Nightfall - Athenian Echoes CD 1995

Nightfall - Athenian Echoes 
Holy Records CD 1995

01. Aye Azure 04:51 
02. Armada 04:45       
03. Ishtar (Celebrate Your Beauty) 07:55       
04. The Vineyard 05:50 
05. I'm a Daemond 07:39       
06. Iris (And the Burning Aureole) 04:58      
07. My Red, Red Moon (Emma O) 05:05     
08. Monuments of Its Own Magnificence 07:09


Efthimis Karadimas - Vocals, Bass, Guitars 
Chris Adamou - Guitars 
Mike Galiatsos - Guitars 
George Aspiotis - Keyboards, Effects, Voices
Costas Savidis - Drums


Di pertengahan 90-an, ketika scene extreme metal Eropa sedang sibuk berlomba menjadi lebih cepat, lebih mentah, lebih corpsepaint daripada tetangga sebelahnya, muncul satu penyakit kreatif yang justru menghasilkan banyak mahakarya: band-band mulai bosan menjadi pure. Black metal mulai menyusup ke doom. Death metal mulai menggoda Gothic. Keyboard yang dulu dianggap banci oleh kaum puritan mulai dipakai diam-diam seperti dosa rahasia tengah malam. Dan di tengah kekacauan identitas musikal itu, Unit Melodic Black/Death/Doom Metal, Gothic Metal asli Athens, Attica, Greece, Nightfall merilis sebuah album yang terasa seperti reruntuhan kuil Yunani kuno dibakar di bawah langit bulan merah: " Athenian Echoes ". Album ini bukan sekadar rilisan ketiga. Ini adalah titik di mana Nightfall akhirnya berhenti terdengar seperti band yang masih mencari kaca spion identitas mereka sendiri. Di sini mereka menemukan formula paling ideal antara black metal, death metal, Gothic, doom, atmosfer folklorik, dan drama teatrikal yang nyaris absurd namun entah bagaimana berhasil terdengar megah. Dan ya, untuk pertama kalinya dalam karier awal mereka, produksinya juga akhirnya terdengar layak. Sebuah peningkatan yang menampar era album ke-2 " Macabre Sunsets " sampai jatuh dari tangga basement studio murahannya. " Athenian Echoes " diperkuat oleh Vocalis/bassis Efthimis Karadimas (The Slayerking, ex-Epidemic), Gitaris Chris Adamou (ex-Vanity), Gitaris Mike Galiatsos (Blind Justice, Eons Aura, Mike G., Snowblind, ex-Zion, Mike G - Tribal Souls, ex-Vanity), Keyboardis George Aspiotis (Kingdragon, ex-Spitfire, ex-Beyond Our Galaxy, ex-Raw Silk, ex-Steeldone) dan Drummer Costas Savidis (Dura Mater, Soulskinner, ex-Septicemia, ex-Anaëmia, ex-Diavolos, ex-Kawir, ex-Mahakala, ex-The Circle of Zaphyan, ex-Kreuzenstein) yang sampai hari ini masih menyisakan frontman Efthimis Karadimas berdiri kuat untuk Nightfall !

Masalah terbesar banyak band eksperimental era itu adalah mereka sering terdengar seperti laboratorium gagal: terlalu banyak ide, terlalu sedikit disiplin. Tetapi " Athenian Echoes " justru menarik karena kekacauan musikalnya terasa disengaja. Album ini seperti mosaik retak yang anehnya malah terlihat lebih indah karena kerusakannya. Sulit dikategorikan, memang. Dan justru di situlah nilainya. Ini bukan album untuk orang yang hidupnya cuma mengenal dua mode: blast beat atau tidur. Nightfall di sini terdengar seperti band yang menolak memilih jalur aman. Mereka tidak puas menjadi clone kedua Rotting Christ atau sekadar pengekor Gothic metal Inggris ala Paradise Lost. Mereka memadukan semuanya dengan keberanian yang kadang terdengar jenius, kadang terdengar seperti ide buruk jam tiga pagi setelah terlalu banyak alkohol dan asap rokok memenuhi ruang latihan. Lagu pembuka " I’m a Daemond " langsung memperlihatkan identitas album ini secara brutal. Intro pianonya terdengar tenang dan nyaris meditatif, sebelum tiba-tiba meledak menjadi serangan tremolo berangin yang terasa seperti gerbang surga dicakar kawanan iblis mabuk. Di titik ini Nightfall memperlihatkan kemampuan penting yang sering hilang dari banyak band ekstrem: dinamika. Mereka memahami bahwa atmosfer dibangun bukan hanya dari kekerasan, tetapi dari kontras. Sunyi dan ledakan. Melankoli dan amarah. Cahaya dan kuburan. Lalu datang " Armada ", salah satu highlight terbesar album ini. Lagu ini terdengar seperti Gothic metal yang diseret paksa ke medan perang black metal. Riff-riff pesimistisnya punya aroma kuat Paradise Lost era pertengahan 90-an, tetapi Nightfall menyelipkan ledakan chaos yang jauh lebih liar dan gelap. Lead gitar di lagu ini benar-benar luar biasa: megah, tragis, dan penuh aura mitologi yang nyaris sinematik. Musik seperti ini tidak terdengar seperti sekumpulan pria memainkan alat musik. Ini terdengar seperti narasi kehancuran peradaban kuno.

Dan memang, salah satu kekuatan terbesar " Athenian Echoes " ada pada identitas Yunani mereka yang terasa sangat alami. Banyak band mencoba terdengar etnik dengan cara murahan: tamborin dua detik, flute sintetis, lalu selesai. Nightfall tidak demikian. Nuansa Yunani mereka hadir dalam atmosfer, pilihan melodi, lirik, bahkan rasa tragedi yang menyelimuti seluruh album. Ada semacam kesedihan klasik ala drama mitologi kuno yang terus mengalir di balik distorsi dan keyboard. Track seperti " Ishtar (Celebrate Your Beauty) " memperlihatkan hal itu dengan sangat jelas. Lagu ini membawa riff epik yang melayang megah, lalu tiba-tiba jatuh ke bagian tribal yang terasa ritualistik. Ini bukan sekadar metal dengan aksesori Gothic. Ini musik yang benar-benar mencoba membangun dunia emosionalnya sendiri. Kemudian ada " Monuments of Its Own Magnificence ", salah satu lagu paling ambisius di album ini. Sebuah elegi Gothic/doom panjang yang terasa seperti soundtrack prosesi pemakaman dewa-dewa kuno. Vokal bersihnya bergerak di antara bayangan Nick Holmes dan Tom G. Warrior, tetapi tetap memiliki karakter muram khas Nightfall sendiri. Lagu ini tidak terburu-buru. Ia berjalan perlahan seperti patung marmer retak yang masih berdiri di tengah kota mati. Namun tentu saja, tidak semua eksperimen berhasil. Dan di sinilah sisi manusiawi album ini muncul. Karena " Athenian Echoes " juga punya momen-momen yang terdengar seperti keputusan artistik yang seharusnya dihentikan sebelum tombol record ditekan.

" The Vineyard " adalah contoh paling jelas. Lagu ini awalnya menjanjikan atmosfer megah dan tragis seperti track-track lain. Tetapi ketika riff utamanya masuk bersama rengekan vokal ala Tom G. Warrior versi kurang tidur, semuanya mulai terasa aneh. Lalu keyboard sintetis jadul muncul di menit keempat seperti soundtrack game PC murah tahun 1996, dan mendadak lagu ini berubah menjadi kecelakaan lalu lintas musikal yang sulit ditatap tapi juga sulit diabaikan. inilah definisi nyata kata filler. Tetapi anehnya, bahkan kegagalan itu tetap terasa menarik karena Nightfall setidaknya berani mencoba sesuatu. Mereka tidak bermain aman seperti banyak band Gothic metal generik yang akhirnya terdengar seperti soundtrack klub vampir murahan penuh asap dupa dan eyeliner luntur. Produksi album ini juga pantas diapresiasi. Tidak sempurna memang, tetapi jauh lebih hidup dibanding rilisan-rilisan awal mereka. Ketika Nightfall masuk ke bagian paling intens, mixing-nya tidak berubah menjadi bubur distorsi tanpa bentuk. Gitar tetap terdengar jelas, keyboard tidak sepenuhnya menenggelamkan struktur lagu, dan atmosfer gelapnya tetap terjaga tanpa kehilangan tenaga metaliknya. Yang menarik, ketika keyboard berhenti sejenak, gitar-gitar mereka justru memperlihatkan betapa sulitnya mengkotakkan musik ini ke dalam satu genre tertentu. Ada death metal. Ada black metal. Ada doom. Ada Gothic. Ada folk. Bahkan ada sentuhan elektronik yang menjadi pertanda arah eksperimental mereka di masa depan, khususnya di " My Red, Red Moon (Emma O) ".

Lagu itu sendiri adalah contoh sempurna bagaimana Nightfall memahami sisi melodramatis Gothic tanpa jatuh menjadi cheesy. Penggunaan vokal baritone bersih menggantikan growl di beberapa bagian terasa masuk akal dan emosional. Memang intro sintetisnya sedikit menyebalkan seperti ringtone Nokia yang depresi, tetapi ketika lagu mulai berkembang, atmosfernya berhasil menebus semuanya. Masalahnya, banyak pendengar metal saat itu dan bahkan sekarang terlalu malas memberi waktu untuk album seperti ini. Mereka ingin semuanya langsung menghantam sejak detik pertama sampai terakhir. Tidak ada ruang untuk tekstur, eksperimen, atau suasana. Padahal " Athenian Echoes " bukan album untuk gym playlist atau kompetisi headbang. Ini album untuk jam-jam tertentu. Untuk malam yang panjang. Untuk suasana murung. Untuk momen ketika dunia terasa terlalu sunyi dan manusia terlalu lelah berpura-pura kuat. Dan jika dilihat hari ini, album ini terasa semakin penting karena ia menangkap momen unik dalam sejarah metal pertengahan 90-an: era ketika genre belum dipenjara algoritma, belum dikotakkan platform streaming, dan belum dipenuhi band yang terdengar seperti hasil copy-paste preset produksi digital. Nightfall berani menjadi tidak nyaman. Berani menjadi campur aduk. Berani terdengar megah sekaligus rapuh. Sayangnya, setelah fase kreatif ini, mereka justru perlahan tergelincir ke arah Gothic metal Eropa yang lebih komersial lewat album seperti " Lesbian Show " dan " Diva Futura ". Sebuah periode di mana banyak band ekstrem era 90-an mendadak tergoda menjadi lebih modern, padahal hasil akhirnya sering terdengar seperti soundtrack klub fetish kelas menengah dengan mesin asap rusak. Karena itu, " Athenian Echoes " terasa seperti penutup sempurna dari fase kreatif terbaik Nightfall. Album ini mungkin tidak sempurna, tetapi justru ketidaksempurnaannya membuatnya hidup. Ia ambisius, atmosferik, melodramatis, kadang berlebihan, kadang canggung, namun selalu punya identitas. Dan di era sekarang, ketika terlalu banyak band terdengar steril, aman, dan diproduksi seperti produk startup teknologi, identitas adalah sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kesempurnaan musikalitas.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine