Children Of Bodom - Follow the Reaper
Spinefarm Records CD 2000
01. Follow the Reaper 03:46
02. Bodom After Midnight 03:43
03. Children of Decadence 05:34
04. Everytime I Die 04:02
05. Mask of Sanity 03:58
06. Taste of My Scythe 03:58
07. Hate Me! 04:44
08. Northern Comfort 03:47
09. Kissing the Shadows 04:32
Alexi Wildchild Laiho - Vocals, Guitars
Alexander Kuoppala - Guitars
Henkka T. Blacksmith - Bass
Janne Warman Pimeys - Keyboards
Jaska Raatikainen - Drums
Ada banyak album metal yang mencoba terdengar rumit agar terlihat penting. Banyak pula yang menyamar sebagai " gelap ", " progresif ", atau " artistik " hanya untuk menutupi fakta bahwa inti musik mereka sebenarnya kosong seperti pidato motivator LinkedIn. Tetapi " Follow the Reaper " milik Children of Bodom tidak pernah berpura-pura menjadi sesuatu yang lebih intelektual daripada dirinya sendiri. Album ini tidak datang membawa filsafat eksistensial tingkat tinggi. Tidak menawarkan kedalaman emosional ala post-metal yang penuh tatapan kosong ke jendela hujan. Tidak pula mencoba menjadi manifesto avant-garde untuk mahasiswa seni yang terlalu banyak membaca Nietzsche sambil mendengarkan black metal atmosferik. Tidak ! Album ini datang untuk satu tujuan sederhana: menghantam wajah pendengarnya dengan riff, melodi, solo, dan energi liar yang begitu adiktif sampai otak nyaris tidak sempat memproses apa yang sebenarnya terjadi. Dan sialnya, mereka melakukannya dengan sempurna. Jika " Something Wild " adalah ledakan liar penuh potensi dan " Hatebreeder " adalah titik ketika formula Bodom mulai menemukan bentuknya, maka " Follow the Reaper " adalah momen ketika semuanya mencapai sinkronisasi absolut. Ini adalah puncak dari seluruh kekuatan awal Bodom: MDM Finlandia yang dipercepat hingga hampir meledak, dipenuhi duel gitar-keyboard neoklasikal, riff yang lebih tajam dari pecahan botol bir, dan attitude pemberontak yang terasa terlalu arogan untuk peduli apakah dunia menganggap mereka " True metal " atau tidak. Dan mungkin justru itu sebabnya album ini bertahan abadi. Karena Children of Bodom tidak pernah benar-benar cocok di mana pun. Mereka terlalu kasar untuk dunia power metal yang gemar kemewahan fantasy Tolkien dan vokal tenor bersih seperti paduan suara kerajaan elf. Namun mereka juga terlalu melodis, terlalu cerah, terlalu penuh hook untuk diterima penuh oleh kaum death dan black metal puritan yang menganggap kesenangan sebagai dosa budaya.
Bodom hidup di zona perang musikal antara dua kubu itu dan mereka menari di tengah ledakan sambil tertawa mabuk. Yang membuat " Follow the Reaper " begitu mematikan adalah kesederhanaan tujuannya. Album ini tidak mencoba menjadi teknikal demi pamer. Tidak mencoba kompleks demi validasi kritikus. Semua elemen musikal di sini diarahkan untuk satu hal: menciptakan pengalaman paling eksplosif dan menyenangkan yang mungkin bisa lahir dari MDM. Dan hasilnya benar-benar seperti badai listrik. Permainan gitar/vocal dan frontman Almarhum Alexi Laiho di album ini terdengar seperti manusia yang menolak tunduk pada gravitasi. Setiap lead gitar bergerak dengan kecepatan brutal namun tetap penuh melodi. Solo-solonya bukan sekadar demonstrasi teknik masturbatoris ala sekolah shred modern. Mereka punya karakter. Punya emosi. Punya rasa liar yang terasa spontan walau sebenarnya tersusun sangat rapi. Sementara itu, keyboard Janne Wirman bukan hanya tempelan atmosfer murahan seperti banyak band melodeath lain saat itu. Ia adalah senjata utama kedua. Keyboard dan gitar di album ini saling bertarung seperti dua gladiator hiperaktif yang mencoba membunuh satu sama lain dengan arpeggio neoklasikal dan harmoni melodik. Dan hasil duel itu? Salah satu chemistry instrumental terbaik dalam sejarah melodic metal. Dengar saja " Kissing the Shadows ". Bagian akhir lagu itu bukan lagi sekadar solo. Itu adalah peristiwa kosmik. Duel gitar-keyboard legendaris yang sampai hari ini masih terdengar absurd secara musikal. Cepat, melodis, teatrikal, bombastis namun entah bagaimana tetap terasa natural. Banyak band mencoba meniru formula seperti ini setelahnya. Sebagian besar gagal dan hanya terdengar seperti soundtrack video game murahan dengan distorsi gitar. Bodom punya sesuatu yang tidak bisa dipalsukan: karisma musikal !
Track pembuka " Follow the Reaper " sendiri langsung menetapkan nada album. Cepat, agresif, penuh riff yang bergerak seperti badai pisau cukur, namun tetap memiliki hook melodik yang langsung menempel di kepala. Inilah kejeniusan utama Bodom: mereka bisa membuat musik seekstrem ini terdengar sangat catchy tanpa kehilangan intensitas. " Bodom After Midnight " menghadirkan groove liar dengan melodi yang terasa hampir punk dalam energinya. " Mask of Sanity " membawa keyboard eksotis yang nyaris terdengar oriental tanpa berubah menjadi gimmick cringe. " Hate Me! " mungkin adalah salah satu contoh terbaik bagaimana Children of Bodom mampu menulis anthem metal yang sangat melodis namun tetap terdengar penuh ancaman. Lalu ada " Everytime I Die ", lagu yang memperlihatkan sisi lebih atmosferik dan mid-tempo dari Bodom. Dan ironisnya, justru di lagu-lagu seperti inilah mereka sering terdengar paling kuat. Ketika tempo sedikit melambat, atmosfer dingin Finlandia mulai benar-benar terasa. Ada ruang bagi melodi untuk bernapas. Ada aura melankolis yang samar namun efektif. Ini juga menjadi titik awal formula lagu lebih lambat namun epik yang kemudian terus muncul di hampir setiap album Bodom berikutnya. Dan ya, liriknya memang sering bodoh. Sangat bodoh, malah. Tetapi itu tidak penting.
Bahkan ada legenda bahwa Alexi kadang tidak benar-benar menulis lirik secara serius dan hanya mengarang di studio sesuka hati. Dan jujur saja? Siapa peduli. Ketika musik sefantastis ini, vokal lebih berfungsi sebagai instrumen energi ketimbang medium sastra. Tidak ada yang mendengarkan " Follow the Reaper " demi mencari kebijaksanaan hidup setingkat filsafat Yunani. Album ini tentang sensasi hidup saat ini juga. Tentang kebebasan brutal. Tentang energi muda yang tidak peduli masa depan. Tentang mabuk, chaos, riff, dan malam yang terasa terlalu pendek. Dan itulah alasan mengapa album ini begitu penting. Karena terlalu banyak musik metal modern lupa bagaimana caranya bersenang-senang. Hari ini banyak band terlalu sibuk terdengar berat, gelap, atau progresif sampai lupa bahwa metal juga seharusnya memicu adrenalin dan kegembiraan. Semua harus serius. Semua harus artistik. Semua harus punya konsep penderitaan eksistensial atau trauma masa kecil agar dianggap bernilai. Sementara " Follow the Reaper " datang seperti orang mabuk yang menendang pintu ruangan sambil berteriak: " Persetan semua itu. Mari bersenang-senang !!! ". Dan luar biasanya, energi itu tidak pernah menua. Lebih dari dua dekade kemudian, album ini masih terdengar hidup. Masih terasa segar. Masih mampu memicu keinginan untuk memutar volume lebih keras dan menghancurkan leher sendiri lewat headbang tanpa alasan logis. Itulah perbedaan antara album bagus dan album abadi.
Album bagus mungkin mengesankan secara teknis. Album abadi membuat manusia ingin kembali hidup. Sayangnya, setelah era ini, Children of Bodom perlahan mulai kehilangan sebagian identitas liar mereka. " Hate Crew Deathroll " memang masih fantastis, tetapi mulai terlihat arah menuju sound yang lebih sederhana dan lebih mudah dijual. Album-album setelahnya perlahan jatuh ke jebakan modernisasi: riff lebih aman, struktur lebih generik, eksperimen lebih hati-hati, dan agresi mulai digantikan kalkulasi pasar. Dan di situlah tragedinya. Karena jika mendengar " Follow the Reaper ", jelas sekali bahwa pada titik ini Bodom bukan sekadar band populer. Mereka adalah kekuatan alam. Sebuah band yang terdengar seperti sekelompok manusia muda berbakat yang sadar bahwa hidup itu absurd dan singkat, lalu memutuskan mengubah absurditas itu menjadi ledakan melodi paling liar yang bisa mereka ciptakan. Album ini bukan tentang kesempurnaan intelektual. Ia tentang momen, Tentang sensasi " sekarang ". Tentang musik yang tidak meminta izin untuk terdengar berlebihan, flamboyan, hiperaktif, dan sangat menyenangkan. Dan semakin usia bertambah, semakin dunia terasa seperti sirkus aneh penuh algoritma, kecemasan digital, dan manusia yang terlalu sibuk memikirkan citra diri mereka sendiri, album seperti " Follow the Reaper " justru terasa makin penting. Karena terkadang, hidup tidak membutuhkan jawaban besar. Kadang hidup hanya membutuhkan riff mematikan, solo neoklasikal gila, beberapa botol alkohol murah, dan keberanian untuk berhenti berpikir terlalu keras selama 38 menit. Dan dalam hal itu, " Follow the Reaper " mungkin memang sempurna. Skill musisi yang ditampilkan di album ini juga luar biasa. Almarhum Alexi adalah seorang shredder yang sangat hebat, yang bisa memainkan sweep arpeggio dengan tempo yang sangat efisien, sambil mempertahankan melodi yang sangat bagus, dan tidak menutupi instrumen lainnya. Contoh terbaik dari ini adalah lagu Bodom favorit pribadi w, " Kissing The Shadows. " Seperti yang kebanyakan dari kalian tahu, di akhir " Kissing The Shadows. ", ada duel shred yang sangat besar, yang setelah w pertama kali mendengarnya, membuat mulut w ternganga. Namun, itu bukan semuanya; Jaska Raatikainen adalah drummer yang sangat hebat, yang terkadang bisa sangat brutal dan cepat, dan di lain waktu, menahan diri dan menjaga ketukan sementara sebuah melodi sedang berjalan.
Tambahan menarik, Sedikit " Fakta " tambahan yang harus kalian tahu tentang materi " Follow the Reaper " ini : Sampel yang digunakan pada track 1 dan 6 berasal dari film " The Exorcist III " (1990). Bridge part di track 2 terinspirasi oleh soundtrack " The Rock " (1996). Beberapa bagian dari track 5 didaur ulang dari " Talking of the Trees " dari demo terakhir saat masih menggunakan nama Inearthed, Demo " Shining ". Terdapat dua hasil mixing berbeda, dengan perbedaan estetika kecil. pada rilisan Nuclear Blast Records dan Mystic Production dimxing berbeda. Mix pertama dilakukan oleh Peter Tagtgren-nya Hypocrisy di studio Abyss segera setelah rekaman. Ini hanya bisa didengar pada rilisan Nuclear Blast (Eropa & AS). Kemudian, band ini ingin mengubah beberapa hal kecil dan menyerahkan album tersebut kepada Mikko Karmila yang melakukan beberapa perawatan tambahan untuknya. band menyebut ini sebagai mix kedua dan dapat didengar pada rilisan Spinefarm (Finlandia), Toy's Factory (Jepang), FONO (Rusia/Negara-negara CIS) dan One Music (Korea Selatan).
Home
[CLASSIX MOST WANTED]
[Melodic Death Metal]
[Melodic Power Metal]
* Children Of Bodom
#Finland
★ Classic Release Academy ★
2000
Children Of Bodom - Follow the Reaper CD 2000
Children Of Bodom - Follow the Reaper CD 2000
Written by REVIEW LOSTINCHAOS Juni 06, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)



0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !