Crown Of Rage - Ascending from Deadly Abyss CD 2016
































Crown Of Rage - Ascending from Deadly Abyss
Eastbreath Records CD 2016

01 The Exorcism of Rage 02:17   
02 Victims Oppression 03:36   
03 False Preach of Lucius 04:36       
04 In Between 05:01
05 Ascending from Deadly Abyss 05:36
06 Place of Retribution 04:29
07 Aftermath 04:44
08 Ranah Penindasan (Bonus Track) 04:29

Setiawan Anung - Vocals
Arif Hidayatany - Guitars
Hakam Uno Techno - Bass
Achmad Rois - Drums

Warn ! .. Sesuatu yang " Berbeda " itu memang pasti Keren ! kenapa Gw bilang begitu? Coz kondisi mainstream ditengah booming persepsi konsep musikal hari ini sedang tidak terkendali, dan masih ada 1 konsekuensi tak terelakkan, " Berani Tampil Beda !!! " yang tanpa disadari justru akan menjadi Poin plus mengejutkan fans musik cadas, Especially for consume dynamic stuff ! Since then many bands from extreme genres have Encompassed various technical elements taking composition and song structure to a new level. Free form Expression in technical metal has become increasingly popular over the years. It’s just the beginning, there’s a lot that will emerge in the days ahead. menurut Gw Pribadi konseptual band bentukan salah satu member Pioner DM Kudus dari era 90-an, Mantra, Gitaris Arif yang saat ini berdomisili di Purwodadi, Jateng membentuk obsesi barunya bareng panji CROWN OF RAGE (COR). dengan menyajikan Crosstyle kompleks antara Blotted Science, Believer, Invocator, Sadus, Malignancy, Monstrosity, Lethargy, Megadeth, Lost Soul, Theory In Practice, Capharnaum, Lykathea Aflame hingga Lamb Of God. konsep ganjil dan Unik dalam warna teknis-nya memang menjadi silang kontroversi ketika kita dihadapkan pada sebuah bakunya tradisi, jika TDM harus begini, TTM harus begitu bla bla bla, karena bagi COR memang tidak memiliki limit presentasi dalam menyuguhkan komposisi yang mereka yakini sebagai Exposing terbaik bagi new level Masterpiece band ! Seriously, COR hanya ingin menempatkan banyak perhatian pada package aransemen, dan COR tidak ingin tampil lebih mengerikan, tidak ada yang terlalu istimewa jika COR mendominasi musikal untuk keseluruhan materi penuhnya untuk selalu menempatkan hal-hal sederhana, jika seharusnya ada yang lebih fokus pada riff dan struktur keseluruhan daripada menghabiskan terlalu banyak waktu menjadi Fretboard Warrior. Mengusung warna Death Metal Dinamis dengan sentuhan Thrash Riff elemen yang tidak banyak Gw jumpai di Scene tanah air, DM dengan sentuhan yang Unik dan Ganjil dengan beberapa Bar & Lick yang ga mudah ketebak setiap progres-nya, dan ini tentang bagaimana COR mengkonfigurasi sebuah komposisi yang sangat berani, sehingga ga bakal cukup sekali atau dua kali bagi Audiens dapat mencerna-nya. The band makes Nice use of Quick jumps between Tremolo picking and Hyper-fast power Chord based Riffing and the Occasional Pinch Harmonic Scattered throughout. saat paling dinantikan sejak dibentuk tahun 2014, COR memperkenalkan " Ascending from Deadly Abyss " sebagai debut penuh pertama dengan menggandeng Enjiner yang sudah ga asing bagi Scene tanah air, Avaness dari Demented Heart menyulap produksi akhir tetap dengan sentuhan khas-nya. well, menjadi tidak sabar untuk segera membedah salah satu Album yang paling Gw tunggu sejak gagal move on dari demo awal " Victims Oppression " ditambah materi Video clip " In Between " telah menjadi referensi debut " Ascending from Deadly Abyss " menjadi yang paling Gw tunggu. Making music with no Boundaries, No limitations. Be the different !!!

Memang tidak seperti kebanyakan yang pernah Gw dengerin dari Scene tanah air, Konsep yang ditawarkan COR memang terbilang " Berbeda " rasanya ketika pertama kali terdengar seperti yang Gw tulis, sentuhan yang Unik dan Ganjil dengan beberapa Bar & Lick yang ga mudah ketebak setiap progres-nya, dan ini tentang bagaimana COR mengkonfigurasi sebuah metode komposisi yang berani, sehingga bagi penikmat extreme mainstream ga bakal cukup sekali atau dua kali bagi Audiens mencerna-nya. warna Death Metal Teknikal masih diblend dengan beberapa sentuhan Thrash Riffing terus dipadu lagi dengan Art Drumming Progressif styled, sehingga pada saat awal mendengar ada " beberapa " elementasi Bar yang masih terasa " Unik ", sehingga bagi telinga yang lebih terbiasa dengan ketukan normal pasti bakal menyisihkan lebih dalam konsentrasinya untuk bisa menangkap esensi musikal COR secara Detil. There are definitely some moments of Awesome shown on the track but it goes on too long and could have been cut down a bit. If a band is going to write songs that are longer, they need to have enough Dynamics in the music to keep one Interested. Gw mulai dengan Track pertama " The Exorcism of Rage ", istilahnya masih menjadi Peregangan Sistematis kerja otot dan Otak dapat stabil mereduksi, track ini step by step coba menyulapnya menjadi First Therapy. kerja sama Exploring Riff dan ketukan Drum seperti menjadi Komposisi mendasar COR, coz disinilah tantangan itu mulai terbentuk masif. bagaimana secara tiba-tiba Progress Riff dari tenang menjadi Kasar dan Panik kemudian melentur lagi partisi demi partisi, sehingga untuk menebaknya agak sulit walau karakternya sendiri meski tidak terlalu mengumbar kesan Chaotic, namun cukup membuat pendengarnya menebak nebak buah manggis. mengaransemen kembali track lawas " Victims Oppression " dengan karakteristik formasi baru, agak menjadi pangling dari segi pembawaannya yang dramatis. Incorporate a good Amount of pinch Harmonics and making them Absolutely Enjoyable. membaca lick dan Bar Gitaris Arif Hidayatany yang coba ingin menuangkan segala ide kreatif dan melahirkan aransemen yang mungkin tidak pernah terfikirkan oleh kita sebelumnya, Crosstyle Death Metal Style dengan Thrashing Riff. kemudian beruntung drummer Achmad Rois cukup menjadi Sparing Partner musisi tangguh untuk menghadapi Trik trik Fill Riff yang kompleks ini. mencermatinya seperti menyusun teka teki silang yang tidak saling berhubungan tapi mampu melahirkan akselerasi Harmoni yang terjalin dramatis. They tend to follow a more TDM style, but they're more Controlled and are perfect for Headbanging along to. As for the Negative part, some of the riffs just come off as Spastic or Straightforward. Vocalis Setiawan Anung memiliki Power meraung sangat Kuat, sehingga beberapa pattern harus membuatnya dirinya seperti panik dan mengamuk hebat, walau sepintas seperti kurang menjumpai titik temu sistematis buatnya meletakkan pattern standar bernyanyi, typical meraungnya sendiri seperti perpaduan Powerfully antara George Fisher Cannibal Corpse dengan Lenzig Cephalic Carnage. tekanan Hebat komposisi COR seperti telah menyapu stagnan sebuah kompromi. menyambung kemudian " False Preach of Lucius ", pemandangan semakin menantang seperti meledak sistematis setiap kejutan Fill demi Fill. COR like drift, they meander, they plod, they sometimes dart away but they never compel you to " bang your head Against the stage like you never did before " with any Decent riffs. memiliki Breaking Part yang ajib, rasanya Gw pengen lebih lama menikmati setiap Bar tanpa harus menerka nerka panjang. " In Between " membawa Atmosfir lebih tajam ketika Konspirasi musikal COR makin meningkat 2-3 langkah lagi, sehingga rasakan sendiri bagaimana COR akan mendobrak batasan Genre yang diusung tetap menjadi sajian lebih menarik. Yess, This mixture of members of the band each with High Degrees of Technical Proficiency would form the base for their finest Accomplishment ! Part riff awal selintas mengingatkan dengan " Holy Wars... The Punishment Due " nya Megadeth atau mungkin " Heartwork " nya Carcass. kemudian improve scale dengan petikan nakal dibarengi dengan permainan drum cepat membaca skill hingga menyusun ritme dan tempo terdengar teknikal dengan tempo-tempo yang so pasti terdengar Ganjil. COR memang sepakat membebaskan ide Karakter member-nya Mengeksplor lebih luas Harmonisasi Death Metal Kompleks dan keras ! teknik bermain yang coba melebur beberapa Karakter menjadi Gaya bermain unik, Gw rasa mampu mempertegas Esensi Musikal yang dimainkan COR tidak membuat seseorang mengalami Delusi kenikmatan. The songs are Structured freak considerably better with the constant changes of riff Ensuring that the songs are Evolving Incessantly. seperti tidak akan pernah kehabisan Ide Unik-nya terus mengkomposisi nada-nada Ganjil " Ascending from Deadly Abyss ", bikin Gw garuk-garuk rambut lagi mencari titik komposisi. secara mendasar COR ingin meleburkan partikel harmoni lewat warna yang terkemas Chaotic meski tanpa harus tampil diluar batasan emosional persis mendeteksi Seseorang yang sedang mengalami gejala Bipolar. begitu juga dengan " Place of Retribution ", akan terlalu jauh membuat Labirin penyesatan bagi Audience mencerna-nya. only had one idea and tried to make a musical Blueprint out of it. There is no Energy, you can almost hear how bored and Emotionally Disconnected they all are from it and every track sounds like a big loop. Some guys got together and decided they wanted to make some money making music but they didn't put any Emotion, feeling or Energy into it and they Decided they had better things to do than write songs. " Aftermath " tidak akan pernah berhenti mencekam suasana dengan kejutan kejutan berikutnya, mendengarkan sekali konsep musik COR, Gw jamin buat kalian akan sulit memprediksi gelagat COR mengantarkan kita akan kemana, COR sebenarnya hanya ingin semakin Kritis mengeksplorasi komposisinya meski harus dibawah sadar pendengarnya. Ending Setlist, COR menambahkan " Ranah Penindasan " sebagai Bonus track yang melengkapi durasi keseluruhan hampir 35 menit ini. Well, sejauh ini Esensi musikal COR memperjelas pengalaman segar baru yang akan menjelajahi art musik yang memang tidak memiliki batasan baku, dan jelas banget COR ingin terus mengembangkan lagi dari Tradisi yang sudah ada. That was until I came back from an Experience that really Broadened my Outlook.

Overall, I found " Ascending from Deadly Abyss " to be Excellent, while not as Dynamic Metal as other releases, it is largely influential on their own Respective genre. Gw jamin kalian akan mendapatkan sebuah pengalaman baru ketika mendengarkan sesuatu yang " Unik, berbeda dan berani " dari kebanyakan yang diusung band-band lokal tanah air, COR akan menjadi catatan serius ketika komplikasitas musisi bertemu dan melakukan Battle Skill, jawabannya Gw rekomendasikan tantangan serius dengan mencicipi sendiri taste menantang " Ascending from Deadly Abyss ". Good Job banget semuanya di COR atas kerja keras-nya mewarnai scene kita lewat hidangan menyegarkan. Artwork karya Jonrinz Art coba memberikan imajinasi Old School art yang memorable kembali dari era 90-an, meski sayang penyusunan layoutnya sendiri masih harus lebih dirapihkan lagi sehingga tidak terkesan ramai dan font berlapis-lapis. secara keseluruhan, Gw patut memberikan Applous untuk segala Ide Kreatif memainkan lebih dari Tradisi yang kita kenali, ini seperti mencoba mendobrak keras batasan kaku dan saatnya kita lebih membuka pandangan luas, apa yang kita pahami semakin hari semakin berani, tanpa batas dan tanpa kompromi. Masih berani menerima Tantangan? Are You Ready come into the Realm? Keep wait for the Pretentiousness Witnessed ! It’s a must have for every Riff Fanatic, every Explicit Production Fanatic, and everyone who loves mean and Aggressive songs into New levels.










CHECK MINI TEASER MADE By LICMEDIA

REVIEW LOSTINCHAOS

semua tulisan disini adalah Hak Milik LOSTINCHAOS Mediazine yang FREE TO SHARE, semua buah pikir dan Pendeskripsian style musik band dalam setiap tulisan hanya sebagai penggambaran penulis sendiri dan BUKAN untuk menyamakan apalagi membanding-bandingkan ! (mohon jangan dibolak balik lagi). cukup hanya dengan mencantum-kan Source Review link-nya. tulisan disini dibuat dengan jujur tanpa tendensi atau kepentingan apapun, jika Gw bilang bagus ya bagus begitu juga sebalik-nya, karena Gw semaksimal mungkin menyajikan argumen obyektif serta fair review tentang sebuah produk yang masuk dimeja redaksi, saran, kritik dan caci maki, silahkan tinggalkan komentar dibawah ini, Keep Metal Flame till' die !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !