Evilution - Shrine Of Desecration CD 1997

Evilution - Shrine Of Desecration 
Pure Death Records CD 1997

01. Act of Attrition 02:50       
02. The Rebirth of Azazal 02:10       
03. Cowering Messiah 03:40      
04. Nailed to the Cross 02:25      
05. Baptismal Rite to Deify 02:22      
06. Shrine of Desecration 05:32       
07. Inconstant Obscure 02:16     
08. Extracted from the Womb 04:53


Josh Pratt - Vocals 
Karrie (Kerry) Gollarney - Guitars
Steve Bystrek - Guitars
John York - Bass
Jeff Stevens - Drums


Ada album yang membutuhkan waktu untuk membangun atmosfer, ada pula yang langsung menampar pendengarnya tanpa basa-basi. " Shrine of Desecration " milik Evilution termasuk kategori kedua. Dirilis pada 1997 melalui Pure Death Records, album ini merupakan dokumentasi brutalitas underground Connecticut ketika death metal masih mengandalkan kecepatan, riff yang menghancurkan, permainan drum agresif, dan vokal yang seolah tidak memiliki kewajiban sedikit pun untuk terdengar manusiawi. Dengan durasi hanya sekitar 26 menit, Evilution seperti datang, menghajar, lalu menghilang sebelum pendengar sempat mengatur napas. Secara musikal, Evilution memainkan death metal tradisional Amerika dengan pendekatan brutal, cepat, dan tanpa kompromi. Riff gitar bergerak dalam pola thrashing yang tajam, diselingi hentakan berat dan perubahan tempo yang menjaga komposisi tetap beringas. Permainan drum menjadi mesin penggerak utama, memuntahkan serangan ritmis yang intens tanpa kehilangan karakter old-school. Tidak ada kebutuhan untuk memamerkan kecanggihan teknis secara berlebihan. Mereka memahami bahwa kekuatan death metal bukan semata-mata tentang seberapa rumit sebuah komposisi, melainkan seberapa efektif riff dan ritme mampu menghantam pendengarnya.

Namun, senjata paling mencolok justru berada pada karakter vokal Josh. Geramannya terdengar mentah, kasar, dan tidak berusaha memberikan kenyamanan artikulasi. Ia tidak sedang membacakan puisi agar pendengar memahami setiap suku kata; ia sedang mengeluarkan amarah melalui tenggorokan yang terdengar seperti telah melewati proses penyiksaan. Pendekatan vokal semacam ini memberikan identitas tersendiri bagi Evilution. Di tengah kecenderungan sebagian band ekstrem modern yang memperlakukan vokal seperti instrumen produksi yang harus selalu presisi, pendekatan Josh terasa liar dan tidak dipoles. Ada sesuatu yang meyakinkan dari ketidaksantunan tersebut. Dengan 8 komposisi dan durasi total 26:08, album ini memang terasa lebih dekat dengan sebuah serangan singkat daripada full-length konvensional. Namun, saya justru melihat durasi tersebut sebagai salah satu kelebihannya. Tidak ada kebutuhan untuk memperpanjang kebrutalan hanya demi memenuhi standar waktu sebuah album. Act of Attrition, The Rebirth of Azazal, Cowering Messiah, Nailed to the Cross, hingga Extracted from the Womb membentuk rangkaian yang padat, sementara titel track Shrine of Desecration menjadi komposisi terpanjang dengan durasi 5:32. Menarik pula kehadiran Inconstant Obscure, sebuah instrumental yang memberi jeda di tengah dominasi agresi. 

Secara historis, Evilution terbentuk sekitar 1989 di Meriden/Wallingford, Connecticut. Sebelum album ini, mereka telah mengedarkan demo self-titled pada 1995 yang berisi empat lagu, termasuk Ritual Killing, yang kemudian muncul dalam kompilasi kaset Wis/Wid Compilation 2. Album 1997 ini menjadi satu-satunya full-length mereka dan rilisan pertama Pure Death Records dengan nomor katalog PD 01. Ada detail menarik dari wawancara Joshua Pratt yang diterbitkan Necrosis Magazine pada Juli 1998. Pratt mengungkapkan bahwa sebagian besar lagu dalam Shrine sebenarnya telah berusia sekitar dua setengah tahun ketika ia bergabung. Ia juga menjelaskan bahwa materi liriknya banyak berkutat pada tema anti-agama, penghujatan terhadap Kristen, sihir, penyakit, hingga genosida. Menariknya, ia justru menyebut atmosfer lirik tersebut bersifat fiktif, bukan pernyataan keyakinan pribadi. Ini memperlihatkan bahwa provokasi Evilution lebih tepat dibaca sebagai ekspresi estetika ekstrem ketimbang manifesto ideologis.  Satu hal yang perlu diluruskan dari cerita seputar album ini: kredit rekamannya mencatat The Coffeehouse, Middletown, Connecticut, dengan Evilution sebagai produser, co-engineer, dan co-mixer, sementara Mike Arafeh tercatat menangani engineering dan mixing. Jadi, bukan Morrisound Studios seperti sejumlah cerita underground yang kadang bercampur antara reputasi dan fakta. 

Perjalanan Evilution berakhir pada 1999, tetapi Shrine of Desecration tetap menjadi peninggalan menarik dari sebuah generasi yang membangun identitas melalui demo, pertunjukan lokal, dan distribusi independen. Keterkaitan album ini dengan Jamey Jasta dan Pure Death Records juga menjadi catatan menarik dalam sejarah awal jaringan underground Connecticut, meskipun reputasi Jasta kemudian jauh lebih dikenal melalui Hatebreed. " Shrine of Desecration " adalah potret death metal Amerika yang tidak membutuhkan kosmetik modern untuk terdengar mengerikan. Riff agresif, permainan drum menghantam, dan vokal Josh Pratt yang brutal menjadi kombinasi efektif. Durasi 26 menit bukan kekurangan yang perlu disesali; justru lebih baik meninggalkan pendengar dalam keadaan haus daripada memaksakan tambahan materi yang tidak diperlukan. Evilution memang tidak sempat menjadi nama besar. Namun, mereka meninggalkan sesuatu yang jauh lebih konkret daripada sekadar cerita tentang band yang pernah eksis: delapan lagu yang merekam keganasan sebuah periode ketika underground masih dibangun dengan keringat, keberanian, dan keyakinan untuk bermain sekeras mungkin. Tidak semua band harus menjadi legenda. Tetapi beberapa rekaman memang pantas diselamatkan dari pelupaan.

0 Comments:

Posting Komentar

Tinggalkan komentar TERBAIK kalian disini, enjoy the sickness !

Designed by lostinchaos mediazine