Behind The Scenery - Nocturnal Beauty Of A Dying Land CD 1997

Behind The Scenery - Nocturnal Beauty Of A Dying Land
Independent CD 1997

01. Rain 01:19      
02. Apostle of Greed 05:11       
03. Blinded by Abnormality 06:25       
04. Lost Love 06:52     
05. Nocturnal Beauty 05:10       
06. Towards the Edge of Degeneration 05:46     
07. Emotion Obscurity 06:58


Holger Speidel - Vocals
Thomas Lindberg - Guitars
Till van der List - Guitars 
Andreas Kurz - Bass
Uwe Kurz - Drums


Di era ketika MDM Gothenburg mulai berubah dari seni gelap penuh luka menjadi sekadar produk rak distro dengan chorus " Emosional " dan rambut lurus hasil catokan industri, ada begitu banyak band bagus yang tenggelam tanpa nisan. Mereka tidak punya promosi besar. Tidak punya logo trendi. Tidak punya video klip murahan dengan filter biru MTV2. Mereka hanya punya riff. Dan kadang, di dunia metal, itu justru tidak cukup untuk bertahan hidup. Lalu muncullah album-album seperti ini. Album yang nyaris terasa seperti kaset kutukan hasil barter antar kolektor underground yang ditemukan di dasar kardus berjamur bersama poster konser tahun 1997 dan aroma rokok dingin. Album yang membuat orang berpikir: " Apakah benar cuma segelintir manusia di planet ini yang pernah mendengar band ini? " Dan ironisnya, justru di situlah letak kehebatannya. Karena rilisan seperti ini mengingatkan bahwa Gothenburg sound dulunya bukan sekadar formula. Ia adalah atmosfer. Ia adalah rasa dingin. Ia adalah kombinasi antara kemarahan death metal, melodi melankolis, dan aura kelam yang terdengar seperti hujan membasahi kota industri Skandinavia pukul tiga pagi. Behind The Scenery dari Göppingen, Baden-Württemberg, Jerman terbentuk tahun 1994 dan cukup 3 album saja band ini membubarkan diri. formasi pada album " Nocturnal Beauty Of A Dying Land " adalah vocalis Holger Speidel (Therein, ex-Athean, ex-The Quest), Gitaris Thomas Lindberg (ex-Dark Impressions), Gitaris Till van der List, bassis Andreas Kurz dan drummer Uwe Kurz (Agrace, Mirror of Deception, ex-Dark Impressions, ex-The Quest) 

Album ini membuka semuanya dengan intro akustik khas MDM Swedia, tipe pembuka yang pada pertengahan hingga akhir 90-an sudah hampir menjadi ritual wajib. Ya, memang tidak revolusioner. Kita sudah mendengar formula seperti ini puluhan kali sejak " The Gallery ", " Skydancer ", atau " Lunar Strain " mulai menyebarkan wabah melodi dingin ke seluruh Eropa. Tetapi untungnya, band ini cukup pintar untuk tidak berlama-lama bermain nostalgia akustik ala " Intro hutan berkabut ". Begitu lagu utama menghantam, semuanya langsung berubah menjadi serangan MDM yang padat, tajam, dan powerfully. Dan di sinilah album ini mulai menunjukkan kualitasnya. Musiknya sangat jelas berakar pada tradisi Gothenburg klasik, terutama era awal Dark Tranquillity. Namun bedanya, mereka terdengar lebih agresif dan lebih langsung menghantam. Tidak terlalu abstrak. Tidak terlalu artsy. Tidak sibuk berpura-pura menjadi filsuf sastra Skandinavia sambil menyisipkan puisi setengah sadar di booklet CD. Riff-riff mereka bergerak dengan pola melodic tremolo khas Swedia, tetapi tetap membawa bobot death metal yang nyata. Banyak band MDM gagal memahami keseimbangan ini. Mereka terlalu fokus pada melodi sampai lupa menjadi berat. Atau terlalu sibuk terdengar brutal sampai melodi mereka kehilangan jiwa. Band ini berhasil menjaga keduanya tetap hidup.

Tempo lagu sebagian besar berada di wilayah mid-paced. Dan justru itu kekuatan utama mereka. Mereka tidak perlu bermain secepat peluru nyasar untuk terdengar intens. Mereka membangun ketegangan lewat aliran riff yang terus bergerak, break melodik yang elegan, dan atmosfer dingin yang perlahan menyelimuti keseluruhan album seperti kabut beracun. Produksinya juga layak dipuji. Sound-nya cukup bersih untuk membuat setiap riff terdengar jelas, tetapi masih mempertahankan nuansa raw dan atmosferik yang sangat penting untuk MDM era itu. Untungnya mereka tidak terjebak dalam produksi plastik steril ala awal 2000-an, ketika banyak band mulai terdengar seperti rekaman komputer tanpa darah dan tanpa kotoran. Di sini gitar masih menggigit. Bass masih terasa hidup. Drum masih terdengar seperti dimainkan manusia, bukan mesin fotokopi trigger digital. Dan vokalnya? Di situlah album ini benar-benar mengunci identitasnya. Vokal growl di album ini brutal, liar, dan penuh amarah. Tidak ada clean singing cengeng. Tidak ada chorus radio-friendly yang memohon dijadikan soundtrack patah hati anak mall. Tidak ada upaya murahan untuk terdengar " accessible ". Hanya raungan death metal yang ganas dan tepat sasaran. Dan itu sangat menyegarkan.

Karena terlalu banyak band Gothenburg generasi kedua akhirnya jatuh ke jurang " Melodic Alternative Metal " sambil tetap bersikeras menyebut diri mereka death metal. Untungnya band ini tidak ikut-ikutan kehilangan tulang belakang. Yang paling menarik sebenarnya bukan soal originalitas. Mari jujur saja: album ini tidak menemukan genre baru. Mereka tidak merevolusi MDM. Mereka tidak menciptakan teknik aneh atau struktur avant-garde yang membuat pendengar harus membaca teori musik sebelum mendengarkan. Tetapi mereka memahami inti dari Gothenburg sound lebih baik daripada banyak band yang jauh lebih terkenal. Mereka tahu bahwa MDM bukan soal sekadar memasukkan melodi ke riff cepat. Ia soal suasana. Soal kontras antara agresi dan kesedihan. Soal bagaimana satu lead guitar bisa terdengar seperti ratapan manusia terakhir di tengah kota beku yang runtuh. Dan album ini punya semua itu. Setiap lagu mengalir dengan konsisten tanpa benar-benar jatuh ke filler murahan. Memang ada banyak elemen yang terasa familiar, tetapi familiar di sini bukan kelemahan. Ini seperti menemukan pisau tua yang masih tajam dibanding gadget modern yang penuh fitur tetapi tidak bisa memotong apa-apa. Album ini mungkin tidak akan mengubah pikiran orang yang membenci MDM Gothenburg. Kalau seseorang sudah alergi terhadap formula riff harmonis Swedia dan atmosfer melankolis Nordik, tentu saja album ini tidak akan tiba-tiba membuat mereka bertobat. Tetapi bagi mereka yang masih haus akan era ketika MDM terdengar dingin, ganas, dan penuh karakter, sebelum genre ini dipermak menjadi soundtrack gym modern dengan breakdown generik album seperti ini adalah harta karun. Sebuah pengingat pahit bahwa sejarah metal dipenuhi band-band luar biasa yang tenggelam bukan karena buruk, tetapi karena dunia terlalu sibuk mengejar nama besar dan tren sesaat. Dan seperti biasa, underground yang sesungguhnya tidak pernah mati. Ia hanya dikubur terlalu dalam untuk ditemukan orang malas.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine