Necrosick #2 - 2000

Necrosick #2 - 2000

Ada fanzine yang dikenang karena Interviewnya, ada yang bertahan dalam ingatan karena dokumentasi band-band langka. Namun, ada pula publikasi yang justru memiliki daya tarik terbesar melalui sesuatu yang biasanya hanya dianggap pelengkap: artwork. Megaton Zine edisi ini masuk dalam kategori terakhir. Dengan 50 halaman format A4, teknik cetak xerox, dan bahasa Inggris, publikasi ini menawarkan sebuah perjalanan ke jaringan ekstrem metal internasional, tetapi senjata terkuatnya justru terletak pada goresan visual Dede Suhita. Daftar Interviewnya tidak main-main. Soils Of Fate, Bloody Gore, Gorerotted, Unborn, Obliteration, Excarnated, Atavism, Sepsism, Pathology Stench, Encabulos, Cock And Ball Torture, Malignancy, hingga Intense Hammer Rage memperlihatkan cakupan yang bergerak di wilayah brutal death metal, grindcore, dan berbagai cabang ekstrem lainnya. Ini bukan daftar nama yang dibangun untuk menyenangkan pendengar metal konvensional. Ada kebrutalan, deformasi musikal, dan estetika menjijikkan yang menjadi bagian dari bahasa visual maupun musikal underground. Akan tetapi, persoalannya segera muncul: memiliki daftar band hebat tidak otomatis menghasilkan Interview hebat. Dan di sinilah Megaton memperlihatkan jarak antara kekuatan artistik dengan kematangan jurnalistiknya. Jika ada satu alasan kuat untuk membuka dan menyimpan edisi ini, jawabannya adalah Dede Suhita melalui Inhuman Art.

Dede bukan sekadar ilustrator yang kebetulan menyukai musik ekstrem. Namanya memiliki hubungan panjang dengan perkembangan komunitas metal Indonesia, khususnya Yogyakarta dan Bali. Kajian seni dari Institut Seni Indonesia Bali bahkan menyebut Dede sebagai salah satu pionir ilustrasi horor untuk desain band death metal di Bali, bersama keterlibatannya dalam komunitas awal Corpsegrinder dan penerbitan Megaton di Yogyakarta.  Kekuatan visualnya terletak pada anatomi yang terdistorsi, figur grotesk, atmosfer horor, dan detail yang sengaja dibuat tidak nyaman. Ini bukan ilustrasi yang berusaha terlihat indah dalam pengertian konvensional. Ia bekerja melalui rasa jijik, ketegangan, dan imajinasi gelap bahasa visual yang memang memiliki hubungan erat dengan estetika brutal death metal dan goregrind. Kiprahnya juga tidak berhenti pada dokumentasi masa lalu. Arsip kredit artwork memperlihatkan keterlibatannya dalam rilisan Lividity, Imprecatory, Sinusitis, Rezume, hingga sejumlah proyek ekstrem dari berbagai negara. Bahkan dokumentasi rilisan kompilasi Bali Time to Headbanging: Balidwipa Jayamahe (2022) mencantumkan Dede sebagai pembuat logo. Dengan rekam jejak seperti itu, artwork Dede menjadi aset utama Megaton. Ada karakter, konsistensi, dan identitas yang membuat halaman-halamannya memiliki daya tarik tersendiri.

Ironisnya, kekuatan artistik tersebut tidak sepenuhnya diterjemahkan ke dalam desain majalah. Tata letaknya justru menggunakan pendekatan sederhana menyerupai dokumen Microsoft Word. Tidak ada eksplorasi bingkai ilustrasi, komposisi halaman, atau integrasi visual yang sepadan dengan kemampuan sang ilustrator. Ini kesempatan yang terlewat. Ketika redaksi memiliki seorang artworker dengan kemampuan visual yang kuat, mengapa harus puas dengan tata letak yang terasa seperti dokumen administrasi yang kebetulan berisi nama-nama band brutal? Megaton memiliki seniman yang mampu menciptakan dunia visualnya sendiri, tetapi belum sepenuhnya memiliki desain editorial yang sanggup menghidupkan dunia tersebut. Di sinilah kelemahan yang cukup disayangkan. Interview dengan band internasional seharusnya menjadi kesempatan menggali proses kreatif, karakter komposisi, perkembangan skena lokal, filosofi musikal, dinamika produksi, hingga persoalan distribusi rilisan independen. Lebih penting lagi, Interview dengan Bloody Gore seharusnya mendapat perhatian khusus. Band Indonesia tidak semestinya hanya menjadi pengisi daftar bersama nama-nama asing. Mereka justru layak mendapatkan ruang pembahasan lebih mendalam: bagaimana membangun identitas death metal lokal, menghadapi keterbatasan produksi, dan mempertahankan eksistensi di tengah ekosistem yang belum mapan. Sebuah fanzine lokal yang hanya mengejar nama asing pada akhirnya berisiko mengulang penyakit media komersial: menganggap sesuatu lebih menarik hanya karena berasal dari luar negeri.

Untuk memahami posisi Dede Suhita, Megaton tidak bisa dilepaskan dari sejarah komunitas metal Yogyakarta. Dede tercatat sebagai salah satu penggagas Jogjakarta Corpse Grinder, komunitas yang menjadi titik pertemuan sejumlah musisi dan penggemar metal. Dokumentasi Jogja National Museum mencatat pembentukan komunitas tersebut pada 2004 dengan melibatkan Dede dan sejumlah nama lain. Sementara kajian akademis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mencatat JCG telah berdiri sejak 1996 dan menyebut Dede sebagai salah satu pendirinya. Perbedaan penanggalan ini menunjukkan bahwa sejarah komunitas tersebut perlu dibaca dengan memperhatikan perbedaan antara fase awal pembentukan dan pengorganisasian berikutnya.  Jaringan ini kemudian terhubung dengan aktivitas komunitas Bali, termasuk lingkungan 1921 Bali Corpsegrinder yang melibatkan Dede Suhita, Putra Pande, Age Grindcorner, dan Sabdo Moelyo. Keempatnya memiliki kontribusi berbeda dalam membangun infrastruktur underground: komunitas, media, distribusi, dan aktivitas musikal.  Keterlibatan Dede dalam sejarah awal Death Vomit juga menjadi bagian penting dari identitasnya. Namun, kontribusi spesifiknya dalam proses pembentukan band perlu dibedakan dari kredit keanggotaan yang tercatat dalam arsip diskografi. Metal Archives, misalnya, mencatat Dede sebagai vokalis Death Vomit pada periode 2005 dan seterusnya. Semua ini memberikan konteks bahwa Megaton bukan sekadar majalah yang dikelola oleh orang-orang yang kebetulan menyukai death metal. Ia tumbuh dari jaringan sosial yang ikut membangun kehidupan underground itu sendiri.

Megaton dengan 50 halaman format A4 xerox memiliki daya tarik yang sangat spesifik. Kekuatan utamanya adalah artwork Dede Suhita, keberagaman band yang diInterviewi, serta nilai dokumentasinya terhadap jaringan ekstrem metal internasional dan Indonesia. Kelemahannya juga cukup jelas: Interview belum cukup mendalam, porsi pembahasan band lokal seharusnya lebih serius, tata letak terlalu sederhana, dan sejumlah flyer yang digunakan sebagai pengisi halaman tidak disusun dengan komposisi visual yang meyakinkan. Padahal, publikasi dengan karakter artistik seperti ini seharusnya bisa menawarkan sesuatu yang lebih daripada sekadar kumpulan Interview dan lembaran fotokopi. Kita juga perlu memahami bahwa xerox bukan dosa desain. Dalam sejarah fanzine, fotokopi justru merupakan bagian dari estetika DIY yang autentik. Persoalannya bukan pada keterbatasan teknologi, melainkan bagaimana keterbatasan itu diolah menjadi identitas visual yang kuat dan Dede sebenarnya memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Megaton memperlihatkan paradoks menarik: seorang ilustrator dengan imajinasi visual yang liar berada di dalam publikasi yang presentasi editorialnya justru terlalu jinak. Artwork-nya memiliki karakter, tetapi tata letaknya belum mampu menjadikan karakter tersebut sebagai bahasa visual keseluruhan majalah.

Meski demikian, Megaton tetap memiliki nilai arsip yang patut dipertahankan. Bukan karena ia sempurna, bukan pula karena setiap Interviewnya berhasil menghasilkan informasi istimewa, melainkan karena ia merekam hubungan antara seni, musik, komunitas, dan kerja independen yang sering kali luput dari sejarah resmi musik Indonesia. Dede Suhita adalah contoh pelaku underground yang tidak berhenti pada satu bidang. Ia bergerak melalui ilustrasi, komunitas, publikasi, dan musik. Jejak semacam ini jauh lebih bermakna daripada sekadar popularitas sesaat. Sebab, underground tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang berdiri di atas panggung. Ia juga dibangun oleh mereka yang menggambar Cover kaset, menyusun halaman zine, menyalin demo, mengatur konser, dan menghubungkan satu komunitas dengan komunitas lainnya. Megaton mungkin belum berhasil menjadi majalah dengan kualitas editorial yang sebanding dengan kekuatan artwork-nya. Tetapi ia menyimpan sesuatu yang tidak bisa direproduksi oleh desain digital paling canggih sekalipun: jejak tangan orang-orang yang benar-benar hidup di dalam kebudayaan yang mereka dokumentasikan dan ketika sebuah skena mulai kehilangan ingatan, karya-karya seperti inilah yang membuat sejarahnya tidak sepenuhnya membusuk dalam kesunyian.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine