Entorturement - Digging Up the Remains CD 2001

Entorturement - Digging Up the Remains
Supreme Musick CD 2001

01. Forsaken for Perseverance 03:52      
02. Defilement of Innocence 02:35      
03. Temptation Beneath Contempt 03:02      
04. Reprieve into Solitude 02:49      
05. Time Reveals All 02:27      
06. Reality Check 01:27      
07. Decryption 03:18      
08. Subvert Deterioration 03:42      
09. III 03:21      
10. CB4 - Remix 03:00      
11. Bonus Tracks Are Gay 01:12


Tim Pittides - Vocals
Kirill Gluharev - Guitars
Pete Mussillo - Guitars
Jay Carbone - Bass
Brian Wishin - Drums


Pada akhir dekade 1990-an, ketika death metal mulai terpecah ke dalam puluhan cabang ekstrem yang saling berebut identitas, satu wilayah tetap menjadi pusat gravitasi bagi brutalitas yang paling kasar, paling jalanan, dan paling tidak peduli terhadap aturan akademis death metal: New York. Di kota yang melahirkan begitu banyak inovator hingga legenda BDM, mulai dari Suffocation hingga Internal Bleeding, muncul gelombang band-band yang tidak lagi sekadar mengejar kecepatan atau kompleksitas teknis. Mereka menginginkan sesuatu yang lebih primitif, lebih fisikal, dan lebih cocok untuk menghancurkan tulang rusuk di tengah moshpit daripada sekadar membuat gitaris lain kagum. Dari lingkungan inilah lahir nama Entorturement ! Sebuah nama yang mungkin tidak pernah mencapai status kultus setinggi para raksasa NYDM lainnya, namun meninggalkan jejak yang cukup dalam bagi mereka yang memahami bagaimana brutal death metal New York berevolusi menuju bentuk yang lebih groove-oriented, lebih hardcore, dan pada saat yang sama menjadi sasaran kritik kaum puritan death metal. Karena di sinilah kita mulai memasuki wilayah yang dahulu sering diejek dengan satu istilah kontroversial: " Wiggering Death Metal." well, mari kita luruskan satu hal terlebih dahulu. Istilah "wiggering" bukanlah subgenre resmi. Istilah ini lahir sebagai slang peyoratif di skena ekstrem Amerika Serikat pada akhir 1990-an hingga pertengahan 2000-an. Kata " Wigger " sendiri merupakan gabungan kata white dan sebuah istilah slang rasial yang digunakan untuk menyindir orang kulit putih yang dianggap meniru budaya jalanan hip-hop Amerika. Ketika istilah itu masuk ke dunia metal, maknanya bergeser menjadi bentuk sindiran terhadap band-band death metal tertentu yang dianggap terlalu banyak menyerap unsur hardcore jalanan, beatdown, groove, bahkan estetika urban.

Biasanya tuduhan tersebut diarahkan kepada band-band yang: Terlalu banyak menggunakan breakdown, lebih mengutamakan groove dibanding riff teknikal, mengadopsi pengaruh hardcore secara terang-terangan, memiliki pendekatan panggung yang lebih dekat ke kultur hardcore dibanding kultur death metal tradisional dan kadang diasosiasikan dengan gaya berpakaian streetwear yang saat itu mulai populer. Bagi sebagian penggemar death metal generasi lama, ini dianggap sebagai bentuk " Pengkhianatan ". Padahal kenyataannya jauh lebih sederhana. Sebagian besar band New York hanya memainkan apa yang secara alami tumbuh di lingkungan mereka. New York sejak awal memang merupakan titik pertemuan antara hardcore dan death metal. Maka tidak mengherankan jika batas keduanya mulai kabur. Dan Entorturement adalah salah satu contoh paling menarik dari fenomena tersebut. Sejarah Entorturement dimulai pada tahun 1997. Sebelumnya mereka beroperasi dengan nama yang terdengar sama absurdnya dengan khas underground Amerika era itu: Bearded Fetus. Namun transformasi menuju Entorturement bukan sekadar pergantian nama. Ini adalah upaya membangun identitas baru yang lebih serius dan lebih agresif. Formasi yang tersisa dari era sebelumnya terdiri atas: Vocalis Tim Pittides, Gitaris Pete Mussillo, Gitaris Kirill Gluharev (Alpharist, ex-Empire of Dust, ex-Nemacyte, ex-Backslap), bassi Jay Carbone (ex-Internal Bleeding) Kemudian mereka memperkuat fondasi musik dengan menghadirkan Brian Wishin (ex-Mangled, ex-Repudilation, ex-Bearded Fetus, The Unattended, ex-Twisted Fate) di belakang drum. Nama yang bagi penggemar bawah tanah NYDM sering disebut sebagai salah satu drummer dengan sense groove paling konstan dan efektif di jalurnya. Dan memang, ketika mendengarkan materi-materi Entorturement, kontribusi Wishin langsung terasa. Bukan drummer yang sibuk memamerkan teknik, bukan drummer yang berlomba memainkan blast beat paling cepat, melainkan drummer yang memahami satu hal penting: Groove bisa sama mematikannya dengan kecepatan !

Tahun 1998 mereka merilis EP " Descend Into Deprivation ". Inilah fondasi utama yang kemudian menjadi bagian terbesar dari rilisan pasca-bubar mereka, " Digging Up the Remains ". Mendengarkan materi ini terasa seperti membuka kapsul waktu menuju era ketika BDM New York sedang berada dalam fase paling liar. Semua elemen khas NYDM hadir tanpa kompromi: Riff-riff groove berat, pergantian tempo yang eksplosif, breakdown yang siap memecahkan tulang leher, blast beat yang muncul sebagai alat penyiksa sesekali dan vokal brutal yang terdengar seperti seseorang sedang memuntahkan kebencian ke dalam mikrofon. Namun yang paling menarik adalah bagaimana mereka menyeimbangkan kekerasan dan groove. Banyak band brutal death metal gagal melakukan ini. Terlalu banyak blast beat membuat lagu menjadi monoton. Terlalu banyak breakdown membuatnya terdengar seperti hardcore murahan. Entorturement berada di tengah-tengah. Mereka memahami kapan harus menyerang dan kapan harus membuat pendengar menganggukkan kepala secara refleks. Ironisnya, rilisan yang kini paling dikenal justru bukan album studio sungguhan. " Digging Up the Remains " pada dasarnya adalah arsip Kompilasi yang menggabungkan Materi EP " Descend Into Deprivation " (1998) dan Demotape " Decryption " (1999) Setelah itu, Entorturement bubar, Selesai ! yang tersisa hanyalah rekaman-rekaman ini, dan justru karena itulah nilainya semakin tinggi di mata kolektor. Karena sering kali sejarah underground tidak ditulis oleh band yang paling sukses. Melainkan oleh band yang menghilang sebelum sempat mencapai puncaknya.

Secara musikal, Entorturement adalah definisi sempurna dari NYDM era akhir 90-an. Ini bukan musik untuk duduk sambil menganalisis teori musik, ini bukan musik yang meminta Anda menghitung perubahan tanda birama, ini musik yang meminta Anda bergerak. Lagu-lagu mereka dirancang untuk menciptakan reaksi fisik. Saat riff melambat dan groove mulai mengambil alih, hampir mustahil untuk tidak menganggukkan kepala, saat breakdown menghantam, ruang konser berubah menjadi zona tabrakan, saat blast beat muncul, adrenalin meningkat beberapa tingkat. Ada energi jalanan yang sangat khas. Energi yang membuat musik ini terasa hidup. Kasar, Kotor dan sangat New York. Namun tidak semua hal berjalan sempurna. Dan di sinilah kritik paling besar terhadap rilisan ini muncul. Produksinya. Jujur saja, kualitas rekaman menjadi titik lemah terbesar dari keseluruhan materi. Gitar sering terdengar terlalu tipis, kurang menggigit, kurang memiliki bobot yang seharusnya menjadi fondasi brutal death metal. Pada beberapa bagian bahkan terasa tenggelam dalam campuran suara yang terlalu sempit. Masalah ini semakin terasa pada materi yang berasal dari demotape " Decryption ". Kualitasnya jelas lebih mentah, lebih kabur, lebih sulit dinikmati dibanding materi EP sebelumnya. Yang menyebalkan adalah kenyataan bahwa di balik keterbatasan produksi tersebut sebenarnya tersembunyi lagu-lagu yang sangat kuat. Riff-riff yang seharusnya menghancurkan justru kehilangan sebagian dampaknya karena kualitas rekaman yang tidak mampu menangkap potensi penuh mereka. Ini seperti melihat mobil balap Formula 1 dipaksa berlomba menggunakan ban becak. Potensinya masih terlihat. Tetapi performanya tidak pernah mencapai titik maksimal.

Pada akhirnya, Entorturement adalah contoh klasik dari band yang muncul pada waktu yang tepat namun tidak bertahan cukup lama untuk memetik hasilnya. Mereka hadir ketika brutal death metal New York sedang berkembang pesat. Mereka memiliki identitas yang jelas. Mereka memahami keseimbangan antara brutality dan groove. Mereka bahkan secara tidak langsung merepresentasikan persimpangan budaya antara death metal dan hardcore yang kemudian menjadi ciri khas banyak band brutal Amerika setelahnya. Sayangnya, usia mereka terlalu singkat. Namun justru itulah yang membuat " Digging Up the Remains " menjadi artefak berharga. Bukan sekadar kompilasi lagu lama. Melainkan dokumentasi tentang masa ketika brutal death metal New York masih terdengar berbahaya, liar, dan belum terjebak dalam perlombaan teknikal tanpa jiwa. Bagi kolektor, rilisan ini adalah harta karun langka. Bagi penggemar NYDM sejati, ini adalah pengingat bahwa sebelum internet dipenuhi ribuan band slam generik dengan logo yang mustahil dibaca, pernah ada masa ketika groove, kekerasan, dan moshpit masih terdengar alami. Dan Entorturement adalah salah satu pelaku yang membantu menuliskan bab kecil namun penting dalam sejarah tersebut. Ketika New York Death Metal Berdansa Di Atas Puing-Puing Brutality, Groove, Dan Kontroversi " Wiggering ", Entorturement dengan " Digging Up the Remains " siap meremukkan Biji peler kalian !!!

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine