Auberon - The Tale of Black...
Black Mark Production CD 1998
01. Intro 00:51
02. Infinite Beauty 04:47
03. Secrets 04:49
04. A Whispering Wind 05:48
05. The End of All 02:56
06. The Dance 05:13
07. A Farewell of Creation 04:11
08. The White Ship 02:34
09. Tearless 04:53
10. For All Time 03:51
Fredrik Degerström - Vocals
Johan Westerlund - Guitars
Johan Asplund - Guitars
Pekka Power - Bass
Morgan Lie - Drums
MDM Swedia Di era 90-an sebenarnya bukan cuma soal riff harmonis, growl putus asa, dan foto band hitam-putih dengan pose seperti baru dipecat dari pabrik kayu. Di balik dominasi At the Gates, In Flames, dan Dark Tranquillity, ada banyak band yang mencoba membawa genre ini ke arah yang lebih imajinatif, lebih fantastis, dan lebih atmosferik. Sayangnya, sebagian besar terkubur sebelum sempat mendapat sorotan layak. Salah satu nama yang paling menarik dari kelompok " nyaris terlupakan " itu adalah Auberon dengan debut mereka, " The Tale of Black ". album ini terasa seperti artefak dari timeline alternatif ketika MDM metal tidak sepenuhnya terseret menjadi lomba siapa paling teknikal, paling agresif, atau paling gampang dijual ke festival metal modern penuh sponsor minuman energi. Karena sejak melihat cover albumnya saja, Auberon sudah mengirim sinyal berbeda. Dibentuk tahun 1997 awalnya sebagai nama Oberon dari daerah Umeå, Västerbotten. pada album perdana ini diperkuat oleh formasi : Vocalis Fredrik Degerström (ex-Bewitched, ex-Goatsodomizer, ex-Naglfar, ex-Disorge, ex-Scandinavia, ex-Stormleigh) yang wafat tahun 2025 kemaren, gitaris Johan Westerlund (Moon Safari, ex-Mishrak, ex-House of Mirrors ), Gitaris Johan Asplund, bassis Pekka Power (Fraction of Chaos, ex-Perpetual Crusade, ex-Persuader, ex-One Man Army and the Undead Quartet) dan Drummer Morgan Lie (ex-Gimhell, ex-Bone Gnawer, ex-Naglfar, ex-Slutstation Tjernobyl) untuk menggarap materinya di Garageland Studio.
Seorang penyihir berdiri di lanskap asing nan fantastis, seperti ilustrasi novel fantasi paperback murah tahun 80-an yang ditemukan di toko buku bekas bersama bau lembab dan debu. Dan anehnya, justru itu yang membuatnya menarik. Di saat banyak band Gothenburg sibuk menulis tentang alienasi sosial, kehancuran mental, perang batin, atau puisi eksistensial setengah matang, Auberon malah menawarkan eskapisme. Dan bukan eskapisme murahan ala power metal dengan naga CGI dan lirik tentang " Steel ", " Sword ", dan " Eternal fire " yang terdengar seperti hasil generator teks fantasy online. Auberon membawa nuansa fantasi dengan cara yang jauh lebih suram, lebih melankolis, dan lebih dewasa. Mereka seperti mengambil fondasi MDM Swedia, lalu menyuntikkan atmosfer dongeng gelap, progressive rock samar, dan aura petualangan mistis yang jarang disentuh band lain pada masa itu. Hasilnya memang tidak sempurna. Tetapi sangat menarik. Secara musikal, perbandingan paling masuk akal jelas mengarah ke era awal " The Gallery " , " The Mind's I " , atau " Terminal Spirit Disease ". Namun " The Tale of Black " punya warna yang lebih gelap dan lebih " naratif ". Riff-riff gitar mereka tidak selalu langsung mencolok seperti harmoni ikonik Gothenburg klasik. Melodi di sini lebih sering tersembunyi di balik struktur chord dan pergerakan ritmis, membuat pendengar harus benar-benar menyelami lagu untuk menemukan keindahannya. Dan itu justru kekuatan album ini. Ia tidak memaksa diri terdengar catchy setiap 15 detik seperti banyak melodeath modern yang terdengar lebih cocok jadi soundtrack video medsos gym ketimbang album metal sungguhan.
Auberon membangun atmosfer secara perlahan. Kadang dengan riff agresif. Kadang dengan transisi tenang. Kadang dengan lead gitar yang terdengar seperti tersesat di antara progressive rock dan black metal melodik. Lead guitar di album ini pantas mendapat pujian besar. Permainannya penuh nuansa petualangan, melankolis, dan rasa mengembara yang sangat khas. Mereka tidak sekadar memainkan solo demi pamer teknik. Ada rasa eksplorasi di sana. Kadang melodinya terasa seperti akan menuju klimaks tertentu lalu tiba-tiba berubah arah secara elegan. Dan di tengah semua itu, rhythm guitar terus bergerak aktif, mengisi ruang dengan riff-riff padat yang menggabungkan spirit thrash metal dan heavy metal 80-an ke dalam kerangka death metal Swedia yang lebih kasar. Formula yang sebenarnya menjadi karakteristik utama MDM klasik. Yang membuat album ini semakin menarik adalah pendekatan vokalnya. Vokal harsh di sini punya karakter liar dan kasar, jauh lebih dekat ke gaya Tomas Lindberg atau Alexi Laiho dibanding pendekatan emosional dan serak khas Mikael Stanne. Kadang scream mereka terdengar begitu liar sampai nyaris absurd. Bahkan di beberapa bagian layering vokalnya terasa terlalu kasar dan terlalu " berdarah ". Tetapi justru di situlah daya tariknya. Ada kontras aneh ketika vokal brutal itu bertabrakan dengan bagian instrumental yang hampir terdengar seperti progressive rock atmosferik. Seolah-olah album ini sendiri sedang berperang antara keindahan dan kebrutalan. Dan anehnya justru berhasil. Namun kejutan terbesar album ini justru datang dari clean vocal mereka. Ya, clean vocal.
Elemen yang sering menjadi sumber bencana di MDM 90-an karena terlalu banyak band merasa perlu terdengar " Emosional " padahal vokalisnya bernyanyi seperti orang flu berat dipaksa karaoke setelah tiga botol vodka. Tetapi Auberon cukup cerdas. Mereka menggunakan clean vocal secara hati-hati dan atmosferik. Dalam lagu seperti " The Dance ", clean vocal justru menjadi perekat emosional seluruh komposisi. Ada aksen teatrikal dan nuansa dongeng yang membuat album ini terasa benar-benar fantastis, bukan sekadar death metal dengan cover fantasy. Ironisnya, clean vocal mereka bahkan terasa lebih kuat dibanding harsh vocal utama. Dan di situlah paradoks album ini muncul. Karena jika Auberon berani lebih jauh menggunakan clean vocal sebagai elemen dominan, mungkin album ini justru bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih unik dan lebih berkesan dibanding sekadar " permata metal Gothenburg ". Tetapi tentu saja, tahun 90-an bukan era yang ramah untuk eksperimen semacam itu. Scene death metal masih terlalu sibuk menjaga citra keras dan brutal, sehingga banyak band takut terdengar terlalu berbeda. Akhirnya Auberon tetap berdiri di tengah: tidak cukup ekstrem untuk black/death metal purist, tidak cukup melodis untuk massa melodic metal, dan tidak cukup terkenal untuk dicatat sejarah mainstream. Padahal kualitas musikal mereka jelas di atas rata-rata.
Permainan drum album ini juga sangat solid. Double bass, fill agresif, dan perubahan tempo digunakan dengan efektif tanpa berubah menjadi ajang unjuk kemampuan kosong. Drum benar-benar menopang suasana epik dan rasa urgensi di hampir seluruh album. Ada energi putus asa yang mengingatkan pada Slaughter of the Soul, tetapi dengan pendekatan yang lebih atmosferik dan progresif. Produksi rekaman memang bukan level tertinggi. Beberapa bagian terdengar sedikit wash-out dan kabur, khas banyak rilisan MDM kelas underground akhir 90-an. Tetapi dibanding banyak band lain yang terdengar seperti direkam di dalam gudang mesin cuci rusak, The Tale of Black masih terdengar cukup jelas dan seimbang. Dan justru sedikit kekaburan itu memberi karakter. Karena album ini memang terasa seperti kabut: suram, misterius, kadang indah, kadang ganas, kadang membingungkan. Tetapi selalu menarik untuk diikuti. Secara keseluruhan, " The Tale of Black " bukan album yang akan langsung menghantam pendengar dengan hook instan atau chorus stadion. Ia bukan masterpiece revolusioner yang mengubah sejarah genre. Bahkan mungkin tidak akan masuk daftar " Top 10 MDM Albums Ever " milik kebanyakan orang. Namun album ini punya sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar popularitas: Identitas ! Di saat banyak band MDM Swedia terdengar seperti salinan satu sama lain, Auberon mencoba menciptakan dunia sendiri. Dunia penuh lanskap fantasi gelap, melodi melankolis, agresi death metal, dan nuansa petualangan yang nyaris terasa seperti soundtrack RPG gelap sebelum industri game modern menghancurkan semuanya dengan DLC kosmetik dan preorder bonus. Dan mungkin itulah alasan kenapa album ini masih layak dicari sampai sekarang. Karena " The Tale of Black " mengingatkan kita pada masa ketika MDM belum sepenuhnya kehilangan imajinasi.
Home
[CLASSIX MOST WANTED]
[Melodic Death Metal]
[Melodic Thrash Metal]
* Auberon
#Sweden
★ Classic Release Academy ★
1998
Auberon - The Tale of Black... CD 1998
Auberon - The Tale of Black... CD 1998
Written by REVIEW LOSTINCHAOS Juni 07, 2026 0
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)



0 Comments:
Posting Komentar
Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !