Mephistopheles - Songs of the Desolate Ones CD 1999

Mephistopheles - Songs of the Desolate Ones
Last Episode CD 1999

01. A Desolating Hymn 01:48       
02. Kurgan Supremacy 06:43       
03. Twilight Shore 08:37       
04. Opaque Fortress 08:02       
05. Moldavian Fires 05:14      
06. Across Oceans of Time 05:18     
07. Northern Eternity 06:59


Nordischer Künstler - Keyboards, Vocals
Jury Kowalczyk - Guitars
Hanno Weihe - Guitars 
Garvin Bösch - Bass
Selphratus - Drums


Gelombang kedua Black metal Norwegia sudah selesai mengguncang dunia. Nama-nama besar seperti Emperor, Dimmu Borgir, Satyricon, Limbonic Art, hingga Cradle of Filth sedang memperluas definisi black metal menjadi sesuatu yang lebih besar, lebih megah, lebih sinematik, dan tentu saja lebih kontroversial bagi para puritan yang masih menganggap rekaman harus terdengar seperti direkam menggunakan mikrofon rusak di dalam gudang beku. Di tengah situasi itu muncul sebuah nama dari Jerman: Mephistopheles ! bukan nama yang kemudian menjadi raksasa genre, bukan pula band yang mengubah sejarah black metal, namun melalui " Songs Of The Desolate Ones ", mereka berhasil menghasilkan sesuatu yang jauh lebih penting: Sebuah album yang menolak menjadi klise. Ketika banyak band black metal akhir 1990-an berlomba-lomba memilih antara menjadi tiruan Emperor atau versi murah Dimmu Borgir, Mephistopheles justru menemukan keseimbangan yang jarang ditemukan antara atmosfer, melodi, agresi, dan kemegahan. hasilnya adalah salah satu permata tersembunyi Symphonic Black Metal Jerman yang hingga hari ini masih terdengar mengejutkan kuat. Intro yang Tidak Main-Main

Album ini dibuka dengan sebuah intro yang langsung menunjukkan ambisinya, bukan intro sintetis murahan, bukan suara hujan, serigala, atau lonceng gereja yang digunakan setengah industri black metal pada masa itu, melainkan perpaduan keyboard atmosferik, paduan suara megah, dan permainan piano yang terdengar seperti soundtrack sebuah ritual Luciferian yang disutradarai oleh komposer musik klasik, dalam hitungan menit, Mephistopheles sudah menyampaikan satu pesan sederhana: " Kami tidak datang untuk terdengar minimalis. " dan syukurlah mereka konsisten sampai akhir album, kurgan Supremacy: Ketika Gerbang Neraka Dibuka Dengan Elegan, begitu Kurgan Supremacy dimulai, seluruh identitas album langsung terbentuk. Riff berat, tempo yang terus berubah, Keyboard yang mengalir di belakang lagu tanpa menenggelamkan gitar dan melodi yang jauh lebih matang dibanding mayoritas rilisan symphonic black metal saat itu. apa yang membuat Mephistopheles menarik adalah kemampuan mereka memahami fungsi keyboard, banyak band pada era tersebut menggunakan keyboard sebagai alat kosmetik, di sini keyboard menjadi bagian integral komposisi. Ia membangun suasana, menambah dimensi, mengangkat melodi bukan sekadar mengisi ruang kosong. Hasilnya adalah atmosfer yang terasa luas tanpa kehilangan ketajaman metaliknya. Antara Emperor, Dimmu Borgir, dan Blind Guardian Menyebut referensi musik Mephistopheles sebenarnya cukup mudah.

Kalian bisa mendengar pengaruh Emperor dalam penggunaan atmosfer dan struktur lagu, Kalian juga bisa menemukan sentuhan Dimmu Borgir dalam pendekatan simfoniknya namun yang paling menarik adalah kehadiran elemen yang tidak biasa dalam black metal: Pengaruh power metal Eropa. khususnya melalui penggunaan choir atau paduan suara yang luar biasa, faktanya, beberapa bagian koor album ini melibatkan penyanyi dari lingkungan yang dekat dengan tradisi power metal Jerman dan sering dibandingkan dengan pendekatan yang dikenal dari Blind Guardian dan di sinilah album mulai memiliki identitas sendiri, karena alih-alih terdengar bombastis secara berlebihan, paduan suara tersebut justru menciptakan nuansa heroik sekaligus gelap, perpaduan yang tidak mudah dicapai. Black Metal Yang Berani Menulis Lagu, ini mungkin terdengar seperti pujian yang aneh, tetapi salah satu kelebihan terbesar " Songs Of The Desolate Ones " adalah fakta bahwa lagu-lagunya benar-benar terasa seperti lagu. Bukan kumpulan riff, bukan parade blast beat, bukan demonstrasi kemampuan memainkan keyboard melainkan komposisi utuh. " Twilight Shore " yang berdurasi lebih dari delapan menit menjadi contoh terbaik. lagu ini berkembang secara organik, memiliki dinamika, membangun tensi, melepaskan tensi, lalu kembali berkembang, tidak pernah terasa panjang meskipun durasinya hampir menyentuh wilayah progresif. Hal yang sama terjadi pada " Opaque Fortress ". lagu ini dimulai dengan harmonisasi gitar ganda yang sangat elegan sebelum berkembang menjadi himne black metal yang megah. Sementara " Across Oceans Of Time " memperlihatkan kemampuan band menciptakan melodi yang mampu bertahan di kepala pendengar jauh setelah album selesai diputar, dan percayalah, dalam dunia black metal, kemampuan menciptakan hook yang tidak murahan adalah bakat yang jauh lebih langka daripada blast beat 250 BPM.

Ketika Agresi dan Atmosfer Berjalan Beriringan, salah satu jebakan terbesar Symphonic black metal adalah kecenderungan kehilangan agresi, semakin banyak keyboard ditambahkan, semakin lunak musiknya. Mephistopheles berhasil menghindari masalah tersebut. " Moldavian Fires " adalah bukti paling jelas. Lagu ini melaju seperti longsoran salju yang dipercepat. Gitar bergerigi, drum yang terus menghantam, keyboard yang melayang di atas kekacauan dan semuanya terdengar terkontrol, mereka memahami bahwa atmosfer bukan pengganti agresi, Atmosfer adalah penguat agresi, pelajaran yang sayangnya tidak dipahami oleh banyak band symphonic black metal generasi berikutnya, produksi Yang Menolak Terdengar Murahan, mari bicara jujur, banyak album black metal akhir 1990-an terdengar buruk, bukan buruk karena estetika, benar-benar buruk, Produksi tipis terasa ringan, Drum mentah seperti kardus, Bass menghilang, dan gitar terdengar seperti radio rusak " Songs Of The Desolate Ones " tidak mengalami masalah itu. Produksinya sangat kuat, Clean, seimbang, Bass terdengar jelas dan memberikan fondasi yang kokoh, Gitar memiliki ruang yang cukup untuk bernapas, Keyboard terdengar megah tanpa mendominasi dan drum mampu mempertahankan kekuatan tanpa terdengar plastik. Ironisnya, banyak album Symphonic black metal modern dengan teknologi puluhan tahun lebih maju masih gagal mendapatkan keseimbangan semacam ini.

Satu-Satunya Titik Lemah, jika ada satu area yang masih bisa ditingkatkan, mungkin terletak pada vokal scream utama, bukan berarti buruk, jauh dari itu, namun dibanding kualitas instrumentasi yang luar biasa, vokal terkadang terdengar sedikit kurang menonjol, ada momen ketika musik terdengar lebih besar daripada sosok yang memimpinnya, untungnya masalah ini tidak pernah cukup besar untuk merusak keseluruhan pengalaman, terutama karena variasi vokal growl, clean vocal, dan spoken word membantu menjaga dinamika album. Artwork Yang Tidak Sebanding Dengan Musiknya dan inilah ironi terbesar album ini, musiknya luar biasa, produksinya kuat, komposisinya matang, atmosfernya fantastis namun sampul albumnya gagal merepresentasikan semua itu karya ilustrator Jörg Scheibner memang kompeten secara teknis, tetapi terasa terlalu dekat dengan estetika banyak rilisan black metal Jerman pada era tersebut. " Songs Of The Desolate Ones " adalah contoh sempurna album yang tersesat dalam sejarah bukan karena kualitasnya buruk, tetapi karena dirilis di era yang terlalu kompetitif. tahun 1999 dipenuhi nama besar, pasar Symphonic black metal sedang jenuh, banyak pendengar hanya fokus pada Emperor, Dimmu Borgir, Cradle of Filth, dan Limbonic Art, akibatnya, album sekelas ini luput dari perhatian, padahal jika dinilai secara objektif, Mephistopheles berhasil melakukan hampir semua hal dengan benar. Dua puluh lima tahun kemudian, " Songs Of The Desolate Ones " masih terdengar hidup, megah, dan relevan. Sebuah bukti bahwa black metal terbaik tidak lahir dari seberapa cepat blast beat dimainkan atau seberapa banyak simbol anti-Kristen ditempelkan pada booklet, melainkan dari kemampuan menciptakan musik yang mampu membawa pendengarnya masuk ke dunia lain, dan itulah yang dilakukan Mephistopheles sepanjang empat puluh menit album ini, salah satu permata tersembunyi Symphonic Black Metal Jerman yang pantas ditemukan kembali oleh siapa pun yang menganggap era akhir 1990-an hanya milik nama-nama besar.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine