Taetre - The Art CD 1997

Taetre - The Art
RRS CD 1997

01. Intro: Entrance 666 01:26       
02. My Lament 05:30     
03. Prince of Many Faces 04:34     
04. The Art 04:50      
05. When Winter Came 03:33     
06. Lifeplague 06:54       
07. Labyrinth of the Mind 03:57     
08. The Halls Have Eyes 04:24     
09. Into the Dawn 04:52     
10. Outro: The Return 01:28


Jonas Lindblad - Guitars, Vocals
Daniel Nilsson - Guitars
Conny Vandling - Bass
Kalle "Graveyard Skeleton" Pettersson - Drums


Di antara kabut dingin Skandinavia, reruntuhan toko kaset underground, dan tumpukan rilisan MDM akhir 90-an yang sebagian besar hari ini terdengar seperti soundtrack gagal untuk festival rambut gondrong sponsor minuman energi murah, sesekali muncul sebuah album yang mengingatkan kita bahwa dulu " Melodic " belum berarti lembek, " Modern " belum berarti steril, dan " Gothenburg sound " belum berubah menjadi jalur cepat menuju metalcore MTV. Lalu datanglah " The Art ". Sebuah album yang tidak pernah dielu-elukan seperti " Slaughter of the Soul ". Tidak dipuja setinggi " The Somberlain ". Tidak punya status kultus sebesar " Like an Ever Flowing Stream ". Tetapi cukup ganas, cukup cerdas, dan cukup jujur untuk menghancurkan sebagian besar " New Wave Swedish death metal " palsu yang membanjiri akhir dekade itu. Dan ironisnya, banyak orang baru benar-benar sadar bertahun-tahun kemudian. Karena mari kita jujur tanpa perlu diplomasi ala reviewer majalah sponsor label besar: sebagian besar ledakan MDM Swedia pasca kesuksesan At the Gates berubah menjadi parade heavy metal biasa dengan vokal teriak. Banyak band mulai meninggalkan akar death metal mereka demi riff yang lebih aman, produksi lebih bersih, dan chorus yang terdengar siap dijual ke remaja berhoodie hitam. Ya, Dark Tranquillity dan In Flames mungkin tetap band hebat dalam konteks tertentu. Tetapi death metal? Tolonglah. Pada titik tertentu mereka lebih dekat ke heavy metal melodik modern dibanding dunia busuk penuh darah dan kuburan tempat death metal seharusnya berasal. Namun Taetre mengambil jalur berbeda, Mereka tidak mencoba menjadi lebih modern, Mereka tidak mengejar tren, Mereka tidak terdengar seperti sedang berusaha masuk playlist radio alternatif Eropa. Mereka justru membuat album yang terasa seperti surat cinta brutal terhadap seluruh kekuatan death metal Swedia awal 90-an, yang dipadukan sedikit black metal dingin dan atmosfer melankolis yang menusuk tulang. Dan hasilnya? " The Art " terdengar seperti monster yang lahir terlalu terlambat.

Begitu intro album selesai dan " My Lament " mulai menghantam, langsung terasa bahwa Taetre memahami sesuatu yang banyak band sezamannya mulai lupakan: agresi. Bukan agresi kosmetik penuh trigger drum steril dan riff generik, tetapi agresi yang benar-benar punya rasa lapar. Musik mereka menggigit, menyeret, lalu menghantam dengan energi yang hampir liar. Album ini penuh tremolo riff khas Nordik yang dingin dan menghantui. Banyak bagian bahkan terdengar nyaris black metal, terutama dalam penggunaan harmoni minor dan atmosfer suramnya. Tetapi fondasi death metal mereka tetap sangat kuat. Blast beat meledak di mana-mana, riff bergerak dengan rasa kasar ala Stockholm, dan lead guitar mereka membawa melankoli yang mengingatkan pada Edge of Sanity, Necrophobic, atau Unanimated. Dan syukurlah, mereka tidak terdengar seperti rip-off murahan. Memang ada jejak Dissection di beberapa riff,  terutama " When Winter Came " yang hampir terasa seperti saudara jauh dari " The Somberlain ", tetapi Taetre tetap punya identitas sendiri. Mereka lebih kasar, lebih death metal, dan lebih tidak terkontrol. Yang menarik, songwriting mereka cukup berani untuk ukuran rilisan 1997. Lagu-lagu Taetre jarang berjalan lurus. Mereka suka menyisipkan bagian baru tiba-tiba, mengganti tempo secara agresif, atau memecah struktur lagu dengan perubahan ritme yang membuat album terasa hidup. Ini bukan tipe MDM malas yang hanya mengulang chorus tiga kali sambil berharap pendengar terlalu mabuk untuk sadar. Taetre benar-benar menulis lagu. Dan lagu-lagu mereka penuh detail.

Dengarkan " Lifeplague ", misalnya. Ada bass solo keren yang muncul entah dari mana seperti pengingat bahwa bass sebenarnya adalah instrumen, bukan sekadar dekorasi frekuensi rendah yang dikubur produser modern. Atau " The Labyrinth of the Mind " yang bergerak antara keganasan death metal dan nuansa psikologis muram dengan sangat natural. Sementara " Prince of Many Faces " membawa tema Vlad Tepes alias Dracula dengan pendekatan yang untungnya lebih gelap dan atmosferik dibanding kebanyakan band gothic metal murahan yang sibuk menjadikan vampir seperti model catwalk berambut hitam. Memang ada beberapa bagian melodik yang agak cheesy di tengah lagu itu. Tetapi setidaknya Taetre masih cukup punya harga diri untuk tidak berubah menjadi soundtrack klub fetish vampir murahan. Vokal mereka juga pantas dipuji besar-besaran. Growl-nya brutal, kasar, penuh kebencian, tetapi masih cukup jelas sehingga lirik bisa dipahami. Ini penting. Terlalu banyak vokalis death metal terdengar seperti blender rusak penuh batu kerikil tanpa artikulasi apa pun. Taetre justru berhasil menjaga keseimbangan antara kekerasan dan ekspresi. Dan atmosfer album ini benar-benar dingin.

Produksinya memang agak trebly dan drum kadang terasa kurang kuat, terutama snare yang seharusnya bisa lebih menghantam, tetapi justru karakter sound seperti itulah yang memberi The Art aura suram dan menyeramkan. Keyboard digunakan sangat minim, tetapi cukup efektif untuk memperluas lanskap atmosfer tanpa berubah menjadi simfoni plastik ala Gothic metal Eropa akhir 90-an. Yang paling menarik adalah bagaimana album ini terasa sangat familiar tetapi tetap memuaskan. Taetre bukan inovator revolusioner. Mereka bukan pelopor genre baru. Mereka tidak menciptakan formula baru. Tetapi mereka memahami dengan sangat baik semua elemen terbaik death metal Swedia dan merakitnya dengan penuh energi dan rasa hormat terhadap akar genre tersebut. Dan terkadang itu jauh lebih penting daripada sekadar menjadi inovatif.  Karena terlalu banyak band mencoba terdengar baru sambil lupa cara menulis riff bagus. " The Art " mungkin tidak masuk daftar album legendaris wajib semua orang. Cover-nya bahkan terlihat cukup amatir, seperti hasil desain malam terakhir sebelum deadline percetakan. Tetapi musiknya? Musiknya jauh lebih kuat daripada visual luarnya. Ini adalah album yang membuktikan bahwa pada akhir 90-an masih ada band-band Swedia yang menolak tunduk pada modernisasi MDM yang semakin jinak. Band yang masih percaya pada perpaduan brutalitas, melankoli, dan riff dingin penuh kabut Nordik. Dan di tengah lautan band Gothenburg yang mulai terdengar seperti heavy metal salon rambut dengan scream tambahan, Taetre muncul membawa pengingat penting: Death metal masih bisa melodik tanpa kehilangan taringnya.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine