Edge of Sanity - Crimson CD 1996

Edge of Sanity - Crimson
Black Mark Production CD 1996

01. Crimson 40:00

Dan Swanö - Vocals, Keyboards, Guitars  
Andreas Axelsson - Guitars 
Sami Nerberg - Guitars
Anders Lindberg - Bass
Benny Larsson - Drums


Pada paruh kedua era 90-an, death metal sedang mengalami krisis identitas sekaligus masa pubertas artistik paling liar dalam sejarahnya. Gelombang awal brutalitas primitif yang dibangun sejak pertengahan 80-an mulai terasa terlalu sempit bagi banyak musisi yang otaknya sudah dipenuhi terlalu banyak ide untuk sekadar memainkan blast beat dan riff chromatic tiga menit tentang pembusukan mayat. Sebagian band mulai bertanya: " Apakah death metal harus selamanya terdengar seperti ruang otopsi yang bocor? " Dan dari pertanyaan itulah lahir era eksperimen besar-besaran yang sampai hari ini masih memecah pendapat antara kaum puritan dan mereka yang benar-benar mau mendengar musik dengan otak terbuka. Banyak orang menyebut periode ini sebagai " Death metal progresif ", meskipun istilah itu sendiri sebenarnya terlalu sederhana untuk menggambarkan kekacauan kreatif saat itu. Karena kenyataannya, banyak band bukan sedang mencoba menjadi prog dalam arti teknikal ala virtuoso jazz-metal sok intelek, melainkan sedang mencari jalan keluar dari stagnasi. Mereka masih death metal sampai sumsum tulang, tetapi mereka mulai memperluas kosakata musik mereka. Dan hasilnya luar biasa. Gorguts mulai membengkokkan struktur musik menjadi arsitektur disonansi yang terasa seperti gangguan mental musikal. Immolation memperdalam atmosfer apokaliptik dan riff anti-manusia mereka. Opeth mulai menyatukan folk, prog rock 70-an, doom, dan death metal menjadi sesuatu yang bahkan belum punya nama waktu itu. Ada juga nama-nama seperti Forgotten Silence, Dark Millennium, Phlebotomized, hingga The Chasm yang masing-masing mencoba memaksa death metal keluar dari kandang tradisionalnya tanpa benar-benar membunuh identitas aslinya. Dan di tengah kekacauan kreatif itu, muncullah Edge of Sanity dengan sebuah monster ambisius bernama " Crimson ".

Album ini bukan sekadar progresif. Album ini seperti isi kepala Dan Swanö ditumpahkan sekaligus ke dalam satu track berdurasi empat puluh menit tanpa filter, tanpa rem, dan kadang tanpa arah yang jelas. Sebuah karya yang terasa seperti enam band berbeda sedang berebut memainkan lagu yang sama secara bersamaan. Dan anehnya kadang berhasil dengan luar biasa. Kadang juga jatuh tersungkur seperti orang mabuk mencoba lari marathon. Secara konsep, " Crimson " adalah mimpi basah semua penggemar death metal progresif: satu lagu panjang, penuh perubahan tempo, transisi atmosferik, riff melodis, clean section, doom passage, gothic nuance, growl, harmonisasi gitar, bahkan momen-momen yang nyaris terdengar seperti rock progresif klasik. Ambisinya absurd. Dan justru itu yang membuat album ini begitu penting. Karena pada masa itu, tidak banyak band death metal yang cukup gila untuk mencoba sesuatu sebesar ini. Yang membuat " Crimson " menarik adalah fakta bahwa di balik seluruh lapisan progresif dan eksperimennya, album ini masih punya fondasi Swedeath yang sangat kuat. Ini bukan album yang malu menjadi death metal. Ketika dibutuhkan, mereka masih bisa menghantam dengan riff-riff berat khas Swedia yang kasar, dingin, dan beraroma kuburan lembab Stockholm. Bahkan beberapa bagian paling langsung di album ini terasa lebih kuat daripada materi mereka sebelumnya. Dan di situlah kekuatan terbesar " Crimson ".

Ketika album ini berhenti mencoba menjadi segala hal sekaligus dan fokus pada melodi suram yang perlahan berkembang menjadi ledakan emosional besar, hasilnya benar-benar luar biasa. Ada momen-momen di mana harmonisasi gitarnya terasa megah, melankolis, bahkan nyaris spiritual. Atmosfer malam yang dingin dan futuristik membungkus keseluruhan album seperti soundtrack kehancuran peradaban di planet asing. Beberapa bagian bahkan mengingatkan pada Amorpghis " The Karelian Isthmus " era awal atau nuansa muram Gorement dan Uncanny, hanya dengan pendekatan yang lebih progresif dan teatrikal. Masalahnya, Dan Swanö tampaknya terlalu penuh ide untuk tahu kapan harus berhenti. Dan di sinilah " Crimson " mulai runtuh oleh ambisinya sendiri. Karena semakin lama album berjalan, semakin terasa bahwa Edge of Sanity tidak pernah benar-benar bisa duduk diam pada satu ide cukup lama untuk mengembangkannya secara maksimal. Baru saja sebuah tema melodis mulai terasa kuat dan emosional, tiba-tiba dipotong clean passage. Baru saja atmosfer dystopian mulai terbentuk, mendadak muncul groove aneh setengah Gothic rock. Baru saja riff death metal mulai menggigit, eh tiba-tiba masuk ritme rock yang terdengar terlalu santai dan nyaris konyol.

Album ini terus-menerus melompat antar ide seperti anak hiperaktif yang minum lima liter kopi. Dan akibatnya, banyak bagian terasa belum matang. Transisinya sering tidak alami. Banyak bagian terdengar seperti ditempel begitu saja demi mempertahankan label " Progresif ". Clean section-nya memang indah sesekali, tetapi lama-lama terasa seperti checklist wajib prog metal: " tenang dulu sebentar sebelum metal masuk lagi supaya pendengar bilang WOW. " Ini adalah penyakit klasik banyak album prog death era 90-an: terlalu sibuk mencoba terdengar luas sampai lupa membangun kohesi. Bahkan beberapa bagian yang lebih groove-oriented terdengar sangat aneh di dalam konteks album. Ada momen-momen di mana Crimson seperti kehilangan arah total dan berubah menjadi semi-groove metal generik beberapa menit sebelum kembali menjadi death metal progresif atmosferik. Perubahan seperti ini bukannya terasa dinamis, malah kadang terdengar seperti identitas musikal yang sedang panik. Dan ironisnya, justru bagian paling death metal dari album ini yang paling kuat. Ketika mereka berhenti sibuk menjadi progresif dan membiarkan riff-riff berat serta melodi gelap berkembang secara organik, Crimson benar-benar hidup. Tetapi mereka terlalu sering memotong momentum sendiri demi memasukkan ide baru berikutnya. Inilah yang membedakan mereka dengan Opeth misalnya. Opeth memahami pentingnya transisi emosional dan pembangunan suasana jangka panjang. Dark Millennium memahami bagaimana membiarkan melodi berkembang perlahan menuju klimaks tragis. Disaffected memahami bagaimana menggunakan disonansi untuk membangun paranoia atmosferik.

Edge of Sanity di " Crimson justru " seperti terus takut pendengarnya akan bosan jika satu ide dimainkan lebih dari tiga menit. Padahal beberapa ide mereka sebenarnya sangat kuat. Dan itulah tragedi " Crimson " : album ini penuh potensi besar yang tidak pernah benar-benar diberi ruang bernapas. Tetapi meskipun penuh cacat, " Crimson " tetap menjadi salah satu rilisan paling penting dalam sejarah death metal 90-an. Karena album ini menangkap momen transisi besar ketika death metal sedang mencari masa depan baru setelah gelombang awal kejayaan mulai runtuh. Ini adalah suara sebuah genre yang sedang bingung, ambisius, lapar berkembang, tetapi belum sepenuhnya tahu ke mana harus pergi. Dan mungkin justru karena itulah " Crimson " tetap begitu menarik sampai hari ini. Ia bukan karya sempurna. Ia adalah dokumen kegelisahan kreatif. Sebuah album yang terdengar seperti death metal sedang mencoba berevolusi di depan mata pendengarnya secara langsung, kadang megah, kadang canggung, kadang jenius, kadang nyaris berantakan total. Tetapi setidaknya, tidak seperti banyak band modern yang puas memainkan ulang formula usang demi algoritma Spotify dan kaos nostalgia, Edge of Sanity saat itu masih punya sesuatu yang sekarang mulai langka di metal ekstrem: Keberanian untuk gagal secara spektakuler demi mencoba sesuatu yang lebih besar.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine