Eucharist - Mirrorworlds CD 1997

Eucharist - Mirrorworlds
War Music CD 1997

01. Mirrorworld 04:45      
02. Dissolving 04:05       
03. With the Sun 04:13       
04. The Eucharist 06:36     
05. Demons 04:02       
06. Fallen 06:10       
07. In Nakedness 05:05       
08. Bloodred Stars 02:28


Martin Karlsson - Bass
Daniel Erlandsson - Drums
Markus Johnsson - Guitars, Vocals 


Ketidakstabilan adalah penyakit kronis yang diam-diam membunuh lebih banyak band metal dibanding minimnya skill atau buruknya kualitas musik. Ada band yang hancur karena narkoba, ego, label bangkrut, atau karena vokalisnya tiba-tiba merasa menjadi filsuf setelah membaca Nietzsche setengah halaman. Tetapi ada juga band yang sebenarnya punya semua amunisi untuk menjadi raksasa, hanya saja terlalu kacau untuk mempertahankan momentumnya sendiri. Dan Eucharist adalah contoh tragis paling sempurna dari fenomena itu. Band ini seharusnya bisa berdiri sejajar dengan In Flames, At the Gates, atau Dark Tranquillity dalam sejarah MDM Swedia. Bahkan dalam beberapa aspek, mereka sebenarnya lebih berani, lebih agresif, dan lebih musikal dibanding nama-nama besar tersebut. Tetapi seperti banyak " kuda hitam " lain di metal ekstrem, Eucharist lebih sibuk bergulat dengan ketidakstabilan internal dibanding membangun kerajaan musikal mereka sendiri. Line-up mereka berubah terus seperti cuaca musim dingin Gothenburg. Album sedikit, hiatus banyak, konsistensi karier nyaris tidak ada. Dan akibatnya, mereka menjadi salah satu nama paling kriminally overlooked dalam sejarah MDM 90-an. Namun ketika " Mirrorworlds " dirilis pada tahun 1997, semua kekacauan itu seolah tiba-tiba menemukan bentuk sempurna. album ini justru datang ketika scene Gothenburg sedang memasuki fase kodifikasi total. Pada masa itu, formula MDM sudah mulai dibakukan oleh album-album seperti " The Jester Race " dan " Slaughter of the Soul ". MDM mulai berubah dari gerakan kreatif menjadi template industri. Semua band mulai terdengar seperti kombinasi harmonisasi Iron Maiden, tremolo picking Swedia, dan growl emosional setengah putus asa. Banyak band mulai terdengar seperti fotokopi generasi ketiga dari ide yang sama. Tetapi Eucharist berbeda. Mereka tidak sekadar mengikuti tren Gothenburg. Mereka memahami anatomi genre itu lalu membedahnya untuk membangun sesuatu yang lebih tajam.

" Mirrorworlds " terdengar seperti sebuah band yang benar-benar mengerjakan PR mereka. Mereka menyerap semua elemen terbaik scene Gothenburg, harmonisasi gitar melodis, atmosfer melankolis, agresi death metal, sensibilitas heavy metal klasik, lalu memperkuat semuanya tanpa kehilangan kekejaman dasarnya. Kalau At the Gates mulai memangkas struktur lagu menjadi lebih ramping dan thrashy, dan In Flames mulai bergerak ke arah hook melodis yang lebih mudah dicerna, Eucharist justru mengambil jalur yang sedikit lebih panjang, lebih liar, dan kadang nyaris progresif. Dan hasilnya luar biasa. Album ini punya agresi berbasis thrash yang jauh lebih kuat dibanding kebanyakan rilisan Gothenburg saat itu. Banyak riff di sini benar-benar menggigit, bukan sekadar jadi kendaraan melodisasi manis. Permainan drum Daniel Erlandsson juga menjadi salah satu faktor besar yang membuat album ini terasa hidup. Tidak heran, karena pada masa yang sama ia juga mulai bermain dengan Arch Enemy, dan pengaruh itu sangat terasa. Bahkan jujur saja, ada banyak momen di " Mirrorworlds " yang terdengar seperti versi lebih ganas dan lebih emosional dari " Black Earth ". Tiga lagu awal langsung menghantam tanpa basa-basi. " Mirrorworld " membuka album dengan riff-riff garang yang nyaris terasa seperti perpaduan antara Iron Maiden yang dipaksa tumbuh di kuburan Stockholm dan At the Gates yang sedang marah besar. " Dissolving " membawa groove cepat yang sangat Gothenburg tetapi tetap punya tulang punggung thrash yang solid. Sementara " With The Sun " menjadi salah satu momen terbaik album dengan ledakan tremolo melodis yang dibungkus ritme brutal ala death metal Swedia awal. Dan yang paling menarik: meskipun album ini lebih melodis dibanding A Velvet Creation, permainan gitarnya justru terasa lebih teknis dan matang.

Markus Johnsson memang bukan Michael Amott. Mari realistis. Tetapi solo-solonya di album ini sangat hidup, emosional, dan punya karakter. Tidak terdengar seperti shredding kosong demi pamer skill. Bahkan di beberapa titik, permainan gitarnya terasa jauh lebih ekspresif dibanding banyak band Gothenburg yang lebih terkenal. Namun justru ketika album mulai meninggalkan formula dasar melodeath standar, di situlah " Mirrorworlds " benar-benar menunjukkan identitas uniknya. " The Eucharist " adalah sesi instrumental panjang yang nyaris terdengar seperti death ‘n’ roll progresif dengan improvisasi lead guitar yang liar dan penuh percaya diri. " Demons " membawa aura Sabbathian yang suram dan lambat. Sementara " Fallen " berubah menjadi monster quasi-prog yang nyaris membuat Erlandsson terdengar seperti drummer jazz ekstrem. Dan di sinilah album ini mulai terasa seperti sesuatu yang lebih besar daripada sekadar melodeath Gothenburg biasa. Sayangnya tidak semua eksperimen mereka berhasil sempurna. " In Nakedness " menjadi contoh paling jelas bagaimana ambisi besar kadang bisa berubah menjadi kebingungan artistik. Instrumen oboe yang terdengar seperti saksofon nyasar dari klub jazz kampus sebenarnya menarik di atas kertas, tetapi implementasinya terlalu acak dan terlalu cepat berpindah ide. Lagu ini seperti kumpulan potongan ide bagus yang tidak pernah benar-benar disatukan menjadi komposisi utuh. Tetapi untungnya, album ini menutup semuanya dengan " Bloodred Stars " , sebuah finale brutal yang mengingatkan bahwa di balik seluruh eksplorasi progresif dan atmosferiknya, Eucharist tetaplah band death metal Swedia yang tahu cara menghantam kepala pendengar dengan riff dan drum yang ganas. Dan mungkin itu yang membuat " Mirrorworlds " begitu penting.

Album ini berada di persimpangan dua dunia: antara agresi death metal awal 90-an dan melodisasi Gothenburg yang mulai mendominasi akhir dekade. Tetapi tidak seperti banyak band lain yang perlahan melunak demi aksesibilitas, Eucharist justru mencoba memperluas kemungkinan MDM tanpa sepenuhnya kehilangan kekerasannya. Ironisnya, justru karena itu mereka kalah populer. Karena scene saat itu mulai bergerak menuju formula yang lebih sederhana dan lebih mudah dijual. Album seperti " Whoracle " atau " The Mind's I " lebih mudah diterima publik karena lebih fokus dan lebih mudah dipahami. " Mirrorworlds " terlalu liar untuk pasar mainstream Gothenburg, tetapi terlalu melodis bagi kaum puritan death metal. Akhirnya Eucharist jatuh di antara dua dunia. Terlalu ekstrem untuk massa. Terlalu melodis untuk ortodoksi. Terlalu tidak stabil untuk menjadi legenda besar. Dan akibatnya, album sehebat ini tenggelam menjadi cult classic yang hanya dibicarakan oleh orang-orang yang benar-benar menggali kuburan terdalam MDM 90-an. Padahal jika bicara kualitas murni, Mirrorworlds berdiri sangat dekat dengan puncak genre ini. Bahkan berani w bilang, dalam beberapa aspek album ini lebih menarik dibanding banyak rilisan Gothenburg yang lebih terkenal. Karena Eucharist masih punya sesuatu yang kemudian hilang dari banyak MDM setelah akhir 90-an: Rasa lapar, Rasa bahaya Dan keberanian untuk terdengar tidak sepenuhnya aman.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine