Black Widow 03:58      
07. Wrath Within 03:54       
08. Children of Bodom 05:14       
09. Downfall 04:34     
10. No Commands (Stone cover) 04:47


Alexi Wildchild Laiho - Vocals, Guitars
Alexander Kuoppala - Guitars 
Henkka T. Blacksmith - Bass
Janne Warman Pimeys - Keyboards
Jaska Raatikainen - Drums


Mudah sekali hari ini untuk meremehkan betapa besar pengaruh Children of Bodom terhadap dunia metal modern. Terlalu mudah, bahkan. Terutama karena sekarang kita hidup di era di mana setiap band MDM dengan keyboard berlebihan, gitar shred Neoklasikal, dan vokal setengah marah-setengah mabuk otomatis dianggap terinspirasi Bodom, entah mereka sadar atau tidak. Ironisnya, semakin besar pengaruh sebuah band, semakin sering mereka dianggap biasa saja oleh generasi berikutnya. Seolah-olah dunia lupa bahwa sebelum ada lautan clone modern dengan preset gitar digital dan hoodie hitam oversize, dulu ada Alexi Laiho dan kawan-kawan yang benar-benar mengacak batas antara MDM dan power metal dengan cara yang terasa liar, arogan, dan sepenuhnya hidup. Dan dari seluruh katalog mereka, Hatebreeder adalah titik di mana semua kekacauan itu akhirnya menemukan bentuk sempurna. Mungkin banyak orang mungkin akan menunjuk " Follow the Reaper " sebagai mahakarya utama Bodom karena melodinya lebih matang dan lebih mudah dicerna. Pendapat yang sah, tentu saja. Tapi jika berbicara soal momen ketika Children of Bodom benar-benar menemukan identitas definitif mereka, kombinasi ideal antara agresi, melodi, teknik, dan kegilaan komposisi, maka jawabannya hampir selalu kembali ke " Hatebreeder ". Album ini adalah ledakan energi Finlandia yang begitu spesifik hingga nyaris mustahil disalahartikan sebagai produk Gothenburg biasa. Dan itu penting untuk dipahami.

Karena selama bertahun-tahun terlalu banyak orang malas mengelompokkan Children of Bodom hanya sebagai MDM Swedia versi Finlandia. Padahal jika didengar dengan telinga yang benar-benar terbuka, bukan telinga elitist genre yang sibuk menjaga pagar komunitas, " Hatebreeder " jauh lebih dekat dengan jiwa musik Finlandia: dingin, melodramatis, liar, dan penuh romantisme destruktif. Ada jejak Sentenced era Amok. Ada duel keyboard-gitar neoklasikal ala Stratovarius. Ada atmosfer melankolis samar milik Amorphis. Namun semua elemen itu dilempar ke dalam mesin penghancur berkecepatan tinggi bernama Alexi Laiho, lalu dimuntahkan kembali sebagai sesuatu yang terdengar brutal sekaligus flamboyan. Dan ya, flamboyan adalah kata yang tepat. Karena tidak ada yang " berkelas " dari Children of Bodom dalam pengertian tradisional. Vokal Alexi Laiho terdengar seperti perpaduan antara preman mabuk dan banshee yang kehilangan kesabaran. Liriknya sering absurd, kasar, bahkan kadang terdengar seperti tulisan remaja yang terlalu lama hidup dari alkohol dan film horor VHS murahan. Namun justru itulah daya tarik mereka. Children of Bodom tidak pernah mencoba menjadi elegan seperti power metal Eropa kebanyakan, dan mereka juga tidak pernah cukup " Trve " untuk diterima penuh oleh kaum puritan death atau black metal. Mereka hidup di wilayah demiliterisasi musikal, area abu-abu antara ekstrem dan melodik dan mereka menguasainya lebih baik dibanding siapa pun.

Yang membuat " Hatebreeder " begitu luar biasa adalah fakta bahwa album ini terdengar sangat padat namun tidak pernah benar-benar runtuh oleh bebannya sendiri. Hampir tidak ada momen santai di sini. Tempo cepat mendominasi hampir seluruh durasi album. Gitar dan keyboard terus bertarung dalam duel melodi yang nyaris konstan. Drum menghajar tanpa ampun. Vokal Laiho meraung seperti manusia yang menolak tidur selama tiga hari. Namun anehnya, semuanya tetap terasa terorganisir. Ini bukan kekacauan acak. Ini kekacauan yang dirancang dengan presisi psikopat. Track seperti " Warheart " langsung memperlihatkan bagaimana Bodom memahami dinamika lebih baik dibanding mayoritas band sejenis mereka. Intro bass yang tebal dan nyaris berlebihan memberi fondasi berat sebelum seluruh instrumen masuk seperti badai salju bersenjata pisau cukur. Produksinya tajam, namun tidak steril. Setiap instrumen punya ruang bernapas sendiri tanpa kehilangan intensitas keseluruhan. Dan soal lead gitar? Astaga. Lead di album ini benar-benar juicy dalam arti terbaik. Neoklasikal, melodis, penuh sweep picking, tapping, harmonisasi, dan duel keyboard-gitar yang bahkan hari ini masih terdengar memabukkan. Banyak gitaris muda generasi akhir 90-an dan awal 2000-an belajar memainkan gitar karena album ini. Dan sebagian besar akhirnya gagal meniru karisma Alexi Laiho karena satu alasan sederhana: teknik bisa dipelajari, tetapi attitude tidak. Alexi bermain seperti seseorang yang tahu dirinya hebat dan sama sekali tidak peduli jika itu terdengar arogan. " Silent Night, Bodom Night " menjadi salah satu contoh terbaik bagaimana Children of Bodom mampu menciptakan kesempurnaan melodik tanpa berubah menjadi band power metal generik. Secara struktur, lagu ini sebenarnya punya karakteristik yang bisa saja dimainkan oleh band seperti Sonata Arctica atau Stratovarius. Namun ketika dimainkan oleh Bodom, lagu itu mendapat lapisan agresi dan kenakalan yang tidak dimiliki band-band tersebut.

Setiap melodi di lagu itu terasa abadi. Setiap duel gitar-keyboard terdengar seperti dua orang jenius yang sedang adu ego dengan senyum sadis. Dan tidak heran jika lagu ini menjadi anthem live selama puluhan tahun. Namun " Hatebreeder " bukan hanya soal hits besar. Bahkan lagu-lagu yang sering dianggap filler tetap punya identitas kuat. " Wrath Within " misalnya, membawa aroma thrash metal old-school yang jarang muncul lagi dalam katalog Children of Bodom berikutnya. " Bed of Razors " bahkan punya nuansa semi-pirate metal yang aneh namun sangat efektif, melodinya terdengar seperti pesta mabuk di kapal perang yang sedang menuju kiamat. Lalu ada " Towards Dead End ", lagu yang secara tidak langsung bertanggung jawab atas ribuan gitaris muda yang menghabiskan masa remaja mereka mencoba meniru lick sweep-picking ikoniknya sambil mengutuk jari mereka sendiri. Tetapi dua puncak absolut album ini tetaplah title track " Hatebreeder " dan lagu self-titled " Children of Bodom ". " Hatebreeder " mungkin adalah lagu paling brutal sekaligus paling kompleks yang pernah ditulis Alexi Laiho. Lagu ini seperti ensiklopedia seluruh kekuatan Children of Bodom dalam satu paket: riff hiperaktif, keyboard teatrikal, perubahan dinamika tajam, agresi tanpa rem, dan duel gitar-keyboard legendaris di bagian akhir yang sampai hari ini masih terdengar tidak manusiawi. Sementara " Children of Bodom " sendiri adalah monster musikal yang sedikit lebih terkendali namun sama rumitnya. Permainan keyboard Janne Wirman di sini benar-benar gila, flamboyan, teknikal, namun tetap melodis. Fakta bahwa lagu ini tidak menjadi anthem live sebesar seharusnya adalah salah satu misteri kecil dunia metal. Yang paling mengesankan dari Hatebreeder sebenarnya bukan sekadar teknik atau kecepatan. Banyak band bisa bermain cepat. Banyak gitaris bisa shred. Banyak keyboardist bisa bermain neoklasikal. Tetapi sangat sedikit band yang mampu membuat setiap lagu terdengar benar-benar berbeda tanpa kehilangan identitas inti mereka.

Dan di sinilah Alexi Laiho pantas mendapat penghormatan yang lebih besar daripada yang sering diberikan dunia metal kepadanya. Karena Children of Bodom bukan hanya band teknikal. Mereka adalah master songwriting. Setiap lagu di album ini punya karakter unik. Putar lima detik acak dari lagu mana pun, dan penggemar sejati hampir pasti langsung tahu lagu apa yang sedang dimainkan. Itu bukan sekadar soal sound. Itu soal kemampuan menanam identitas musikal yang kuat dalam setiap komposisi. Dan lebih dari 25 tahun kemudian, " Hatebreeder " masih terdengar segar. Bukan karena produksinya modern. Bukan karena tren nostalgia. Tetapi karena album ini dibuat dengan visi yang terlalu kuat untuk menua. Ia lahir di masa ketika melodic metal masih berani terdengar berlebihan, virtuosik, melodramatis, dan liar sekaligus. Sebelum semuanya dipadatkan menjadi formula Spotify-friendly dengan chorus aman dan produksi steril seperti iklan energi minuman kaleng. " Hatebreeder " adalah pengingat bahwa metal bisa teknikal tanpa kehilangan kebrutalan, melodis tanpa kehilangan taring, dan flamboyan tanpa berubah menjadi parodi. Dan mungkin yang paling menyakitkan dari semua itu adalah kenyataan bahwa arsitek utama kekacauan indah ini sudah tiada. Namun seperti seluruh lead gitar dingin yang memenuhi album ini, nama Alexi Laiho tetap bergema: tajam, liar, arogan, dan mustahil ditiru sepenuhnya.

Sedikit " Fakta " tambahan yang harus kalian tahu tentang materi " Hatebreeder " ini, Intro dari lagu " Warheart " diambil dari " Amadeus " (1984). lagu " Hatebreeder " dan " Black Widow " mengandung bagian-bagian dari karya Wolfgang Amadeus Mozart. Lagu " Bed of Razors " awalnya akan diberi nama " Red Light in My Eyes Pt. 3 ". Intro dari " Towards Dead End " diambil dari " The 4th Kingdom " dari demo terakhir jaman masih menggunakan nama Inearthed, demo " Shining " rilis tahun 1996. Intro keyboard lagu dari " Black Widow " diambil dari Miami Vice. " Children of Bodom " adalah rekaman ulang dari lagu yang sama yang dirilis sebagai split pada tahun 1998. lagu " Downfall " awalnya disebut " Forevermore " dengan lirik yang berbeda dan dimainkan secara live sekitar tahun 1998.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine